
Dua bulan berlalu, pagi ini Divya merasa mual setelah selesai sarapan. Ia membekap mulutnya lalu berlari ke kamar mandi kamarnya, Alex yang melihatnya langsung menyusulnya.
Huek... Huek...
Divya memuntahkan semua isi perutnya ke wastafel. Keringat dingin mengucur di dahinya.
" Sayang kamu kenapa? Apa kamu masuk angin?" Tanya Alex sambil memijat tengkuk Divya.
" Perutku rasanya mual Mas, sampai kepalaku sakit sekali." Ucap Divya sambil mengatur nafasnya.
" Atau jangan jangan.... " Alex menjeda ucapannya.
Divya membasuh mulutnya dengan air bersih, Alex mengeringkannya menggunakan tisu.
" Apa Mas berpikir kalau aku hamil?" Tanya Divya memastikan.
" Iya, Mas pikir seperti itu." Sahut Alex jujur.
" Tidak Mas, bulan kemarin aku masih dapat tamu bulanan. Dan sekarang belum tanggalnya aku dapat. Mungkin asam lambungku naik karena kemarin aku makan rujak mangga sama kak Sely." Ujar Divya.
" Ya sudah tidak apa apa, kita periksakan saja ya ke dokter biar semuanya jelas. Mas takut kamu salah prediksi dan salah minum obat." Ucap Alex.
" Tidak usah Mas, aku mau istirahat saja. Badanku terasa sakit semua." Ujar Divya.
" Baiklah Mas bantu." Sahut Alex.
Alex menggendong Divya ke ranjangnya. Ranjang miliknya, satu bulan yang lalu Divya dan Alex kembali ke rumahnya sendiri. Mereka tidak mau membuat Selya merasa sungkan jika mereka tinggal bersama.
" Sekarang istirahatlah!" Ucap Alex merebahkan tubuh Divya di atas ranjang.
" Mas pijitin ya biar urat uratnya nggak kaku jadi badannya tidak sakit semua." Sambung Alex mulai memijat kaki Divya.
Alex memijat Divya dengan pelan dan telaten.
" Kepalanya Mas pijat sekalian ya biar nggak pusing." Ujar Alex. Divya menganggukkan kepalanya.
Alex berpindah tempat, ia memijat kepala Divya yang terasa berdenyut nyeri. Tiba tiba perut Divya kembali bergejolak. Ia segera berlari menuju kamar mandi.
Huek.. Huek...
Kali ini Divya memuntahkan cairan bening yang terasa begitu pahit di tenggorokan.
" Sayang kamu harus ke dokter, Mas tidak mau sampai kamu kenapa napa sayang. Mas takut, Mas takut kamu kenapa napa. Apalagi kamu pernah mengalami masalah pada otak. Kita ke dokter sekarang ya." Ujar Alex merasa cemas.
Divya menggelengkan kepalanya. Ia menahan nyeri di kepalanya. Setelah agak mendingan, Alex kembali membawa Divya ke ranjangnya.
" Mas tolong ambilkan obat asam lambungku!" Ucap Divya.
__ADS_1
" Baiklah tunggu sebentar!" Ucap Alex.
Alex menuju kotak p3k untuk mengambil obat pereda asam lambung yang berwarna biru. Setelah itu ia memberikannya kepada Divya dengan segelas air.
" Terima kasih Mas." Ucap Divya memberikan gelas kosongnya.
" Sama sama sayang." Sahut Alex.
Divya mencoba memejamkan matanya, ia berharap sakitnya akan hilang atau sekedar sedikit berkurang. Alex kembali memijat kaki Divya dengan pelan.
Sepuluh menit kemudian Divya merasakan nyeri pada perutnya.
" Shhh... " Desis Divya merintih.
" Kenapa sayang?" Tanya Alex mengusap keringat di dahi Divya.
" Mas perutku terasa nyeri seperti di sayat Mas. Seperti saat aku baru keguguran." Ujar Divya.
" Sayang jangan jangan kamu memang.. " Alex menghentikan ucapannya. Ia berpikir jika Divya hamil dan kehamilannya terpengaruh oleh obat yang baru saja di minum oleh Divya.
" Sayang kita ke dokter sekarang sebelum semuanya terlambat. Mas tidak mau menanggung resiko." Ujar Alex.
" Kenapa sih Mas? Aku..
" Awh." Pekik Divya saat tubuhnya melayang dalam gendongan Alex.
Sampai di sana Alex menghentikan mobilnya. Divya nampak mengerutkan keningnya saat melihat mobil mereka berhenti di depan klinik kandungan.
" Mas kenapa kita ke sini?" Tanya Divya menahan sakit pada perutnya.
" Ikut saja dengan Mas." Ucap Alex turun dari mobil.
Alex segera menggendong Divya masuk ke dalam.
