
Hari ini akan diadakan rapat rutin bulanan RSMH. Kuswan sudah sangat bersiap dengan materi yang akan ia sampaikan. Ia sungguh berharap akan ada perubahan mengenai masalah pengadaan alat-alat operasi yang baru.
Di dalam ruangan miliknya sudah ada beberapa orang yang satu suara dengan dia termasuk Braja. Ya, braja merupakan sepupu dari Puspa. Lebih tepatnya kakak sepupu Puspa.
" Om, bagaimana jika pria brengsek itu menolaknya kembali. Bulan kemarin dia sudah menolaknya. Aku yakin akan ada kemungkinan untuk dia menolak lagi."
Kuswan terdiam, sudah 7 bulan Bisma menjadi menantunya ia sama sekali belum bisa mengendalikan Bisma. Jangankan mengendalikan, untuk sekedar datang ke rumah saja jarang sekali karena kesibukan Bisma yang luar biasa.
" Aku akan bicara pribadi kepadanya nanti."
Braja mengangguk, dia benar-benar tidak tahan dengan regulasi yang dibuat Bisma. Menurutnya rumah sakit ini semakin terlihat miskin saat banyak orang-orang miskin masuk kemari. Awalnya Braja sangat menyambut baik rencana Bisma membuka lantai 17.
Lantai 17 adalah lantai yang diperuntukkan untuk pasien VVIP. Dimana untuk biaya kamarnya saja sudah mencapai 1.300$ per malam. Belum untuk perawatan, dokter dan obat-obatan. Tapi siapa sangka lantai 17 itu rupanya digunakan Bisma untuk membuat subsidi silang bagi pasien tidak mampu.
Braja sungguh sangat geram. Apa yang dia pikirkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Awalanya ia berkeinginan untuk membuat fasilitas mewah rumah sakit lainnya seperti resto, coffee shop, dan ruangan gym. Tentu hal tersebut sangat baik untuk menambah nilai jual rumah sakit terhadap para kaum jetset.
" Apa yang akan kita lakukan jika rencana ini tidak berhasil lagi?"
Salah seorang dari mereka mengemukakan pendapat. Pada intinya orang yang berada di ruangan Kuswan adalah anggota komite, pemegang saham, dan juga sebagian dokter yang tidak sejalan dengan Bisma.
" Aku akan membuatnya setuju dengan apa yang kita rencanakan apapun caranya."
Braja tersenyum penuh degan kepuasan diikuti juga dengan yang lain saat Kuswan dengan tegas mengatakan hal tersebut.
***
Waktu semakin dekat menuju dimulainya rapat. Satu persatu bagian direksi, kepala staf, dan kepala bagian poliklinik memasuki ruang rapat. Jangan lupa para pemegang saham juga berada di sana. Salah satu pemegang saham terbanyak di RSMH harapan adalah Arjuna Dewantara.
__ADS_1
Arjuna datang bersama Teo sang sekertaris. Biasanya Juna enggan datang di acara seperti ini tapi dia juga tidak bisa selalu absen. Pasalnya suaranya begitu berharga dalam pengambilan keputusan.
Sebagai direktur rumah sakit Bisma tentu harus menyambut ramah semua tamunya tanpa terkecuali.
" Selamat siang Tuan Arjuna. Sungguh saya sangat senang Anda bisa hadir di sini," sapa Bisma ramah.
" Waah sepertinya Anda sedang menyindir saya yang jarang sekali hadir. Maaf, saya sering absen kalau ada rapat begini."
" Tidak tuan tidak. Sungguh bukan seperti itu maksud saya."
Bisma sungguh canggung. Tapi rupanya Juna hanya bercanda saja. Pria yang sudah memiliki 2 orang anak itu menepuk pelan bahu Bisma.
" Jangan begitu canggung, saya hanya bercanda."
Bisma bernafas lega. Orang yang lumayan memiliki pengaruh di dunia bisnis itu rupanya bisa juga berbicara santai. Siapa yang tidak tahu mengenai Arjuna Dewantara. Memiliki Star Building membuat Juna dikenal di dunia bisnis. Terlebih circle pertemanannya yang dimilikinya tidak bisa ditembus oleh banyak orang.
