
" Divi.. " Teriak Damian.
Brak...
Tubuh Divya terpental ke aspalan setelah di tabrak truk tersebut, kepalanya terbentur aspal dengan keras. Terlihat darah mengalir dari kepalanya. Melihat itu tubuh Damian menegang, ia benar benar syok namun sedetik kemudian ia tersadar, ia segera berlari menghampiri Divya.
" Divi bertahanlah!"
Tanpa membuang waktu Damian membopong tubuh Divya. Ia segera berlari menuju mobilnya, beruntung anak buahnya mengikutinya tadi.
" Silahkan Tuan!" Anak buah Damian membuka pintu mobilnya.
Damian masuk ke dalam, ia duduk memangku tubuh Divya yang berlumuran darah.
" Minta Tatang untuk mengurus sopir truk itu, pastikan dia merasakan seperti yang Divi rasakan saat ini." Ucap Damian.
" Baik Tuan, Tatang sudah berada di lokasi saat ini. Saya akan menghubunginya sambil jalan nanti." Ucap Opin. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Opin segera menelepon Tatang untuk menjalankan perintah bosnya.
" Pastikan tidak ada yang bisa menemukan Divi di rumah sakit, tutup semua informasinya. Jika sampai bocor aku akan memecatmu dan menghancurkan keluargamu." Ucap Damian.
" Baik Tuan, saya akan meminta yang lain untuk melakukan pengawasan." Sahut Opin.
Damian menatap wajah pucat Divya.
" Sayang bangunlah! Kau harus berjuang untukku. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai kau tiada. Hiks... Aku mohon bangunlah Divi!" Ucap Damian menciumi pipi Divya.
" Opin kenapa Divi mengeluarkan darah banyak sekali? Apa dia akan baik baik saja?" Tanya Damian mengusap air matanya menggunakan lengan bajunya.
" InsyaAllah nyonya Divi baik baik saja Tuan." Sahut Opin.
" Kecuali bayi dalam kandungannya." Batin Opin. Melihat banyaknya darah yang mengalir dari sela sela kaki Divya membuat Opin yakin jika bayi dalam kandungan Divya tidak selamat, namun ia tidak berani mengatakannya pada Damian. Bisa bisa Damian membunuhnya saat ini juga.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Divya segera di tangani oleh dokter. Divya melakukan operasi karena ada penyumbatan darah di otak. Dan ia mengalami keguguran pada kandungannya. Damian yang mendengar penjelasan dokter langsung lemas. Ia terduduk di kursi tunggu sambil terus menangis.
" Ya Tuhan.. Kenapa kau lakukan ini pada Diviku? Kenapa kau mengambil bayi dalam kandungannya? Bagaimana aku bisa menghadapi Divi setelah ini Tuhan? Aku yakin dia pasti sangat membenciku."
" Tapi aku tidak peduli, yang harus aku pikirkan sekarang adalah keselamatan Divi. Aku mohon selamatkan Divi ya Tuhan. Aku akan tiada jika sampai Divi tidak bisa di selamatkan hiks.... Aku sudah pernah kehilangan Divi dan aku tidak mau kehilangan dia lagi. Aku memang bodoh. Aku tidak bisa menjaga Divi dengan baik. Aku bodoh bodoh bodoh." Ucap Damian memukuli dadanya sendiri.
" Tenanglah Tuan! Nyonya Divi pasti baik baik saja." Ucap Opin.
" Bagaimana aku bisa tenang Opin? Niatku ingin hidup bersama Divi malah menjadi petaka untuknya. Dan kau selalu bilang baik baik saja dari tadi, tapi pada kenyataannya Divi kehilangan bayinya. Aku merasa sangat bersalah Opin. Untuk menebus rasa bersalah ku, jika Divi sadar nanti aku akan meminta maaf padanya dan aku akan mengembalikan dia pada keluarganya. Aku tidak akan mengganggunya lagi. Aku akan menjauh dari hidupnya sejauh mungkin, aku tidak akan menemuinya lagi." Ujar Damian.
" Saya akan selalu mendukung apapun keputusan Tuan." Ucap Opin.
Empat jam kemudian dokter belum juga keluar dari ruang operasi. Damian semakin gelisah akan hal itu.
