
" Minumlah pil penunda kehamilan."
Jeduarrrr.....
Tubuh Selya mendadak menjadi kaku, nafasnya tercekat, dadanya terasa sesak tidak bisa ia tahan.
Tes...
Air mata menetes begitu saja di pipi Selya, beruntung saat ini Selya memunggungi Gava. Selya membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya.
" Sely, kamu jangan salah paham dulu. Bukannya aku tidak mau mempunyai anak darimu tapi saat ini kondisi Divya sedang bersedih. Aku tidak mau di saat saat seperti ini kita malah memberikan kabar bahagia kepada keluarga kita. Itu akan membuat Divya terluka." Ujar Gava.
" Kau menyakitiku Mas hiks." Ucap Selya terisak.
" Sayang maafkan aku! Bukan maksudku menyakitimu tapi...
" Seharusnya Mas tidak mengatakan itu padaku. kita baru berhubungan dan itupun belum tentu jadi. Aku pikir ini awal dari kebahagiaan kita, tapi ternyata aku salah."
Deg...
Jantung Gava terasa berhenti berdetak. Ia merutuki kebodohannya yang terburu buru mengutarakan niatnya itu.
" Aku minta maaf!" Ucap Gava.
" Kau tidak perlu minta maaf Mas, dan ya.. Jangan khawatir! Saat ini aku sedang dalam fase pra haid jadi aku tidak akan hamil." Sahut Selya menggulung tubuhnya dengan selimut. Ia turun dari ranjang menatap Gava sambil mengusap air matanya.
" Setelah ini jangan pernah sentuh aku lagi! Karena aku tidak mau mengkonsumsi pil penunda kehamilan." Ucap Selya berlalu ke kamar mandi dengan menahan perih di bagian bawah dan hatinya.
" Bodoh kau Gava." Gava menarik rambutnya dengan kasar.
Di dalam kamar mandi, Selya mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia duduk menekuk kedua kakinya sambil menangis.
" Hiks... Hiks... Apa ini yang dinamakan cinta? Apa ini yang dinamakan sayang? Mas Gava bilang akan menyayangi dan mencintaiku, tapi apa kenyataannya? Dia menyakitiku setelah menyentuhku hiks... Jika dia peduli dengan perasaan Divya, kenapa dia tidak peduli dengan perasaanku. Hiks... " Isak Selya.
" Arghhh!!!!" Teriak Selya mengeluarkan rasa sesak di dalam dadanya.
Gava yang mendengarnya dari luar pun ikut menangis. Ia mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
Lima belas menit kemudian Selya keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe, ia masuk ke ruang ganti memakai piyamanya. Setelah selesai ia naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya di tepi ranjang memunggungi Gava.
" Selya jangan tidur di tepi seperti itu! Nanti kamu bisa jatuh." Ujar Gava.
Selya tidak bergeming, ia mencoba memejamkan matanya menghilangkan kesedihannya. Gava menghela nafasnya pelan, ia mendekati Selya lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
" Jangan sentuh aku Mas!" Selya menyentak tangan Gava dengan kasar.
" Aku minta maaf sayang jika perkataanku menyakiti hatimu. Aku tidak bermaksud menyakitimu, sungguh. Aku hanya ingin menjaga perasaan adikku tapi aku lupa menjaga perasaanmu. Maafkan aku!" Ucap Gava menatap punggung Selya.
" Lupakan saja! Aku sudah memaafkanmu." Ketus Selya.
Gava tahu walaupun bibir Selya mengatakan memaafkan namun tidak dengan hatinya.
" Baiklah terima kasih, tidurlah dengan nyenyak. Lupakan ucapanku yang menyakiti hatimu tadi." Ujar Gava.
Selya tidak mempedulikan ucapan Gava. Ua hajua ingin cepat cepat tidur agar hari cepat berganti.
...----------------...
Sinar matahari masuk ke kamar Gava melalui celah cepat korden. Selya mengerjapkan matanya, ia merasa perutnya terasa berat. Selya menghela nafasnya saat melihat tangan Gava uang melingkar di perutnya. Posisinya saat ini juga sudah tidak di tepi lagi, mungkin Gava memindahkannya.
Selya turun dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu ia menyiapkan pakaian ganti untuk Gava lalu ia turun ke bawah menuju dapur.
" Pagi Kakak ipar." Sapa Divya yang sudah ada di sana.
