
" Istri saya kenapa Dok?" Tanya keduanya bersamaan lagi.
" Selamat Tuan, istri anda hamil empat minggu."
Jeduarrrrr...
Bagai di sambar petir di siang bolong. Tubuh Damian terasa kaku, lidahnya terasa kelu bahkan ia terhuyung ke belakang. Ia duduk di kursi sambil menarik kasar rambutnya.
Berbeda dengan Alex, ia melongo membulatkan matanya tak percaya. Ini merupakan kabar bahagia yang selama ini ia nanti. Mungkin ini jawaban Tuhan atas doa doanya.
" Is.. Istri saya hamil Dok? Benarkah istri saya hamil Dok? Apa dokter tidak salah memeriksa?" Tanya Alex memastikan.
" Iya Tuan, istri anda hamil empat minggu. Dan jika istri anda mengalami mual di pagi hari itu normal Tuan. Saya akan memberikan vitamin nanti. Saat ini istri anda sudah sadar, anda bisa menemuinya sekarang." Ujar dokter.
" Baik Dok terima kasih." Ucap Alex.
Dokter meninggalkan keduanya.
" Yes." Sorak Alex girang.
" Divi hamil anak gue Bro." Ucap Alex menepuk bahu Damian.
" Gue sangat bahagia, akhirnya gue dan Divi bakal bersatu. Gue benar benar tidak menyangka kalau hari ini akan tiba secepat ini. Bro gue tinggal ke dalam dulu, lo berhutang mengucapkan selamat sama gue." Ucap Alex masuk ke ruang UGD.
Damian menatap punggung Alex dengan mata berkaca kaca.
" Inikah jawaban Tuhan atas keinginanku selama ini? Atau inikah hukuman untukku karena telah menyia-nyiakan Divi? Di saat aku ingin mengejar cintanya kembali, Divi justru mengandung anak pria lain. Ya Tuhan... Aku sudah kalah. Sepertinya tidak akan ada lagi kesempatan bagiku untuk terus di sampingnya." Monolog Damian mengusap air mata yang menetes di pipinya.
Di dalam ruangan saat ini Alex sedang memeluk Divya. Ia meluapkan kebahagiaan yang membuncah di dalam hatinya.
" Aku sesak Mas, lepas ih!" Ujar Divya mendorong Alex dengan pelan.
" Ah maaf sayang, Mas terlalu bahagia dengan kabar ini. Mas benar benar bahagia sayang, akhirnya Mas akan menjadi seorang ayah. Mas akan menyayanginya dengan sepenuh hati Mas." Ucap Alex melepas pelukannya. Ia menatap Divya sambil menggenggam tangannya.
" Mas akan bertanggung jawab, Mas akan melamarmu dan menikahimu secepatnya. Dan Mas harap kau tidak menolak niat baik Mas ini." Ucap Alex.
Divya menarik tangannya, ia menghela nafasnya dalam dalam. Ia bingung harus bagaimana. Di lain sisi ia tidak ingin menanggung semua ini sendiri tapi di sisi lain ia juga tidak ingin terlihat dalam pernikahan lagi.
" Divi, Mas tahu kalau kau mungkin merasa trauma dengan yang namanya pernikahan. Apalagi kamu baru saja resmi berpisah dari Damian. Tapi Mas mohon! Jangan bersikap egois! Pikirkan nasib anak kita, jangan biarkan dia tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya. Setiap orang memiliki sifat yang berbeda beda, jangan samakan Mas dengan Damian! Mas berjanji tidak akan menyakitimu. Mas akan selalu membuatmu bahagia. Mas tidak akan memaksamu sekarang tapi pikirkan baik baik apa yang coba Mas jelaskan padamu, jangan sampai keputusanmu membuat anak kita menderita karena kurang kasih sayang kedua orang tuanya." Ujar Alex menatap Divya.
" Entahlah Mas aku bingung memikirkannya. Untuk saat ini aku mau fokus dengan kehamilanku dulu. Aku yang menginginkannya maka aku harus menjaganya dengan baik kan? Aku tidak mau tertekan dengan memikirkan soal pernikahan. Kita jalani saja dan ikuti kemana takdir akan membawa kita." Ucap Divya.
" Baiklah tidak masalah, kita pikirkan nanti. Setidaknya kamu tidak menolak Mas. Mas akan menunggu sampai kau siap menerima Mas menjadi pendamping hidupmu. Yang jelas untuk saat ini biarkan Mas berada di sampingmu! Biarkan Mas menjadi ayah yang baik untuk anak kita." Ucap Alex menyentuh perut Divya.
__ADS_1
Divya sedikit terkejut, ia menatap tangan Alex yang saat ini mengelus perut ratanya. Entah mengapa rasanya begitu nyaman. Entah dia yang merasakan atau anak dalam kandungannya yang menginginkan sentuhan ayahnya.
