Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKBP-14. Andaikan


__ADS_3

Gauri tengah mengelap tubuh samsul. perkembangan samsul semakin membaik. Ayahnya itu kini sudah bisa menggerakkan jari-jari tangannya dan sedikit berbicara kepada Gauri.


" Ri, burung babe gimana?"


Gauri menepuk kening nya sendiri eng tangan. Sungguh babe nya ini luyar biasa sekali. Hal yang ditanyakan adala burung miliknya bukannya keadaan sang putri yang punya lingkatran hitam di matanya hingga mirip seperti mata panda.


" Ampuuun deh babe, kenapa bukan nanyain Uri sih. Babe kagak lihat nih mata Uri udah item gini. Lah si coki ma si cici aman aja di rumah. Lagian ada Beno. Beno suka mampir ke rumah buat ngasih makan tuh dua burung kesayangan babe. Heran aye mah, yang anaknya babe aye apa Coki sama Cici sih."


Samsul tersenyum mendengar repetan dari mulut Gauri. Dulu yang dia sempat kesal setiap Gauri mengomel, beberapa hari ini ia merasa rindu.


" Kapan babe pulang?" tanya Samsul dengan nada masih terbata.


" Nanti kalau babe udah sembuh. Kite pulang. Babe kudu terapi juga ntar biar babe bisa aktivitas normal lagi."


Tes air mata Samsul mengalir tanpa permisi. Ia merasa jadi beban Gauri. Anak gadis yang seharusnya bisa bebas bermain bersama teman-teman nya itu kini harus terkungkung merawatnya. Samsul menyalahkan dirinya, jika dia menurut apa kata Gauri maka dia tidak akan berada di tempat ini terbaring tak berdaya.


" Seandainya~."


" Be, kagak boleh begitu ye. Inget kata pak ustad kita kagak boleh berandai-andai. Semua Allaah punya atur. Ini udah jadi jalan buat babe. Yang penting babe semangat sembuh okeeh!"


Samsul mengangguk, ia pun kemudian dibantu gauri untuk bersandar di head board hospital bad. Gauri kali ini akan menyuapi makan Samsul.


Lihatlah putri kita Laksmi, dia sungguh cantik. Wajah mu ada di sana. Dia sungguh tumbuh jadi gadis yang berbakti. Jika kau masih ada, aku akan kau akan bangga. Maafkan aku Laksmi, gara-gara aku bahkan putrimu tidak diakui oleh keluarga besar mu. Sesuai janjiku padamu, aku tidka akan memberitahu dari mana kau berasal.


Samsul tergugu ketika memandang wajah Gauri. Ingatannya berputar saat Laksmi baru saja melahirkan Gauri.


Istrinya yang waktu itu hamil besar sempat mendatangi keluarganya dan mengatakan bahwa ia tengah hamil seorang anak perempuan. Namun Laksmi ditolak mentah-mentah oleh sang ayah.


Setelah melahirkan gauri, Laksmi berpesan pada Samsul.


" Bang, bahkan saat tahu aku hamil pun beliau tidak menginginkanku. Aku harap smpai kapanpun abang tidak akan menceritakan siapa keluargaku kepda putri kita nanti."

__ADS_1


" Tapi Laksmi, putri kita juga berhak tahu siapa keluarganya."


Laksmi menggeleng, kemarin ia msih punya keyainan untuk memperbiki hubungannya dengan keluarganya. Akan tetapi setela kejadan dimana mereka tetap tidak menginginkannya bahkan mengusirnya yang jelas-jelas dia tengah hamil besar, Laksmi sudah memantabkan dalam hati bahwa dia tidaklah punya keluarga jadi putrinya tidak perlu tahu.


" Bang, berjanjilah seperti itu kepadaku."


" Ya, ya baiklah. Tapi ngapain sih kamu pakai ngomong-ngomong begitu. kau lah nanti yang akan ada bersama putri kita. Siapa tahu kau sendiri yang memberitahukan hal tersebut kepada putrimu."


Laksmi hanya tersenyum ke arah sang suami. Dan hal tersebut terjawab saat 5 tahun kemudian dimana Laksmi meninggalkan Samsul dan gauri selama-lamanya.


Samsul tidak pernah menyangka hal itu. Saat sakit pun Laksmi melarang samsul memberitahu keluarganya. Laksmi yakin bahwa keluarganya terutama sang ayah tidak lagi peduli terhadapanya.


