
Hari ini tiba pernikahan Selya dan Gava. Gava baru saja menyelesaikan acara ijab qobul dengan lancar. Saat ini ia menjemput mempelai wanita di kamarnya. Dengan memakai kebaya putih dan jas berwarna putih membuat kedua pasangan pengantin itu nampak serasi. Mereka berdua menuruni tangga satu persatu, Selya mengapit lengan Gava sambil terus menebar senyuman manisnya. Mereka nampak bahagia dan saling mencintai.
Gava membawa Selya ke pelaminan, keduanya duduk di kursi di depan penghulu. Mereka berdua menyelesaikan syarat syarat pernikahan dengan di akhiri tanda tangan di akta nikah oleh keduanya. Setelah itu di lanjut acara tukar cincin pernikahan.
Suara tepuk tangan memecah kegugupan mereka berdua. Selya mencium punggung tangan Gava sedangkan Gava mencium kening Selya sambil menyebulkan doa doa pada ubun ubunnya. Doa dari penghulu menutup acara ijab qobul mereka.
" Selamat sayang, selamat datang di keluarga Mahardika. Semoga kalian berdua bahagia dan segera di beri momongan oleh yang maha kuasa. Mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari kalian." Ucap nyonya Vania memeluk Selya.
" Amin, terima kasih doanya Ma. Terima kasih telah menyambutku dengan hangat untuk menjadi anggota keluarga kalian. Ini merupakan suatu kebahagiaan untukku Ma." Ucap Selya.
" Kau wanita yang di pilih oleh putraku, dan saat ini statusmu berubah menjadi putriku. Jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan katakan saja pada Mama." Ucap nyonya Vania.
" Iya Ma." Sahut Selya.
Sekarang gantian Divya yang mengucapkan selamat untuk kakaknya.
" Selamat Kak Gava, semoga bahagia." Ucap Divya memeluk Gava.
" Terima kasih, kau juga harus bahagia." Ucap Gava mencium kening Divya.
" Tentu Kak." Sahut Divya tersenyum.
" Selamat Bro semoga bahagia." Ucap Alex memeluk Gava.
" Terima kasih." Sahut Gava.
" Ayo kita berlomba mencetak Mahardika junior, siapa yang menang akan mendapatkan yang dia mau." Tantang Alex menatap Gava.
" Oke siapa takut." Sahut Gava.
" Apanya yang takut Kak?" Tanya Divya menatap Gava.
" Nggak ada, biasa urusan pria kamu tidak boleh tahu." Sahut Gava.
Selesai acara Gava membawa Selya ke kamarnya.
Ceklek...
Mereka masuk ke dalam, Selya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Kamar seluas enam kali enam dengan ranjang big size dan cat berwarna abu abu sangat khas dengan kamar seorang pria.
" Kenapa? Apa kau tidak suka tatanan kamarnya? Kalau tidak suka, kau bisa merubahnya sesuai keinginanmu. Kamar ini sekarang menjadi milikmu juga." Ujar Gava menatap Selya.
__ADS_1
" Enggak Mas terima kasih, aku cuma merasa heran aja. Kamar seorang pria bisa serapi ini. Soalnya kamar Romi selalu berantakan." Ujar Selya.
Gava tersenyum mendengarnya.
" Sebenarnya sama saja, cuma kamarku setiap hari di bersihkan sama Mama jadi kelihatan rapi deh." Sahut Gava duduk di tepi ranjang.
" Maaf jika kamar kita tidak seperti kamar pengantin pada umumnya yang di hiasi banyak mawar untuk malam pengantin mereka. Aku tidak mau membuatmu tertekan dengan hal itu karena aku tidak mau memaksakan kehendakku. Aku akan menunggumu sampai kau siap menyerahkan seluruh hidupmu padaku." Ujar Gava menatap Selya.
" Mas sebenarnya jika Mas menginginkannya, aku sudah siap. Bukankah itu kewajiban yang harus di laksanakan oleh seorang istri? Aku tidak mau berdosa akan hal ini Mas." Ucap Selya duduk di samping Gava.
" Tidak perlu terburu buru! Kita bisa melakukannya saat kita sudah bisa memahami perasaan masing masing, lebih tepatnya jika kita sudah saling mencintai. Sekarang kita jalani aja seperti air mengalir, hitung hitung pacaran setelah menikah biasanya akan lebih indah." Ujar Gava.
" Iya Mas, terserah Mas saja." Sahut Selya.
" Mandi gih! Aku mau tiduran sebentar." Ucap Gava.
" Baju gantiku?"
" Ada di almari sebelah kanan, kalau yang kiri itu milikku." Sahut Gava berbaring di atas ranjang sambil menutup wajahnya dengan tangannya.
