
Bugh...
Tiba tiba Damian berlari menghampiri Alex lalu memukul Alex hingga tersungkur.
" Beraninya kau membawa istriku!" Bentak Damian hendak memukul Alex lagi namun Alex segera menangkis tangannya.
" Istri yang mana yang kau maksudkan hah?" Tanya Alex dengan nada tinggi.
" Dia istriku, kau mencurinya dariku dan kau sudah membuatnya celaka." Bentak Alex menarik kerah Damian.
Opin hendak menyerang Alex namun Gava segera merangkul leher Opin dari belakang.
" Jangan ikut campur urusan mereka." Ucap Gava.
Alex menatap nyalang ke arah Damian. Ingin rasanya ia membunuhnya saat ini juga.
" Kenapa Divi menjadi seperti ini? Kenapa dia sampai lupa ingatan dan kehilangan anak kami? Katakan Damian! Atau aku akan membunuhmu." Teriak Alex.
" Divya mengalami kecelakaan." Sahut Damian.
" Kau pantas di sebut sebagai pembunuh." Bentak Alex.
Bugh... Bugh... Bugh...
Alex memukul Damian membabi buta. Ia tidak terima karena ia harus kehilangan Divya dan anaknya. Divi yang mendengar percakapan mereka berdua merasa bingung.
Anak? Anak siapa yang mereka maksudkan? Pikir Divya.
Brak...
Alex mendorong Damian dengan keras hingga tubuhnya menabrak meja.
" Uhuk uhuk uhuk." Damian memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Tidak tega melihat itu, Divya mendekatinya.
" Tolong jangan sakiti suamiku!" Ucap Divya mendongak menatap Alex.
" Sayang dia bukan suamimu, akulah suamimu yang sebenarnya. Dia membohongimu selama ini. Dia menculikmu dariku. Percayalah sayang, aku suamimu." Ujar Alex.
Divya menoleh menatap Damian.
" Tidak Divi, kau istriku. Kau lihat kan foto dan akta pernikahan kita. Bahkan kita sudah resmi menikah."
__ADS_1
Jeduarrr...
Bagai di sambar petir di siang bolong, Alex dan Gava benar benar terkejut mendengar ucapan Damian.
" A.. apa? Kalian sudah menikah? Apa maksudmu Damian?" Tanya Alex memastikan.
" Ya, sebelum Divya kecelakaan kami telah melangsungkan pernikahan. Bukan begitu sayang?" Tanya Damian menyentuh pipi Divya. Ia terpaksa melakukan kebohongan demi mempertahankan Divya di sisinya.
" Heh kau membual, kau memanfaatkan keadaan Divya saat ini. Bagaimana bisa kalian menikah sedangkan status Divya sudah menikah." Ujar Alex.
" Apapun bisa aku lakukan Alex, buktinya sekarang aku berada di depan kalian dengan wajah berbeda dan keadaan yang berbeda, aku bukan Damian yang dulu. Damian si pria kere tidak punya apapun." Sahut Damian.
Alex dan Gava menatap ke arah Damian.
" Apa maksudmu?" Selidik Alex.
" Aku Damian, Damian Raharja suami pertama Divya." Sahut Damian.
Deg...
Jantung Alex terasa berhenti berdetak. Ia tidak menyangka jika pria di hadapannya adalah suami Divya dulu.
" Bagaimana seorang gelandangan seperti Damian bisa menjadi orang kaya sepertimu, jangan coba membohongi kami." Ucap Gava.
" Aku memang Damian Raharja, putra dari ayah Rudi dan ibu Rosi." Damian mencoba berdiri dengan di bantu oleh Divya.
" Terima kasih sayang." Damian tersenyum manis kepada Divya.
" Aku memang di besarkan oleh ayah dan ibu tapi sebenarnya aku bukan anak kandung mereka. Mereka memberitahuku dan memintaku untuk menemui orang tuaku, mereka berpikir jika Divi tahu aku anak orang kaya, Divi tidak jadi menceraikan aku. Tapi sebelum aku menemui mereka, Divi sudah menceraikan aku lebih dulu."
