
" Bagaimana Leon? Apa kau bisa menemukan titik Divi terakhir kali?" Tanya tuan Gavin menatap tuan Leon.
Leon menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mendapatkan apa apa.
" Maksudmu kau tidak bisa melacak keberadaan Divya begitu?" Tanya tuan Gavin memastikan.
" Maaf Vin, sepertinya Divy dalam lindungan orang yang sama kuatnya denganku dalam hal ini, tidak ada satu pun jejak yang ia tinggalkan yang bisa aku lacak. Bahkan nomer yang di pakai Divy untuk menelepon kalian sama sekali tidak terdaftar di negara ini. Aku tidak bisa meretas data datanya, ada kemungkinan Divy berada di luar negeri saat ini. Jika dugaanku benar berarti Divy mengunakan jet pribadi karena tidak ada data penerbangan atas namanya." Ujar tuan Leon.
" Hah.. Dimana kamu sayang? Apa kamu baik baik saja di sana? Bagaimana kita bisa menjelaskannya kepada Alex? Ya Tuhan... Sebenarnya siapa yang menculik Divya?"
" Apa Pa? Divya di culik?"
Semua orang menoleh ke arah pintu. Alex yang hendak masuk ke rumah benar benar terkejut mendengar ucapan ayah mertuanya. Ia masuk ke dalam menghampiri mereka semua.
" Pa, apa benar yang aku dengar tadi? Divya di culik? Siapa yang menculiknya Pa?" Tanya Alex memastikan.
" Kami juga tidak tahu Lex, penculiknya benar benar profesional hingga membuat kita tidak menyadari jika Divya sudah dua hari di culik. Bahkan semalam kami teleponan." Sahut Gava saat melihat ayahnya hanya diam saja.
Tuan Gavin bingung darimana ia harus menjelaskan pada menantunya itu karena memang dia tidak tahu apa apa.
" Damian." Gumam Alex mengepalkan erat tangannya.
" Damian?" Ucap tuan Gavin.
" Iya Pa, aku rasa dia lah yang menculik Divi. Dan aku merasa kebakaran di clubku kemarin ada campur tangannya, sepertinya dia sengaja membawa kabur Divi di saat aku lengah. Aku harus mencari kemanapun untuk menemukan Divi Pa. Aku takut Damian berbuat macam macam pada Divi." Ujar Alex.
" Kami akan membantumu." Sahut tuan Gavin.
" Gava hubungi pihak intelegent terhandal untuk membantu kita!" Titah tuan Gavin.
" Iya Pa." Sahut Gava.
" Aku akan mengerahkan semua anak buahku untuk membantu kita juga Pa." Ujar Alex.
" Baiklah itu lebih baik." Sahut tuan Gavin.
Nyonya Vania hanya bisa diam saja, tak henti hentinya ia melantunkan doa untuk keselamatan putri tercintanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Damian membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih untuk Divya, ia masuk ke dalam kamar menghampiri Divya yang duduk menekuk kedua kakinya di lantai.
" Sayang jangan duduk di lantai! Kau akan kedinginan nanti." Ujar Damian berjongkok di depan Divya.
" Tidak perlu peduli padaku, aku tidak butuh kepedulianmu itu." Ketus Divya.
" Aku menyayangimu, lalu bagaimana aku tidak peduli padamu? Sekarang makanlah! Anak kita butuh asupan gizi untuk tumbuh kembangnya." Ucap Damian memberikan nampan berisi makanan kepada Divya.
Divya menatap Damian dengan penuh kebencian, lalu ia menatap nampan itu dan...
Prang....
Divya menepis tangan Damian hingga piring makanannya jatuh berserakan di lantai. Damian menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
" Akan aku ambilkan lagi." Ucap Damian segera berlalu.
Damian kembali dengan membawa makanan yang sama.
" Kali ini makanlah! Jangan membuat kesabaranku habis sayang." Ucap Damian.
Divya mengambil piring makanan lalu,
Prang..
Divya melempar makanannya ke lantai.
" Apa kau senang jika menyulitkan aku sayang?" Tanya Damian menyelipkan anak rambut Divya ke telinga.
Divya menjauhkan wajahnya dari tangan Damian membuat Damian tersenyum.
" Stok makanan di rumahku tidak akan habis walau terus kau buang, aku ingin lihat sampai kapan dan berapa banyak makanan yang bisa kau buang. Ingatlah! Di luar sana banyak yang kekurangan makanan." Ucap Damian mengelus pipi Divya.
Damian keluar menuju dapur, tak lama ia kembali membawa makanan untuk Divya lagi. Divya memutar bila matanya malas.
" Kali ini kamu harus makan, jika bukan demi dirimu sendiri maka lakukan untuk anak kita. Jika kau tidak mau makan, maka aku akan memberikan obat untuk menghilangkan anak dalam kandunganmu." Ancam Damian.
Deg...