Damian mengusap air matanya melihat semua itu. Harapannya pupus sudah, ia meninggalkan rumah sakit dengan perasaan kecewa dan penyesalan yang begitu mendalam.
" Apa ada sesuatu yang ingin kamu makan? Biasanya ibu hamil menginginkan sesuatu yang aneh aneh." Ujar Alex.
" Emang Mas Al tahu soal itu? Atau jangan jangan sudah banyak wanita yang Mas ha...
" Tidak ada! Hanya kamu dan cuma kamu seorang, tidak ada yang lain selamanya." Sahut Alex memotong ucapan Divya.
Divya tersenyum mendengar ucapan Alex. Ia merasa menjadi wanita istimewa.
" Mau sesuatu? Rujak misalnya? Es krim, mangga muda, semangka, melon atau makanan apa gitu?" Tanya Alex.
" Tidak ada." Sahut Divya menggelengkan kepalanya.
" Ayolah sayang! Jangan sungkan! Katakan saja! Nanti akan Mas belikan khusus untukmu, untuk anak kita." Ucap Alex memaksa.
Divya terkekeh mendengar itu.
" Orang aku nggak pengin apa apa kok maksa sih, nanti kalau aku pengin sesuatu pasti aku minta sama Mas." Ujar Divya.
" Beneran ya? Minta sama Mas, hanya kepada Mas. Jangan meminta pada orang lain termasuk keluargamu! Mas ingin menjadi satu satunya orang yang memenuhi semua keinginanmu." Ujar Alex.
" Iya Mas kau tenang saja." Sahut Divya.
" Apa itu sayang? Katakan! Mas akan memberikan apapun untukmu." Ucap Alex.
" Apapun?" Tanya Divya memastikan.
" Ya apapun." Sahut Alex.
" Aku ingin Mas membuatkan seribu candi untukku."
" Apa???" Pekik Alex membulatkan matanya.
" Yang benar saja sayang, ini bukan zaman kerajaan. Jangan aneh aneh deh! Please!" Ucap Alex memohon
" Bagaimana kalau Mas belikan rumah atau mobil. Kamu mau mobil apa? Mungkin mobil keluaran terbaru, atau mau rumah berlantai tujuh?" Tawar Alex.
" Tapi jangan meminta Mas untuk membuatkan candi untukmu." Sambung Alex.
Divya tersenyum melihatnya.
__ADS_1
" Ha ha aku hanya bercanda saja Mas." Ucap Divya.
" Nakal kamu ya." Ucap Alex mencubit pelan hidung Divya.
Setelah Divya mendapatkan arahan dari dokter apa yang harus dan tidak boleh ia lakukan, Alex membawanya pulang ke rumah. Tak lupa Alex menelepon keluarga Divya untuk datang ke rumah Divya.
Sampai di rumah Alex menggendong Divya masuk ke dalam.
" Divi." Ucap nyonya Vania yang sudah menunggunya di ruang tamu.
" Aku bawa Divya ke kamar dulu Tante." Ucap Alex di balas anggukkan kepala oleh nyonya Vania.
Nyonya Vania, tuan Gavin, Gava, nyonya Sandia dan Tuan Rangga mengikuti Alex ke kamar Divya. Mereka ingin tahu kondisi Divya saat ini.
Alex menurunkan Divya di atas ranjang, lalu ia berdiri di samping ranjang. Nyonya Vania duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Divya.
" Divi bagaimana kondisimu? Sebenarnya kamu kenapa Nak? Kamu sakit apa?" Tanya nyonya Vania.
Divya menatap Alex dan yang lainnya bergantian.
" Ada apa sayang? Apa ada penyakit serius yang menimpamu?" Selidik nyonya Vania.
" Aku... Aku...
" Divya hamil Tante." Ucap Alex.
" Apa???" Pekik semua orang tak percaya.
" Kamu hamil setelah perceraianmu sayang, itu berarti perceraianmu dengan Damian tidak sah. Kalian harus rujuk kembali demi anak ini." Ucap nyonya Vania.
" Divya hamil bukan dengan Damian Tante, tapi denganku."
Jeduarrrr....
Semua orang menatap tajam ke arah Alex. Mereka tidak menyangka jika Divya memiliki hubungan dengan pria lain selain Damian.
" Aku akan bertanggung jawab Tante, Om. Aku akan menikahi Divya secepatnya." Ucap Alex.
" Tidak bisa." Ucap Tuan Gavin.
Nah loh kenapa tidak bisa nih?....
Penasaran? Tekan like koment vote dan hadiahnya dulu buat author...
__ADS_1
Thank you...
TBC....