KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
KEKUATAN CINTA


__ADS_3

Alex menggandeng Divya masuk ke dalam rumah keluarga Mahardika. Nyonya Vania, nyonya Sandia, nyonya Ruhi, tuan Gerald dan Renzo berdiri di depan pintu menyambut kedatangan mereka.


Divya berhenti di depan mereka sambil menatap mereka satu persatu. Ia mencoba mengingat wajah wajah mereka barang kali ia bisa mengenalinya. Namun gagal, ia sama sekali tidak ingat siapa mereka.


" Di... Divi." Ucap nyonya Vania dengan bibir bergetar. Ia menarik Divi ke dalam pelukannya.


" Hiks... Putriku yang malang." Tak terasa air mata menetes deras di pipi nyonya Vania.


" Akhirnya kamu kembali sayang, Mama sangat merindukanmu selama ini. Selama ini Mama tidak bisa hidup dengan tenang karena terus memikirkanmu sayang. Terima kasih ya Tuhan kau telah mengembalikan putriku." Ucap nyonya Vania menciumi wajah Divi.


Hati Divi berasa hangat dengan pelukan wanita paruh baya di depannya yang ia tidak tahu siapa.


" Apa kau sama sekali tidak mengenali Mama?" Tanya nyonya Vania menatap Divya.


Divya menggelengkan kepalanya.


" Tidak apa apa, pelan pelan ingatanmu pasti akan kembali. Walaupun kau tidak mengingat kami tapi Mama yakin hatimu pasti bisa mengenali kami." Ujar nyonya Vania.


" Iya." Sahut Divya.


Renzo maju ke depan lalu memeluk Divi dengan erat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat keadaan Divi saat ini membuatnya sedih, bahkan sangat sedih. Ingin rasanya ia membunuh seseorang yang membuat Divi seperti ini.


" Jangan lama lama memeluk istriku!" Ucap Alex membuat Renzo melepas pelukannya.


" Kenapa? Dia saudaraku, jadi aku bebas melakukan apapun. Apalagi cuma memeluk." Ujar Renzo.


" Aku tidak nyaman melihatnya." Sahut Alex.


" Katakan saja kalau kau cemburu." Ucap Renzo.


" Cemburu sama kamu? Nggak akan." Sahut Alex.


" Ayo sayang kita ke kamar! Kamu butuh banyak istirahat." Ucap Alex.


" Aku ingin bersama mereka di sini, hatiku mengatakan rindu dengan kehangatan mereka." Ucap Divya menatap Alex. Alex tersenyum menatap Divya.


" Baiklah sayang, kalau begitu ayo kita duduk." Alex menarik tangan Divya menuju sofa.


Mereka semua berkumpul di ruang tamu. Mereka hanya diam saja, karena tidak tahu apa yang harus di bicarakan.


" Divya, bagaimana Damian menjagamu di sana Nak?" Tanya nyonya Sandia membuka pembicaraan.


" Dia menjagaku dengan baik sejak aku pulang dari rumah sakit." Sahut Divya.

__ADS_1


" Syukurlah kalau begitu." Ucap nyonya Sandia.


Divya menatap Alex begitupun sebaliknya.


" Aku harus memanggilmu siapa?" Tanya Divya.


" Mas.. Kau biasa memanggilku Mas Al."


Deg...


Jantung Divya berdetak sangat kencang. Entah mengapa panggilan itu tidak asing baginya.


" Ma... Mas Al.." Divya mengerutkan keningnya.


" Ya itu panggilan sayangmu untuk Mas." Sahut Alex.


" Mas Al siapa aku tidak bisa mengingat mereka semua, bisa kau beritahu aku siapa mereka satu persatu?" Ujar Divya.


" Tentu bisa sayang, yang ini tante Sandia. Dia adik dari papamu, papa Gavin. Yang ini.... "


Alex menyebutkan nama mereka satu persatu sampai terakhir saat giliran Renzo.


" Kalau yang ini Mas tidak tahu siapa, kau tidak perlu mengingatnya."


" Sialan lo Bro." Cebik Renzo.


" Sekarang sudah terlalu malam, bawa Divi ke kamar untuk istirahat Lex." Ujar tuan Gavin.


" Baik Pa." Sahut Alex.


" Ayo sayang!" Alex menggandeng tangan Divya menuju kamarnya.


Ceklek...


Alex membuka pintu kamar, ia membawa Divya masuk ke dalam. Divya mengedarkan pandangannya, ia menatap foto pernikahan yang terpajang di dinding tepat di depan ranjang. Tiba tiba sekelebat bayangan ia menikah dengan seorang pria namun pria itu masih samar. Entah Damian atau Alex ia tidak tahu.


