
Berita mengenai apa yang terjadi kepada Sukhdev tentu langsung diketahui oleh Bisma. Ia kemudian bergegas menuju apartemen Sukhdev.
Bisma merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Semua ini ada kaitannya dengan dirinya. Braja benar-benar belum kapok juga. Ia harus mengonfirmasi hal ini terlebih dulu agar bisa mengambil tindakan lebih lanjut.
" Apa kalian tidak apa-apa?"
" Kami baik-baik saja Dokter Bisma. Hanya saja sepertinya Rieta syok."
Bisma mendekat ke arah Rieta dan memeriksa wanita itu. Benar, Rieta syok dengan apa yang dia alami. Itu tentu tidak mudah bagi dirinya. Berulang kali Rieta mengucapkan kata maaf.
" Rieta, dengarkan aku. Kamu tidak bersalah. Ini semua memang pria itu yang keterlaluan. Aku akan membawa ini ke jalur hukum. Bukan begitu Tuan Sukhdev?"
" Yang dikatakan dokter Bisma benar Rie. Kamu tidak bersalah. Jadi berhenti untuk meminta maaf ok."
Sukhdev memegang erat tangan Rieta mencoba menyalurkan perasaan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan semua ini bisa diatasi.
Pihak berwajib tentu langsung bergerak sesuai prosedur yang ada. Tadi setelah berhasil melumpuhkan semua orang suruhan Braja, Sukhdev diminta oleh Drake langsung menghubungi kepolisian. Dengan bukti dan saksi, maka Braja langsung akan ditangkap dengan tuduhan pembunuhan berencana.
" Baiklah Tuan Sukhdev saya pamit untuk kembali ke rumah sakit."
" Sebentar dokter. Apa bisa bicara sebentar?"
Bisma mengangguk, dalam hati dokter tampan itu bertanya-tanya. Ada apa kiranya Sukhdev mengajaknya berbicara lagi. Sepertinya semuanya sudah dibicarakan tadi.
Sukhdev pergi ke dapur dan membuat dua cangkir kopi. Menggunakan mesin pembuat kopi otomatis, tidak butuh lama kopi yang diinginkan pun jadi dibuat.
" Silahkan dokter. Minumlah terlebih dahulu."
Bisma menerima kopi yang diulurkan oleh Sukhdev. Pun dengan Sukhdev, ia juga duduk di depan Bisma sambil meminum kopi yang sudah ia buat.
Sruupuuut
Kopi panas itu melewati tenggorokan keduanya yang sedari tadi tidak dibasahi dengan air minum karena saking fokusnya dengan permasalahan yang dihadapi.
“ Baiklah Tuan, ada hal penting apa yang ingin Anda katakan kepada saya.”
“ Soal Gauri.”
Deg
Nama gauri disebut oleh Sukhdev seketika membuat dada Bisma berdegup kencang. Kembali lagi memenuhi otaknya mengenai hubungan apa yang dijalani oleh Sukhdev dengan Gauri.
“ Gauri? Ada apa dengan Gauri tuan Sukhdev?”
“ Apa Anda memiliki perasaan khusus terhadap Gauri?”
__ADS_1
Bisma menaikkan satu alisnya. Mengapa sepertinya pria yang kalau Bisma tidak salah kira seusia dengan dirinya itu begitu peduli dengan urusan pribadi Gauri. Bukankah mereka hanya sebatas kolega bisnis?
“ Jika iya kenapa dan jika tidak kenapa? Mengapa sepertinya Anda peduli sekali dengan Gauri tuan?”
“ Saya hanya ingin Gauri bahagia. Saya tidak bisa melihat gadis itu menangis sedih. Sudah banyak kesedihan dalam hidupnya, saya harap Anda tidak akan menambahinya.”
“ Anda tenang saja Tuan, saya sangat tahu apa yang saya lakukan saat ini. Jika tidak ada yang ingin dikatakan lagi saya izin permisi tuan. Selamat siang.”
Bisma keluar dari apartemen Sukhdev setelah menenggak habis kopi yang sudah tuan rumah buatkan tersebut. Sambil masuk ke dalam lift, Bisma menggelengkan kepalanya mengingat kata-kata dari Sukhdev.
“ Kok malah berasa ketemu sama calon mertua. Kayak protek banget Tuan Sukhdev ini ke Gauri. Entrahlah.”
Lain Bisma lain pula Sukhdev. Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa lalu membuang nafasnya dengan pelan. Ia melihat profil Bisma dengan seksama. Seorang dokter dan direktur rumah sakit bahkan juga sebenarnya dia adalah putra dari pendiri rumah sakit itu, tentu bukanlah orang sembarangan.
