
Selesai makan malam Selya masuk ke kamar Romi. Ia menghampiri adiknya yang sedang belajar di meja belajarnya.
" Kakak, ada apa Kak? Apa Kakak butuh sesuatu?" Tanya Romi menatap kakaknya.
" Tidak, Kakak hanya merindukan adik Kakak yang sangat tampan ini." Ucap Selya mengelus pipi Romi.
" Kakak... " Romi memeluk perut Selya.
" Apa kau mengalami kesulitan belajar?" Tanya Selya mengelus kepala Romi.
" Tidak Kak, kak Gava memasukkan aku ke kelas bimbingan belajar. Jadi aku tidak kesulitan untuk memahami pelajaran lagi." Sahut Romi.
" Sejak kapan kakakmu mendaftarkanmu? Kok tidak memberitahu Kakak." Ujar Selya.
" Sudah dua bulan yang lalu." Sahut Romi.
" Ya sudah belajar yang rajin, jangan kecewakan kakak iparmu yang telah mengeluarkan banyak uang untukmu." Ucap Selya menangkup wajah adiknya.
" Tentu Kak, kak Gava berencana mendaftarkan aku ke Universitas Oxford setelah aku lulus SMA nanti." Ucap Romi.
" Benarkah?" Tanya Selya terkejut.
" Hmm." Gumam Romi.
" Terima kasih telah memberikan kakak ipar yang sangat baik hati kepadaku Kak. Kalau tidak ada kak Gava aku tidak tahu bagaimana kelanjutan kehidupan kita Kak. Maafkan aku yang belum bisa membuat Kakak bahagia. Tapi aku berjanji kalau aku akan menjadi orang yang sukses, aku akan menjadi pria kebanggaan Kakak satu satunya." Ucap Romi penuh semangat.
" Amin... Doa Kakak selalu menyertaimu sayang."
" Baiklah sekarang lanjutkan belajarmu, Kakak ke kamar dulu." Ucap Selya.
" Iya Kak." Sahut Romi.
Selya keluar dari kamar Romi, tak lupa ia menutup pintunya kembali. Selya menaiki tangga menuju kamarnya. Ia masuk ke dalam menghampiri Gava yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
" Mas terima kasih telah mendaftarkan Romi ke kelas bimbingan belajar. Sekarang Romi sudah tidak kesulitan lagi dalam memahami pelajaran." Ucap Selya duduk di samping Gava.
" Tentunya semua itu tidak gratis sayang." Ucap Gava.
" Apa?" Selya terkejut dengan jawaban Gava.
" Apa maksudmu Mas?" Selua mengerutkan keningnya menatap Gava.
" Iya tidak gratis, sebagai gantinya kamu harus memberikan apa yang aku mau." Ucap Gava.
" Memangnya apa yang Mas mau hmm?" Tanya Selya menatap Gava.
" Aku menginginkan dirimu malam ini." Ucap Gava memajukan wajahnya.
Cup...
__ADS_1
Gava mengecup bibir Selya, sadar tidak ada penolakan dari Selya, Gava menyusupkan tangannya ke leher belakang Selya. Ia mencecap bibir Selya dengan lembut.
Gava menggigit bibir bawah Selya membuat Selya membuka sedikit mulutnya. Gava mengekspos setiap inchi mulutnya. Suara decapan memenuhi ruangan mereka. Keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva.
Ciuman yang semula lembut kini semakin menuntut, Gava mendorong pelan tubuh Selya ke ranjang tanpa melepas pagutannya. Ia ******* bibir Selya hingga terasa kebas.
" Shhh." Desis Selya saat Gava meremas salah satu gundukan kembarnya.
Tak sampai di situ, ciuman Gava turun ke leher, ia menyesap leher Selya meninggalkan jejak kemerahan di sana. Selya menggeliat seperti cacing kepanasan.
Tak tahan dengan semua itu, Gava mulai membuka gaun yang di pakai Selya. Tidak perlu waktu lama kini keduanya sudah sama sama polos.
" Aku datang sayang." Bisik Gava dengan suara seraknya.
" Iya Mas." Sahut Selya lirih.
Gava memulai permainannya. Ia menuntun senapan laras pendeknya ke goa milik Selya. Perlahan tapi pasti Gava kembali berhasil membobol gawang Selya membuat keduanya mendes@h pelan.
