KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
HARI KESIALAN


__ADS_3

" Oh ya kau belum menjawab pertanyaanku, adikmu sakit apa? Kalau sakitnya parah mending kita bawa ke rumah sakit saja." Ujar Gava menatap Selya sekilas.


" Bukan apa apa Mas, dia hanya sedang demam saja karena kemarin kehujanan. Terima kasih telah mengkhawatirkan adikku." Sahut Selya.


" Oh, semoga nanti setelah minum obat adikmu sembuh." Ucap Gava.


" Amin, terima kasih Mas." Ucap Selya.


Tak lama mereka sampai di rumah Selya. Rumah berlantai dari yang terlihat sederhana namun nampak indah. Tanaman bunga di halaman rumah yang tertata rapi di dalam pot membuat rumah tersebut semakin nampak indah di pandang mata.


" Ini rumahku Mas, aku yakin rumahku sangat jauh berbeda dari rumah Mas Gava. Jika berkenan silahkan mampir Mas!" Ucap Selya turun dari mobil.


Tidak mau terlihat sombong di mata Selya, Gava turun dari mobilnya.


" Baiklah aku akan mampir sekalian menemui adikmu." Ucap Gava di balas senyuman oleh Selya.


Selya melangkahkan kakinya tiba tiba...


" Awh."


Gava langsung menggendong Selya ala bridal style membuat Selya terkejut.


" Mas turunkan aku! Aku tidak mau jadi bahan gosip tetangga." Ucap Selya.


" Tidak ada yang lihat." Sahut Gava masuk ke dalam rumah Selya.


Nampak Romi keluar dari kamarnya menghampiri kakaknya.


" Kak Selya, Kakak kenapa?" Tanya Romi cemas.


" Tidak apa apa Dek, Kakak tadi kurang hati hati jadi jatuh deh dari motor." Sahut Selya tidak mau membuat adiknya khawatir.


" Maafkan aku Kak! Selama ini aku selalu merepotkan Kakak. Kakak begini karena membelikan obat untukku. Maafkan aku yang selalu menjadi beban untuk Kakak." Ucap Romi duduk di samping Selya. Lalu ia memeluk kakak tercintanya dengan perasaan sedih.


" Ingat kata kata Kakak ini! Kamu bukan beban Romi, tapi kamu tanggung jawab Kakak. Sudah menjadi kewajiban Kakak untuk menjagamu sebagai pengganti orang tua kita sayang. Sekarang jangan bersedih lagi! Malu di lihatin sama Mas Gava, masa' lelaki cengeng seperti ini." Ucap Selya melirik Gava.


Romi menatap Gava, ia baru menyadari jika ada orang lain di sana.


" Kakak siapanya kak Selya?" Tanya Romi.


" Mas Gava ini orang yang menolong Kakak tadi di jalan. Ucapkan terima kasih padanya karena telah menolong Kakak dan membawa Kakak pulang ke rumah dengan selamat." Sahut Selya.


" Terima kasih Kak Gava karena telah menolong kakakku. Kenalkan aku Romi." Ucap Romi menyodorkan tangannya.


" Gava, senang bertemu denganmu." Ucap Gava menjabat tangan Romi.


" Aku juga senang bertemu dengan Kak Gava." Sahut Romi.


" Silahkan duduk Kak! Akan aku buatkan kopi untukmu." Ucap Romi beranjak dari sofa.


Gava duduk di samping Selya membuat Selya menatap Gava.


" Apa Mas Gava mau meminum kopi buatan Romi?" Tanya Selya membuat Gava mengerutkan keningnya.


Romi menghentikan langkahnya, kakaknya benar. Biasanya orang kaya akan jijik jika minum ataupun makan hidangan dari orang miskin seperti mereka.


" Em... Aku khawatir Mas Gava jijik meminumnya karena ...


" Jangan berpikir buruk tentangku, aku tidak memandang orang lain dari segi sosial. Dan aku selalu menghargai pemberian orang lain untukku." Sahut Gava memotong ucapan Selya. Ia tahu betul apa maksud ucapan Selya.

__ADS_1


" Maaf Mas! Bukannya aku berburuk sangka tapi aku hanya merasa sungkan saja dan berkecil hati jika berhadapan dengan orang orang kaya seperti Mas. Sekali lagi maafkan aku!" Ucap Selya lembut.


" Aku maafkan." Sahut Gava.


" Ya sudah Dek, buatkan kopi untuk Mas Gava!" Ucap Selya menatap Romi.


" Baik Kak tunggu sebentar!" Sahut Romi berlalu menuju dapur.


Gava mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang tamu. Ia kagum dengan tatanan rumah yang Selya miliki. Walaupun ruang tamu kecil namun terlihat lebih luas dari ukuran yang sebenarnya.


" Kenapa Mas? Apa Mas sudah tidak betah tinggal di sini?" Tanya Selya.


Gava menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan Selya.


" Apa aku terlihat begitu?" Tanya Gava.


" Maaf jika aku salah lagi." Ucap Selya.


Gava menyembunyikan senyumannya. Entah mengapa sikap Selya mengingatkannya pada mamanya di rumah. Kelembutan, sikap penyayang yang di miliki nyonya Vania ada pada Selya.


" Apa sudah menjadi kebiasaanmu mengucapkan maaf kepada semua orang?" Tanya Gava menatap Selya.


