KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
KETAHUAN MAMA


__ADS_3

Di bagian negara xx, saat ini Divya sedang berias di depan cermin. Ia menyisir rambutnya yang nampak lurus dan indah. Alex menghampirinya lalu memeluk Divya dari belakang.


" Cantik banget sih istri Mas ini." Ucap Alex mencium pipi kiri Divya.


" Hmmm merayu nih." Ujar Divya.


" Tidak masalah merayu istri sendiri. Kalau Mas merayu istri orang baru jadi masalah." Sahut Alex.


" Akan aku tinggal pergi kalau Mas Al berani melakukan itu. Aku tidak akan memaafkan Mas kalau sampai itu terjadi." Ucap Divya menatap Alex melalui pantulan kaca.


" Mas tidak akan pernah melakukannya sayang, hanya kamu yang mas mau, sekarang, nanti, ataupun selamanya." Ucap Alex.


" Aku percaya padamu Mas. Terima kasih telah memberikan kebahagiaan untukku." Ucap Divya tersenyum manis.


Cup...


Alex mencium bibir Divya membuat Divya terkejut membulatkan matanya.


" Suka banget nyosor gitu kamu Mas." Cebik Divya.


" Sekali kali, biar kelihatan romantis." Sahut Alex membuat Divya terkekeh.


" Mas bahagia banget sayang, akhirnya kamu akan bisa sembuh dalam waktu singkat. Semua berkat keajaiban Tuhan dan usaha kita. Pokoknya kita harus berusaha semaximal mungkin dan hasilnya kita pasrahkan pada Tuhan." Ujar Alex.


Ya.. Setelah di periksa oleh dokter kemarin, dokter mengatakan jika Divya bisa segera sembuh. Rahimnya akan kembali normal dalam waktu beberapa bulan ke depan saja.


" Iya Mas, semoga aku bisa mengandung lagi. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik jika aku di berikan kesempatan itu lagi." Ujar Divya.


" Iya sayang, kita jaga sama sama." Sahut Alex.


" Mau jalan jalan apa di kamar aja?" Tawar Alex.


" Di sini saja Mas, aku mau rebahan dulu sambil baca novel." Ujar Divya.


" Baca novel? Novel apa emangnya?" Tanya Alex.


" Novel online karangan author swetti, bagus lhoh Mas. Aku suka dengan judul kau selingkuh aku balas. Sesuai dengan kisah hidupku." Ujar Divya.


" Ada judul lain?" Tanya Alex.


" Banyak lah, pokoknya menghibur banget Mas." Ucap Divya.


" Kalau ada waktu senggang Mas akan coba membacanya." Sahut Alex.


Divya naik ke atas ranjang di ikuti Alex. Mereka berdua duduk bersandar pada headboard di atas ranjang. Divya membuka aplikasi novel online di ponselnya. Sedangkan Alex meneliti laporan dari para pegawainya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Tiga bulan berlalu, hubungan Selya dan Gava tidak ada peningkatan. Setiap kali Gava mendekati Selya, Selya selalu menghindarinya. Hal itu membuat Gava uring uringan.


Di sebuah restoran ternama, saat ini Selya dan nyonya Vania sedang berkumpul dengan teman teman sosialita nyonya Vania. Mereka makan siang bersama sambil berbincang bincang.


" Selya sudah satu bulan lebih menikah belum hamil juga?" Tanya nyonya Budi.


Selya tersenyum manis menatap nyonya Budi.


" Belum Tante." Sahut Selya.


" Apa kamu pakai alat kontrasepsi?"


Pertanyaan itu sukses membuat nyonya Vania menatap Selya dengan tatapan menyelidik.


" Tidak Ma, aku tidak menggunakan alat seperti itu." Ucap Selya seolah tahu apa maksud tatapan ibu mertuanya.


" Biasanya gadis semuda kamu itu bisa cepat memiliki momongan lhoh, anak saya saja dua bulan pernikahan langsung hamil." Ujar nyonya Ari.


" Maaf Tante, setiap wanita masa kesuburannya itu berbeda beda. Dan yang jelas Tuhan belum memberikan kepercayaan kepada saya." Sahut Selya tanpa mengurangi rasa hormat.


" Kamu benar juga sih, ya sudah lah daripada timbul salah paham mending kita stop membicarakan hal seperti ini. Tante doakan semoga kamu cepat di beri momongan. InsyaAllah di pertemuan berikutnya kami akan menerima kabar gembira darimu." Ucap nyonya Budi.


" Amin terima kasih Tante." Sahut Selya.


Mereka melanjutkan acara makan siangnya. Selya mengunyah makanannya dengan lesu.


