
Satu bulan kemudian ingatan Divya benar benar sudah kembali. Ia bisa mengingat semuanya termasuk pengkhianatan yang Damian lakukan padanya. Hari ini tiba sidang putusan hakim kepada Damian. Divya hadir dengan di temani oleh Alex. Ia duduk berseberangan dengan mantan kedua mertuanya.
Di depan sana hakim membacakan dakwaannya, Damian di vonis lima tahun penjara atas tuduhan penculikan yang menyebabkan nyawa bayi yang di kandung Divya hilang.
Damian memejamkan matanya, ia berdiri dengan di apit oleh dua penjaga penjara. Ia meminta ijin untuk menemui Divya sebentar sebelum ia kembali ke dalam sel tahanan.
" Divi, aku minta maaf! Aku telah membuatmu menderita selama ini. Aku menyesal, aku menyesali semua perbuatanku. Kali ini aku benar benar menyesal Divi, aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Sekarang aku sudah benar benar ikhlas melepasmu. Aku selalu berdoa semoga kau bahagia. Maafkan aku!" Ucap Damian menatap Divya.
" Bagaimana aku bisa memaafkan seseorang yang telah membuat hidupku hancur. Bukan hanya sekali kau menghancurkan hidupku Damian, tapi tiga kali." Ucap Divya membuat Damian terkejut.
" Kali pertama aku sudah memaafkanmu dan memintamu untuk pergi dari hidupku, yang kedua kalinya kau menghancurkan hidupku dengan menulis surat palsu agar aku menanggung rasa bersalah seumur hidupku padamu dan yang ketiga kalinya kau menghancurkan hidupku dengan melenyapkan anakku."
Jeduarrr..
Damian benar benar terkejut seperti di sambar petir saat mendengar ucapan Divya.
" Divi apa ingatanmu..
" Ya ingatanku sudah kembali dengan sempurna. Aku mengingat semua perlakuanmu padaku, pengkhianatan, kebohongan dan pembunuhan. Walaupun terakhir kali kau memperlakukan aku dengan baik, tapi aku tidak akan memaafkanmu Damian. Seharusnya kau membusuk di penjara lebih lama, lima tahun bagimu terlalu singkat untuk hidup di penjara. Aku membencimu Damian, demi anakku aku membencimu seumur hidupmu." Ucap Divya berlalu meninggalkan Damian di ikuti Alex dari belakang.
Tubuh Damian luruh ke lantai, ia tak sanggup menahan kebencian dari Divya. Nampak jelas kebencian yang mendalam dari sorot mata Divya yang membuat hatinya hancur. Gava berjalan menghampirinya.
" Adikku benar, lima tahun sangat singkat untukmu. Harusnya kau di penjara seumur hidupmu karena telah menghancurkan hidup adikku. Aku berharap ini kali terakhir kita bertemu. Setelah keluar dari penjara, pergilah sejauh mungkin dari jangkauan kami." Ucap Gava meninggalkan Damian.
Gava berjalan keluar dari ruang sidang menuju parkiran. Ia masuk ke dalam mobilnya, ia berdiam sebentar untuk mendinginkan pikirannya. Sejujurnya ia sangat emosi melihat wajah pria yang telah menghancurkan hidupnya. Ia melajukan mobilnya meninggalkan pengadilan negeri xx membelah jalanan ibu kota.
Drt.... Drt..
Ponsel Gava berbunyi, ia segera mengangkatnya saat tahu jika papanya yang menelepon.
" Halo Pa." Ucap Gava kembali fokus pada jalanan.
" Gava bagaimana sidangnya? Apa sudah selesai?" Tanya tuan Gavin di sebrang sana.
" Sudah Pa, hakim memvonis Damian selama lima tahun dan denda." Sahut Gava.
" Syukurlah kalau begitu, walaupun termasuk ringan setidaknya bisa membuatnya jera agar dia tidak menganggu kehidupan Divya lagi." Ucap tuan Gavin.
" Iya Pa, Divi langsung kembali ke rumahnya bersama Alex. Dia tidak jadi mampir ke rumah kita." Sahut Gavin.
Tiba tiba...
Brak....
Ckittt....
Gava mendadak menginjak remnya.
" Gava kenapa Nak?" Tanya tuan Gavin.
" Sepertinya aku menabrak orang Pa, sebentar aku matiin dulu teleponnya." Ucap Gava mematikan sambungan teleponnya.
Gava segera turun dari mobil, ia melihat seorang gadis yang duduk tertimpa motor.
__ADS_1
" Kalau mau menyebrang pakai mata donk! Jangan main nyelonong gitu aja." Bukannya menolong, Gava justru memarahinya.
" Maaf Mas! Siapapun yang salah harusnya Mas menolong saya bukan malah memarahi saya seperti ini. Kelihatan banget kalau nggak punya hati." Ucapnya sambil mengelus lengannya yang lecet.
" Iya gue bantuin." Karena tidak tega akhirnya Gava membantu gadis itu.
Gava menuntun gadis itu duduk di atas trotoar, ia juga menepikan motor matic milik gadis itu yang nampak lecet lecet. Bahkan bagian depannya penyok dan lampunya pecah.
Gava memutari mobilnya hendak membuka pintu mobil, namun suara gadis itu membuatnya ia menghentikan niatnya.
