
Pagi ini selesai sarapan, Divya meminta Damian duduk di sofa ruang tamu. Ia baru saja turun dari kamarnya dengan membawa sesuatu di tangannya. Sampai di depan Damian, ia duduk di sofa seberang sambil menatap Damian.
" Damian setelah aku pikir pikir, sepertinya kita tidak bisa hidup seperti ini terus. Walaupun kita bersama tapi kita hanya akan menyakiti satu sama lain. Kau punya wanita lain, dan kau punya tanggung jawab penuh atas anak yang dia kandung tapi kau tidak bisa hidup bersamanya. Sedangkan denganku? Kau tidak akan bisa hidup bahagia bersamaku karena rasa di dalam hati ini sudah tidak lagi sama seperti dulu sejak pengkhianatan yang kau lakukan padaku. Selama ini aku sudah mencoba untuk melupakan dan menerima dia untuk hidup berdampingan bersama kita, tapi maaf. Aku tidak bisa." Ucap Divya menghela nafasnya.
" Sebenarnya apa yang ingin kau katakan Divi? Kenapa berbelit belit seperti ini? Katakan saja intinya, aku akan mencoba untuk memahaminya." Ucap Damian.
" Aku ingin kita berpisah. Setelah berpisah menikahlah dengan Reva demi anakmu. Anak yang sangat kau harapkan selama ini yang tidak bisa aku berikan padamu. Aku sudah tidak sanggup menjalani hidup seperti ini, aku tersiksa Damian. Akan lebih baik jika kita berpisah." Ujar Divya.
" Apa ini karena pria itu?" Tanya Damian menatap Divya.
" Bukan... Keputusanku tidak ada hubungannya dengan dia. Ini murni karena kemauanku sendiri. Aku tidak sanggup berbagi kasih dengan wanita lain. Aku harap kau bisa mengerti Damian. Lakukan demi kebahagiaan kita bersama. Kau yang sudah membuat semuanya menjadi kacau seperti ini. Aku tidak bahagia Damian, aku mohon lepaskan aku! Kita bertemu secara baik baik, aku juga ingin kita berpisah secara baik baik juga. Jika kau mencintaiku dan ingin melihatku bahagia, lepaskan aku sekarang juga. Tanda tangani surat perpisahan ini!" Ucap Divya.
Damian menghela nafasnya pelan. Saat ini ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak ingin berpisah dari Divya namun ia juga tidak bisa meninggalkan Reva karena anaknya.
" Aku mohon Damian, jangan persulit hidupku dengan seperti ini. Aku minta maaf karena aku tidak bisa menepati ucapanku untuk tetap bersamamu. Maafkan aku Damian hiks... " Isak Divya.
" Sayang jangan menangis!" Damian duduk di samping Divya, ia menarik Divya ke dalam pelukannya.
" Aku minta maaf! Karena aku telah menyakitimu selama ini. Kau benar benar minta maaf Divya." Ucap Damian menciumi pucuk kepala Divya.
" Aku akan memaafkanmu kalau kau mau menandatangani surat itu." Ucap Divya.
Damian tidak bergeming, ia sedang menimbang keputusannya.
" Cepat tanda tangani Damian, aku sudah tidak sabar ingin memberikanmu kejutan selanjutnya." Batin Divya.
Divya melepas pelukan Damian, ia menatap Damian dengan tatapan sedihnya.
" Aku mohon Damian, jika kau tidak mau melakukannya untukku maka lakukan semua ini demi anakmu. Aku mohon!" Ucap Divya.
" Baiklah Divya, apapun akan aku lakukan demi kebahagiaanmu. Jika kau bahagia berpisah dariku, aku akan melakukannya. Selain itu aku juga melakukan semua ini demi anakku. Maaf jika aku terkesan lebih memilih dia daripada kamu." Ucap Damian.
Divya tersenyum senang mendengarnya.
" Terima kasih Damian, aku memaafkanmu." Ucap Divya.
Dengan tangan gemetar Damian menandatangani surat perpisahan itu. Divya tersenyum penuh kemenangan.
" Terima kasih, aku akan mengirimnya ke pengadilan. Sekarang aku ingin menemui Reva. Aku ingin menyerahkan kamu padanya seutuhnya. Apa kau mau mengantarku ke sana?" Tanya Divya.
" Baiklah aku akan mengantarmu." Ucap Damian.
" Aku simpan ini dulu." Ucap Divya kembali ke kamarnya.
Setelah itu Divya kembali menghampiri Damian.
__ADS_1
" Ayo!" Ajak Divya.
Keduanya berjalan menuju mobil. Damian segera melajukan mobilnya ke rumah Reva. Tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sederhana.
Mereka berdua turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu rumah.
" Reva." Panggil Damian masuk ke dalam. Kebetulan pintu tidak di kunci.
" Kok sepi, apa Reva pergi?" Tanya Divya.
" Tidak, mungkin dia di kamarnya." Sahut Damian.
Damian menuju kamar Reva, ia membuka pintunya tiba tiba...
Deg...
Jantungnya berdebar kencang, tangannya mengepal erat saat melihat Reva sedang bergemul di balik selimut bersama seorang pria. Amarah Damian memuncak begitu saja.
