KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
Artama Aldi Mahardika


__ADS_3

Enam bulan kemudian, usia kandungan Divya menginjak sembilan bulan dan siap melahirkan. Saat ia sedang merasakan nikmatnya kontraksi pada perutnya. Rasa pegal, panas, mulas menjadi satu. Ia berjalan mondar mandir di dalam ruang rawat di rumah sakit khusus ibu dan anak. Saat sampai di rumah sakit, Divya sudah mengalami pembukaan lima tinggal menunggu pembukaan sempurna.


" Shhh sakit Mas." Desis Divya saat perutnya terasa mulas lagi. Ia berpegangan pada pinggiran ranjang.


" Sabar ya sayang, sebentar lagi dedeknya pasti keluar." Ucap Alex mengusap usap punggung Divya.


" Iya Mas." Sahut Divya menikmati kodratnya sebagai calon seorang ibu.


" Sayangnya Papa jangan lama lama mencari jalan keluarnya, kasihan mama sayang. Mama sudah kesakitan, keringatnya sampai mengalir deras begini. Kalau saja papa bisa menggantikan mamamu, papa rela merasakan sakitnya kontraksi saat akan melahirkan kamu. Anak papa pintar, cepat keluar ya." Ucap Alex mengelus perut Divya lalu ia menciumnya.


Rasa sakit yang Divya rasakan semakin intens, ia berjongkok sebentar lalu ia berdiri lagi. Ia kembali berjalan ke sana kemari, dengan setia Alex mengikutinya dari belakang menjaga Divya. Tak lama terdengar...


Pyakkk...


Syurrrr....


Air mengalir dari sela sela kaki Divya.


" Mas air ketubanku pecah." Pekik Divya.


" Kamu tunggu di ranjang, Mas akan memanggil dokter dulu." Ucap Alex.


Alex menggendong Divya ke ranjang. Lalu ia keluar memanggil dokter yang menangani Divya.


Alex kembali ke ruangan bersama dengan seorang dokter kandungan yaitu dokter Sinta. Dokter Sinta segera memeriksa Divya, setelah di periksa Divya segera di bawa ke ruang bersalin untuk proses persalinan.


" Mas." Ucap Divya menggenggam erat tangan Alex.


" Iya sayang, Mas di sini." Sahut Alex mengusap keringat yang mengucur di dahi Divya.


" Berjuanglah demi buah cinta kita, kamu pasti bisa sayang. Mas di sini untuk selalu mendukungmu." Ucap Alex mengecup kening Divya.


" Nyonya Divya ikuti instruksi dari saya ya." Ucap dokter Sinta di balas anggukkan kepala oleh Divya.


Dokter Sinta membuka kaki Divya dengan lebar lalu menyelimutinya dengan selimut. Setelah itu ia memberikan instruksi kepada Divya untuk mengej@n. Dengan penuh semangat Divya melakukan seperti yang dokter Sinta katakan sampai...


Oek.... Oek....


Seorang bayi mungil terlihat dengan selamat dan sempurna.


" Alhamdulillah sayang kamu berhasil. Selamat datang akhirnya sekarang kamu menjadi seorang ibu. Sehat dan panjang umur untukmu agar bisa menemani kami sampai akhir hayat nanti." Ucap Alex menciumi pipi dan kening Divya mengutarakan kebahagiaannya.


" Doakan saja aku bisa mewujudkan keinginanmu Mas." Sahut Divya.


" Selamat Nyonya, Tuan, anak anda laki laki. Dia sehat dan sempurna." Ucap dokter Sinta.


" Alhamdulillah, terima kasih Dok." Ucap Alex.


" Bolehkah saya menggendongnya Dok?" Tanya Alex.


" Sebentar Tuan, biar di pakaikan baju sama suster dulu. Silahkan Sus!" Dokter Sinta memberikan bayi Divya kepada suster.

__ADS_1


Babby Divya di urus oleh suster sedang dokter Sinta mengurus Divya pasca persalinan.


" Silahkan Tuan kalau mau menggendongnya." Ucap suster memberikan babby Divya kepada Alex.


" Terima kasih Sus." Ucap Alex menggendong bayinya untuk yang pertama kalinya.


Alex menatap haru wajah tampan bayinya.


" Sayang lihatlah! Dia tampan mirip dengan Mas." Ucap Alex menunjukkan babby nya kepada Divya.


" Iya Mas, semoga sifatnya juga menuruni sifat Mas Al. Baik dan penyayang serta selalu sabar menghadapi aku." Ucap Divya mengelus pipi babby nya.


