Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-12. Sekar Curiga


__ADS_3

Braja tengah duduk di sebuah kafe malam itu. Dia sedang menunggu seseorang. Apa yang jadi rencananya tentu harus segera terwujud. Dan salah satu cara yang ia lakukan adalah sekarang ini.


" Maaf tuan sudah menunggu lama."


" Tidak masalah, ini pertama kali kita bertemu untuk lain kali aku tidak ingin terjadi lagi seperti ini."


Seorang perempuan berusia sekitar 25 tahun itu mengangguk mengerti. Ia tentu terkejut mendengar penuturan Braja yang tajam dan dalam tersebut.


" Lalu, apa yang anda inginkan tuan?"


Braja menyeringai, dia kemudian mengatakan apa yang harus wanita itu lakukan. Rieta nama gadis itu, ia mengerti dan mengangguk patuh.


" Jadi kapan saya harus beraksi?"


" Tunggu kabar dari ku. Kau harus selalu siap saat aku membutuhkan tenaga mu."


" Baik tuan, anda bisa mempercayai saya."


Braja kemudian beranjak dari duduknya setelah ia selesai dengan apa yang ingin dia katakan. Braja meninggalkan beberapa lembar yang seratus ribuan di meja yang membuat wanita itu tersenyum lebar.


" Syukur deh, bisa buat berobat ibu," ucap wanita itu singkat sambil mengambil uang tersebut.


Rieta menghela nafasnya dengan sangat berat. Ia sungguh tidak punya pilihan selain menerima tawaran kerjasama dari Braja. Peduli setan dengan efek yang akan diterimanya nanti, itulah yang ada dalam pikiran wanita tersebut.


Gadis itu pun segera keluar dari tempat itu dan berjalan melewati trotoar. Pikirannya menerawang kepada naskah yang akan dia lakon kan sesuai petunjuk sang sutradara.


Rieta harus mengingat baik-baik apa yang harus ia lakukan. Tapi sejenak gadis itu berhenti dan berpikir. Mengapa ada orang yang dengan tega akan melakukan fitnah sekeji itu terhadap orang lain.


" Aah bukan urusanku. Yang jelas, aku hanya akan melakukan apa yang dia mau saja. Lalu setelah itu aku bebas. Aku bisa pergi dari kota ini dan membawa ibu berobat dengan uang yang ku dapat."

__ADS_1


Braja menjanjikan nominal uang yang tidak sedikit kepada Rieta jika berhasil melakukan aksinya. Maka dari itu gadis berusia 25 tahun itu setuju saat diminta Braja melakukan rencana.


🍀🍀🍀


Bisma tidak pulang ke rumahnya, ia pulang ke rumah sang kakak, Sekar. Malam sudah sangat larut kediaman keluarga Dwilaga tentu sudah sepi.


Bisma pun menuju ke kamarnya. Ya, di rumah sang kakak Bisma juga memiliki kamar sendiri. Bisma yang sudah ditinggal kedua orang tuanya dari usia remaja otomatis tinggal di rumah Sekar.


Apalagi usia Bisma dengan anak-anak sekar juga tidak terlalu jauh membuat mereka layaknya seperti teman. Kecuali dengan si bungsu dan si nomor 3, Bisma sudah memang bersikap layaknya om dan keponakan.


Bisma mengambil air di dapur. Ia benar-benar merasa lelah hari itu. Bisma pun meminum air di botol minum tersebut dengan sekali tenggak.


" Bis, kok pulang kemari?"


" Astagfirullaah mbak, mbak membuatku jantungan."


Bisma sungguh terkejut melihat sekar yang berdiri di belakangnya masih menggunakan masker wajah. Kebiasaan sang kakak tersebut tidak pernah hilang meskipun usianya sudah hampir kepala 6.


" Ya elah mbak, masa adiknya pulang ke rumah kakak nya dibilang kenapa pulang ke sini. Mbak aneh deh, aku tuh kangen sama mbakku."


