
Rupanya Bisma benar-benar menepati perkataannya untuk menemui Gauri. pagi-pagi sekali Bisma sudah mendatangi ruangan Samsul. Dengan membawa dua bungkus bubur ayam, ia berharap bisa sarapan bersama gadis itu. Tapi sudah 1 jam di sana Gauri tak kunjung muncul. Bisma pun menghela nafasnya dan berniat untuk pergi dari sana.
Saat ia hendak keluar, ternyata Gauri muncul membuka pintu ruang rawat Samsul. Gadis itu terkejut melihat Bisma yang sudah ada di dalam.
“ Lho, dokter sudah selesai skors nya?”
“ Eh Ri, belum. Ini saya cuma khawatir sama keadaan ayah kamu.”
“ Oh begitu, dokter sudah sarapan belum. Kebetulan saya bawa sarapannya kebanyakan. Mau sarapan bersama?”
Bisma langsung mengangguk dengan cepat. Ia kemudian menyembunyikan bubur ayam yang tadinya ingin dia makan bersama gauri di belakang tubuhnya. Tapi rupanya mata Gauri lebih cepat dari gerakan tangan Bisma.
“ lho, dokter sudah bawa sarapan.”
“ Oh ini titipannya Suma. Dia tahu saya mau ke rumah sakit jadi nitip.”
Gauri hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kemudian menyiapkan sarapan tersebut lalu memberikannya kepada Bisma. Pria tersebut makan dengan hikmat. Seumur-umur baru kali ini dia makan masakan wanita selain sang kakak. Makanan resto, warteg, warkop, tidak masuk hitungan ya.
Gauri meninggalkan Bisma untuk melihat keadaan sang ayah. Samsul terlihat tidur dengan pulas. Perawat yang diberikan oleh bos nya benar-benar bagus dan bertanggungjawab.
Maafin Uri ya be. Uri jadi jarang ngurus babe. Uri janji kalau urusan ini selesai, Uri bakalan lebih banyak ngurus babe, Gauri bermonolog dalam hati sambil menghapus air matanya yang terlanjur luruh.
Gauri pun kembali meja untuk melanjutkan makan. Ia melihat Bisma yang benar-benar menikmati makan paginya. Bisma bahkan menghabiskannya dalam waktu singkat.
“ Dokter kelaparan?”
“ Eh.”
Bisma sungguh malu. Dia benar-benar lepas kendali saat ini. Ia pun membereskan tempat nasi dan piring yang baru saja digunakan. Tadinya hal tersebut dilarang oleh Gauri tapi Bisma tetap melakukannya.
" oh iya bocah, apa yang mau kamu sampaikan kepada saya.”
Gauri mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa yang sedang dokter di depannya itu bicarakan.
“ Saya tidak ingin berbicara apapun dengan dokter.”
__ADS_1
Kini giliran Bisma yang dibuat bingung oleh jawaban Gauri. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pesan dari Hauri yang masuk ke ponselnya semalam. Hauri membaca nya sekilas lalu ia menepuk keningnya pelan dengan telapak tangan.
“ Ya Allaah dok maaf saya salah kirim. Itu mau saya kirimkan ke bhai tapi malah ke dokter. Maaf dok.”
“ Bhai? Siapa itu?”
“ Bhai Sukhdev.”
Bisma sedikit berpikir, apa hubungan Gauri dan Sukhdev. Mengapa sepertinya mereka begitu dekat. Tak lama setelah memeriksa sang ayah, Gauri pun pergi dari rumah sakit. Bisma lalu menuju ruangan Dika. Ia enggan masuk ke ruangannya sendiri.
" Dika."
" Eh om, ku pikir om bakalan lama semedinya."
" Kampret."
Bisma lalu mendudukkan bokongnya ke sofa. Keduanya kemudian terlibat pembicaraan serius. Bisma menyampaikan rencananya untuk melakukan seleksi kelayakan dokter di rumah sakit ini. Dika tentu saja setuju. Memang mereka harus melakukan itu.
" Oh iya om, Silvya menemukan petunjuk mengenai keberadaan wanita yang memfitnahmu tempo hari. Dia ada di kota ini. Anak buah Silvya melihatnya di daerah apartemen milik DCC. Om mau bertindak sendiri apa mau diserahkan ke anak buah Silvya."
