KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
PRIA ASING DEKAT DI HATI


__ADS_3

Satu bulan berlalu Damian menjaga Divya dengan baik. Apapun yang Divya inginkan selalu ia berikan. Mereka berdua benar benar hidup bahagia, lebih tepatnya Damian yang bahagia. Sedangkan Divya tidak, walaupun Damian memenuhi semua keinginannya dan menunjukkan cintanya selama ini namun masih ada yang mengganjal di dalam hatinya. Entah kenapa Divya merasa bukan Damian pria yang ia inginkan. Tapi siapa Divya juga tidak tahu.


" Sayang hari ini kamu makan apa?" Tanya Damian menghampiri Divya yang sedang duduk di atas ranjang.


" Selama satu bulan ini aku tidak pernah keluar rumah, aku ingin jalan jalan. Aku suntuk di rumah terus." Sahut Divya.


" Kita bisa jalan jalan tapi di sekitar sini saja, tidak boleh jauh jauh." Ujar Damian.


" Kenapa kau selalu melarang ku pergi? Kau bahkan tidak mengijinkan aku menggunakan ponsel, sebenarnya apa alasan kamu melakukan itu Damian? Kenapa aku merasa aku bukan istrimu tapi tawananmu." Ucap Divya tegas.


" Sayang aku tidak punya alasan apa apa, memang di daerah sini kita tidak bisa menggunakan ponsel. Kita berada di pinggiran pantai yang tidak bisa di jangkau oleh sinyal internet sayang." Ujar Damian merapikan anak rambut Divya.


" Kalau begitu kita pindah saja, aku ingin tinggal di kota. Aku ingin mencari suasana baru. Mau ya?" Divya menggenggam tangan Damian.


Damian nampak sedikit berpikir. Bagaimana caranya ia menolak keinginan Divya? Tidak mungkin kan mereka kembali ke kota? Bisa bisa keluarga Mahardika akan menemukan mereka berdua. Dan Damian tidak mau kehilangan Divya.


" Sayang, aku kerjanya di daerah sini. Aku juga tidak bisa meninggalkan rumah ini. Rumah yang menjadi saksi cinta kita selama ini. Banyak kenangan indah kita di sini yang tidak mau aku tinggalkan sayang. Aku mohon mengertilah!" Ucap Damian mencium punggung tangan Divya.


" Tapi aku merasa rumah ini sangat asing bagiku, aku tidak bisa mengingat satu hal pun di sini." Ucap Divya.


" Itulah tujuanku sayang, aku tidak mau ingatanmu sampai kembali. Aku merasa bahagia selama satu bulan ini. Aku tidak mau memberikan kebahagiaan ini kepada siapapun termasuk kepada Alex suamimu." Batin Damian.


" Bersabarlah sayang! Suatu saat nanti kau pasti bisa mengingat semuanya, semua butuh proses sayang." Ujar Damian.


" Hah baiklah." Divya menghembusoan kasar nafasnya.


" Istri pintar." Ucap Damian mencium kening Divya.


" Kamu bilang kita berada di tepi pantai?" Tanya Divya memastikan.


" Ya." Damian menganggukkan kepalanya.


" Kalau begitu aku ingin jalan jalan ke tepi pantai. Maukah kau mengajakku ke sana?" Tanya Divya menatap Damian.


" Baiklah, ayo!" Ajak Damian.


Divya turun dari ranjang, Damian menggandeng tangan Divya keluar dari kamarnya. Mereka berjalan menyusuri jalan aspalan di ikuti beberapa anak buah Damian. Jarak antara rumah dan pantai memang tidak terlalu jauh.


Suasana sore membuat angin pantai bertiup lebih kencang. Divya mengelus pundaknya karena merasa dingin.


" Kenapa sayang? Kamu kedinginan?" Tanya Damian melepas jaketnya.


" Pakai ini." Ucap Damian memakaikan jaket kepada Divya.


Damian kembali menggenggam tangan Divya, suara ombak mulai terdengar menggelegar seperti petir.

__ADS_1


" Lihatlah pantainya! Sangat indah kan?" Ujar Damian menunjuk hamparan air laut yang berwarna biru.


" Iya, tapi kenapa pengunjungnya sepi?" Tanya Divya manatap sekitar.


" Karena di sini bukan tempat wisata, jadi tidak banyak pengunjung yang berminat ke sini." Sahut Damian.


Mereka mulai mendekati bibir pantai, pasir halus membuat langkah mereka terasa berat.


Sampai di bibir pantai, Divya mulai bermain air.


" Sayang jangan dekat dekat dengan ombak! Aku tidak mau kamu kenapa napa." Ucap Damian.


" Tidak apa, ombaknya kecil kok." Sahut Divya.