Setelah selesai makan, nyonya Vania dan Selya kembali ke rumah. Di dalam perjalanan nyonya Vania nampak diam saja membuat Selya merasa tidak enak.


Sampai di rumah nyonya Vania langsung memanggil putra sulungnya.


" Gava." Teriak nyonya Vania.


" Ma, ada apa Ma?" Tanya Selya cemas.


" Tidak ada apa apa sayang." Sahut nyonya Vania tersenyum.


" Gava, turun kamu!" Nyonya Vania berteriak lagi. Ia tahu Gava di rumah karena hari ini weekend.


Mendengar suara mamanya, Gava segera turun ke bawah.


" Ada apa Ma?" Tanya Gava.


" Duduk sini!" Ucap nyonya Vania menuju sofa ruang tamu.


Gava menatap Selya, Selya hanya mengedikkan bahunya saja.


" Duduk cepat!" Titah nyonya Vania.

__ADS_1


" I.. Iya Ma." Gava dan Selya duduk berdampingan di depan nyonya Vania.


" Katakan apa yang menyebabkan Selya belum hamil sampai saat ini!" Titah nyonya Vania menatap keduanya dengan tatapan menyelidik.


Gava dan Selya saling melempar pandangan lalu keduanya kembali menatap nyonya Vania.


" Apa maksud Mama? Kalau Selya belum hamil ya kami tidak tahu alasannya Ma. Mungkin Tuhan belum menghendaki kami mempunyai seorang anak." Sahut Gava.


" Mama tidak percaya, mama yakin kalian pasti sengaja menundanya. Dan mama sangat kecewa akan hal ini. Mama tidak mengharapkan ini dari kalian berdua, kalian sengaja menunda kehamilan karena kalian memikirkan perasaan Divya. Tapi Mama tidak merima alasan itu, jangan jadikan Divya sebagai alasannya." Ucap nyonya Vania.


" Ma aku...


" Apa yang Gava katakan padamu Selya? Mama yakin dia pasti mengatakan sesuatu padamu yang melukai hatimu." Ucap nyonya Vania.


" Tidak Ma, Mas Gava tidak mengatakan apa apa kepadaku. Memang aku yang belum siap untuk hamil Ma. Umurku masih delapam belas tahun kan? Bagiku terlalu muda untuk menjadi seorang ibu. Maafkan aku!" Ucap Selya menundukkan kepalanya.


" Kau lihat?" Tanya nyonya Vania menatap Gava.


" Istrimu saja membelamu dengan menyalahkan dirinya sendiri. Lalu kenapa kau melukai perasaan dan hatinya Gava. Katakan jika kau yang meminta Selya untuk menunda kehamilannya. Atau kalian memang belum berhubungan sama sekali?" Nyonya Vania menatap tajam ke arah Gava seperti seorang penyidik.


" Iya Ma. Maafkan aku!" Ucap Gava.


Plak...


Nyonya Vania melempar ponselnya di atas meja. Keduanya berjingkrak kaget.


" Setelah berhubungan di malam pertama, aku meminta Selya untuk meminum pil penunda kehamilan karena aku menjaga perasaan Divi Ma. Aku pikir jika Selya hamil itu tidak adil karena saat ini Divi dalam keadaan sedih. Dan perkataanku itu membuat Selya marah hingga sampai saat ini Selya tidak mau bersentuhan denganku lagi Ma." Ucap Gava jujur. Ia merasa membutuhkan bantuan mamanya untuk membujuk Selya.


" Bagaimana dia mau kamu sentuh kalau setelah kau mengambil semua darinya kau membuangnya begitu saja. Kalau pun mama jadi Selya, mama juga akan melakukan seperti itu." Ucap nyonya Vania.


" Tidak... Dulu aku sangat lemah hingga apapun perlakuan Mas Gavin padaku selalu aku terima dan aku maafkan." Batin nyonya Vania.


" Padahal setelah itu aku sudah menarik kata kataku kembali Ma. Selama tiga bulan ini aku membujuk Selya untuk hamil, tapi dia tetap tidak mau." Ucap Gava menatap mamanya sambil memberikan kode melalui matanya.


" Sudahi semuanya sampai di sini Selya. Mulai sekarang lakukan program hamil, Mama sudah ingin menimang seorang cucu, usia Mama tidak muda lagi. Entah kapan Mama akan kembali kepada Tuhan. Sebelum itu Mama ingin melihatmu bahagia bersama suami dan anak anakmu. Apa kau setuju?" Tanya nyonya Vania menatap Selya.


" Aku....


TBC....


Mohon maaf jika jarang update, mau lebaran author masih mempersibukkan diri membuat kue lebaran ha ha ha...


Tapi tetap dukung author ya...


Terima kasih...


Miss U All....

__ADS_1


__ADS_2