
Setelah menemui Gauri. Bisma melanjutkan berkendara. Entah mau kemana dia, dia sendiri tidak tahu. Yang jelas pria itu ingin menepi sejenak mengikuti tangannya yang tidak tahu akan membawanya kemana. Bisma juga mematikan ponselnya. Ia benar-benar sedang ingin menikmati kesendiriannya.
“ Baiklah kemana kita?”
Bisma sungguh berkendara tanpa tahu tujuannya. Tapi arah mobilnya semakin menjauh dari Kota J. Bahkan ia sudah mengambil jalan bebas hambatan yang menghubungkan provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Merasa sudah cukup jauh berkendara, Bisma pun menepikan mobilnya di rest area. Pria itu melirik arloji di tangan kanannya. 5 jam sudah dia mengemudi, dan Bisma sama sekali tidak merasa lelah.
Akhirnya Bisma kembali mengemudikan mobilnya, tapi kali ini ia akan keluar tol. Ia melihat nama kota P dan keluar dari tol tersebut untuk menuju kota itu. Kota yang memiliki banyak makanan khas diantara tauto dan nasi megono itu akan jadi tempat persinggahan Bisma. Kota P juga merupakan kota yang memiliki kerajinan batik paling terkenal. Jika membawa batik yang berasal dari sana pasti mereka akan tahu bahwa itu adalah batik dari kota P.
“ Baiklah mari kita cari di google map. Sepertinya banyak pantai indah di kota ini.”
Bisma menyalakan layanan peta di ponsel pintar miliknya. Dengan kata kunci ‘ pantai di sekitar kota P’, Bisma menemukan banyak rupanya. Namun pilihannya jatuh di Pantai Pasir Kencana. Dari review di laman pencarian pantai tersebut merupakan pantai yang menjadi favorit para warga untuk wisata akhir pekan. Apa lagi pemandangan matahari terbenamnya sanagat bagus.
“ Baiklah, mari kesana. Sudah lama nggak jadi anak pantai.”
Bisma menyalakan mobilnya kembali dan mengikuti arah mobilnya. Namun baru beberapa saat berkendara dia sudah harus menepikan mobilnya. Terlihat seorang pria tengah membantu seorang wanita paruh baya di jalan. Bisma pun lalu turun dan menghampiri mereka.
“ Tuan ada apa ini.”
“ Saya tidak tahu tuan, saat saya sedang melintas ibu ini tiba-tiba pingsan. Saya pikir dia tertabrak kendaraan tapi saat saya cek tidak ada bekas kecelakaan sama sekali.”
“ Bisa bantu saya menyangga kepala ibu ini.”
Orang tersebut mengikuti instruksi Bisma. Bisma kemudian berlari ke mobil untuk mengambil perlengkapan medis miliknya. Sebagai seorang dokter dia selalu membawa peralatan medis sederhana. Bisma pun kembali membuka kotak kecil miliknya. Ia kemudian mengeluarkan stetoskop.
“ Jangan khawatir tuan, saya adalah seorang dokter.”
Orang yang sedang menyangga kepala ibu itu mengangguk. Ada rasa lega dalam hatinya karena orang yang berhenti untuk menolong adalah seorang dokter.
Bisma memeriksa denyut nadi, irama jantung dan mata wanita paruh baya tersebut, ia kemudian membuka tas wanita itu dan mencoba mencari sesuatu di sana.
" Paclitaxel, Albumin-bound paclitaxel, bukankah ini obat kanker paru-paru?”
__ADS_1
Bisma kemudian memeriksa kembali denyut nadi pasien tersebut. Dia sedikit terkejut saat mengetahui denyut nadi wanita paruh baya itu semakin melemah.
“ Tuan, kondisi ibu ini tidak baik. Bisa bantu saya membawanya ke mobil saya. Kita harus segera menemukan rumah sakit terdekat. Jika tidak nyawa ibu ini bisa terancam.”
“ Pakai mobil saya saja tuan.”
“ Maaf bukannya menolak, tapi mobil saya ada sirine nya. Saya akan menggunakannya untuk membuka jalan.”
Pria itu pun mengangguk. Ia bersama Bisma membawa mobil ibu itu ke mobil Bisma. Seperti apa yang dikatakan Bisma, ia mengeluarkan sirine nya agar bisa mendapatkan jalan. Pria tersebut pun mengikuti Bisma dari belakang.