" Opin kenapa operasinya lama sekali? Apa terjadi sesuatu dengan Divi di dalam?" Tanya Damian menatap Opin.
" Tidak Tuan, nyonya Divi pasti baik baik saja. Anda jangan khawatir ya, sekarang mending anda makan dulu Tuan. Anda membutuhkan banyak energi untuk merawat nyonya Divi setelah sadar nanti." Ujar Opin.
" Aku tidak lapar Pin, kalau kamu lapar kau bisa makan. Aku akan menunggu dokter keluar di sini." Ujar Damian.
Akhirnya mereka duduk menunggu operasi selesai. Tak lama dokter keluar dari ruangan, Damian segera menghampirinya.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok? Apa operasinya berjalan dengan lancar? Apa istri saya bisa di selamatkan?" Tanya Damian menatap dokter pria berkacamata itu.
" Alhamdulillah operasinya berjalan lancar Tuan, namun saya belum tahu apa yang akan terjadi pada nyonya Divya, melihat benturan keras yang terjadi di kepalanya, ada kemungkinan akan ada efek dari operasi ini. Seperti koma dan yang lainnya. Kita tunggu saja sampai nyonya Divya sadar, saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Terang dokter.
" Baik Dok terima kasih." Ucap Damian.
" Sama sama Tuan, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda. Kalau begitu saya permisi." Ucap dokter undur diri.
" Silahkan Dok." Sahut Damian.
Damian kembali duduk di kursi.
__ADS_1
" Apa Divi akan aman di sini untuk beberapa hari?" Tanya Damian.
" Sepertinya begitu Tuan, kami sudah menutup seluruh akses dari berbagai macam pelacakan dan peretas Tuan." Sahut Opin.
" Setelah Divi sadar aku ingin membawanya pulang, lakukan perawatan di rumah saja. Aku tidak yakin dengan keamananmu. Kamu tahu kan kalau pamannya Divi peretas handal, aku nggak mau sampai kecolongan. Aku akan membawa Divi kehadapan mereka setelah Divi sembuh nanti. Aku belum siap menerima kemarahan mereka semua. Aku juga belum siap mengungkap jati diriku yang sebenarnya di depan mereka." Ujar Damian.
" Baik Tuan, ikuti saja apa kati hati anda Tuan. Kami selalu siap membantu." Ucap Opin.
Tak lama beberapa suster memindahkan Divya ke ruang vvip nomer dua. Damian dan Opin mengikuti mereka dari belakang. Damian menatap wajah Divya yang masih setia memejamkan matanya. Kepalanya di balut perban putih, membuat Damian nampak sedih.
Mereka semua masuk ke ruangan, setelah sister menyetel infus Divya mereka meninggalkan ruangan Divya, tentunya setelah menyapa Damian. Damian duduk di kursi samping ranjang. Ia menggenggam tangan Divya, sesekali ia menciuminya.
" Bangunlah sayang, segera sadar dari mimpi burukmu ini. Aku minta maaf, karena aku mengalami semua ini. Bahkan kau kehilangan bayi yang ada dalam kandunganmu. Maafkan aku Divi, maafkan aku." Ucap Damian.
Malam harinya Damian masih dalam posisi yang sama. Ia masih duduk manis di kursi samping ranjang sambil menggenggam tangan Divya. Ia bahkan tidak makan sejak pagi, Opin setia menemaninya. Ia duduk di sofa memantau Damian. Ia takut terjadi sesuatu kepada bosnya.
Tiba tiba jari tangan Divya bergerak, Damian yang melihat itu melebarkan senyumannya.
" Divi kamu sadar?" Damian menatap wajah Divya.
Perlahan Divya mengerjapkan matanya hingga terbuka sempurna.
" Sayang kamu sudah sadar, Alhamdulillah aku senang banget sayang." Ucap Damian menciumi wajah Divya dengan pelan.
Divya menatap Damian dengan seksama. Tiba tiba ia memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
" Sayang kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit sayang?" Tanya Damian.
" Kamu siapa?"
Nah loh.. Divya kenapa nih? Pura pura apa beneran lupa?
Jangan lupa tekan like dan hadiah yang banyak, siapa tahu nanti jadi pemenang pulsa ha ha ha...
__ADS_1
TBC...