" Aku akan meminta maaf jika kiranya aku membuat kesalahan ataupun menyinggung perasaan orang. Bukankah meminta maaf tidak membuat kita rendah di mata orang lain? Kecuali kalau kita meminta sedekah." Sahut Selya.


" Bisa saja bicaranya." Ucap Gava terkekeh tanpa sadar.


Selya tersenyum melihat senyuman Gava yang begitu manis menurutnya.


" Kenapa tersenyum seperti itu?" Tanya Gava membuat Selya salah tingkah.


" Tidak apa apa Mas." Sahut Selya.


Tak lama Romi kembali dengan membawa nampak kopi.


" Romi coba kau telepon mbak Muji, bilang padanya suruh ngurut Kakak sekarang bisa nggak. Kaki Kakak sakit banget." Ucap Selya mengelus kakinya yang mulai bengkak.


" Iya Kak." Sahut Romi.


" Setelah itu kamu minum obatnya, terus istirahat. Jangan sampai kecapekan nanti demammu nggak turun turun." Ujar Selya.


" Iya Kak, terima kasih obatnya." Ucap Romi.


" Sama sama." Sahut Selya tersenyum.


Romi kembali ke kamarnya meninggalkan mereka berdua.


" Kopinya di minum Mas!" Ucap Selya.


" Iya." Gava menyesap kopinya.


" Kak mbak Mujinya nggak bisa, soalnya lagi di luar kota." Ucap Romi dari kamarnya.


" Ya Tuhan... Gimana dengan kakiku kalau begini? Mana mulai membengkak lagi." Gerutu Selya.


" Coba selonjorkan kakimu! Aku akan mencoba mengurutnya." Ucap Gava.


" Tidak Mas terima kasih, tidak sopan kalau Mas sampai menyentuh kakiku." Ujar Selya.


" Kenapa? Aku hanya ingin membantumu saja, dan lupakan sopan santun untuk saat ini. Sini coba selonjorkan!" Titah Gava.

__ADS_1


" Emang Mas bisa ngurut?" Tanya Selya menatap Gava.


" Sedikit." Sahut Gava.


" Udah buruan!" Ucap Gava melihat Selya yang hanya diam saja.


Dengan ragu Selya menyandarkan punggungnya pada tembok lalu ia menyelonjorkan kakinya di atas paha Gava. Gava mulai mengurut kaki Selya dengan pelan.


" Shhh... Sakit Mas." Rintih Selya.


" Tahan sebentar! Sebentar lagi pasti terasa enakan." Sahut Gava.


Gava terus mengurut kaki Selya dengan telaten.


" Awh sakit Mas. Pelan pelan donk!" Ujar Selya memegangi kakinya.


" Ini sudah pelan, kalau seperti ini memang sakit. Apa ini yang pertama bagimu?" Tanya Gava menatap Selya.


" Iya ini yang pertama, selama ini aku tidak pernah seperti ini Mas." Sahut Selya.


Gava menyingkap rok yang di pakai Selya untuk mempermudah ia mengurut kaki Selya. Saat ia menyentuh bagian atas lutut tiba tiba..


Brak....


" Beraninya kalian berbuat mesum di sini."


Tiba tiba dia orang pria dan satu wanita masuk ke dalam mendekati mereka.


" Pak Rt, ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Kalian salah paham." Ucap Selya nampak terkejut dengan kedatangan mereka.


" Apanya yang salah paham Selya? Jelas jelas kami mendengar semuanya. Dan tadi apa itu? Dia menyingkap rokmu sampai ke atas begitu, apa yang mau kalian lakukan kalau tidak berbuat mesum." Ucap wanita paruh baya sambil menunjuk nunjuk Selya.


" Tidak bu Arni, tadi saya..


" Jangan banyak alasan Seyla! Mending kita usir mereka aja dari sini pak RT, saya tidak mau kampung kita tercemar karena pasangan muda mudi ini." Ucap bu Arni tersenyum smirk.


Bu Arni tetangga sebelah Selya yang memang tidak menyukai Selya tinggal di sana. Ia selalu membujuk Selya untuk menjual rumahnya kepadanya.


Entah ada dendam apa antara bu Arni dan Selya. Selya sendiri tidak tahu karena Selya membeli rumah itu setelah ibunya tiada. Itupun uang hasil menjual rumahnya yang lama.


Selya merasa bingung, bagaimana kalau ia benar benar di usir dari sana? Mau kemana ia pergi?


" Tolong jangan usir saya! Saya tidak melakukan apapun." Ucap Selya lirih sambil menahan air matanya.


" Tidak bisa, kalian harus di usir dari sini sekarang juga." Ucap bu Arni.


Selya menatap pak RT dengan tatapan menghiba.


" Saya mohon pak RT, jangan usir saya dari sini." Pinta Selya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Gava memejamkan matanya melihat semua itu. Entah mengapa ia tidak tega melihat kesedihan Selya.


" Saya tidak akan mengusirmu dari sini asalkan pemuda ini mau menikahimu."


Jeduarrrr....


Nah loh... Kira kira Gava mau nggak nih?


Jangan lupa tinggalkan jejaknya... Tekan like koment vote dan 🌹 yang banyak buat Gava dan Selya.

__ADS_1


Terima kasih...


TBC...


__ADS_2