" Shhh." Divya memegangi kepalanya.


" Kenapa sayang? Apa kepalamu terasa sakit?" Tanya Alex menopang tubuh Divya.


" Iya Mas, ada sekelebat bayangan aku menikah dengan seseorang tapi aku tidak tahu itu siapa." Ujar Divya.


" Jangan di paksakan untuk mengingatnya, ini awal yang baik, kau pasti akan sembuh suatu hari nanti. Sekarang istirahatlah!" Ucap Alex menuntun Divya menuju ranjang.

__ADS_1


Divya naik ke atas ranjang begitupun dengan Alex.


" Sini sayang Mas peluk." Ucap Alex menepuk bahunya.


Tanpa ragu Divya berbaring miring menjadikan bahu Alex sebagai bantalan, ia memeluk perut Alex seperti biasanya. Entah mengapa ia merasa sangat nyaman berada di dekat Alex.


Alex tersenyum bahagia sambil mengelus kepala Divya. Sesekali ia menciumi pucuk kepala Divya.


" Mas bahagia banget sayang akhirnya kita bisa bersama lagi seperti ini. Mas berharap kita tidak akan berpisah lagi selamanya. Mas selalu berdoa semoga ingatanmu segera kembali sayang, agar kamu bisa ingat betapa kamu mencintai Mas dan Mas mencintaimu. Kita saling mencintai dan saling menyayangi sepenuh hati sayang." Ujar Alex.


" Iya Mas aku percaya padamu. Entah mengapa hatiku bisa begitu percaya padamu. Tidak seperti kepercayaanku pada Damian. Selama satu bulan aku bersamanya, aku merasa hatiku hampa. Walaupun dia begitu baik padaku, dia menjagaku dengan penuh kasih sayang dan dia selalu menuruti apa yang aku yang aku mau, tapi aku merasa tidak bahagia Mas. Seperti ada yang hilang dalam hatiku. Tapi saat ini, saat aku memelukmu. Aku merasa hatiku begitu hangat, aku merasa sesuatu yang telah hilang itu kembali kepadaku. Aku merasa tidak punya kekurangan satu pun. Aku berdoa semoga aku bisa segera mengingatmu. Aku yakin hidupku bersamamu sebelumnya pasti terasa sangat bahagia." Ucap Divya memainkan tangannya di atas dada Alex. Divya mendongak menatap Alex yang memejamkan matanya.


" Mas apa Mas tidur? Apa Mas tidak mendengarkan ucapanku barusan?" Tanya Divya.


" Mas mendengar semuanya sayang, Mas tidak tidur." Sahut Alex.


" Terus kenapa mata Mas terpejam?" Tanya Divya.


Divya tidak tahu jika Alex sedang menahan gelora yang merambat di hatinya.


" Karena tanganmu bermain main di dada Mas, sesuatu di hati Mas bangkit sayang."


Divya langsung menjauhkan tangannya, ia bukan wanita bodoh yang tidak tahu maksud ucapan Alex.


" Maaf Mas." Ucap Divya.


" Akan selalu Mas maafkan sayang." Shaut Alex.


Divya menyusupkan wajahnya ke dada bidang Alex.


" Sayang bolehlah Mas bertanya sesuatu padamu?" Tanya Alex. Divya menganggukkan kepalanya.


" Apa selama kamu tinggal bersama Damian kalian tidur bersama? Maksud Mas tidur satu ranjang? Atau kalian malah berpelukan?" Tanya Alex membuat Divya tersenyum.


" Aku tidak tahu pastinya Mas, tapi kalau pas aku mau tidur Damian selalu mengusap usap kepalaku. Dan waktu aku bangun tidur Damian juga ada di sampingku. Kenapa? Apa Mas cemburu?" Tanya Divya menatap Alex.


" Kalau cemburu itu pasti sayang, tapi Mas tidak menyalahkanmu. Karena apa? Karena kamu tidak tahu apa yang terjadi selama itu kan? Siapa kamu dan siapa Damian." Sahut Alex.


" Apa Damian berbuat sesuatu kepadamu seperti.... " Alex menjeda ucapannya. Mau menanyakan hal itu tapi mulutnya tak kuasa mengeluarkan kata kata.


" Melakukan apa Mas?" Tanya Divya.


" Em... Seperti menyentuhmu, atau berhubungan suami istri misalnya. Apa dia pernah melakukan semua itu padamu?" Tanya Alex memastikan. Ia mengepalkan erat tangannya menyiapkan diri apapun yang akan Divya katakan. Ia harus ikhlas menerimanya.

__ADS_1


" Dia....


TBC....


__ADS_2