Selya menuju almari yang di maksud Gava, ia mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi. Selya merasa kagum dengan kemewahan kamar mandi milik Gava.
" Aku tidak boleh takabur akan hal ini. Lebih baik aku mandi terus menyiapkan pakaian ganti buat Mas Gava." Ujar Selya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar Divya.
Grep...
Alex memeluk Divya dari belakang membuat Divya yang sedang menatap ke luar jendela berjingkrak kaget.
" Mas ngagetin aja." Ujar Divya.
" Salah sendiri kamu melamun." Sahut Alex menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Divya.
" Hal apa yang sedang kau pikirkan sayang?" Tanya Alex.
" Aku memikirkan tentang diriku sendiri Mas. Aku berpikir kenapa sampai sekarang aku belum hamil lagi? Aku takut kalau aku tidak bisa hamil lagi akibat kecelakaan itu Mas." Ucap Divya membuat hati Alex mencelos.
" Sayang dengarkan Mas! Masalah keturunan itu suatu rejeki dari Tuhan, walaupun kita memikirkannya sampai kepala kita pusing, walaupun kita memintanya sampai kita bosan, jika belum menjadi rejeki kita maka kita tidak akan mendapatkannya sayang. Yang jelas kota sudah berdoa dan berusaha, untuk hasilnya kita pasrahkan saja kepada yang Kuasa." Ujar Alex.
__ADS_1
" Lagian Mas masih ingin menghabiskan waktu berdua denganmu saja mumpung kita belum punya anak. Besok kalau kita sudah punya anak, waktumu habis untuk mengurus anak kita. Jadi nikmati waktu berdua kita dengan bahagia. Jangan bebani pikiranmu dengan hal ini karena Mas tidak mau kalau kamu sampai sakit. Mas ingin melihatmu tetap sehat seperti sekarang ini." Ujar Alex mencium pipi Divya.
Divya membalikkan badannya.
" Aku mendengar Mas menantang kak Gava tadi. Aku berpikir jika Mas juga menaruh harapan yang sama denganku, yaitu ingin aku cepat cepat hamil." Ucap Divya membuat Alex terkejut. Ia tidak menyangka jika ucapannya membuat Divya merasa terbebani.
" Sayang maafkan Mas. Mas tadi hanya bercanda saja tanpa ada maksud lainnya. Mas tidak menuntut kamu untuk hamil secepatnya, Mas tidak masalah jika Mas harus menerima kekalahan. Yang penting bagi Mas adalah kesehatanmu." Ucap Alex.
Divya menatap Alex dengan penuh cinta. Ia menangkup wajah Alex lalu memajukan wajahnya.
Cup...
Divya mengecup bibir Alex dengan lembut, Alex menahan tengkuk Divya, ia mencium. bibir Divya dengan lembut. Divya membuka sedikit mulutnya membiarkan Alex mengekspos setiap inchi mulutnya, suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka.
Di rasa keduanya kehabisan nafas, Alex melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Divya dengan jempolnya. Keduanya saling melempar pandangan satu sama lain.
" Mas bahagia walaupun seandainya kita hanya akan hidup berdua selamanya sayang." Ucap Alex merapikan anak rambut Divya.
" Benarkah?" Tanya Divya memastikan.
" Iya." Sahut Alex menganggukkan kepala.
" Meskipun aku tidak bisa mengandung lagi?" Divya kembali bertanya.
" Iya, bahkan apapun yang terjadi Mas akan tetap bahagia asalkan Mas bisa selalu bersamamu." Sahut Alex.
" Perlu kau tahu sayang! Cinta Mas tidak terbatas dan tidak terukir waktu. Cinta Mas bukan hanya soal harta, tahta ataupun keturunan. Tapi cinta Mas adalah apa yang ada pada dirimu. Semua yang ada pada dirimu, baik itu kelebihan maupun kekuranganmu. Mas sangat mencintaimu sayang, Mas tidak mau kehilanganmu apapun yang terjadi. Mas sangat mencintaimu." Ucap Alex memeluk Divya dengan erat.
" Aku juga mencintaimu Mas, terima kasih untuk semua. Terima kasih untuk kebahagiaan yang telah Mas berikan padaku." Ucap Divya.
" Sama sama sayang." Sahut Alex.
TBC...
Alhamdulillah atas dukungan readers semuanya, yang rencananya author tidak up hari ini karena lagi tidak enak badan akhirnya up juga. Terima kasih atas dukungan kalian semua.
Tetap dukung author agar author selalu punya semangat untuk berkarya.
Miss U All...
TBC...
__ADS_1