Laporan tersebut berisi mengenai penghasilan, jumlah pasien, dan juga pengeluaran untuk pembiayaan pasien kurang mampu. Semua nya terlihat jelas di sana. Namun meskipun begitu Suma tetap harus menjelaskan. karena suma tahu bahwa ada beberapa ornag yang tidak menyukai sang bos dan ingin menjatuhkannya.
Tampak rona kepuasan pada wajah-wajah beberapa orang dewan direksi dan pemegang saham. RSMH memang layak disebut sebagai salah satu rumah sakit terbaik. Akan tetapi tampaknya pencapaian tersebut tidak serta merta membuat sebagian orang merasa puad juga. Siapa lagi kalau bukan kubu Kuswan dan Braja. Tapi mereka belum bisa mengajukan interupsi karena sesi tanya jawab belum dijawab.
Braja sungguh tidak sabar. Ia benar-benar sangat tidak suka dengan Bisma yang saat ini berbicara di depan.
" Tck, cari muka," gumam Braja pelan.
" Sebuah hal penting yang ingin saya sampaikan. Saya sangat berterimakasih atas dukungan anda semua. Saya tahu beberapa Anda disini bahkan menjadi donatur untuk progam pengobatan gratis yang saya cetuskan. Saya berharap apa yang sudah Anda berikan akan menjadi amal baik bagi Anda semua. Saya berharap saya bisa senantiasa menjaga amanah ini. Terimakasih."
Riuh tepuk tangan membahana di ruangan tersebut. Sebagian besar orang sangat kagum dengan pencapaian Bisma. Hal tersebut rupanya membuat Kuswan urung menyampaikan apa yang sudah direncanakan tadi.
__ADS_1
Beberapa kali Braja memberi kode tapi diacuhkan oleh Kuswan. Tentu saja Braja merasa begitu kesal.
" Gila aja aku mengemukakan pendapatku sendiri. Yang ada aku malah diserang nanti. Aku tentu tidak mau dianggap sebagai mertua yang membelot menantunya. Bisa ancur reputasi ku."
Kuswan benar-benar diam seribu bahasa. Dia bahkan tidak menundukkan kepalanya berlagak membaca berkas yang ada di tangan. Padahal sebenarnya dia menghindari tatapan Braja dan kubunya. Sedangkan Braja yang terlanjur kesal memutuskan Walk Out dari rapat tersebut. Dengan alasan ada pasien darurat pria tersebut segera pergi.
Bisma yang melihat wajah Braja begitu kesal hanya membuang nafasnya pelan. Ia tahu saat ini Braja tidak ingin berlama-lama berada di ruang rapat.
" Baiklah, jika tidak ada yang ingin ditanyakan kami akan menyudahi rapat kali ini. Kami berharap bulan depan RS Mitra Harapan semakin lebih baik dalam melayani pasien."
Semua mengangguk lalu bertepuk tangan. Semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Di ruangannya Braja berteriak kesal. Ia benar-benar marah. Seseorang di sana tersenyum miring melihat Braja yang merah padma wajahnya.
" Tck, apakah kau selemah ini Mas Braja. Masa iya sih nggak bisa ngalahin orang itu."
" Sejak kapan kamu disini?"
" Ayolah mas, jika ingin mengalahkan dan menjatuhkan si Bisma itu kamu harus punya effort lebih. Jika kau hanya mengandalkan satu orang saja kau tidak akan pernah bisa berhasil."
Braja sedikit memikirkan kata-kata yang dia dengar ia pun seketika tersenyum. Tampaknya ia menemukan cara untuk membuat saingannya itu jatuh.
" Kau benar. Aku tidak boleh mengandalkan orang lain. Terlebih papamu itu. Nyalinya hanya setinggi pohon tauge, Puspa."
Ya, orang yang berada di ruangan Braja itu adalah Puspa. Ia tahu bahwa Braja sangat membenci Bisma dan itu adalah kesempatan Puspa untuk terus mengompori Braja soal Bisma. Ia ingin menggunakan tangan orang lain untuk menghancurkan pria yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya.
TBC
__ADS_1