
Setelah anak buah Damian menjauh, Alex segera membuka matanya dan menepi.
" Uhuk uhuk uhuk." Alex memuntahkan air laut yang masuk ke mulutnya. Ia mengambil nafas dalam dalam lalu menghembuskannya lewat mulut.
" Aku harus mengikuti mereka." Ujar Alex.
Dengan langkah tergopoh gopoh Alex mengikuti mereka dari jauh. Sampai saat mereka masuk rumah Damian, Alex mencari tempat persembunyian di balik pohon rindnag yang berada di sebrang jalan.
" Aku harus menghubungi Gava untuk meminta bantuannya, sepertinya aku tidak bisa melawan mereka sendirian." Ujar Alex.
Alex mengambil ponsel di saku celananya, beruntung ponsel Alex ponsel mahal kalau tidak pasti sudah mati kena air.
Tut tut tut...
Panggilan tersambung tinggal menunggu Gava mengangkatnya. Tidak menunggu lama, Gava mengangkat panggilannya.
" Halo Lex, ada apa?" Tanya Gava di sebrang sana.
" Aku menemukan Divya." Ucap Alex membuat Gava terkejut
" Apa? Yang benar?" Tanya Gava memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah.
" Iya, tapi aku ragu karena Divya seperti tidak mengenaliku." Ujar Alex.
" Bagaimana bisa? Apa kau yakin kalau dia Divi? Jangan jangan kamu salah orang." Ujar Gava.
" Aku yakin dia Divi Va. Tapi entah apa yang terjadi padanya sehingga dia tidak mengenaliku, perutnya juga rata tidak menunjukkan kalau dia hamil. Aku yakin terjadi sesuatu padanya makanya padanya di sini makanya dia tidak kembali pada kita." Ucap Alex.
" Apa mungkin Divya mengalami kecelakaan lalu dia amnesia dan kehilangan bayi kami?" Sambung Alex.
" Aku tidak tahu, lebih baik sekarang kau share lock lokasinya! Aku dan yang lainnya akan segera ke sana sekarang, kau ada di daerah mana?" Tanya Gava.
" Ada di pesisir pantai, tepatnya di desa xx." Sahut Alex.
" Perjalanan dari sini ke sana sekitar lima jam, berarti aku sampai sana malam hari. Aku akan membawa papa, om Leon, om Rangga dan beberapa anak buah untuk membantu kita menyelamatkan Divya dari sana." Ujar Gava.
" Oke sampai bertemu nanti." Sahut Alex mematikan sambungan teleponnya. Ia segera mengirim share lock kepada Gava.
Gava memilih naik mobil untuk sampai di sana karena jika menggunakan jet akan menjadi perhatian warga sekitar dan itu akan menyulitkan mereka membawa pergi Divya.
" Aku harus menunggu di sini! Aku tidak mau sampai Damian membawa pergi Divya." Gumam Alex mulai kedinginan.
Di dalam rumah, Divya dan Damian masuk ke kamar. Divya berdiri menghadap ke jendela sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Damian memeluk Divya dari belakang. Divya hanya diam saja, ia mencoba meresapi perasaannya saat Damian memeluknya.
" Kenapa aku merasa risih saat Damian memelukku? Berbeda sekali saat pria tadi memelukku. Sebenarnya siapa Damian dan pria itu? Apa hubungannya pria itu denganku? Kenapa aku mengalami hal yang membingungkan ini? Siapa yang sebenarnya orang baik dan siapa yang orang jahat? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun? Ya Tuhan berikan petunjukmu, jika memang Damian suamiku makan jauhkan pria itu dari kami, tapi jika pria itu keluargaku mudahkan kami untuk bertemu." Ujar Divya dalam hati.
" Apa kau memikirkan pria tadi?" Tanya Damian meletakkan dagunya di pundak Divya.
" Entahlah, aku merasa begitu dekat dengannya saat dia memelukku tadi." Sahut Divya.
__ADS_1
" Kau membuatku cemburu sayang, aku tidak mau kau memikirkan pria lain selain aku. Percayalah! Pria tadi bukan siapa-siapa, dia hanya orang gila yang selalu menggoda gadis gadis di sini. Makanya tadi anak buahku menghajarnya supaya dia tidak mengganggumu lagi." Ujar Damian.
" Tapi kenapa dia tahu namaku?" Tanya Divya.
" Aku rasa tadi dia mendengar aku saat memanggil namamu." Sahut Damian.
" Sekarang ganti baju dulu, bajumu basah begini. Aku tidak mau kalau nanti kamu sakit." Ujar Damian.
" Baiklah." Sahut Divya.
Damian melepas pelukannya, Divya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Damian turun ke lantai bawah menemui anak buahnya.
" Apa kalian sudah membereskan pria tadi?" Tanya Damian menatap Tatang dan Opin.
" Sudah Tuan, sepertinya dia sudah tiada karena tenggelam di laut tadi. Dia tidak sadarkan diri." Sahut Opin.
" Baguslah kalau begitu, tingkatkan keamanan rumah ini. Aku tidak mau keberadaan Divya sampai terendus oleh keluarganya." Ucap Damian.