" Amin." Sahut Alex.


Alex menimang bayinya dengan perasaan bahagia. Sesekali ia menciumi wajah putranya.


" Papa bahagia sayang akhirnya papa bisa bertemu denganmu. Tumbuhlah menjadi anak yang sholeh, jadi anak penyayang dan memiliki kesabaran yang tiada batas. Kelak kau bisa menjaga mama dengan baik." Ucap Alex mencium pipi bayinya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Keluarga Mahardika berkumpul di ruang rawat Divya. Mereka menjenguk Divya dan babbynya.


" Selamat sayang, selamat menjadi seorang ibu. Semoga putramu tumbuh sehat dan menjadi anak sholeh yang kelak akan menuntun kalian menuju syurga." Ucap nyonya Vania mencium pipi Divya.


" Amin, terima kasih Ma." Sahut Divya.


" Selamat adik ipar, semoga cepat pulih. Doa terbaik untuk keponakanku tersayang." Ucap Selya.


" Terima kasih Kak, doa terbaik untukmu juga." Ucap Divya.


" Tapi sekarang aku mau menggendong keponakanku yang tampan dulu." Sambung Gava mengambil alih gendongan babby Divya dari tangan Alex.


" Pelan pelan Bang! Aku tidak mau sampai anankku jatuh." Ucap Alex.


" Ini juga sudah pelan." Sahut Gava.


Gava menatap wajah tampan babby Divya, ia mencium pipinya tiba tiba babby Divya menangis.


Oek... Oek...


" Lhah kok malah nangis." Ucap Gava.


" Kamu apain anakku Bang sampai nangis begini? Sini biar aku gendong lagi." Ujar Alex mengambil anaknya lagi.


" Aku nggak ngapa ngapain, cuma aku cium doank." Ujar Gava.


" Berarti dia nggak mau kamu cium Bang." Ujar Alex.


Yang lain nampak menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua. Selya mendekati Alex, ia menatap intens wajah babby Divya.


" Oh ya Divya, siapa nama putra tampanmu ini?" Tanya Selya mengelus pipi babby Divya.

__ADS_1


" Namanya Artama Aldi Mahardika. Perpaduan namaku dan Mas Alex." Sahut Divya.


" Artama, nama yang bagus. Lalu aku harus memanggilnya siapa?" Tanya Selya lagi.


Divya menatap Alex begitupun sebaliknya.


" Kami memanggilnya Tama." Sahut Alex.


" Halo Tama, selamat datang di keluarga kami. Semoga kelak jadi anak sholeh yang bisa membanggakan kedua orang tuamu." Ucap Selya.


" Amin, terima kasih Tante." Sahut Alex mewakili putranya.


" Sekarang gantian Mama yang menggendong cucu pertama Mama." Ucap nyonya Vania.


Alex memberikan babby Tama kepada mama mertuanya. Mereka semua nampak bahagia dengan lahirnya pewaris Mahardika yang pertama. Tiba tiba...


" Awh." Pekik Selya memegangi perutnya.


" Kenapa sayang?" Tanya Gava memegang bahu Selya.


" Tiba tiba perutku sangat sakit Mas. Sepertinya aku mau melahirkan." Ucap Selya.


" Apa??" Pekik semua orang.


" Sayang jangan bercanda! HPL kamu masih satu bulan lagi." Ujar Gava.


" Itu hanya perkiraan saja Mas, kalau dia sudah mau lahir gimana? Apa aku harus menahannya?" Ujar Selya kesal.


" Sudah menahan sakit masih harus di ajak berdebat." Batin Selya.


" Shh Mas.. Tambah sakit." Rintih Selya.


" Gava segera bawa Selya ke ruang UGD, biarkan dokter memeriksanya!" Titah nyonya Vania.


" Baik Ma." Sahut Gava.


" Ayo sayang." Ucap Gava.


Gava segera menggendong Selya menuju ruang UGD. Sampai di sana dokter segera memeriksa Selya.


" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Gava.


" Benar Tuan istri anda mau melahirkan." Sahut dokter.


" Hah?" Gava melongo membulatkan matanya dan membuka sedikit mulutnya.


...THE END ...


Tak terasa sudah sampai di penghujung cerita. Author akan memilih tiga pendukung terbanyak di akhir bonchap ya...


Terima kasih untuk semua readers yang telah menemani dan mendukung Divya dan Alex selama ini. Semoga berbahagia selalu....

__ADS_1


Mohon maaf jika cerita yang author buat tidak sesuai yang kalian harapkan.


Miss U All....


__ADS_2