Beruntung kota P bukanlah kota yang penuh sesak seperti kota J. Setelah berkendara setidaknya 15 menit, Bisma menemukan rumah sakit dan langsung berhenti di depan IGD.
Petugas medis rumah sakit tersebut langsung mengeluarkan brankar dan membawa ibu tadi ke ruang penanganan. Bisma ikut masuk dan menjelaskan kepada dokter yang ada di dalam mengenai kondisi si ibu.
“ Terimakasih dokter Bisma, beruntung anda langsung membawanya kemari.”
“ Tapi dokter, saya rasa ibu itu harus segera dioperasi.”
“ Baik saya mengerti kita akan periksa secara menyeluruh terlebih dahulu.”
“ Terimakasih dokter sudah berhenti dan membantu. Perkenalkan saya Sukhdev.”
“ Saya Bisma.”
Ya, pria pertama yang menolong wanita paruh baya itu adalah Sukhdev. Sukhdev sedang melakukan perjalanan bisnis di kota P. Sebagai produsen kain terbesar, banyak pengrajin batik di kota P ini yang mengambil kain dari RS Textile. RS textile merupakan perusahaan milik Sukhdev.
“ Apakah anda sudah menghubungi keluarganya Tuan Sukhdev?”
“ Sudah, sebentar lagi mungkin dia akan datang.”
Mereka pun kembali berbicara santai. Hingga dirasa cukup, Bisma akhirnya memilih untuk pamit undur diri. Dia akan melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya.
" Baiklah dokter. Terimakasih. Sampai bertemu kembali."
__ADS_1
" Sama-sama tuan. Semoga kita masih diberi umur untuk bertemu lagi."
Bisma dan Sukhdev saling berjabat tangan sebelum Bisma pergi. Bisma melempar senyum lalu melenggang pergi dari rumah sakit.
Setelah Bisma keluar dari rumah sakit, seorang wanita berlari dengan terburu-buru. Terlihat kepanikan di wajah wanita itu. Bahkan sesekali dia mengusap air matanya yang terlanjur luruh.
" Apakah Anda yang menelpon saya, apakah Anda yang menolong ibu saya."
" Aah ya benar nama saya Sukhdev. Tapi bukan saya sendiri yang menolong ibu nona. Tadi ada seorang dokter yang membawa ibu Anda kemari. Jika bukan karena beliau mungkin akan terlambat menangani ibu Anda, tapi beliau sudah pergi."
" Begitu kah, oh iya nama saya Rieta. Rieta Trihapsari. Terimakasih Tuan Sukhdev sudah menolong ibu saya. Lalu siapa nama dokter yang membawa ibu saya kesini?"
" Namanya Dokter Bisma."
Deg
Rieta tentu terkejut saat Sukhdev mengatakan bahwa Dokter Bisma yang membawa ibu nya ke rumah sakit. Ia bahkan sampai jatuh terduduk di kursi.
Tidak-tidak mungkin dia berada di sini. tidak, itu pasti buka Bisma yang di sana. Mungkin itu hanya kebetulan. ya, kebetulan dokter yang menolong ibu memiliki nama yang sama dengan orang yang di fitnah oleh Tuan Braja.
Rieta bermonolog dalam hatinya. Dadanya bergemuruh, ada bayang ketakutan yang menjalar di tubuhnya.
“ Nona! Nona Rieta. Anda tidak apa-apa bukan! Nona!”
“ Aah, maaf tuan. Maaf, sa-saya hanya syok mendengar kabar tentang ibu saya.”
Sukhdev bernafas lega. Sukhdev pikir Rieta sakit karena wajah wanita itu sungguh terlihat sangat pucat.
Sukhdev yang tadinya hendak pamit undur diri pun urung saat melihat Rieta begitu sedih. Terlebih dokter baru saja mengatakan bahwa ibunya harus segera dioperasi.
Sebenarnya kanker paru-paru yang ibunya Rieta sudah menjalar kebagian tubuh yang lain. Kanker tersebut sudah berada di stadium empat. Tentu dari vonis dokter hidup ibunya Rieta sudah tidak akan lama lagi.
“ Ya Tuhan, ibu.”
__ADS_1
TBC