
Di dalam resto xx Divya dan Alex memesan berbagai olahan daging ayam. Ada ayam lada hitam, rica rica ayam, dan ayam panggang tersaji di depan meja mereka.
" Sayang Mas suapin ya." Ucap Alex mengambil piring Divya.
Alex menyuapi Divya menggunakan tangannya langsung, entah kenapa rasanya lebih nikmat di bandingkan pakai sendok.
" Mas Al juga harus makan, masa' cuma nyuapin aku doank kan Mas yang lapar tadi." Ujar Divya sambil mengunyah makanannya.
" Mas nanti aja, biar kamu sama dedek dulu yang makan, biar kalian tidak kelaparan karena Mas telantarkan selama satu malam." Sahut Alex membuat Divya terkekeh.
" Mas ada ada aja ngomongnya, aku nggak merasa terlantar kok Mas." Ucap Divya.
Alex hanya tersenyum mendengarnya. Ia kembali menyuapi Divya dengan telaten.
Tiba tiba bu Rosi datang menghampiri mereka berdua.
" Kamu memang tidak punya hati Divi." Ucap bu Rosi membuat Alex dan Divya menoleh ke arahnya.
" Ibu." Ucap Divya.
" Kalian berdua bahagia di sini sedangkan Damian terpuruk di rumah, ini tidak adil untuk Damian Divi." Ucap bu Rosi.
" Lalu bagaimana denganku saat Damian berduaan dengan selingkuhannya Ibu? Apa ibu tahu apa yang aku alami saat itu?" Pertanyaan Divya membuat bu Rosi bungkam. Divya berdiri di depan mantan ibu mertuanya.
" Aku menderita Ibu, sangat menderita. Aku sakit... Hatiku sangat sakit mengetahui Damian menduakan aku. Ibu tahu bagaimana pengorbananku selama ini untuk Damian, apapun aku lakukan untuknya termasuk menentang keluargaku sendiri. Apa kurangnya aku sehingga Damian melakukan semua itu padaku Bu? Dia yang telah menyia-nyiakan aku, dia yang bersalah jadi biarkan dia sendiri yang menanggung akibatnya. Aku ingin bahagia Bu, aku ingin hidup bahagia bersama suami dan anak anakku nanti. Aku harap ibu mengerti keinginanku ini." Ucap Divya.
Bu Rosi diam saja, ia sadar jika memang putranya lah yang salah. Tapi melihat Divya bahagia bersama pria lain, rasanya ia tidak rela. Menantu yang selama ini ia idam idamkan kini telah menjadi milik orang lain.
" Kita sudah bertemu di sini, mari kita makan bersama Bu." Ucap Divya.
" Tidak Divya, ibu harus segera pulang. Ibu tidak bisa meninggalkan Damian lama lama. Maafkan ucapan ibu tadi, ibu tidak bermaksud menyalahkan ataupun menyudutkanmu. Ibu hanya belum rela melihatmu bahagia bersama pria lain. Tapi ibu akan mencoba untuk merelakannya." Ujar bu Rosi.
" Aku tahu perasaan Ibu, kalau begitu aku titip makanan untuk ayah dan Damian. Minta Damian untuk selalu menjaga kesehatannya, dia harus melanjutkan hidup dan mencari kebahagiaan mesti tidak denganku Bu." Ujar Divya.
" Ibu akan menyampaikannya pada Damian, terima kasih telah bersikap baik pada ibu." Ucap bu Rosi.
" Kau ibuku, sampai kapanpun akan tetap begitu. Bukankah kau menganggapku sebagai putrimu?" Ujar Divya.
" Benar sayang, kau memang putriku." Ucap bu Rosi menyentuh pipi Divya.
" Jaga baik baik cucu ibu." Ucap bu Rosi.
" Tentu." Sahut Divya.
Setelah itu bu Rosi pergi dengan membawa beberapa dus makanan dari Divya. Divya menatap kepergiaannya dengan sendu, ia harus kehilangan Ibu mertua sebaik bu Rosi.
" Sayang." Panggil Alex.
" Iya Mas." Divya kembali duduk di samping Alex.
__ADS_1
" Habisin dulu makanannya." Ucap Alex.
" Aku sudah kenyang Mas." Sahut Divya.
" Kenyang makanan atau kenyang pikiran?" Tanya Alex.
" Kenyang makanan lah Mas, Mas ini ada aja bahan buat aku tertawa." Ucap Divya terkekeh.
" Mas akan selalu berusaha membuatmu tersenyum dan tertawa sayang. Tidak akan Mas biarkan kamu meneteskan air mata kecuali air mata kebahagiaan." Ucap Alex.
