Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKBP-17. Terimakasih Sudah Mendengarkan


__ADS_3

Gauri berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit. Ia kini diambang dilema. Apakah ia mau mengungkapkan kecelakaan tersebut atau memilih diam. Jika diam, ayahnya tidak mendapat sebuah keadilan. Tapi jika dia lanjut maka aral terjal begitu jelas telihat. Ia yakin akan tertatih untuk sampai di ujung jalan tersebut.


" Gauri, are you ok?"


Suara bariton khas milik pria dewasa itu terdengar jelas di telinganya. Gauri pun menengok ke arah sumber suara. Ia tidak berkata apapun dan hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan pria tersebut.


" Apa yabg terjadi, kenapa begitu lesu. Bukankah ayahmu sudah jauh lebih baik?"


" Ini soal lain dokter. Soal yang mungkin akan sulit untuk saya menjawabnya. Dan entah kemungkinan bisa lulus atau tidak terhadap soal ini saya pun tidak tahu."


Bisma menggaruk kepalanya yang tidka gatal. Ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh gadis didepannya itu.


" Kalau tidak mengerti ya sudahlah dokter. Permisi, saya harus ke ruangan babe."


Bisma membuka mulutnya lebar, bagaimana Gauri tahu apa yang ada dalam pikirannya tersebut. Bisma kemudian menggelengkan kepalanya pelan saat menyadari sikap Gauri yang absurd.


Saat ia baru saja selesai visit ke ICU, ia melihat Gauri berjalan dengan begitu lemas. Ingin menanyakan apa yang terjadi tapi tampaknya Gauri tidak ingin membicarakannya. Bisma menghembuskan nafasnya dengan pelan, ia kemudian kembali ke ruangannya.


" Haish, ngapain juga aku begitu peduli dengan bocah itu."


*


*


*


Di ruangan Samsul ternyata masih ada Beno di sana. Samsul tampak senang ditemani Beno. Terdengar tawa ringan dari bibir pria paruh baya itu. Entah apa yang Beno ceritakan hingga bisa membuat Samsul begitu senang.


Gauri menegapkan tubuhnya. Berusaha untuk sejenak mengesampingkan ucapan sang bos. Namun rupanya melihat keadaan Samsul, Gauri tetap tak kuasa. Ia urung masuk. Biarlah Beno menemani sang ayahnya lebih lama, seperti itulah kata batin Gauri.

__ADS_1


Gauri pun membalikkan badan dan tidka jadi masuk ke ruangan Samsul. Dia butuh udara segar saat ini. Gadis itu pun berjalan sedikit cepat agar bisa menuju taman rumah sakit.


Ia melihat sebuah bangku kayu di sana. Gauri pun menghempaskan bokongnya dan menyandarkan punggungnya di bangku tersebut. Ia memejamkan matanya, kata-kata Ian kembali terngiang.


" Ri, ini tidak akan mudah. Orang yang menabrak ayahmu bukanlah orangg biasa. Dia adalah seorang putri dari seseorang yang namanya lumayan terkenal. Dia juga merupakan seorang sosialita yang memiliki jaringan pertemanan tidak main-main. Ditambah lagi bukti yang kamu miliki tidaklah kuat. Berbekalkan cctv yang jaraknya lumayan jauh ini tidak bisa menjerat orang ini. Kecuali kamu bisa mendapatkan bukti otentik yang membuatnya tidak bisa berkelit."


Gauri membuang nafasnya kasar. Apalah daya dia hanya seorang yang biasa. Semangatnya yang tadinya menggebu, kini bagaikan panas air mendidih yang menguap begitu saja.


" Huftt ya Allaah apa yang harus aye lakuin."


" Lakuin apa?"


" Astagfirullaah."


Gauri sungguh terkejut saat suara seorang pria menjawab apa yang di katakan. Ia pun menghembuskan nafasnya penuh kelegaan saat melihat siapa pria tersebut yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya.


" Laaah ini rumah sakit bocah, kerjaan ku dokter ya jelas aku dimana-mana bagian dari rumah sakit ini. Lagian terserah kau juga mau dimana. Terus kamu kenapa kok nggak jadi masuk ke kamar ayahmu."