" Baiklah kalau begitu. Segera selesaikan om. Aku benar-benar muak terhadap orang yang ada di sini. Semuanya bermuka dua."
Bisma tentu tahu tentang hal tersebut. Dika yang berorientasi terhadap pekerjaan tentu malas berurusan dengan orang-orang semacam Kuswan dan Braja.
" Oh iya om, apa hubunganmu dengan istrimu sedang tidak baik?"
Bisma membuang nafasnya kasar mendengar pertanyaan dari Dika. Hal ini pasti akan diketahui juga oleh keluarganya. Sepandai-pandainya ia menyimpan sesuatu pasti akan ketahuan juga.
" Ya seperti itu."
" Maksud Om."
Bisma kemudian menceritakan semuanya kepada Dika. Tapi ia meminta Dika untuk tidak memberitahukan hal ini kepada Sekar. Ia akan menyelesaikan satu per satu, yakni fitnah ini dulu. Jika fitnah ini sudah bersih maka ia baru akan mengurusi tentang Puspa.
Dika mengangguk paham. Dika pun beranggapan bahwa jika mengatakan permasalahan Gauri maka tidak akan jadi masalah.
__ADS_1
" Om, ada satu hal yang harus om tahu."
" Apa?"
" Puspa, Puspa adalah orang yang melakukan tabrak lari terhadap ayahnya Gauri. Dan sekarang gadis itu sedang mencari buktinya."
Bisma sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dika. Ia tidak menyangka Puspa sungguh keji melakukan hal tersebut. Pantas saja mengapa tiba-tiba Puspa membeli mobil baru dan menyimpan mobil satunya di garasi. Bisma pun langsung bangkit dari sofa dan segera keluar dari ruangan Dika.
" Om, mau kemana?"
" Mencari bukti."
Dika tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh sang om. Tapi yang Dika tahu om nya pasti tidak akan tinggal diam. Dika sendiri tidak menyangka jika Puspa berkelakuan begitu. Di publik wanita itu tampil seperti seorang wanita yang anggun dan terhormat tapi dibelakang, kelakuannya tak ubahnya seorang wanita murahaan.
Bisma melajukan mobilnya dengan cepat. Ia berharap Puspa tidak ada di rumah sehingga dia bisa melakukan apa yang sudah ia rencanakan dalam otaknya.
Ckiit
Bisma memarkirkan mobilnya di depan rumah. Ia tersenyum lebar saat tidak menemukan mobil Puspa. Bisma Pun mengambil kesimpulan bahwa Puspa sudah pergi.
Ia kemudian langsung membuka garasi mobil. Bisma menyalakan lampu garasi dan memutari serta mengamati seluruh bagian mobil. Mobil dibagian depan sebelah kiri sedikit penyok dan ada darah yang telah mengering di roda depan di sebelah kiri juga. Ia mengambil photo semua itu dengan kamera ponsel miliknya.
Bisma lalu masuk ke dalam rumah mengambil kunci mobil tersebut dan membuka mobil tersebut. Bisma berharap apa yang dia cari masih ada di sana.
" Ketemu. Dengan dashcam ini pasti akan menguatkan bukti yang ada."
Bisma kemudian menutup pintu mobil milik puspa dan menguncinya kembali. Ia pun meletakkan kunci mobil itu ke tempat sebelumnya. Bisma hendak menelpon Gauri tapi dia memilih untuk membuka isi dashcam tersebut. Ia akan menyalinnya ke flashdisk agar lebih mudah untuk diperlihatkan.
Klik
Bisma menekan tombol enter dan semua yang terekam bisa dilihat dan didengar. Bisma sungguh tidak menyangka Puspa tidak ada raut menyesal sama sekali setelah menabrak orang tadi. Puspa hanya menampilkan ekspresi takut ketahuan sambil mengatakan bahwa ia harus segera pergi dari tempat itu.
Bisma membuang nafasnya kasar dan berdecak penuh marah saat mendengar sumpah serapah Puspa terhadap orang yang baru saja ia tabrak. Bukannya merasa bersalah dia malah menyalahkan si korban yang menghalangi perjalanannya.
" Ya Allaah, wanita ini benar-benar sudah tidak tertolong. Apa ini wajah aslimu Puspa. Percuma kau bermuka manis di depan orang jika itu hanyalah topeng semata."
__ADS_1
TBC