
Beberapa hari berlalu setelah pertemuan Gauri dengan kedua orang tuanya Sukhdev. Dan hari ini Gauri sedang bersama Bisma untuk merealisasikan rencana keduanya. Bisma yang sengaja mengambil cuti untuk bisa membantu Gauri, kini sudah sampai di halaman rumah Guri.
Gadis itu tentu sedikit terkejut melihat Bisma yang datang saat hari masih benar-benar pagi. Jam baru menunjukkan pukul 06.00. “ Hai, Assalamualaikum.” Bisma sungguh sangat tampan pagi itu. Tidak-tidak, Bisma selalu tampan setiap hari.
Duren mateng itu benar-benar membuat Gauri salah tingkah. Duda keren mapan dan ganteng, buseet paket komplit nggak tuh. Gauri hanya bisa berkedip dan menjawab salam Bisma dengan sedikit terbata.
“ Sarapan yuk, mas udah bawa bubur ayam ni.”
Gauri mengangguk patuh. Ia dan Bisma duduk di teras rumah dan menikmati bubur ayam yang dibawa Bisma. Setelah selesai, Bisma lalu berlari kecil ke mobil dan mengambil sebuah kantong plastik. Ia mengeluarkan satu per satu isi kantong tersebut membuat Gauri membulatkan matanya.
“ Ini?”
“ Yap, ini adalah properti untuk memuluskan rencanamu. Apa kau sudah tahu jadwal Puspa hari ini? bagus, jadi kita bisa atur waktunya biar pas.”
Gauri sebenarnya masih tidak paham seperti apa rencana Bisma. Hingga pria itu berdiri dari duduknya memakai sarung tangan dan mulai mendekati mobil Gauri untuk memulai aksinya. Gauri yang sudah paham pun mendekati Bisma dan membantu.
“ Apakah ini akan berhasil?”
“ Coba saja dulu, kalau cara terakhir ini tidak berhasil. Laporkan saja dengan bukti yang ada.”
Gauri mengangguk, meski keraguan jelas ada dalam dirinya tapi ia jelas harus mencoba cara terakhir ini. Setelah berkutat sekitar 1 jam akhirnya mereka mendapatkan hasil yang sesuai ekspektasi mereka. Mungkin inilah yang dinamakan realita sesuai ekspektasi, sungguh memuaskan.
“ Baiklah Mas, tunggu sebentar ya. Aku ganti baju dulu.”
Bisma mengangguk, sambil mengipasi ban mobil yang baru dimake over itu ia menunggu Gauri. Terbesit keyakinan dalam diri Bisma bahwa rencana ini akan berhasil. Sungguh dia tidak sabar mengirim wanita itu ke balik jeruji besi. Perbuatannya Puspa benar-benar tidak berprikemanusiaan. Dia yang aktif dengan kegiatan sosial ternyata bukan lah dari hati tapi hanya untuk mendapatkan pengakuan saja.
" Mas, aku siap."
Bisma menoleh ke arah Gauri. Cantik, satu kata itu lolos dari bibir Bisma. Biasa melihat bare face Gauri, dan kini melihat gadis itu berdandan sungguh membuat Bisma kehabisan kata-katanya.
Tidak, ini terlalu cantik. Haish cantik gini diliatin orang-orang kan sayang banget. Pengen aku kurungin di rumah aja.
__ADS_1
Bisma benar-benar terpaku dengan Gauri. Hingga Gauri menggerakkan tangannya di depan Bisma, pria itu baru tersadar.
" Eh ayo, siap. Kita kemon."
Bisma rupanya ikut masuk ke dalam mobil Gauri ia akan berada di kursi belakang. Sebelumnya Bisma sudah meminta alat perekam ke Silvya yang terbaru. Namun Bisma merasa dia juga harus bisa mengambil video Puspa saat dia mengakui kejahatannya.
Gauri yang memang sudah sampai terlebih dahulu di sekitaran resto milik Jiwa memilih memarkir mobilnya sedikit jaih dia harus menunggu Puspa datang lebih dulu. Ia dan Puspa memang sengaja membuat janji disana. Dengan dalih ingin membeli tas keluaran Chunel terbaru.
" Itu mobil Puspa mas."
" Good jangan lupa nyalakan alat perekamnya. Datang terburu-buru. Perlihatkan ekspresi takut dan panik."
Gauri mengangguk sesuai instruksi Bisma. Gauri pun segera masuk ke parkiran Soul Restaurant.