" Terima kasih Mas." Sahut Divya.
" Sama sama sayang." Sahut Alex.
Selesai makan mereka kembali ke rumah. Sampai di rumah Divya menuju kamarnya, ia duduk bersandar pada head board di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Alex yang baru masuk kamar pun menghampirinya.
" Sayang apa kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Alex duduk di samping Divya.
" Tidak Mas, aku pengin bersantai saja." Sahut Divya.
" Baiklah Mas akan menemanimu di sini." Ujar Alex.
Alex menarik kepala Divya menyandarkan nya di bahunya. Divya meletakkan ponselnya lalu memeluk perut Alex. Entah mengapa rasanya begitu nyaman.
" Mas semalam aku bermimpi buruk tentang Damian." Ucap Divya membuat Alex terkejut karena istrinya memimpikan pria lain.
" Hal buruk bagaimana sayang?" Tanya Alex mengelus kepala Divya.
" Maksudmu meninggal begitu?" Tanya Alex memperjelas ucapan Divya.
" Iya, aku bermimpi Damian mengalami kecelakaan. Aku jadi gelisah akan hal itu, aku khawatir kalau hal itu benar benar terjadi pada Damian." Ucap Divya.
" Apa kau masih sangat mencintainya?" Tanya Alex.
Divya mendongak menatap Alex.
" Mas Al jangan salah paham. Aku tidak mencintainya lagi, aku khawatir karena aku memikirkan bagaimana ayah dan ibu menghadapi hal itu. Mereka pasti sangat berat kehilangan putra satu satunya." Ujar Divya.
" Tenanglah sayang! Itu hanya mimpi. Kita berdoa saja semoga semuanya baik baik saja. Jangan bebani pikiranmu dengan hal hal yang belum terjadi! Kasihan dedeknya nanti, dia jadi ikutan stress karena kamu banyak pikiran." Ujar Alex.
" Apalagi memikirkan pria lain, Mas cemburu sayang." Sambung Alex.
" Maaf Mas, maaf jika aku melukai perasaanmu. Mas benar aku tidak perlu memikirkan hal itu. Mungkin karena aku tidak berdoa sebelum tidur tadi malam." Ucap Divya.
" Lain kali berdoalah sebelum tidur sayang, supaya tidurmu di jaga oleh para malaikat." Ujar Alex.
" Iya Mas." Sahut Divya.
Divya memejamkan matanya tanpa ia sadari ia tertidur sambil memeluk Alex. Entah karena mengantuk atau bawaan bayi. Alex tersenyum melihatnya, ia membenarkan posisi tidur Divya agar nyaman.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini Divya tidur lebih awal karena ia merasa badannya tidak enak. Perutnya terasa mual dan kepalanya terasa pusing. Alex duduk bersandar di sampingnya sambil memangku laptop memeriksa laporan keuangan beberapa resto dan clubnya.
Alex mengerutkan keningnya saat melihat tidur Divya yang nampak gelisah. Divya menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, keringat dingin mengalir deras di keningnya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Alex mengusap keringat Divya.
" Jangan Damian! Aku mohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku Damian! Damian kau tidak boleh pergi! Aku mohon Damian tetaplah di sini demi aku dan orang orang yang menyayangimu." Racau Divya.
" Ya Tuhan pasti Divi bermimpi buruk lagi." Ucap Alex.
" Sayang bangunlah!" Ucap Alex.
" Damian!!!!" Teriak Divya membuka matanya.
Divya beranjak duduk sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan.
" Sayang minumlah!" Alex memberikan segelas air putih kepada Divya. Divya segera meninumnya hingga tandas, ia memberikan gelas kosongnya kepada Alex.
" Kamu bermimpi buruk lagi?" Tanya Alex meletakkan gelasnya di atas nakas.
" Iya Mas, aku bermimpi buruk lagi tentang Damian padahal tadi aku sudah berdoa." Sahut Divya.
" Semoga tidak terjadi sesuatu pada Damian, semoga mimpimu hanya bunga tidur saja." Ucap Alex.
" Amin." Sahut Divya.
Drt... Drt... Drt...
Ponsel Divya berdering tanda panggilan masuk, ia melihat id pemanggil sebelum mengangkatnya.
" Ibu Mas." Ucap Divya menatap Alex.
" Coba di angkat." Ucap Alex.
Divya segera mengangkatnya.
" Halo Bu, ada apa ibu telepon malam malam begini?" Tanya Divya.
............
Jeduarrrrr....
Kira kira ada apa ya?
Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹yang nanya buat author...
Terima kasih...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....