
Selepas sholat subuh tidak biasanya Bisma tidur kembali. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi pria itu belum juga bangun. Sekar tampak kesal, kebiasaan Bisma jika di rumahnya pasti seperti itu bangun siang.
" Bismaa! Biiiiiis, bangun sudah siang!"
Sekar berteriak sambil menggedor pintu kamar milik sang adik. Namun rupanya tak ada jawaban dari dalam. Sekar pun memutar hendel pintu, rupanya tidak dikunci. Dengan langkah besar-besar Sekar masuk ke kemar dan mendekat ke tempat tidur.
Sekar membungkukkan tubuhnya dan menempatkan bibirnya tepat di sebelah telinga Bisma.
" Bismaaaaa Triguna Dewandaruuu banguuuun!!"
Teriakan Sekar yang mencapai 7 oktaf itu langsung membuat Bisma bangun bahkan sampai terjingkat karena saking kagetnya. Wajah Bisma seketika pias melihat sang kakak berkacak pinggang sambil melotot. Ia pun menggaruk kepalanya yang tidka gatal sambil bersungut-sungut masuk ke kamar mandi.
" Mbak rese, orang aku off juga."
Di dalam kamar mandi Bisma berteriak keras. Tentu saja itu karena dia tidak berani di depan sekar.
Sekar pun menutup mulutnya dengan tangan karena merasa bersalah kepada sang adik. Namun ia terkekeh geli. Meskipun begitu Bisma tetap saja menurut kepada Sekar. Sekar pun kembali melenggang ke dapur menemui sang suami yang tengah menikmati teh panasnya.
" Udah bangun?"
" Ternyata dia tuh off. Ya bunda mana tahu yah."
Aryo hanya menggeleng. Kelakuan Sekar sebenarnya tak jauh beda dengan Bisma. Terlebih jika keduanya jadi satu. Sungguh seperti bocah. Jika seperti itu Sekar benar-benar tidak sadar bahwa dia sudah memiliki Nataya dan Yasa, anak dari Dika dan Radi.
Bisma keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan. Bisma sedikit terkejut melihat sang kakak ipar masih ada di rumah. Biasanya Aryo akan berangkat ke kampus pagi-pagi betul.
" Loh mas, kok tumben belum berangkat?"
" Iya, hari ini mas mau di rumah aja seharian. Tuh mbak mu ngerengek minta mas di rumah. Sebenarnya pengen random hari ini ke rumah Hasna sama Silvya buat nengokin Yasa dan Nataya."
"Laah bukannya Nataya masih liburan ya?"
__ADS_1
Aryo menepuk keningnya sendiri, ia lupa akan hal itu. sedangkan Sekar mengangkat bahunya tanda dia juga tidak tahu.
" Oh iya, kamu kemari pasti ada yang mau dibahas kan?"
Tebakan Aryo tentu tepat sasaran. Bisma pun mengangguk. Sebelum bicara ia meminum dulu susu buatan sang kakak. Sebenarnya kebiasaan ini yang ia punya saat pagi hari. namun semuanya berubah ketika dia menikah. Bisma menjadi enggan untuk berlama-lama di rumah. Ia memilih segera berangkat ke rumah sakit dan sarapan di kantin atau beli sarapan di jalan.
" Mbak, mbak dan mas kan posisinya masih dean komite rumah sakit. Jadi aku akan minta persetujuan mas dan mbak dalam ide ku ini."
Aryo dan Sekar saling pandang. mereka merasa Bisma akan membuat sesuatu yang membuat struktur organisasi saling serang.
" Apa itu, jangan aneh-aneh," ucap Sekar menyelidik.
" Bukan aneh-aneh mbak, tapi ini memang harus dilakukan. Mbak rumah sakit kita itu kan memiliki branding yang bagus di mata masyarakat. Tapi andai mereka tahu seperti apa yang terjadi di dalamnya aku yakin mereka tidak akan mau membayar mahal untuk mempercayakan kesehatan mereka di rumah sakit kita ini."
Sekar menatap tajam ke arah sang adik. Sungguh dia tidak tahu kemana arah pembicaraan Bisma. Begitupun dengan Aryo. Mereka berdua yang tidak terlibat langsung dalam operasional rumah sakit tentu tidak paham apa yang terjadi di rumah sakit setiap harinya.
