KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
MELAKUKAN PENCARIAN


__ADS_3

Divya mengerjapkan matanya,


Deg...


" Kamu." Sontak Divya bangun menjauh dari Damian.


" Iya sayang ini aku, mantan suamimu."


Jeduarrrr...


Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Divya terasa kaku tidak bisa di gerakkan. Ia menatap Damian dengan perasaan takut sambil mengerutkan keningnya.


" A.. Apa maksudmu berbicara seperti itu? Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau menculik ku seperti ini?" Tanya Divya dengan sedikit gemetar.


" Ya anggap saja aku Damian mantan suamimu, dan akan menjadi suamimu sebentar lagi. Kita akan menikah dan hidup bahagia, itu tujuanku selama ini. Aku mencintaimu Divi, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Aku akan menikahimu." Ucap Damian.


" Jangan gila Damian! Siapapun kamu sebenarnya aku tidak peduli yang jelas aku tidak akan pernah menikah denganmu. Aku sudah berkeluarga dan tolong jangan ganggu hidupku lagi! Aku tidak kenal kamu dan Aku tidak menyukaimu apalagi setelah Aku tahu tindakanmu yang rendahan seperti ini. Aku mau pulang." Ucap Divya turun dari ranjang.


Damian menarik tangan Divya dengan kasar hingga Divya jatuh terjerembab di atas ranjang. Tanpa segan Damian menindih tubuhnya.


" Menyingkirlah dari tubuhku Damian! Kau membuatku jijik dan ingin muntah saja." Ucap Divya ketus.


" Uh sayang, jangan galak galak gitu donk! Kamu semakin cantik kalau marah marah begini. Aku malah tambah suka kamu yang seperti ini. Aku jadi tidak sabar untuk membuatmu menjadi milikku." Ucap Damian membuat Divya memutar bola matanya malas.


Memangnya menikah segampang itu? Harus ada wali dan lain sebagainya. Apalagi saat ini statusnya masih menikah, benar benar tidak waras, pikir Divya.


" Aku tidak boleh membuang tenagaku dengan meladeni ocehannya. Lebih baik aku gunakan tenagaku untuk kabur dari sini. Aku tidak mau lama lama berhadapan dengan pria gila sepertinya. Ya Tuhan bantu aku untuk keluar dari sini." Batin Divya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, ia berharap bisa menemukan jalan untuk ia kabur dari sana.


" Kenapa kau seperti itu? Apa yang sedang kau lihat? Apa kau sedang berusaha mencari jalan untuk kabur dari sini? Jika memang itu yang kamu pikirkan, lebih baik buang jauh jauh pemikiran seperti itu! Karena aku tidak membuka akses apapun untuk kau pergi dari sini. Bahkan rumah ini tidak akan terdeteksi oleh GPS atau alat penyadap seperti sejenisnya. Tempat ini benar benar murni dan bersih dari tekhnologi. Bahkan kau tidak akan bisa menggunakan ponselmu di sini." Ucap Damian membuat Divya terkejut.


" Kenapa bisa seperti itu, sebenarnya kita ada mana?" Tanya Divya memastikan.


" Kita berada jauh dari kota, tempat ini dekat pesisir pantai dimana kau harus melewati puluhan hektar hutan untuk sampai sini. Tidak ada transportasi yang masuk ke sini. Jadi jangan berpikir untuk kabur karena akan sia-sia saja. Jadi tetaplah di sini dan ikuti semua perintahku! Kalau tidak kau akan menyesal nantinya." Ancam Damian.


Glek...


Divya menelan kasar salivanya.


" Sepertinya akan sulit untuk kabur dari sini. Aku harus memutar akal supaya aku bisa mendapatkan jalan keluarnya. Aku harus optimis, aku tidak boleh lengah ataupun lelah atau semua akan berakibat fatal. Mas Al.... Semoga kau menyadari kepergianku. Doakan semoga aku baik baik saja. Segeralah temukan aku, aku sedang dalam kesulitan." Ujar Divya dalam hati.

