
Gauri merebahkan tubuhnya di bed sebelah sang ayah. Malam ini dia akan tidur di rumah sakit menemani ayahnya. Banyak sekali hal yang ingin Gauri ceritakan kepada Samsul namun rupanya ia harus menahannya sedikit lagi.
Tapi yang jelas saat makan siang di kediaman Singh tadi, Gauri sudah menyampaikan terima kasih dan meletakkan kembali nama Singh yang sudah ia pinjam. Bersyukur keluarga Sukhdev menerima dengan baik dirinya. Bahkan Rada dan Shekhar mengharapkan Gauri untuk selalu berhubungan dengan mereka.
Aneh, hanya satu kata itu yang muncul di benak Gauri. Muncul sebuah pertanyaan dalam diri gadis itu mengenai keluarga sang ibu.
" Apa ibu juga punya keluarga seperti Bhai Sukhdev ya. Maksudku apa ibu masih punya keluarga? Terus keluarga ibu itu di tanah air apa di Negeri India sana?"
Hal yang tidak pernah Gauri pikirkan kini ia menjadi penasaran. Pasalnya melihat keluarga Sukhdev sungguh luar biasa. Bukan karena kekayaannya tapi dari culture yang ada begitu menarik hati Gauri.
" Haish sudahlah. Mari kita tidur."
Gauri menarik selimut. Lalu mulai memejamkan matanya dan mengarungi dunia mimpi. Bisma yang berdiri di depan pintu hendak masuk pun urung saat melihat Gauri sudah mulai tertidur. Pria itu tersenyum simpul dan melenggang pergi dari sana.
Bisma kemudian kembali ke ruangannya tapi ternyata sang keponakan dari tadi melihat apa yang dia lakukan. Dika menjadi penasaran dengan sang om. Sebenarnya bukan kali pertama ini saja Dika melihat om nya itu dekat dengan Gauri.
" Om?"
" Hmmm, sejak kapan kamu mengikutiku?"
" Sejak Om berdiri di depan pintu ruang rawat ayahnya Gauri. Apa ada sesuatu diantara kalian. Bukan sekali ini saja aku melihat Om Bisma begitu perhatian. Belum pernah sebelumnya om melakukan itu ke pasien ataupun wali pasien."
Bisma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar tidak bisa menutupi apapun dari sang keponakan.
" Masuklah, akan aku ceritakan kepadamu."
Dika mengangguk dan mengekor Bisma masuk ke ruangan. Keduanya duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.
" Aku menyukai Gauri Ka, kami sepakat pacaran."
Dika hanya diam mendengar penuturan sang paman. Ia sama sekali tidak terkejut. Memang sudah sepantasnya Bisma mendapatkan seseorang yang benar-benar tulus mencintainya, dan mungkin itu ada di Gauri.
" Apakah om serius?"
" Tentu saja, jika boleh aku ingin segera menghalalkannya. Tapi rupanya itu belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Gauri ingin Babe Samsul sembuh dulu untuk bisa membicarakan hal ini lebih lanjut."
" Jangan terburu-buru. Saling mengenallah dulu sambil menunggu ayah Gauri sembuh."
Bisma mengangguk. Ia memang tidak boleh terburu-buru. Semua permasalahan baru saja selesai. Mungkin saat ini bisa dinamakan masa tenang, jadi nikmati dulu saja masa tenang ini dengan sebaik mungkin.
🍀🍀🍀
Masa tenang rupanya hanya anggapan sebagian orang saja. Beberapa orang saat ini tengah membuat sebuah susunan rencana untuk membalas dendam.
Salah satunya adalah Braja. Ia yang dinyatakan bersalah oleh dewan kehormatan RSMH tentu langsung dibebastugaskan dari segala pekerjaan rumah sakit alias di PHK. Tidak terima? Pasti. Seakan lupa dengan apa yang ditanam, alih-alih menyadari kesalahan Braja malah semakin berambisi menghancurkan Bisma.
" Aku tidak akan tinggal diam. Yang pertama harus ku bereskan adalah wanita itu. Wanita yang membuatku berada di situasi sekarang ini."
__ADS_1
Seperti awalan Rieta keluar saat menjadi saksi, Braja secara langsung membuat Rieta sebagai target utama nya. Bahkan sudah dua hari ini dia mengintai Rieta sendiri.
*
*
*
Pagi hari, sesuai apa yang sudah Braja rencanakan ia akan membuat pelajaran untuk Rieta. Ia sudah menyewa beberapa orang untuk melakukan hal tersebut.
" Bos, target sudah terlihat. Tapi dia tidak sendiri bos. Dia bersama seorang pria."