Samsul masih saja menangis setiap mengingat kepergian Laksmi. Ia merasa bersalah karena menjadi faktor rusaknya hubungan Laksmi dan keluarganya.


" Be, babe napa? inget ibu lagi?"


Samsusl mengangguk, Gauri tahu persis jika Samsul seperti itu berarti dia mengingat sang ibu yang sudah tiaada. Gauripun mengusap lembut tangan Samsul dan membesarkan hati sang ayah.


Namun hal tersebut tidak serta mertah membuat Gauri tidak merindulkan ibunya. Gauri bahkan juga bisa menagia seketika dia merindukan pelukan sang ibu. gauri juga ingat dia akan selalu dimanja oleh ibunya saat dia sakit. Gauri juga terkadang meridukan masakan ibunya sat dia merasa lelah dan penat dngna pekerjaan kantor.


Karena hal itu biasanya Gauri akan berkutat di dapur seharian mencoba memasak apa yang ibunya pernah masak. Mencoba membuat rasa yang semirip mungkin dengan rasa masakan sang ibu sesuai dengan ingatan yang dimiliki.


Dan, bila saat itu tiba maka Samsul akan kabur dari rumah. Pasalanya rumah akan banyak sekali makanan dan Samsul menjadi orang yang harus mencicipi semuanya.


Rupanya saat-saat itu menjadi masa yang dirindukan Samsul sekarang. Ia yang saat ini memakan makanan rumah sakit seketika menjadi enggan.


" Uri, babe pengen makan kari buatan Uri?"


" Heee? yang bener aje babe. Kagak ada, babe belum boleh ye makan begituan. Ntar dah kalau babe udah enakan dikit Uri nanya ke dokter boleh kagak makan kari. Kalau boleh, ntar Uri buatin ladu juga. Oke?"


Samsul mengangguk sambil tersenyum. Selalu seperti itu, satu kalimat darinya akan dijawab 5-10 kalimat oleh Gauri. Tapi itulah yang membuat ramai rumah meskipun mereka cuma berdua.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Sore hari, Gauri izin kepada Samsul untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Sudah dua hari ini Gauri tidak pulang. Bagaimanapun Si Item harus dipanasin juga. Tadinya Gauri mau menjual saja Si Item, tapi ternyata si Item akan berfungsi sebagaimana mestinya.


Dengan Samsul yang saat ini mengalami kejadiaan nahas situ membuat Si Item akan sering digunakan.


Gauri memakirkan motor nya di halaman rumah. satu persatu ia menurunkan barang bawaanya. Sedikit agak kerepotan tapi Gauri bisa mengatasinya dengan baik.


" Mau abang bantu Ri?"


" Kagak usah bang, makasih. Aye bisa sendiri kok."


Seorang pria menghampiri Gauri dan berniat membantu. Tapi oleh gauri ditolak secara halus. Selama ini dia biasa melakukan apa-apa sendiri. membetulkan genteng, mengecat rumah dan lain sebagainya biasa Gauri kerjakan sendiri. Jadi jika hanya memindahkan barang bawaanya dari motor ke dalam rumah maka itu bukanlah hal yang berat.


Eh, tapi kenapa waktu itu ditolongin pak dokter aye kagak nolak ye, gumam Gauri pelan.


" Ri!"


" Eh iya bang, ada apa ya?"


Pria itu bingung dia mau bagaimana agar Gauri mau bicara kepadanya. Sungguh suasana seperti ini membuatnya canggung sendiri. Padahal jika dilihat, Gauri biasa-biasa saja dalam menanggapinya.


" Apa abang boleh ngobrol sebentar sama kamu."


" Maap ye bang halim. Bukanya Aye kagak mau ngobrol sama abang. Tapi Aye harus cepet-cepet buat balik ke rumah sakit. Aye kagak tega ninggalin babe lama-lama. Maap ya bang."


Gauri langsung saja masuk ke dalam rumah tanpa peduli pria yang benama Halim itu masih berdiri di sana. Apa yang Gauri katakan memanglah benar adanya. ia pulang hanya sebentar dan kan segera kembali lagi ke rumah sakit.


Halim pun membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari rumah Gauri. Sesekali Halim menengok kebelakang ke arah rumah yang masih sanagt kental dengan design rumah khas betawi itu. Ia berharap Gauri ada di sana dan melihatnya. Namun semuanya hanya sekedar harapan.


" Ri, andaikan semua sesuai apa yang kita inginkan. Mungkin sekarang kita udah sama-sama."

__ADS_1


TBC


__ADS_2