
Gava menuju kamarnya menyusul Selya. Ia membuka pintunya lalu masuk menghampiri Selya yang sedang duduk termenung di pinggir ranjang.
" Sayang aku... "
" Udah lah Mas nggak usah bahas yang semalam aku lagi malas." Ucap Selya berlalu melewati Gava.
" Sayang aku...
Ceklek... ceklek...
Selya mengunci Gava dari luar.
" Sayang buka." Gava menggedor pintunya.
Selya segera turun kembali ke dapur. Di sana sudah tidak ada Divya, ia segera memasak untuk keluarganya.
Satu jam kemudian, masakan yang Selya masak selesai sudah. Ia menatanya di meja makan. Tak lama nyonya Vania datang menghampirinya.
" Duh menantu Mama rajin amat, jam segini sudah siap semua sarapannya." Ujar nyonya Vania.
" Iya Ma, maaf kalau aku mendahului Mama. Karena mulai sekarang aku yang akan menyiapkan sarapan untuk kalian semua." Ujar Selya.
" Terus Mama ngapain?" Tanya nyonya Vania menatap Selya.
" Mama tinggal duduk manis aja sambil baca majalah. Selama ini Mama sudah sibuk mengurus mereka semua. Jadi sekarang sudah saatnya Mama istirahat. Buat apa ada aku di sini Ma? Tugasku di sini menggantikan Mama mengurus keluarga ini." Ujar Selya.
" Terima kasih sayang." Ucap nyonya Vania sambil tersenyum.
Gava yang melihatnya dari depan pintu merasa terharu. Ia semakin merasa bersalah karena telah melukai hati Ercha.
Sekilas Selya menangkap sosok Gava, ia menatap Gava dengan tatapan sinisnya. Ia masih merasa sakit hati dengan permintaan Gava malam tadi. Ia kembali fokus pada pekerjaannya.
" Kenapa kamu hanya berdiri di situ sayang? Kemarilah! Kita cicipi masakan istrimu." Ucap nyonya Vania.
Gava berjalan menghampiri mereka. Ia duduk di kursinya sambil menanti Selya menyajikan makanan untuknya. Tanpa senyuman Selya menyajikan sepiring makanan di depan Gava.
" Terima kasih sayang." Ucap Gava menatap Selya.
" Hmm." Gumam Selya.
Tak lama tuan Gavin dan Romi pun datang.
" Divi dimana Ma? Apa dia sudah berangkat?" Tanya tuan Gavin menatap istrinya.
" Tadi Divi dan Alex sudah sarapan Pa. Mereka lagi packing yang mau di bawa." Sahut nyonya Vania mengambilkan makanan untuk suaminya.
" Baiklah kita segera selesaikan makannya, setelah ini kita antar Divi dan Alex ke Bandara." Ujar tuan Gavin.
__ADS_1
" Iya Pa." Sahut Gava.
Mereka makan dengan khidmat. Selesai makan mereka mengantar kepergian Divya dan Alex. Setelah pesawat mereka lepas landas, mereka semua pulang ke rumah.
Gava dan Selya mengendarai mobil sendiri, di dalam perjalanan Selya nampak diam saja.
" Sely aku minta maaf! Tolong jangan diamkan aku seperti ini! Aku tidak sanggup menerima perlakuan dinginmu ini sayang." Ujar Gava menatap Selya sekilas.
" Aku sudah bilang pada Mas untuk tidak membahas masalah ini, aku ingin melupakan kata kata menyakitkan yang Mas ucapkan kepadaku tapi Mas selalu mengingatkannya. Apakah aku harus mengabadikan rasa sakit ini selamanya?" Tanya Selya menatap keluar jendela.
" Maafkan aku!" Ucap Gava tidak tahu harus mengucapkan apa lagi.
Perjalanan kembali hening. Tak tahan dengan keheningan ini, Gava kembali membuka suara.
" Sayang masalah itu, sekarang aku tidak akan memintamu untuk menunda kehamilan lagi. Sekarang justru kebalikannya, aku mau kau hamil anakku." Ucap Gava.
" Aku tidak mau." Sahut Selya.
" Maksudmu apa sayang?" Tanya Gava memastikan.
" Aku tidak mau hamil dulu dalam dekat ini, aku juga tidak mau Mas menyentuhku lagi. Aku ingin menikmati masa masa kesendirianku sebelum aku memiliki anak nanti." Ujar Selya.