" Aku tidak peduli. Habisi saja keduanya."
Orang-orang suruhan Braja mengerti. Perintah sudah di dapat. Mereka hanya tinggal eksekusi. Total ada dua mobil dengan sekitar 10 orang mengikuti mobil yang membawa Rieta.
" Ada apa hmm?"
" Tiba-tiba perasaan saya tidak enak tuan."
Sukhdev seketika memasang sikap waspada. Rupanya pria yang dilihat oleh orang-orang suruhan Braja tadi adalah Sukhdev. Pagi ini Sukhdev menjemput Rieta. Padahal Rieta menolak tapi Sukhdev kukuh melakukan hal tersebut.
Rieta melihat ke arah belakang, sepertinya perasaannya bukan hanya sekedar rasa saja. Rieta bisa melihat ada mobil yang mengikuti mobil mereka. Rieta langsung memegang lengan Sukhdev, bukan hanya memegang tapi mencengkeram.
" Tuan kita diikuti."
Sukhdev seketika ingat akan Wild Eagle. Wild Eagle bukan hanya sekedar detektif swasta tapi mereka juga penyedia jasa keamanan.
" Hallo Tuan Drake, saya membutuhkan bantuan Anda secepatnya. Saat ini saya sedang diikuti oleh mobil tidak dikenal."
" Saya mengerti. Lajukan mobil Anda, jangan berhenti. Jika perlu masuk ke jalan bebas hambatan. Share Loc lokasi Anda saat ini."
Sukhdev paham apa yang dikatakan oleh Drake. Arahan Drake sangat jelas. Satu persatu ia melaksanakan apa yang dikatakan oleh Drake. Ia meminta Rieta untuk mengirim lokasi saat ini kepada Drake, setelah itu Drake terus melajukan mobilnya.
" Tuan, mereka mendekat."
Dugh
Mobil belakang Sukhdev disundul dari belakang oleh mobil orang-orang itu membuat Sukhdev sedikit terkejut. Mobil yang dikemudikan pun sedikit oleng.
" Sial, rupanya mereka sudah tidak tahan lagi ingin menyerang."
Bruuuum
Sukhdev menekan pedal gas nya lebih dalam lagi. Meski sedikit panik tapi Sukhdev berusaha untuk tetap tenang. Ia terus membawa mobilnya menuju jalan bebas hambatan yang pagi itu lumayan sepi.
Mobil yang ada di belakang pun tak mau kalah. Mereka juga semakin menambah kecepatan agar bisa benar-benar mengepung Sukhdev dan Rieta.
__ADS_1
Konsentrasi Sukjdev sedikit terbagi saat melihat wajah ketakutan Rieta. Sebisa mungkin Sukhdev fokus mengemudi sambil menunggu datangnya bantuan dari Drake.
Dugh
Dugh
Dugh
Lagi, kini mobil di belakang semakin intens menyundul mobil Sukhdev. Sebisa mungkin Sukhdev bertahan agar mobilnya tidak oleng. Ia sedikit merasa heran saat kedua mobil dibelakang itu melambatkan laju kendaraan mereka. Namun setelah melambat, keduanya langsung mempercepatnya.
" Sial, ini taktik. Rieta, pegangan yang kuat oke."
" Ba-baik."
Bruuuum
Sukhdev semakin cepat melajukan mobilnya. Sambil berdoa agar semuanya baik-baik saja.
Dugh
Braaaak
Braaak Klontang
Blaaam
Ckiiiit
Sebuah mobil berhenti menyaksikan mobil lainnya berguling lalu membentur pembatas jalan.
" Anda tidak apa-apa tuan."
" Kalian?"
" Kami diutus oleh Tuan Drake."
Sukhdev paham, hampir saja mobil yang dikemudikan lah yang akan mengalami hal serupa. Orang-orang Drake pun langsung mengamankan orang yang masih di dalam mobil yang terpental. Pun dengan mobil satunya yang sudah bisa mereka kuasai. Dengan menggunakan senapan untuk mengenai ban mobil lawan sehingga membuat kedua mobil yang tengah melaju kencang dan bersiap menabrak mobil Sukhdev itu oleng terlebih dahulu.
Rieta terlihat bergetar ketakutan. Sukhdev langsung menarik gadis itu ke pelukannya dan mencoba untuk menenangkannya.
" Tuan, mereka mengatakan disuruh oleh seseorang yang bernama Braja. Apa Anda mengenalnya?"
Sukhdev dan Rieta saling pandang, kini mereka tahu siapa target orang-orang itu dan siapa yang menargetkannya.
" Maaf."
TBC
__ADS_1