Sekar memutar bola matanya malas mendengar ucapan Bisma yang begitu manja. Wanita itu pun membalikkan badan dan meninggalkan Bisma di dapur sendirian.


Sekar kembali ke kamarnya, di sana Aryo sang suami pun belum tidur. Aryo terpantau masih sibuk dengan urusan universitasnya.


" Siapa?"


" Bisma."


" Eh tumben tuh bocah kemari."

__ADS_1


" Mas, Bisma udah 35 tahun. Bukan lagi bocah. Mas, aku merasa ada yang aneh dengan bocah itu. Feeling ku berkata dia sedang tidak baik-baik saja dengan istrinya. Sampai hari ini belum juga ada tanda-tanda Puspa hamil."


Aryo menutup kertas-kertas kerjanya dan duduk di sebelah sang istri. Ia kemudian menepuk pelan bahu sekar.


" Bund, nggak boleh ngomong gitu. Anak itu rejeki, dan rejeki itu urusan Allaah. Ingat jangan pernah membandingkan satu dengan yang lainnya."


" Astagfirullaah, maaf mas. Aku benar-benar khilaf. Hanya saja aku merasa rumah tangga Bisma sedang tidak baik-baik saja."


" Apapun itu stop berburuk sangka, dan jangan pernah campuri urusan rumah tangga Bisma meskipun dia adalah adik kandungmu. Bahkan rumah tangga anak-anak kita pun kita tidak ada hak untuk mencampuri."


Sekar mengangguk mengerti. Hal itulah yang selalu ditekankan oleh Aryo kepadanya. Anak-anaknya kini telah mendapatkan tambatan hati masing-masing, dan mereka sebagai orang tua hanya bisa memantau dan memberi nasehat tanpa ikut campur di dalamnya.


Bisma merebahkan tubuhnya di kamar miliknya. Ia merasa rindu masa-masa masih sendiri dulu. Dulu ketika melihat sang keponakan menikah, Bisma ingin pula segera menikah. Tapi ternyata semua tidak seindah apa yang dia pikirkan.


" Haaah, sudahlah percuma juga disesali. Mari kita lihat, apa kah dia membawa pria nya ke rumah saat tahu aku tidak ada di rumah atau malah dia sama sekali tidak pulang."


Bisma membuka ponselnya dan mengklik aplikasi dimana cctv yang ada di rumah bisa dia pantau melalui ponselnya. Bisma memeriksa mulai pukul 10 malam. Ia pun menarik sudut bibirnya saat melihat apa yang terjadi di sana.


" Hmmm, aku sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini. Tapi kau sungguh murahan Pus, bahkan kau dengan berani membawa pria itu ke rumahku. Baiklah, dengan ini maka bukti semakin kuat. Bagaimanapun aku harus bisa lepas dari mu dengan caraku."


Yang awalnya Bisma akan bercerai dengan puspa melalui cara yang baik-baik, tapi setelah ia tahu bahwa Puspa sering bermain dengan kekasihnya menjadikan Bisma berubah pikiran. Ia pun juga mempunyai pemikiran yang lain. Dimana perceraiannya nanti akan jadi boomerang buat dirinya, maka dari itu dia akan mengeluarkan semua bukti perselingkuhan Puspa.


Meskipun Puspa bilang pria itu adalah kekasihnya, tapi secara hukum negara Puspa adalah istrinya yang sah. Dengan begitu Puspa lah yang berselingkuh saat ini.


" Aku yakin Ayah mu pasti tidak mengetahui kelakuan putrinya. Maka aku yakin ini akan jadi kejutan yang menyenangkan."


Bisma kemudian menyimpan hasil rekaman tersebut. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap ke arah langit-langit.


" Entah seperti apa nanti, aku pun tidak tahu. Jalani saja sekarang seperti yang ada."

__ADS_1


Lambat laun pria itu memejamkan matanya terbuai dengan malam dan mimpi, yang setidaknya lebih indah dari dunia nyata.


TBC


__ADS_2