Melihat Divya asyik bermain ombak, Damian pun mendekatinya. Tiba tiba Divya menyiram wajah Damian dengan air ombak.


" Nakal kamu ya." Ucap Damian membalasnya.


Akhirnya mereka saling menyiram satu sama lain membuat baju keduanya basah. Divya berlari menjauh dari Damian, Damian segera mengejarnya.


" Kena kau." Damian mengangkat tubuh Divya dari belakang. Keduanya tertawa bersama layaknya sepasang suami istri bahagia.


Alex yang baru sampai di sana mengerutkan keningnya saat melihat Divya. Ia hanya ingin memastikan jika wanita itu benar benar Divya. Pasalnya perut Divya kempes tidak sebesar sebelumnya.


Entah kebetulan atau memang petunjuk dari Tuhan saat Alex pulang dari salah satu restonya ia malah kesasar melewati jalan itu. Ia terus menyusuri jalan aspalan hingga sampai ke pantai. Alex terus menatap wanita itu, semakin ke sini ia merasa jika wanita itu benar benar Divi.


Alex berlari menghampiri Divya, saat di depan Divya ia menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


" Divi." Ucap Alex.


Divi menatap Alex, ada sesuatu yang berdesir di dalam hatinya.


Tiba tiba..


Grep...


Alex menarik Divi ke dalam pelukannya.


" Hiks.. Divi akhirnya Mas menemukanmu sayang, Mas sangat bahagia sekali akhirnya kita bisa bertemu setelah sekian lama. Mas sangat merindukanmu sayang, sangat sangat merindukanmu." Ucap Alex menciumi pucuk kepala Divya.


Entah mengapa Divya merasa pelukan Alex sangat nyaman. Desiran halus di dalam hatinya terus merambat, tanpa Divya sadari ia membalas pelukan Alex.


Damian yang melihat itu, mengepalkan erat tangannya. Ia memberi kode kepada anak buahnya untuk mengurus Alex.


" Lepaskan Nyonya kami." Opin menarik Alex hingga pelukannya terlepas lalu...

__ADS_1


Bugh... Bugh... Bugh...


Opin memukuli Alex dengan membabi buta. Divya hanya diam saja melihat Alex yang terus menatapnya tanpa memberikan perlawanan.


" Ayo sayang kita pulang!" Damian menggandeng tangan Divya meninggalkan tempat itu.


Divya menoleh ke belakang terus menatap Alex yang sudah terkapar di atas pasir. Ia merasa wajah Alex tidak asing baginya. Tapi siapa dia? Kenapa dia memanggilnya sayang? Apa pria itu ada hubungannya dengan masa lalunya? Pikir Divya.


" Divi.... " Teriak Alex.


Seketika Divya menghentikan langkahnya. Ia menoleh kembali ke arah Alex.


" Kenapa berhenti? Kita harus segera pulang." Ucap Damian menarik tangan Divya.


" Aku merasa mengenal baik pria itu, apa dia pria masa laluku?" Tanya Divya menatap Damian.


" Tidak ada pria lain selain aku di dalam hidupmu, dia hanya pria gila yang sok mengenalmu. Itu sebabnya aku meminta Opin untuk menghajarnya karena telah berani menyentuhmu. Dan ya.. Jangan banyak bertanya! Ayo kita pulang sebelum dia mengganggumu lagi." Ucap Damian.


Damian dan Divya melanjutkan langkahnya. Alex segera bangkit lalu menarik Opin dengan kuat hingga Opin jatuh di atas pasir.


Bugh.. Bugh...


Alex memukul wajah Opin.


" Katakan dimana rumah Damian!" Ucap Alex menindih tubuh Opin.


" Aku tidak akan mengatakannya."


Bugh...


Alex kembali memukul wajah Opin hingga darah mengalir dari hidungnya. Tatang yang melihat itu langsung menarik kasar tubuh Alex dari atas tubuh Opin.


Bugh bugh bugh


Tatang memukul perut Alex membabi buta. Ia mendorong tubuh Alex hingga tersungkur di gulungan ombak. Tubuh Alex terasa remuk tak berdaya. Tiba tiba matanya terpejam.


" Divi kenapa kamu bertindak seolah tidak mengenal Mas? Apa yang sebenarnya terjadi selama satu bulan ini sayang? Kenapa mas tidak melihat perut buncitmu? Kamu apakan anak kita sayang? Ya Tuhan jangan hilangkan kesadaranku! Aku harus mengikuti anak buah Damian supaya aku bisa membawa Divi pergi dari sana. Aku mohon ya Tuhan." Batin Alex.


Tak lama tubuh Alex tersapu ombak.


Penasaran nggak nih kelanjutannya? Tekan like koment vote dulu ya biar author semangat ngetik di tengah tengah puasa.


Terima kasih


Miss U All

__ADS_1


TBC


__ADS_2