" Setelah berpisah dari Divi aku berharap kami bisa rujuk kembali setelah aku menemui orang tuaku. Aku juga ingin orang tuaku datang untuk melamar Divi kembali, tapi sayangnya Divi telah mengandung anak kamu dan akhirnya kalian menikah. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dan aku berencana membuat Divya merasa bersalah atas kepergianku. Itu sebabnya aku menulis surat untuknya. Aku pergi ke negara K untuk melakukan operasi plastik, aku bertekad untuk mengambil Divya darimu dengan wajah baruku. Aku berhasil membawa Divya darimu tapi lagi lagi aku harus mengalami kenyataan pahit. Divya mengalami kecelakaan dan kehilangan anaknya."
Divya semakin bingung dengan apa yang terjadi. Alex dan Gava saling melempar pandangan, begitupun dengan tuan Gavin dan tuan Leon yang baru saja masuk.
" Saat Divi menjalani operasi, aku berniat untuk mengembalikan Divi kepada kalian. Aku merasa bersalah padanya, aku inginenebus rasa bersalahku dengan mengikhlaskan Divi bahagia bersama kalian, aku akan pergi ke negara dimana kedua orang tuaku tinggal saat ini. Aku bertekad untuk tidak menemui Divi lagi, tapi lagi lagi aku serakah saat Divi sadar. Divi mengalami amnesia, aku berpikir jika Tuhan memang menginginkan kami bersatu. Itu sebabnya aku memanfaatkan keadaannya." Ucap Damian panjang lebar.
" Kurang ajar." Ucap tuan Gavin menghampiri Damian, tiba tiba...
Bugh...
Satu pukulan melayang di dada Damian tepat mengenai jantungnya.
Brugh...
__ADS_1
Damian tersungkur ke lantai, ia kembali memuntahkan darah dari mulutnya.
" Damian!!!" Teriak Divya berjongkok di depan Damian.
" Tuan aku mohon! Jangan sakiti Damian lagi! Dia suami yang baik, dia menjagaku selama ini. Aku merasa hidup bahagia bersamanya, aku mohon jangan sakiti dia lagi! Hiks... Hiks.. " Divya menangis sambil mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
" Sayang jangan menangis!" Lirih Damian.
" Putriku." Ucap tuan Gavin menangkup wajah Divya.
Divya menatap tuan Gavin dengan seksama. Ia menoleh menatap Damian di balas anggukkan kepala olehnya.
" Ini Papa sayang." Tuan Gavin menarik Divya ke dalam pelukannya.
" Akhirnya Papa bisa menemukanmu sayang, walaupun keadaanmu seperti ini sekarang tapi Papa tetap bahagia Nak. Setidaknya kau masih hidup dan baik baik saja." Ujar tuan Gavin mengelus punggung Divya.
Tanpa Divya sadari, ia membalas pelukan tuan Gavin. Divya merasa dejavu dengan apa yang terjadi saat ini. Ia merasa ia pernah menangis dalam pelukan pria paruh baya yang saat ini sedang memeluknya.
Tuan Gavin melepas pelukannya, ia menangkup wajah Divya lalu menciuminya.
" Mamamu pasti sangat senang melihatmu baik baik saja sayang. Ayo kita pulang! Kita temui mama kamu." Ucap tuan Gavin.
" Aku tidak bisa meninggalkan Damian dalam kondisi seperti ini. Aku harus merawatnya seperti dia merawatku selama ini." Ucap Divya.
Damian tersenyum mendengar ucapan Divya.
" Sayang kita tinggalkan pria jahat sepertinya, kita sudah lama menderita karena dia. Biarkan dia mengobati lukanya sendiri, ada banyak anak buah yang akan merawatnya." Ucap Alex menarik tangan Divya.
" Damian aku harus bagaimana?" Tanya Divya menatap Damian.
Bagaimanapun Divya merasa bimbang karena ia tidak ingat apa apa. Siapa yang benar dan siapa yang salah ia sama sekali tidak mengetahuinya.
" Pergilah bersama mereka! Mereka keluargamu, maafkan aku karena telah membuatmu seperti ini. Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku di hadapan polisi." Ucap Damian.
" Kau tidak perlu ke kantor polisi karena sebentar lagi mereka sampai sini." Ucap Alex.
Alex menggandeng tangan Divya keluar dari rumah Damian. Damian memejamkan matanya merasakan sakit hati dan fisiknya. Ia merasa kalah, kalah dari cintanya sendiri. Ia tidak akan lari lagi, ia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia merasa telah membuat Divya banyak menderita selama ini.
Divya menoleh ke belakang menatap Damian, Damian tersenyum ke arahnya.
Tak lama polisi datang membawa Damian ke kantor polisi atas tuduhan penculikan.
TBC...
__ADS_1