Gauri seketika menundukkan kepalanya. Ia terlihat sangat lesu. Saat ini dia memang butuh tempat untuk berkeluh, tapi masa iya dengan pria yang berstatus sebagai dokter dari ayahnya itu. Lebih-lebih mereka juga kenal karena memang sama-sama berada di rumah sakit.


" Dok, saya mau tanya. Jika salah satu anggota keluarga dokter Bisma ada yang terluka karena orang lain, apakah dokter akan mencarinya untuk dimintai pertanggungjawaban?"


" Apa ini tentang ayahmu?"


Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan oleh Bisma itu hanya ditanggapi anggukan oleh Gauri. Bisma kemudian terdiam sejenak lalu menatap lurus ke depan.


" Keluarga adalah bagian penting dalam hidup kita. Jika salah satu dari mereka aka yang terluka maka aku pun tidka akan tinggal diam. Bukan dendam tapi lebih mereka harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka perbuat. Apalagi itu bukan lah hal yang sederhana. Bagaimanapun caranya aku akan membuat orang tersebut membayar apa yang sudah dia lakukan."


Gauri menatap wajah Bisma dengan seksama. Tampan? Tentu, semua orang mengakuinya. Tapi bukan itu yang saat ini Gauri kagumi. Bukan wajahnya tapi kata-kata yang membuat Gauri menemukan semangatnya.

__ADS_1


" Dok, tapi apa saya bisa. Apa dokter tahu jika babe saya itu adalah korban tabrak lari?"


Bisma mengangguk, ia tentu tahu. Saat Samsul dibawa oleh petugas 119, petugas tersebut juga menjelaskannya.


" Tapi orang yang menabrak itu ternyata bukan orang sembarangan dok. Dia adalah orang kaya yang punya kuasa. Saya tentu bukan tandingannya. Saya pikir saya akan menyerah. Tapi mendengar ucapan dokter saya semangat lagi, tapi setelah mengingat siapa dia saya down lagi."


Bukannya sedih Bisma malah terkekeh geli melihat raut wajah Gauri. Bisma sungguh merasa gemas. Tapi seketika dia bisa mengontrol dirinya. Saat ini Gauri benar-benar tengah merasa dilema.


" Begini saja. Coba minta petunjuk kepada Yang Maha kuasa. Yakinkan diri, jika kamu memang berniat ingin mencari keadilan untuk ayahmu maka lakukan, aku yakin akan ada jalannya. Tapi jika kamu berhenti di sini, ya sudah stop dan lupakan. Semua ada di tanganmu. Keputusannya ada di kamu."


Bisma mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman yang mana membuat Gauri salah fokus. Senyuman dokter tersebut sungguh sangat manis.


Eeh bujuug dah, bisa diabetes aye mah kalo tiap hari disenyumin gini. Nih orang udah punya pawang belum ya, kalau belum aye karungin juga dah bawa pulang.


Gauri yang terpaku dengan wajah Bisma seketika terkejut saat Bisma memanggil namanya.


" Gauri!! Ngerti nggak . Kok malah bengong."


" Ngarti dok, eh ngerti dok. Ngerti banget. Terimakasih ya."


Bisma mengangguk, ia pun berdiri dan pamit karen ada panggilan darurat dari IGD. Gauri melihat Bisma yang berlari tampak begitu memesona.


" Apa kata orang, pria ganteng akan selalu ganteng dalam situasi apapun itu benar ya. Tuuh lihat aje, lari pun doi ganteng bener. Eh ya Allah, nape jadi salah fokus mulu sih."


Gauri memukul-mukul kepalanya pelan. Berbicara dengan Bisma sungguh menyenangkan untuknya karena benar-benar bisa membalikkan mood nya yang buruk. Gauri pun tersenyum ke arah Bisma menghilang dari taman.


" Terimakasih dok, terimakasih sudah mau mendengarkan apa yang sedang ku rasakan ini. Aku harap, aku benar-benar mengambil keputusan yang tepat nanti."


TBC

__ADS_1


__ADS_2