__ADS_1


" Istirahatlah! Aku akan kembali sore nanti. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Damian meninggalkan kamarnya. Tidak lupa ia mengunci pintunya dari luar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua hari berlalu saat ini Gava berkunjung ke rumah Alex untuk menjenguk Divya. Ia mencurigai jika Divya tidak baik baik saja saat ia mendengar suara Divya yang terdengar tertekan di telepon. Sepertinya Divya sangat membutuhkan bantuannya saat ini.


Ting tong..


Gava menekan bel rumah Alex.


Tak lama bi Imah, art baru Alex membukakan pintu.


Ceklek...


" Pagi Bi." Sapa Gava.


" Pagi Den, ada apa ya Den Gava kemari? Apa nona Divya membutuhkan sesuatu?" Tanya bi Imah. Gava mengerutkan keningnya.


" Apa maksud Bibi? Saya mau bertemu dengan Divi Bi, bisa bibi panggilkan dia." Ujar Gava.


" Lhoh bukannya non Divi ada di rumah Den Gava? Non Divya tidak ada di sini Den."


Deg...


" Bibi jangan bercanda, semalam aku menelepon Divya dia bilang ada di sini." Ucap Gava.


" Dua hari lalu ada pria yang mengantar mobil Non Divya ke sini, Non Divya menelepon saya katanya itu orang suruhannya Den. Dan Non Divya bilang kalau Non Divya masih tinggal di rumah tuan Gavin. Gitu katanya." Terang bi Imah.


Ya.. Damian meminta Divya menelepon bi Imah dan Gava agar mereka semua tidak merasa kehilangan Divya. Bahkan Damian juga meminta Divya menelepon Alex dan mengatakan jika dia baik baik saja. Divya terpaksa mengikuti perintah Damian karena ia ingin pergi dari rumah Damian dengan selamat.


" Sial!!!" Umpat Gava menarik kasar rambutnya. Ia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia karena bisa kecolongan seperti ini.


" Ya sudah Bi aku pergi dulu." Ucap Gava segera berlari menuju mobilnya.


Gava melajukan mobilnya menuju rumahnya dengan kecepatan kencang. Sekitar dua puluh menit ia sampai di rumahnya. Ia berlari masuk ke dalam.


" Papa.. Mama... " Teriak Gava memanggil kedua orang tuanya.


Tuan Gavin dan nyonya Vania segera menghampirinya.

__ADS_1


" Sayang ada apa? Kenapa kamu berteriak seperti itu? Apa ada hal buruk yang terjadi?" Tanya nyonya Arvania.


" Gawat Ma, ternyata selama dua hari ini Divya tidak ada di rumahnya Ma. Divya hilang." Ucap Gava.


" Apa???" Pekik kedua orang tua Gava.


Tubuh nyonya Vania terhuyung ke belakang.


" Sayang." Tuan Gavin menopang tubuh istrinya.


" Bagaimana ini Pa? Dimana Divi? Kemana Divi Pa?" Tanya nyonya Vania cemas.


" Maksudmu apa Gava?" Tanya tuan Gavin memastikan.


Akhirnya Gava menceritakan apa yang terjadi.


" Ya Tuhan dimana Divi saat ini? Siapa yang tega berbuat seperti ini padanya?" Ujar nyonya Vania sedih.


" Pa apa kita harus memberitahu Alex masalah ini?" Tanya Gava.


" Papa rasa tidak perlu Gava, Alex sedang dalam masalah di sana. Mending kita cari Divya dulu kalau tidak ketemu baru kita kabari Alex." Ujar tuan Gavin.


" Baik Pa." Sahut Gava.


" Sekarang telepon om Leon, minta dia melacak keberadaan Divi dan suruh dia segera ke sini." Ujar tuan Gavin.


" Iya Pa." Tanpa membuang waktu Gaga segera menelepon tuan Leon.


Tuan Leon merupakan IT terhandal di perusahaan GM Group. Ia mampu meretas data dalam waktu hitungan detik saja. Sejauh apapun orang itu bersembunyi pasti bisa ia temukan. Tapi entah dengan Divya kali ini.


Tak lama tuan Leon datang ke rumah, ia menghampiri mereka bertiga di ruang tamu.


" Bagaimana Leon? Apa kau bisa menemukan titik Divi terakhir kali?" Tanya tuan Gavin menatap tuan Leon.


Ketemu nggak nih? Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya buat author..


Terima kasih...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2