Sukhdev cukup tahu mengenai sepak terjang Bisma di dunia medis. Intinya tidak ada yang kurang dari pria itu.
“ Haish, apakah benar harus melepaskan Gauri untuk pria yang usianya terpaut jauh dari Gauri. Jika tidak salah keduanya terpaut 10 tahun. Apakah tidak masalah? Tapi permasalahan utama saat ini bukan itu, tapi kakek. Itu masalahnya.”
🍀🍀🍀
Duagh
Duagh
Duagh
Braja yang sedang menikmati siang di apartemennya sepertinya tidak tahu mengenai kabar kegagalan orang-orang suruhannya. Dia yang sebenarnya menunggu berita mengenai aksi anak buahnya tersebut.
Duagh
Duagh
Duagh
Pintu apartemennya kembali digedor. Braja sungguh kesal, ia mengumpat marah karena baru saja berjalan menuju ke pintu tapi sepertinya si tamu sungguh tidak sabaran
“ Ada apa sih?”
“ Saudara Braja, anda ditangkap karena tuduhan pembunuhan berencana. Mari ikut kami ke kantor dan jelaskan semuanya di sana.”
Braaak
Braja hendak menutup kembali pintunya tapi oleh salah satu polisi ditahan. Braja lari menuju kamarnya, menutup lalu menguncinya dari dalam.
“ Saudara Braja, sebaiknya Anda kooperatif dengan kami.”
__ADS_1
“ Aku tidak bersalah. Kalian pergilah.”
“ Jika Anda tidak bersalah maka buktikan itu di kantor. Jika Anda tidak segera membukanya dalam hitungan ketiga maka pintu ini akan saya dobrak. Satu … Dua … Tiga !”
Braaaak
Praaanggg
Braja memecahkan sebuah vas bunga yang ada di kamarnya. Ia lalu mengacungkan vas bunga itu kepada petugas kepolisian.
“ Minggir kalian, aku tidak mau masuk penjara. Aku tidak bersalah. Jika kalian tidak membiarkanku pergi maka aku akan menusuk diriku sendiri.”
“ Tuan sebaiknya Anda ikut kami dengan patuh. Kami tidak segan menembak Anda jika Anda tidak mau kooperatif.”
Bukannya mendengarkan apa yang dikatakan pihak kepolisian, Braja malah berusaha menyerang polisi tersebut menggunakan vas yang ia pecahkan sebagian.
Duel ringan pun terjadi antara Braja dengan salah satu petugas polisi. Badan Braja yang tinggi besar itu tentu bukan masalah bagi petugas.
Bruuuk
Argghhh
Braja berhasil dilumpuhkan. Polisi dapat menjatuhkan Braja dan memborgol kedua tangan pria itu ke belakang. Braja terlihat sedikit kesakitan karena tergores oleh pecahan vas yang ia pegang sendiri.
“ Bajingaaan brengseek!!! Lepaskan!! aku tidak bersalah. Kalian salah menangkap orang!”
Teriakan Braja memancing penghuni apartemen yang lain. Semuanya keluar dari dalam, dan tak sedikit yang mengabadikan momen tersebut.
“ Berhenti kalain! Apa yang kalian lakukan! Siapa yang menyuruh kalian mengambil gambar ha!”
Braja berteriak histeris, namun rupanya orang-orang itu acuh. Mereka terus mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel miliknya, dan tak sedikit yang mempostingnya ke sosial media.
Tagar penggerebekan pun menjadi trending di sosial media. Beberapa orang yang mengenal Braja tentu langsung syok dengan berita tersebut. Media padahal belum merilis apapun tapi sosial media lebih dulu viral.
Kuswan yang sudah tidak berangkat ke rumah sakit pun semakin syok dengan berita yang beredar. Belum selesai kasus sang putri kini sang keponakan juga ikut masuk ke dalam penjara. Pria itu jatuh tertunduk di lantai.
“ Ada apa dengan keluargaku. mengapa semuanya begitu kacau? Apa salahku!”
Sungguh manusia yang tidak tahu cara intropeksi diri. Sudah jelas banyak sekali kesalahan yang dia perbuat dan dia masih entengnya mengatakan apa salahku? Cahyati hanya mendengus kesal melihat suaminya yang seperti itu.
Hidup keluarganya hancur, tapi sang suami tidak pernah berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
“ Sampai kapan kau akan terus sombong begitu kuswan. Tidakkah kau lihat, Tuhan sedang menghukum kita atas perbuatan-perbuatan yang telah kau lakukan.”
TBC
__ADS_1