KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
KELUARGA BARU


__ADS_3

" Mas bangun." Selya mengguncang bahu Gava dengan pelan.


Gava mengerjapkan matanya, hal pertama yang ia lihat adalah senyuman manis istrinya.


" Sudah pagi Mas, mau langsung mandi atau mau minum kopi dulu?" Tanya Selya lembut.


Gava duduk bersandar pada head board. Ia tersenyum menatap Selya begitupun sebaliknya.


" Buatin kopi nggak apa apa, aku mandi dulu." Ucap Gava turun dari ranjang.


" Baiklah, aku siapkan baju ganti Mas dulu." Ujar Selya.


Gava mencekal tangan Selya, ia berdiri di depan Selya lalu...


Cup...


Gava mencium kening Selya membuat jantung Selya berdetak dua kali lebih cepat. Ia memejamkan matanya menikmati gelenyar aneh yang mulai menjalar di dalam hatinya. Begitupun dengan Gava, entah mengapa perasaannya terasa hangat dan nyaman.


" Latihan biar kau merasa nyaman jika ada di dekatku, biar kamu tidak canggung padaku." Ucap Gava menatap Selya.


" Iya Mas." Sahut Selya malu malu.


Gava masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Selya menyiapkan baju ganti untuk Gava. Setelah itu ia turun ke bawah membuat kopi untuk Gava.


Selya kembali ke kamarnya dengan membawa nampan berisi secangkir kopi untuk Gava. Ia meletakkannya di atas meja, lalu mendekati Gava yang terlihat sedang mencari sesuatu.


" Mas sedang mencari apa?" Tanya Selya.


" Kamu hanya menyiapkan baju dan celana saja, terus pakaian d@l@mku mana?" Tanya Gava menatap Selya.


" Aku... Aku malu Mas mengambilnya." Lirih Selya.


Gava terkekeh mendengarnya.


" Kenapa harus malu Sely? Itu milik suamimu bukan milik orang lain. Kalau tidak, anggap saja itu milik Romi. Kamu biasa menyiapkan pakaian Romi juga kan?" Ujar Gava.


" Tapi kali ini beda Mas, Romi itu kan adikku..


" Dan aku suamimu. Lalu apa bedanya sayang?" Tanya Gava sambil tersenyum.


" Mas kamu bikin aku baper saja." Ujar Selya.


" Kamu bisa baper?" Goda Gava.


" Hmm." Gumam Selya.

__ADS_1


" Kasihan istriku di buat baper sama suaminya sendiri." Ucap Gava menangkup wajah Selya.


" Emangnya kalau di buat baper sama pria lain boleh?" Tanya Selya menggoda balik.


" Tidak boleh." Sahut Gava singkat.


" Hmm baiklah, sekarang Mas ganti baju. Nanti keburu kopinya dingin nggak enak. Aku mau turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan." Ucap Selya.


" Baiklah, terima kasih telah mau membuka hatimu untukku." Ucap Gava.


" Begitupun dengan Mas, terima kasih telah membuka hati Mas untukku." Sahut Selya.


Selya keluar dari kamarnya menuju dapur. Sampai di sana sudah ada nyonya Vania yang hendak memasak.


" Pagi Ma." Sapa Selya.


" Pagi sayang, bagaimana tidurmu? Apa kau tidur dengan nyenyak?" Tanya nyonya Vania menatap Selya.


Selya tersenyum mengingat semalam. Ia tidur nyenyak dalam pelukan Gava. Walaupun belum ada cinta di antara mereka, namun keduanya sama sama saling membuka hati supaya mereka bisa saling jatuh cinta.


" Kenapa senyam senyum begitu hmm? Pasti terjadi sesuatu nih dengan kalian berdua." Goda nyonya Vania.


" Eh enggak Ma, tidak ada yang istimewa hanya tidur biasa saja." Sahut Selya.


" Maafkan aku Ma, aku dan Mas Gava belum siap melakukan itu. Kami butuh waktu untuk saling mengenal lebih jauh dulu. Aku harap Mama bisa memahami keadaan kami." Ujar Selya.


" Iya Ma, InsyaAllah aku akan selalu menjaga kedamaian dalam hubungan ini." Sahut Selya membuat nyonya Vania merasa lega.