" Mas jangan main pergi gitu aja donk! Tanggung jawab dulu." Ucapnya.
Gava kembali mendekatinya.
" Gue harus tanggung jawab? Yang salah siapa? Situ kali bukan gue." Ucap Gava.
" Nggak usah saling menyalahkan Mas, kita berdua sama sama salah. Aku salah karena terburu buru tapi Mas juga salah karena mengemudi sambil bermain ponsel. Sepertinya Mas tadi sedang teleponan." Ujarnya lembut.
" Nih cewek kalau di perhatiin mirip mama. Lembut dan sabar, nggak ada rasa kesal atau pun marah dalam ucapannya." Batin Gava.
" Mas." Gadis itu menarik celana panjang Gava.
" Apa sih main tarik tarik segala." Ujar Gava.
" Mas harus memperbaiki motorku dan mengantarku pulang. Kakiku sakit nggak bisa jalan." Ucapnya.
" Kenapa aku harus memperbaiki motormu? Perbaiki saja sendiri." Ucap Gava.
" Aku nggak ada uang Mas, uangku baru saja buat beli obat adikku. Dan gajian ku masih lama, masih satu bulan lagi. Kalau motorku rusak aku tidak bisa kerja. Terus siapa yang akan mengurus adikku." Ujar gadis itu.
Entah mengapa Gava ingin tahu lebih jauh tentang gadis lembut itu.
" Ibuku meninggal tiga tahun yang lalu saat aku masuk SMA, sedangkan ayahku entah pergi kemana. Dia meninggalkan kami sewaktu kami kecil. Entah sekarang dia masih hidup atau sudah tiada." Ucapnya sedih.
" Maaf telah membuatmu sedih." Ucap Gava.
" Tidak masalah Mas." Sahutnya sambil mengusap air matanya.
" Oh ya namaku Carselya. Teman temanku memanggilku Selya. Kalau Mas namanya siapa?" Tanya gadis bernama Selya itu.
" Namaku Gava." Sahut Gava.
" Oh Mas Gava, nama yang bagus." Ucap Selya.
" Ngomong ngomong adikmu sakit apa?"
" Astaga Aldo... Kenapa aku sampai lupa dengan Aldo." Ucap Selya berdiri. Bukannya menjawab ia malah terlihat panik.
" Awh." Pekik Selya memegangi kakinya yang terasa sakit.
" Biar aku bantu." Gava menggendong Selya masuk ke mobilnya.
" Mas obatnya." Ucap Selya menunjuk kantong plastik yang tergantung di motor.
__ADS_1
Gava mengambilnya lalu memberikannya kepada Selya.
" Terima kasih Mas." Ucap Selya.
" Hmm." Gumam Gava.
Gava mulai melajukan mobilnya.
" Dimana rumahmu?" Tanya Gava.
" Di jalan anggrek nomer tujuh." Sahut Selya.
Gava menganggukkan kepala.
" Motorku gimana Mas?" Tanya Selya menatap Gava.
Gava menoleh ke arahnya hingga membuat tatapan mereka bertemu.
Deg deg deg...
Jantung keduanya terasa berdetak dengan kencang. Selya lebih dulu memutuskan pandangannya.
" Nanti akan ada anak buahku yang membawa motormu ke bengkel. Untuk sementara waktu kau tidak usah kerja dulu. Sepertinya kakimu terkilir." Ujar Gava.
" Aku harus bekerja Mas, tenang saja! Kakiku baik baik saja kok. Nanti sampai rumah di urut juga pasti sembuh." Sahut Selya.
" Memangnya kau kerja dimana?" Tanya Gava.
" Aku bekerja di salah satu galery ponsel milik temanku yang ada di mall xx. Aku sudah bekerja di sana selama empat tahun Mas." Sahut Selya.
" Empat tahun? Lalu sekolahmu?" Tanya Gava lagi.
" Aku bekerja setelah pulang sekolah sampai jam sepuluh malam." Sahut Selya membuat Gava terkejut.
" Apa sekolahmu tidak terganggu? Kamu pasti mengantuk kan karena harus bekerja sampai semalam itu." Ujar Gava.
" Mau gimana lagi Mas? Inilah takdir hidup yang harus aku jalani. Aku tidak hanya menopang diriku sendiri tapi aku punya tanggung jawab terhadap adikku." Sahut Selya.
" Seberapa besar adikmu? Dia laki laki apa perempuan?" Tanya Gava ingin tahu.
" Dia laki laki, umurnya lima belas tahun. Tahun ini dia lulus SMP." Sahut Selya.
" Mau meneruskan sekolah dimana?" Gava bertanya lagi.
" Kenapa aku seperti sedang di sidang oleh tim penyidik ya Mas? Apa sebegitu menariknya hidupku sampai Mas ingin tahu semuanya? Atau Mas merasa iba padaku?"
" Egh????"
" Iya ya... Kenapa aku begitu cerewet hingga menanyai dia macam macam. Memangnya apa peduliku padanya? Entah mengapa saat melihatnya aku seperti melihat mama. Semua kelembutan dan sifat penyayang mama ada pada dirinya. Ya Tuhan... ada apa dengan diriku?" Batin Gava.
Ada yang bisa bantu jawab?
Jangan lupa tekan like koment vote dan mawarnya buat author ya...
__ADS_1
Miss U all...
TBC...