Gava hanya bisa menghela nafasnya saja. Sepertinya lebih baik untuk saat ini dia diam dulu sampai hati Selya kembali tenang seperti semula.
Sampai di rumah Selya segera masuk ke kamarnya. Ia duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya. Gava masuk ke dalam menghampiri Selya, ia duduk di samping Selya sambil terus menatapnya.
" Apa Mas?" Tanya Selya.
" Hati dan cintamu, agar kau tidak mendiamkan aku lagi." Sahut Gava.
" Semuanya sudah kau dapatkan, bahkan sampai tidak ada yang tersisa lagi Mas." Sahut Selya membuat Gava terkekeh.
" Apa..
Drt... Drt...
Ponsel Selya berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap id pemanggil yang tak lain pemilik restoran tempat ia bekerja.
" Pak Raes." Gumam Selya.
Selya segera mengangkatnya, ia yakin jika Raes akan menanyakan alasannya tidak berangkat bekerja selama beberapa hari. Memang Selya belum resmi mengundurkan diri dari sana.
" Halo Pak." Sapa Selya.
" Halo Selya, apa kabarmu? Bagaimana dengan keadaan Romi? Apa dia baik baik saja? Kenapa kamu tidak berangkat ke restoran beberapa hari ini tanpa ijin? Apa yang terjadi pada kalian berdua?" Raes memberondong Selya dengan pertanyaan.
" Kami baik baik saja Pak, ada alasan lain saya tidak berangkat beberapa hari ini. Maaf sudah membuat Bapak cemas." Ucap Selya lembut.
__ADS_1
" Syukurlah kalau kalian baik baik saja, kapan kamu kembali bekerja?" Tanya Raes.
" Besok saya akan ke sana." Sahut Selya membuat Gava terkejut.
" Apa Sely mau kembali bekerja? Tidak... Aku tidak mengijinkannya. Apalagi kelihatannya bosnya menyukainya." Batin Gava.
" Jam berapa kamu mau ke sini?" Tanya Raes lagi.
" Sekitar jam sembilan Pak." Sahut Selya.
" Baiklah tidak masalah aku akan menunggumu, apa kamu sudah makan?" Raes kembali bertanya.
Selya melirik ke arah Gava yang memasang muka masam.
" Sudah Pak." Sahut Selya.
" Bagaimana kalau siang ini aku jemput kamu untuk makan siang bersama, ajak Romi sekalian." Ujar Raes.
Gava melongo menatap Selya.
" Maaf Pak aku tidak bisa, mungkin lain kali saja." Sahut Selya.
" Baiklah tidak masalah, kalau begitu aku tutup teleponnya ya, aku masih ada urusan dengan pelanggan ini." Ujar Raes.
" Iya Pak, terima kasih telah peduli pada saya." Ucap Selya.
" Jangan lupa kalau kau orang istimewa buat aku." Ucap Raes.
Selya menutup panggilan teleponnya.
" Apa maksudnya mengatakan kalau kamu orang istimewa? Apa dia suka sama kamu? Apa kalian pernah berhubungan sebelumnya?" Tanya Gava dengan nada cemburu.
" Hubungan?" Selya menatap Gava yang saat ini menganggukkan kepala.
" Kalau hubungan sudah tentu ada Mas, dia bosku aku pegawainya." Sahut Selya.
" Bukan hubungan itu yang aku maksud Sely, kau pasti paham akan maksudku yang sebenarnya." Ujar Gava.
" Tenang saja Mas! Aku tidak punya hubungan dengan siapapun baik sekarang maupun sebelumnya. Hubungan kami hanya sebatas bos dan pegawai saja. Jika dia menyukaiku itu bukan salahku, bukankah hak semua orang untuk menyukai sesama ataupun lawan jenisnya? Yang jelas aku tidak punya perasaan apa apa padanya. Jadi Mas tidak perlu cemburu." Ucap Selya.
" Hah? Benarkah aku cemburu padanya?" Tanya Gava menatap Selya.
" Sepertinya begitu." Sahut Selya tersenyum.
" Kalau benar ini cemburu berarti aku benar benar ada perasaan pada Selya. Cinta... Ya aku mencintainya, buktinya aku cemburu melihatnya akrab dengan pria lain. Aku juga merasa takut kehilangannya. Aku mencintaimu Selya." Ujar Gava dalam hati. Ia tersenyum bahagia menyadari perasaannya pada Selya.
" Semoga kami selalu bahagia." Lanjut Gava dalam hati.
__ADS_1
TBC....