Gava memacu tubuhnya di atas Selya dengan pelan. Keduanya nampak saling terlena dengan situasi yang sangat mendebarkan hati ini. Keringat terus mengucur di tubuh keduanya bahkan dinginnya AC tidak mampu mendinginkan suhu tubuh keduanya.
Sama seperti Gava dan Selya, di dalam kamar Divya dan Alex juga ada adegan yang sama. Mereka berdua nampak sangat bahagia menyatukan cinta dalam gelombang gelombang kenikmatan yang luar biasa.
" Mas Al." Des@h Divya.
" Iya sayang." Sahut Alex di sela sela permainnya.
Gava membaringkan tubuhnya di sebelah Selya. Begitupun dengan Alex, ia membaringkan tubuhnya di samping Divya.
" Terima aksih sayang." Ucap Gava mencium kening Selya.
" Hmm." Gumam Selya.
Gava menyelimuti tubuh mereka lalu ia memeluk Selya. Ia merasa sangat bahagia karena malam ini ia kembali memiliki Selya sepenuhnya.
" Semoga akan hadir Gava junior di sini." Ucap Gava mengusap pelan perut Selya.
Di kamar Divya, Alex memeluk Divya dengan erat.
" Semoga setelah malam ini kita akan mendapat kabar bahagia sayang." Ucap Alex merapikan akan rambut Divya.
" Amin... Semoga saja Mas." Sahut Divya.
Kedua pasangan tersebut sama sama terlelap di kamar masing masing.
...****************...
Pagi hari Selya dan Divia menuju dapur secara bersamaan. Nyonya Vania tersenyum melihat rambut keduanya yang nampak basah. Ia juga berhasil menangkap jejak kemerahan pada leher keduanya.
" Mama kenapa senyam senyum begitu? Apa ada yang aneh pada kami?" Tanya Divya menatap mamanya.
__ADS_1
" Tidak ada, semuanya normal sayang. Sekarang bantu Mama menata makanan di meja makan." Ujar nyonya Vania.
" Baik Ma." Sahut keduanya.
Keduanya dengan cekatan menata makanan di meja makan. Divya dan Selya saling melempar pandangan sambil menyentuh leher masing masing.
" Ya Tuhan... " Gumam keduanya.
Selya langsung berlari menuju kamarnya begitupun dengan Divya. Nyonya Vania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah kedua putrinya.
Brak...
Selya menutup pintu dengan kasar. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu sambil mengatur nafasnya.
" Kenapa sayang? Kenapa kamu seperti orang yang di kejar hantu?" Tanya Gava yang sedang menyisir rambutnya. Ia mendekati Selya yang masih nampak ngos ngosan.
Tanpa menjawab pertanyaan Gava, Selya langsung berjalan menuju cermin. Sampai di depan cermin ia tersipu malu merutuki kebodohannya.
" Kenapa sayang?" Tanya Gava.
" Mas, kenapa Mas tidak bilang kalau meninggalkan banyak jejak merah seperti ini? Aku kan jadi malu sama Mama Mas. Mana Divya juga punya tanda seperti ini lagi." Uang Selya.
" Apa? Divya juga punya tanda yang sama? Ha ha ha... Berarti semalam kita seperti dua pasangan pengantin baru yang menghabiskan malam pertama." Ucap Gava tertawa.
" Nggak ada yang lucu nggak usah ketawa kali Mas. Ini baru Mama yang lihat, kalau Romi sampai melihatnya gimana? Otaknya pasti menjerumus ke sana, kan bisa bahaya. Apalagi kalau sampai dia penasaran." Ucap Selya menghembuskan nafasnya kasar.
" Tinggal di tutupi aja pakai foundation, nggak bakal kelihatan." Ujar Gava.
" Ah iya Mas benar." Sahut Selya mengambil foundation di lacinya.
" Sini aku olesin." Gava mengoleskan foundation pada jejak merah yang ia ciptakan semalam. Mengingat kejadian semalam, ia jadi senyum senyum sendiri.
" Nggak usah senyum senyum deh Mas." Ujar Selya.
" Iya maaf sayang." Ucap Gava.
" Dah selesai."
" Terima kasih Mas." Ucap Selya.
" Sama sama." Sahut Gava.
TBC.
Author ucapkan
...MINAL AIDZIN WALFAIDZIN...
...MOHON MAAF LAHIR & BATIN...
__ADS_1