
Jam sembilan pagi, Selya bersiap pergi ke restoran tempat ia bekerja. Degan memakai gaun di bawah lutut berwarna hitam membuat dirinya terlihat sangat cantik di mata Gava. Riasan natural ia aplikasikan di wajahnya, lipstik berwarna merah muda yang nampak begitu menggoda di mata Gava.
" Sayang mau mengajukan resign aja mesti harus dandan seperti ini sih. Aku tidak rela kalau kecantikanmu di lihat oleh pria lain." Ujar Gava duduk di tepi ranjang sambil menatap Selya.
" Ehh." Gumam Selya menatap Gava.
" Aku kira Mas membelikanku make up supaya aku bisa memakainya. Ternyata Mas tidak suka, ya udah aku akan menghapusnya." Ucap Selya.
" Tidak usah! Kali ini aku ijinkan kamu berdandan keluar rumah. Tapi lain kali tidak boleh, kau hanya boleh berdandan jika di dalam rumah dan saat bepergian denganku. Itu saja." Ucap Gava.
" Baiklah akan aku ingat kata katamu Mas." Sahut Selya.
Grep...
Gava membungkukkan badannya lalu memeluk leher Selya.
" Terima kasih sayang telah memaafkan aku dan sudah bersikap normal lagi kepadaku." Ucap Gava.
" Iya Mas, sebagai istri sudah semestinya aku memaafkanmu kan? Aku akan mencoba menerima sakit ini, tapi maaf aku tidak bisa melupakannya. Dan seperti yang aku bilang sebelumnya, lebih baik kita tidak berhubungan dulu sampai Divya di nyatakan sembuh dari sakitnya. Aku juga ingin menghargai perasaannya seperti Mas menjaga perasaan Divya." Ucap Selya membuat Gava menghembuskan kasar nafasnya.
" Aku akan mencoba memahamimu, maafkan aku!" Ucap Gava.
" Aku sudah memaafkanmu, sekarang aku mau berangkat dulu Mas. Semoga pak Raes mengijinkan aku resign dengan mudah." Ujar Selya.
" Aku ingin menemanimu Sely." Ujar Gava.
" Tidak perlu Mas, ini urusanku dengan pak Raes. Aku akan menghadap pak Raes sendiri karena ini urusan pekerjaan Mas." Sahut Selya.
" Baiklah, hati hati." Sahut Gava pasrah.
Setelah menyalami Gava dengan takzim, Selya segera berlalu dari kamarnya. Ia menuju restoran Raes dengan menaiki taksi.
Dua puluh lima menit kemudian, taksi yang Selya tumpangi sampai di depan resto RR. Ia segera masuk ke dalam menghampiri Raes yang sudah menunggu di ruangannya.
" Pagi Pak." Sapa Selya masuk ke dalam ruangan Raes.
" Pagi, silahkan duduk." Ucap Raes mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
__ADS_1
Selya duduk di depan Raes. Ia menatap pria tampan seumuran dengan Gava yang selama ini menjadi bosnya. Bos yang menyayangi para karyawannya dan selalu membantu karyawan yang sedang mengalami kesusahan.
" Apa kamu sudah siap memulai pekerjaanmu?" Tanya Raes menatap Selya.
" Maaf Pak, mulai hari ini aku mengajukan resign dari sini." Ucap Selya membuat Raes terkejut.
" Kenapa? Apa ada yang membuatmu tidak betah di sini? Kamu sudah bekerja di sini selama bertahun tahun Sely. Katakan saja jika ada yang membuatmu tidak nyaman di sini!" Ujar Raes.
" Tidak Pak bukan itu masalahnya. Masalahnya sekarang aku harus ikut suamiku."
Jeduarrr...
Raes benar benar terkejut dengan ucapan Selya saat ini. Ia merasa jika yang terjadi saat ini adalah mimpi terburuk dalam hidupnya. Bagaimana bisa gadis yang selama ini ia jaga dan cintai sudah memiliki suami? Bukankah Selya harus saja lulus sekolah? Lalu kapan dia menikah? Pikir Raes.
" Apa kamu mencoba ngeprank aku? Kalau benar prankmu berhasil Sely. Aku benar benar terkejut dengan apa yang kamu ucapkan." Ujar Raes.
" Tidak Pak, aku sama sekali tidak sedang ngeprank Bapak. Aku memang sudah menikah, dan sekarang aku dan Romi tinggal di rumah suamiku. Dan suamiku melarangku bekerja Pak, itu sebabnya aku resign dari sini." Ucap Selya.