" Reva!!!" Bentak Damian membuat kedua orang yang sedang asyik menikmati surga dunia menoleh ke arahnya.
" Da... Damian." Ucap Reva.
Reva segera mendorong pria itu menjauh dari tubuhnya, ia memunguti pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi. Damian menarik kasar rambutnya melihat pengkhianatan selingkuhannya.
Divya tersenyum melihat kekecewaan yang Damian tampilkan di wajahnya.
"Ternyata dewi fortuna berpihak kepadaku, di saat aku ingin mengungkap semuanya malah Damian melihatnya dengan kedua matanya sendiri. Sepertinya ini akan semakin seru." Batin Divya.
Tak lama Reva menghampiri Damian dengan perasaan takut. Ia duduk di depan Damian dan Divya.
" Damian maaf! Aku...
" Apa dia kekasihmu? Atau bahkan dia suamimu?" Tanya Damian memotong ucapan Reva.
" Dia bukan siapa siapa, dia hanya pria yang memaksaku untuk melayaninya. Dia mengancam akan membunuh anak kita jika aku tidak menuruti permintaannya." Ucap Reva.
Divya tersenyum sinis mendengarnya.
" Apa? Dia mengancammu? Aku harus membunuhnya." Ucap Damian beranjak.
Divya mencekal tangan Damian.
" Duduklah Damian, aku akan membantu Reva meluruskan masalah ini." Ucap Divya.
" Apa maksudmu Divi?" Tanya Damian.
__ADS_1
" Duduk dulu!" Ucap Divya membuat Damian kembali duduk di sampingnya.
Divya menatap Reva begitupun sebaliknya. Divya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
" Ini foto foto yang akan menjawab semua pertanyaanmu." Ucap Divya memberikan beberapa lembar foto pada Damian.
Damian segera melihatnya.
Deg...
Jantung Damian kembali berdetak kencang. Bagaimana tidak? Di dalam foto itu nampak Reva dan seorang pria yang sedang bercumbu mesra di sebuah kamar yang Damian yakini kamar apartement yang ia sewa untuk Reva.
Foto kedua menampakkan Reva dengan seorang pria yang sama sedang berada di dalam sebuah kamar hotel, yang membuat Damian tercengang adalah tanggal kejadian foto itu di ambil, yaitu satu bulan sebelum ia mengenal Reva. Itu artinya Reva lebih dulu berhubungan dengan pria itu di banding Damian.
Foto ketiga memperlihatkan Reva dan pria tadi sedang berada di dalam poli kandungan. Nampak juga dua buah foto USG yang menyatakan jika umur kehamilan Reva bukan enam minggu namun dua belas minggu.
Damian menatap tajam ke arah Reva, ia merasa di bohongi olehnya.
" Jadi selama ini kau membohongiku? Anak yang ada dalam kandunganmu bukan anakku hah!!" Bentak Damian membuat Reva berjingkrak kaget.
" Apa maksudmu Damian? Ini anakmu, darah dagingmu." Sahut Reva.
Damian memberikan foto foto itu pada Reva. Reva tercengang melihatnya. Ia menatap Damian dan Divya bergantian.
" Ini foto editan Damian, kau jangan percaya ini. Divya sengaja membuat hubungan kita hancur karena dia tidak mau kehilangan kamu. Ini hanya rencananya saja Damian. Percayalah padaku! Aku tidak dekat dengan pria manapun, yang tadi kau lihat itu baru yang pertama kalinya Damian. Aku mohon percayalah padaku!" Ucap Reva.
Reva menatap Divya.
" Apa kau sedang berusaha meracuni Damian agar dia meninggalkan aku dan anak ini? Apa segitu tidak relanya kamu kehilangan Damian sehingga kamu tega melakukan hal serendah ini Divya? Aku tidak akan menyerah begitu saja, aku tidak akan membiarkan kau menguasai Damian sendirian. Anak ini butuh ayahnya, sedangkan kau... Kau tidak butuh Damian. Jadi mengalalah demi anak ini." Ucap Reva.
" Aku dan Damian sudah berpisah, aku sudah mengalah dan memberikan Damian untukmu. Tapi aku tidak menyangka jika ternyata kau wanita rendahan Reva, kau rela melakukan apapun demi mendapatkan Damian. Ah tidak.. Bukan Damian tapi hartanya." Ucap Divya.
" Aku mencintai Damian bukan karena hartanya tapi karena anak ini. Kau tidak akan bisa mengerti bagaimana perasaanku karena kau tidak pernah hamil. Atau mungkin kau tidak akan pernah hamil Divya." Ucap Reva menatap sinis ke arah Divya.
" Ya kau benar Reva, aku memang tidak akan pernah hamil. Tapi bukan karena aku yang mandul melainkan Damian." Ucap Divya membuat Reva dan Damian terkejut.
" Apa maksudmu Divya?" Tanya Damian menatap Divya.
" Kau ingat dua bulan yang lalu kita melakukan cek kesehatan?" Tanya Divya di balas anggukkan kepala oleh Damian.
" Hasilnya sudah keluar dua minggu yang lalu, tepat saat aku mengetahui pengkhianatanmu. Dan di sana tertulis jika tuan Damian Raharja terbukti mandul."
Jeduarrrrr......
TBC....
__ADS_1