" Siap Tuan, kalau begitu kami pergi dulu." Ucap Opin meninggalkan Damian di ikuti Tatang dari belakang.
" Aku tidak akan membiarkan siapapun bertemu denganmu sayang. Kau milikku dan selamanya akan menjadi milikku." Gumam Damian tersenyum smirk.
...****************...
Malam hari Damian dan Divya sedang makan malam. Divya nampak murung dan tidak nafsu makan.
" Tidak, aku hanya malas makan saja. Aku kembali ke kamar." Ucap Divya berlalu dari sana.
Damian menatap punggung Divya.
" Aku tahu kau tidak nafsu makan karena memikirkan Alex. Aku akan membuatmu melupakan Alex saat ini juga." Gumam Damian.
Damian menuju ruang kerjanya, ia duduk di depan komputer mulai mengerjakan pekerjaannya. Tiba tiba teleponnya bedering. Ia menerima telepon dari salah satu kolega bisnisnya yang marah marah padanya karena adanya kekeliruan perhitungan pembangunan proyek di kota A. Perusahaan mereka merugi hingga dia triliun. Ia segera pergi ke rumah koleganya untuk membereskan masalah ini bersama Opin.
Merasa bosan di dalam kamar, Divya keluar ke balkon kamar, ia menatap indahnya bukan dan bintang di malam hari. Tanpa sengaja ia melihat Alex dan Gava berjalan mengendap endap masuk dari pintu belakang.
" Pria itu." Gumam Divya.
Jantung Divya berdebar kencang mengingat pelukan Alex. Ia meraba dadanya sendiri merasakan detakan jantungnya dua kali lebih cepat.
" Kenapa jantungku berdetak lebih cepat? Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku merasa begitu dekat dengannya? Apakah aku mengenalnya sebelum ini?" Tanya Divya pada diri sendiri.
Divya mencoba mengingat sosok Alex namun ia tidak ingat apapun tentangnya. Ia melihat ke bawah mencoba mencari sosok Alex namun sudah tidak terlihat lagi.
" Kemana mereka?" Gumam Divya.
" Apa mereka masuk ke dalam rumah ini?Ngapain juga mereka mengendap endap seperti itu? Apa mereka mau mencuri di rumah ini? Aku harus memberitahu Damian." Ucap Divya.
Ceklek...
__ADS_1
Deg...
Jantung Divya berdetak kencang saat melihat Alex berdiri di depannya.
" Ma.. Mau apa kau ke sini?" Tanya Divya memundurkan langkahnya.
" Nanti akan Mas jelaskan, yang jelas sekarang ayo kita pergi sebelum Damian kembali." Ujar Alex menarik tangan Alex.
" Lepaskan aku!" Divya menyentak kasar tangannya hingga tangan Alex terlepas.
" Sebenarnya siapa kamu? Kenapa kau ingin membawaku pergi dari sini? Aku tidak mau ikut dengan pria asing sepertimu." Ucap Divya.
" Sepertinya dugaanku benar kalau Divya amnesia, tapi apa yang membuatnya amnesia dan kehilangan anak kami? Apa Damian sengaja melenyapkan anak dalam kandungan Divi? Kalau benar itu terjadi, aku akan membunuhmu Damian." Batin Alex
Tiba tiba Alex menangkup wajah Divya dengan kedua tangannya.
" Tatap mata Mas!" Ucap Alex.
Keduanya saling melempar pandangan.
" Apa Mas terlihat asing di matamu? Walaupun ingatanmu menghapusku, tapi aku yakin jika hatimu tidak bisa melupakan aku. Aku Alex suamimu, suami yang sangat mencintai dan kau cintai." Ucap Alex. Divya mencari kebohongan dari sorot mata Alex namun ia tidak menemukanya.
" Mas ingin membawamu pulang kepada keluarga kita, mereka sudah lama menunggu. Apa kau mau pulang bersama Mas?" Tanya Alex.
Tanpa ragu Divya menganggukkan kepalanya.
Alex menggandeng tangan Divya menuruni anak tangga. Nampak Gava sedang menunggu di sana. Divya menatap Tatang yang terkapar di lantai tidak sadarkan diri.
" Gava membiusnya." Ucap Alex seolah tahu apa yang ada di pikiran Divya.
Gava menatap Divya dengan perasaan rindu yang membuncah. Ia mendekati Divya lalu memeluknya dengan erat.
" Divi." Ucap Gava.
" Akhirnya kami bisa menemukanmu sayang, Kakak sangat khawatir selama ini, Kakak berpikir kita tidak akan pernah bertemu lagi." Ucap Gava.
Tubuh Divya mematung, entah mengapa hatinya merasakan kenyamanan berada di dalam pelukan Gava. Divya menyakini jika mereka memang benar benar keluarganya.
" Kita harus segera pergi dari sini sebelum Damian kembali Va." Ucap Alex menyadarkan Gava.
" Iya." Gava melepas pelukannya.
" Ayo sayang." Alex menggandeng tangan Divya.
Mereka bertiga menuju pintu keluar tiba tiba..
Bugh....
Apa ya???
TBC...
__ADS_1