" Aku tidak percaya ini, padahal kamu tahu kalau aku menyukaimu sejak lama. Lalu bagaimana kamu bisa menikah dengan pria lain? Padahal selama ini aku tidak pernah melihatmu dekat dengan pria lain. Apa salahku Sely sehingga kamu tega berbuat seperti ini padaku?" Raes meminta pelipisnua yang terasa berdenyut nyeri.
" Maafkan aku Pak, selama ini aku hanya menganggap Bapak sebagai bosku saja. Hatiku sama sekali tidak berdebat saat berdekatan dengan Bapak. Saya tidak merasakan apapun kepada Bapak. Maafkan aku Pak!" Ucap Selya.
" Apa yang Bapak lakukan?" Tanya Selya cemas.
" Benarkah hatimu tidak berdebar saat kita sedekat ini?" Tanya Raes di balas gelengan kepala oleh Selya.
" Apa jantungmu tidak berdetak dengan kencang?"
Selya kembali menggelengkan kepala.
Raes menjauh dari Selya, ia menyugar kasar rambutnya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar seolah mengeluarkan sesak di dadanya.
" Kenapa Sely? Kenapa kamu tidak bisa punya perasaan terhadapku setelah apa yang telah kita lalui bersama? Ketulusan, cinta, kasih sayang dan perhatian yang aku berikan kepadamu selama ini tidak mampu menggetarkan hatimu. Kenapa Sely?" Tanya Raes menatap Selya.
" Karena perasaan tidak bisa di paksakan Pak, walaupun Bapak memberikan semuanya kepadaku namun jika hatiku tidak menginginkan Bapak aku bisa apa? Bapak orang yang sangat baik, aku yakin Bapak bisa mendapatkan wanita yang baik yang bisa mendampingi Bapak dan membuat Bapak bahagia selamanya. Aku akan selalu mendoakan seperti itu." Ucap Selya.
" Benarkah aku bisa mendapatkan wanita seperti itu?" Tanya Raes.
__ADS_1
" InsyaAllah Pak." Sahut Selya.
" Baiklah, aku juga akan mendoakanmu. Semoga kau bahagia bersama keluarga besarmu saat ini. Selamat untuk pernikahanmu, aku akan memberikan tiket perjalanan bulan madu untukmu sebagi kado dariku karena kamu telah menemaniku dan resto ini selama bertahun-tahun." Ucap Raes.
" Tapi Pak..
" Kau tidak boleh menolaknya. Atau aku akan marah padamu dan aku bisa nekat merebutmu dari suamimu." Ucap Raes memberikan sedikit ancaman.
" Maaf Pak tanpa mengurangi rasa hormatku kepada Bapak, aku menolaknya. Bukan karena aku tidak mau menerimanya rapi lebih kepada menjaga perasaan suamiku Pak. Aku tidak mau kado pernikahan dari Bapak justru melukai harga diri suamiku. Aku minta maaf sebelumnya Pak." Ucap Selya.
" Kamu terima saja sayang atau bosmu akan terluka."
Selya dan Raes menatap ke arah pintu dimana Gava berdiri di sana.
" Mas Gava." Gumam Selya.
" Tuan Gava Mahardika, silahkan masuk Tuan! Suatu kehormatan anda mau datang kemari." Ucap Raes menyambut Gava dengan baik.
" Apa kabar tuan Gava?" Tanya Raes menjabat tangan Gava.
" Baik tuan Raes, saya tidak menyangka jika bos dari istri saya bekerja selama ini adalah anda." Ucap Gava.
" Kalian saling kenal?" Tanya Selya menatap keduanya bergantian.
" Bagaimana kami tidak saling kenal Sely jika mall tempat kita menjalankan usaha selama ini milik tuan Gava."
Selya melongo membulatkan matanya.
" Benarkah?" Tanya Selya memastikan.
" Iya sayang." Sahut Gava merangkul pundak Selya.
" Bagaimana kalau kita mengobrol sambil minum atau makan sesuatu tuan Gava?" Tawar Raes.
" Boleh juga." Sahut Gava.
" Mari ikut saya ke ruang vvip Tuan."
__ADS_1
Mereka bertiga menuju ruang vvip, Gava dan Raes nampak mengobrol dengan akrab. Sedangkan Selya hanya menjadi pendengar setia saja.
TBC....