" Pagi Divi, maaf terlambat." Ucap Selya.
" Bukan terlambat, tapi aku yang turun lebih awal. Aku harus menyiapkan sarapan karena kami mengambil penerbangan paling awal." Ujar Divya.
" Oh Kakak ipar so sweet, thank you." Ucap Divya memeluk Selya.
Divya tersenyum saat melihat tanda merah di leher Selya. Ia melepas pelukannya lalu menatap Selya.
" Kau sudah unboxing ya semalam." Bisik Divya membuat Selya nampak malu.
Mendadak ia menjadi ingat kata kata Gava yang menyakitkan hatinya.
" Kenapa murung begitu? Harusnya kamu bahagia Kakak ipar. Aku doakan semoga sebentar lagi kalian mendapatkan momongan." Ucap Divya.
" Sepertinya doamu tidak akan di kabulkan Divi, karena aku dalam fase tidak subur saat ini." Sahut Selya.
" Yah sayang sekali. Tapi tidak apa kalian bisa melakukannya saat kau dalam masa subur nanti." Ujar Divya.
" Divi."
" Ya." Sahut Divi menatap Selya.
" Apa tidak apa apa kalau seandainya dalam waktu dekat ini aku hamil?" Tanya Selya membuat Divya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Memangnya kenapa Kak?" Tanya Divya.
" Saat ini kami sedang prihatin dengan keadaanmu, aku merasa tidak relevan kalau aku hamil di saat kamu bersedih seperti sekarang." Ucap Selya hati hati takut menyinggung perasaan Divya.
" Hei aku Divi Kak. Gadis tangguh yang tidak kenal kata menangis ataupun yang lainnya. Aku justru senang kalau Kakak ipar bisa segera hamil, papa sama mama sudah menunggu hal itu Kak. Jangan buat aku merasa bersalah kepada kalian karena kondisiku saat ini. Aku tidak mau menjadi penghambat kebahagiaan kalian." Ucap Divya menggenggam tangan Selya.
" Lahirkan cucu untuk papa sama mama, karena memang itu tugas dan kewajibanmu sebagai putri pertama mereka. Kami akan sangat bahagia jika sampai itu terjadi." Ucap Divya. Selya hanya menganggukkan kepalanya.
" Apa kak Gava mengatakan sesuatu yang membuatmu ragu Kakak ipar?" Selidik Divya.
" Ah tidak, dia tidak mengatakan apa apa hanya aku saja yang merasa tidak enak." Sahut Selya.
" Baiklah aku percaya, yang jelas biarkan semua mengalir sebagaimana Tuhan telah menulis takdir dan nasib kita. Jika memang Tuhan memberikan keturunan padamu salam waktu dekat ini, aku turut bahagia." Ucap Divya.
" Terima kasih." Ucap Selya.
Gava yang tanpa mereka sadari mendengar semuanya, kini ia bisa tersenyum lega. Ia melihat kebenaran dari setiap ucapan Divya jadi ia tidak harus khawatir lagi.
" Pagi dia bidadari cantikku." Sapa Gava mendekati keduanya.
" Pagi pangeranku." Sahut Divya.
Gava mendekati Selya, ia hendak mencium pipi Selya namun Selya segera menghindarinya. Ia malah menuju wastafel mencuci pisau yang hendak ia pakai untuk memotong daging. Gava yang melihatnya hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
Gava mendekati Selya namun Selya berpindah ke kulkas mengambil sekantong daging ayam. Lagi lagi Gava hanya bisa menghela nafasnya saja.
" Sayang, aku belum di kasih ciuman pagi." Ucap Gava akhirnya.
Divya melongo mendengar ucapan kakaknya.
" Maaf aku harus ke kembali ke kamarku dulu, aku duluan Kakak ipar." Ucap Divya berlalu dari sana.
" Sayang dengarkan aku!" Gava mencekal tangan Selya.
" Lepas! Aku mohon jangan menggangguku!" Ucap Selya.
" Sayang aku minta maaf, aku... "
Plek....
Selya melempar pisaunya ke atas meja. Ia menatap Gava sebentar lalu meninggalkan Gava di dapur sendirian. Gava mengacak rambutnya dengan kesal.
" Aku nggak nyangka ternyata dia bisa ngambek juga. Aku harus membujuknya." Gumam Gava.
__ADS_1
TBC...