Jantung Divya berdetak sangat kencang, ia menyentuh perutnya seolah sedang melindungi bayi dalam kandungannya. Damian terkekeh melihatnya, ia memang harus mengancam Divya supaya Divya mau makan. Ia tidak mau sampai Divya kenapa napa.
" Aku suapi?" Tawar Damian menyodorkan sesendok makanan ke mulut Divya.
" Aku bisa makan sendiri." Ucap Divya merebut sendok di tangan Damian.
" Walaupun kau keras kepala tapi demi orang yang kau sayangi, kau rela melakukan apa saja. Bodohnya aku yang telah menyia-nyiakan wanita sepertimu Divi. Maafkan aku! Aku terpaksa melakukan semua ini demi bisa memilikimu kembali. Entah itu berhasil atau tidak yang jelas aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Menghabiskan waktu berdua denganmu." Batin Damian.
Damian tersenyum melihat Divya menghabiskan makanannya.
" Kau pintar sayang, tetaplah jadi gadis penurut supaya aku tidak berbuat kasar padamu. Isitrahatlah, jika bosan kau bisa membaca buku cerita. Bukunya ada di sana." Ucap Damian menunjuk almari yang berisi buku buku cerita.
" Aku pergi dulu, aku akan kembali sore nanti. Nanti siang akan ada pelayan yang mengirimkan makan siang. Makanlah dengan teratur agar kau tetap sehat." Ucap Damian mengelus pucuk kepala Divya.
Divya menepis tangannya, Damian tersenyum. Ia membereskan makanan yang berserakan di lantai lalu beranjak keluar dari sana.
Divya berdiri di depan jendela kaca. Entah ia berada di lantai berapa tapi di kejauhan sana nampak laut yang terbentang luas.
" Aku harus mencari cara supaya aku bisa keluar dari sini." Gumam Divya nampak berpikir.
" Nanti siang... Dia bilang kalau akan ada pelayan yang mengirim makan siang, aku akan menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari sini. Semoga di depan sana tidak ada penjaga sama sekali." Monolog Divya.
Siang hari pintu kamar Divya di ketuk dari luar, Divya yang berada di atas ranjang langsung berlari bersembunyi di balik pintu.
Ceklek....
Pintu terbuka, seorang pelayan berdiri sambil membawa makanan di tangannya.
" Nona." Panggil pelayan itu berjalan masuk.
__ADS_1
Divya menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari kamar lalu.
Blum..
Ceklek ceklek..
Divya mengunci pintunya dari luar.
" Nona buka pintunya!" Teriak pelayan di dalam.
Dor dor dor
" Nona jangan kabur!" Pelayan itu kembali berteriak namun tidak ada yang mendengarnya karena kamar Damian kedap suara.
Divya segera berlari menuruni anak tangga. Ia menuju pintu depan namun ia mengurungkan niatnya karena ada du penjaga yang berdiri di depan sana. Divya mundur dengan pelan, ia berjalan menuju arah kanan mencari dapur.
" Dimana dapurnya? Biasanya di dapur ada pintu keluar." Gumam Divya berlari kecil.
Divya memutari seluruh rumah Damian namun ia tidak mendapati pintu keluar.
" Hah, sepertinya sia sia aku mencari pintu untuk kabur dari sini. Ini rumah, mansion atau istana sih gedhe banget." Gerutu Divya mengusap keningnya.
" Aku tidak boleh menyerah, aku harus mencarinya sampai ketemu. Aku harus pergi. dari rumah ini, kalau tidak maka selamanya aku akan terkurung bersamanya." Divya kembali berjalan dengan waspada mencari pintu belakang.
Sampai matanya menatap pintu berwarna cokelat, ia segera mendekatinya.
Ceklek...
Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan, pintu terbuka. Rupanya itu pintu garasi. Divya melebarkan senyumannya saat melihat pintu depan garasi yang terbuka. Ia segera berlari keluar dari sana. Beruntung tidak ada penjaga.
Divya berlari menuju taman belakang, ia melihat pintu gerbang yang menghubungkan taman belakang ke jalan raya. Lagi lagi dewi fortuna sedang berpihak kepadanya, ia keluar dari sana bertepatan dengan mobil Damian yang melintas.
" Divi." Gumam Damian menghentikan mobilnya.
Damian turun dari mobil.
" Divi." Mendengar namanya di panggil Divya langsung berlari menyusuri jalan raya. Ternyata Damian membohonginya, jalanan itu terlihat cukup ramai tidak seperti yang Damian katakan padanya. Mungkin karena aktifitas penduduk sekitar.
" Divi tunggu!" Damian mengejar Divya.
Divya menoleh ke belakang, ia berlari semakin kencang menghindari kejaran Damian, Divya menyebrang jalan sambil menoleh ke belakang sampai ia tidak menyadari jika ada truk dari arah depan yang melaju kencang.
Tiba tiba....
" Divya." Teriak Damian.
Brakkkk....
Nah loh kira kira ketabrak nggak ya...
Tekan like koment vote dan 🌹biar author semangat ngetik di saat puasa seperti ini.
Terima kasih...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....