" begini mas, mbak. Aku bukannya ngeluh soal aku yang sering menjalani operasi. Tapi para dokter ini, mereka selalu melimpahkan operasi yang sulit kepadaku hanya karena mereka tidka mau mengambil resiko. Tugas kami sebagai dokter kan berusaha menyelamatkan pasien, urusan hidup dan mati itu urusan sang Pencipta. nah mereka selalu lepas tangan. Dan mereka tuh lebih milih melayani kaum jetset. Sungguh bermuka dua."
" Seleksi ulang. Cari yang benar-benar berkompeten dan berdedikasi tinggi. Cari yang benar-benar menjunjung tinggi sumpah dokter dan menjalankannya. Aku tidak butuh gelar yang berderet tapi mereka tidak kompeten dan tidak profesional."
Sekar terdiam. Apa yang dikatakan Bisma tentu semuanya benar. tapi Sekar pun was-was ini akan jadi boomerang buat Bisma. Pasti akan banyak pihak yang menentang dan banyak pihak yang akan menjatuhkan Bisma kedepannya nanti.
" Apa kau yakin bisa melakukan ini?bagaimana jika mereka tidak setuju."
" Aku tidak peduli jika mereka tidak setuju. Tapi hal itu mutlak dilakukan. bahkan akau akan meminta ikatan dokter untuk menilai kelayakan mereka. Aku juga akan menggunakan Dewan direksi, pemegang saham serta dewan komite untuk menilai kelayakan mereka."
Aryo mengangguk paham. Ia tentu tahu bagaimana seseorang harus profesional terhadap profesinya.
" Mas dukung penuh hal tersebut. Segera adakan rapat dan lakukan segera. Lebih cepat maka lebih baik."
Bisma tersenyum, dukungan sudah dia dapat maka ini akan mudah. keputusan Sekar dan Aryo merupakan penyokong nomor satu yang menguatkan Bisma dalam melakukan hal ini.
__ADS_1
*
*
*
Beda Bisma beda pula Puspa. Jika sang suami tengah sibuk memikirkan pekerjaannya, sang istri tengah sibuk bergumul panas dengan pria lain.
Mengetahui bahwa Bisma tidak pulang malam itu membuat Puspa menahan Jiwa untuk tetap berada di rumah. Sungguh wanita itu tidak ada habisnya bermain dengan sang kekasih.
" Sayang, apa kau tidak takut hamil?"
" Aku melakukan KB Jiwa."
Terlihat raut sendu pada wajah tampan Jiwa. Ia pikir Puspa mau punya anak bersamanya. Sungguh pria itu mengharapkan bisa memiliki anak bersama wanita yang dicintainya itu.
" Apa kau tidak ingin punya anak sayang?"
" Untuk sementara ini belum sayang, aku masih ingin mengembangkan usaha. saat ini nama ku sedang dikenal dikalangan sosialita negeri ini. jika aku hamil tentu semuanya akan repot. Kau tahu sendiri kan wanita hamil itu kadang suka berubah mood nya, morning sickness. Duuh itu sangat menggangguku. Belum nanti kalau punya anak, pasti akan rewel. bisa-bisa aku tidak tidur dan membuat wajahku tidak segar."
Jiwa tentu terkejut dengan ucapan Puspa tersebut. Ia tidak menyangka bahwa wanita yang ia cintai selama ini memiliki pemikiran kurang baik terhadap kehamilan dan anak.
Jiwa tahu, bisnis tas branded yang dilakoni oleh Puspa saat ini memang sedang melejit. banyak dari kalangan artis dan pejabat menggunakan jasanya untuk mereka mendapatkan tas yang menjadi incarannya.
Tapi Jiwa tidak pernah menyangka bahwa puspa sat ini menganggap anak adalah sesuatu yang membuatnya repot.
" Lalu apakah kau tidak akan memiliki anak?"
" Tentu aku mau, aku akan memberimu anak sesuai yang kau inginkan. tapi setelah kita menikah nanti."
Jiwa tersenyum, ia pun kembali mencium bibir Puspa dan mereka kembali bergumul panas di atas ranjang milik puspa di rumah Bisma.
__ADS_1
TBC