" Selamat pagi Pak, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang perawat mendekati Alex.
" Perut istri saya sakit setelah meminum obat pereda asam lambung, sebelumnya dia spat muntah muntah. Tolong lakukan penanganan yang tepat karena saya curiga jika saat ini istri saya sedang hamil." Ucap Alex membuat Divya terkejut. Ia tidak menyangka jika Alex tetap bersikeras dengan pemikirannya.
" Mas.." Lirih Divya menatap Alex. Alex tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
" Baiklah tidurkan di sini Pak!" Ucap suster.
Suster segera mendorong brankar menuju ruang pemeriksaan. Sampai di dalam sana dokter Sinta, dokter spesial kandungan segera memeriksa Divya setelah suster mengatakan keluhan yang di derita Divya.
" Kita USG dulu ya Pak, Bu untuk memastikan kecurigaan Bapak." Ujar dokter Sinta.
" Silahkan Dok." Sahut Alex.
__ADS_1
Dokter Sinta menyelimuti kaki sampai ke perut Divya. Ia menyibak baju yang di pakai Divya hingga menampakkan perut ratanya. Ia mengoleskan gel ke perut Divya lalu mulai menggerakkan transduser ke kanan dan ke kiri.
" Bagaimana Dok?" Tanya Alex.
" Anda benar tuan Alex, ada janin di dalam rahim nyonya Divya."
Jeduaarrr...
Bagai di sambar petir di siang bolong, Alex dan Divya sama sama terkejut. Bukan tidak bahagia namun mereka lebih mengkhawatirkan keadaan calon bayinya. Mereka merasakan bahagia dan khawatir di saat yang bersamaan. Semoga saja mereka tidak mendengar kabar duka setelah ini, pikir Alex.
" Lalu bagaimana kondisi janinnya Dok? Apa dia baik baik saja setelah istri saya meminum obat tadi?" Tanya Alex memastikan.
" Dengan berat hati saya katakan jika memang ada sedikit masalah Tuan, obat tersebut tidak di anjurkan untuk wanita hamil muda seperti nyonya Divya karena kandungan dalam obat tersebut membahayakan janinnya. Apalagi usia kehamilan nyonya Divya baru berumur tiga mingguan. Dan saya khawatir sakit yang di rasakan oleh nyonya Divya karena reaksi dari janinnya yang tidak kuat dengan reaksi obat tersebut. Tapi kalau di lihat dari sini, janinnya masih baik baik saja." Terang dokter Sinta.
" Ya Tuhan selamatkan calon bayi kami. Maafkan kami yang telah lalai menjaganya karena ketidaktahuan kami ya Rob. Berikan kami kesempatan untuk memilikinya." Gumam Alex.
" Amin semoga Mas, maafkan aku yang tidak mendengarkan ucapan Mas." Ujar Divya sedih.
" Tidak apa apa sayang, kita berdoa saja smeoga calon anak kita baik baik saja." Ucap Alex mengelus kepala Divya.
" Amin." Sahut Divya.
" Apa keluar flek darah saat anda merasakan sakit pada perut anda nyonya Divya?" Tanya dokter Sinta.
" Sepertinya sampai saat ini tidak Dok. Karena saya tidak merasakan apa apa kecuali sakit pada perut saya." Sahut Divya.
" Kalau begitu saya akan memberikan obat untuk menguatkan janin anda, semoga setelah meminum obat itu janin anda baik baik saja dan bisa di selamatkan." Ucap dokter Sinta.
" Amin, terima kasih Dok." Sahut Divya.
" Anda harus bedrest total, jangan sampai anda kecapekan ataupun mengangkat barang barang berat. Minumlah obatnya sampai habis, setelah anda harus kembali lagi ke sini untuk melihat perkembangan janinnya." Ucap dokter Sinta.
" Baik Dok." Ucap Alex.
" Saya akan menuliskan resepnya." Dokter Sinta kembali ke mejanya. Ia menuliskan resep yang harus di tebus Alex di apotik.
Setelah mendapat resep dan penjelasan dari dokter, Alex dan Divya segera menebus resepnya. Srtelah itu ia kembali ke rumah, Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat. Ia tidak mau sampai Divya merasakan sakit lagi.
" Mas maafkan aku!" Ucap Divya menyesal.
" Tidak apa apa sayang, Mas memaafkanmu. Mulai sekarang jaga bayi kita dengan baik! Mas tidak mau sampai kehilangannya." Ucap Alex mengelus perut Divya dengan tangan kirinya.
" InsyaAllah Mas, kita berdoa saja semoga dia baik baik saja." Ucap Divya.
" Amin." Sahut Alex.
" Ya Tuhan lindungilah anak dan istriku." Batin Alex kembali fokus pada kemudinya.
__ADS_1
TBC....