Ckiiit
Gauri langsung turun dari mobil dan memegang tangan puspa. Ia tampak takut dan panik sambil terus melihat ke arah belakang. Puspa tentu terkejut, keringat tampak membasahi wajah Gauri. Kenapa Gauri bisa berkeringat, mereka tadi di mobil tanpa menyalakan AC agar Gauri tampak basah karena keringat wajah dan rambutnya.
" Puspa, a-aku sungguh ta-takut."
" Takut kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?"
Puspa mencoba menenangkan Gauri dengan meminta Gauri untuk mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan Gauri pun mengikuti arahan Puspa. Di dalam mobil Bisma tersenyum, ia memuji akting Gauri yang sangat natural.
" Sekarang perlahan ceritakan kepadaku."
Gauri menarik tangan Puspa mendekat ke sisi kiri depan mobil nya. Puspa sedikit terkejut, ia membungkam mulutnya dengan tangan.
" Ka-kamu baru saja menabrak orang? I-ini darah?"
Gauri mengangguk, ia terlihat pucat. Sambil sedikit bergetar Gauri mulai bercerita.
__ADS_1
" Puspa, tadi saat di jalan a-aku nabrak orang. Terus aku sangat takut. Aku nggak berani turun. A-aku langsung pergi gitu aja. Puspa, ini gimana. Aku takut banget."
" Kamu tenang dulu. Aku punya ide. Lebih baik mobil mu kamu simpan di rumah. Di cuci sendiri. Tapi kamu yakin kan nggak ada yang ngikutin kamu? Jika kamu yakin kamu pasti aman. Aku pernah sekitar beberapa minggu yang lalu nabrak orang aku sempat turun buat lihat orang itu. Tapi aku langsung pergi. Gila, aku nggak bisa bayangin kalau ada yang lihat saat itu. Mungkin aku sekarang udah di penjara. Aku langsung beli mobil baru dan nyimpen mobil bekas aku nabrak di rumah. Sumpah aku takut banget. Kalau kamu yakin nggak ada yang lihat. Semuanya pasti aman."
" Oke, aku yakin kok."
" Mari masuk dulu, kita lanjutin di dalam ngobrolnya."
Puspa menggandeng tangan Gauri masuk ke dalam resto. Gauri pun menurut, ia kemudian mengangkat jempolnya ke arah Bisma tanda semuanya sesuai dengan rencana.
" Bagus, secara psikologi orang akan bercerita pengalaman yang sama dengan orang yang sedang bercerita. Dan itu berhasil pada Puspa. Ia menganggap bahwa apa yang Gauri alami senasib dengannya. Nggak sia-sia beli sekantong darah buat diberikan ke mobil. Dan efek 3D mobil penyok."
Bisma merebahkan tubuhnya di mobil milik Gauri. Ia yakin ini akan berhasil. Tinggal membuat laporan ke polisi dengan semua bukti yang ada.
Rupanya di dalam resto Puspa masih menceritakan kecelakaan yang dialami. Bahkan Puspa menceritakan kondisi orang yang ia tabrak. Di bawah meja, Gauri mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Dadanya sungguh sesak rasanya, ia ingin sekali menangis saat itu juga tapi Gauri sebisa menahannya. Jika bisa ia bahkan ingin langsung menyeret Puspa saat itu juga.
" Baiklah Puspa, aku sepertinya harus segera pulang. Aku akan segera melakukan apa yang tafi kau sarankan.
" Baiklah kalau begitu."
Gauri melenggang keluar meninggalkan restoran, ia terlihat begitu marah. Bisma bisa melihat sorot mata gadis itu. Tak mau banyak bicara Bisma langsung membawa mobil Gauri pergi dari tempat itu. Ia membiarkan gadis itu lut dalam amarahnya untuk sesaat.
Bisma membawa mobil Gauri sedikit jauh dari kota. Melipir ke pinggiran untuk mencari udara yang lebih sejuk disana.
" Bagaimana, semuanya aman."
Gauri mengangguk, ia tidak mengeluarkan sedikitpun suara. Bisma berinisiatif menarik Gauri dalam pelukannya. Gadis itu langsung menangis sejadi-jadinya. Sakit, marah, kesal, semuanya jadi satu. Bisma menepuk dan mengusap lembut punggung gadis itu.
" Menangislah sepuasmu, dan setelah ini mari tertawa bersama."
TBC
__ADS_1