" Ternyata benar kata Gava, Selya mirip denganku dulu. Dia bisa bersikap lembut dan sabar dalam menghadapi segala hal. Semoga mereka bahagia selamanya, semoga Gava tidak menuruni sikap papanya." Batin nyonya Vania.


Mereka berdua mulai memasak untuk sarapan pagi. Kedunua bekerja sama memasak sop iga sapi, ayam dendeng, rica rica dan opor ayam. Setelah selesai, mereka menatanya di meja makan.


" Segera panggil Gava sayang! Kita sarapan bersama." Ucap nyonya Vania.


" Iya Ma." Sahut Selya.


" Tidak perlu sayang, aku sudah di sini." Ucap Gava mendekati keduanya di ikuti tuan Gavin di belakangnya.


" Pagi Ma." Sapa Gava mencium pipi nyonya Vania.


" Pagi sayang, mulai sekarang jangan mencium Mama lagi. Mama takut istrimu akan cemburu." Ucap nyonya Vania sambil tersenyum.


" Tidak Ma, aku tidak akan cemburu dengan Mama. Bagaimanapun Mama adalah wanita pertama yang Mas Gava cintai. Dan Mama akan selalu hidup di dalam hati Mas Gava. Aku tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan Mama, dan sampai kapanpun tempat Mama di hati Mas Gava lebih tinggi daripada aku istrinya." Ujar Selya membuat Gava dan nyonya Vania merasa terharu.


" Terima kasih sayang, walaupun Gava sudah menikah tapi kau tidak membuat Gava meninggalkan Mama." Ucap nyonya Vania.

__ADS_1


Selya menganggukkan kepalanya.


" Kamu sekarang sudah punya istri jadi jangan mencium istri Papa lagi, kamu cium saja pipi istrimu itu." Ujar tuan Gavin duduk di kursinya.


" Papa cemburu sama Gava?" Tanya Gava menatap papanya.


" Ya iyalah, sekarang kamu bukan seorang anak lagi. Tapi sekarang kamu itu seorang suami dan kakak untuk adik dan istrimu. Jadi stop bersikap manja dan kekanakkan lagi." Ujar tuan Gavin.


" Bilang aja kalau Papa iri karena tidak ada yang mencium Papa. Apalagi Divya tidak ada di sini jadi menganggur tuh pipi Papa yang mulai keriput." Canda Gava.


" Dasar anak kurang ajar! Ma.. Katakan apa pipi Papa sudah keriput atau Papa masih tampan seperti dulu Ma!" Ucap tuan Gavin membuat nyonya Vania merasa malu di depan menantu barunya.


" Apaan sih Pa." Ucap nyonya Vania.


" Katakan Ma biar Gava tahu kalau Papa ini masih strong dan tampan, bukan tua dan keriput lagi." Ujar tuan Gavin.


" Iya iya, Papa masih tampan dan strong. Puas?" Ujar nyonya Vania.


" Tidak ingat umur dan tidak tahu malu di depan menantu masih saja eksis." Gerutu nyonya Vania.


" Mama... " Tekan tuan Gavin.


" Udah ah sekarang mending kita makan, kasihan menantu kita sudah kelaparan." Ujar nyonya Vania.


" Hah baiklah." Sahut tuan Gavin.


Selya tersenyum bahagia melihat keharmonisan keluarga Gava. Ia tidak pernah menyangka jika ia akan mendapatkan keluarga sebaik keluarga Mahardika.


" Mas mau makan apa biar aku ambilkan." Ucap Selya menatap Gava.


" Apapun yang kau ambilkan, pasti akan aku makan." Ucap Gava duduk di kursinya.


" Baik Mas." Sahut Selya.


Selya mengambilkan makanan untuk Gava. Ia meletakkannya di depan meja Gava.


" Silahkan Mas." Ucap Selya.


" Kamu juga harus makan! Oh ya kemana Romi? Kenapa dia tidak sarapan bersama kita?" Tanya Gava menatap Selya.


" Romi sedang jogging sekalian mau mampir ke rumah temannya katanya. Kebetulan temannya ada yang di tinggal di daerah sini Mas." Sahut Selya.


" Oh ya udah." Sahut Gava.


Mereka makan dengan khidmat menghormati apa yang telah Tuhan berikan kepada mereka semua.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2