Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-16. Sedikit Sulit


__ADS_3

Setelah memastikan bahwa Samsul tidur. Gauri mengajak kedua sahabatnya itu menuju ke kantin. Mereka mengatakan malam ini ingin tinggal di rumah sakit untuk menemani Gauri.


" Apa kalian beneran kagak apa-apa?"


Beno dan Sani mengangguk. Sudah hampir seminggu ini mereka belum sekalipun pernah menemani Gauri di rumah sakit. Sebenarnya Gauri sendiri tidak masalah akan hal tersebut. Toh mereka harus bekerja besoknya. Tapi Beno dam Sani lah yang merasa tidak enak dan tidak tega. Setiap kali keduanya punya masalah maka Gauri lah tempat mereka mengadu dan berkeluh kesah.


Mereka berteman sejak sekolah jadi satu sama lain sudah saling tahu tabiat masing-masing. Bahkan Beno dan Sani juga tahu mengenai hubungan Gauri dan Halim. Mereka berdua adalah orang pertama yang Gauri beri tahu tentang hubungan keduanya.


Saat Gauri putus dengan Halim pun Beno dan Sani jadi yang paling terdepan membela Gauri dari omongan Rozaq. Bahkan Beno sempat ingin melabrak Halim di rumahnya. Tapi oleh Gauri dicegah. Dia tidak ingin teman-temannya terlibat jauh.


" Sekarang, katakan kenapa lo bolos."


Gauri membuka pembicaraan diantara mereka bertiga. Sani pun ikut mengangguk. Tidak biasanya Beno bolos begitu.


" Huuuh, resto kacau. Bos nggak datang hari itu. Jadi kita mutusin buat balik. Semua orang tentu nyari bos, asisten bos yang masak pun mereka nggak mau."


Sani tentu terkejut, mulutnya menganga lebar. Baru kali ini bos mereka bolos dari restoran. Jiwatrisna adalah seorang chef yang begitu mencintai profesinya. Jadi agak sedikit heran jika Jiwa tidak hadir hari itu.


" Lo yakin Ben? Lo lagi nggak ngarang cerita kan?"


Pluk


Beno mengeplak kepala Sani pelan. Temannya itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia katakan.


" Bujug daah, ngapain juga gue bohong San. Emang lo pernah gitu denger gue bohong."


Beno Sanjaya, pria berusia 24 tahun itu diantara kedua wanita yang duduk di sebelahnya tentu sudah sangat mengenalnya. Beno tidak pernah bicara bohong. Bahkan saat sekolah ketika dia bolos bersama Sani dan Gauri, Beno mengaku kepada sang ibu. Alhasil Gauri dan Sani dihukum oleh orang tua mereka masing-masing karena membolos.


Gauri yang tidak tahu menahu kini hanya mendengarkan cerita Beno soal restoran yang crowded dan akhirnya mereka mengambil keputusan untuk tutup lebih awal tanpa meminta persetujuan Jiwa. Terlihat Sani membuang nafasnya kasar.


" Kenapa San?"

__ADS_1


" Ini pasti akan jadi boomerang buat kita Ri. Sebenarnya gue udah males kerja disitu. Bosnya mesum."


" Maksud lo San?"


Sani kemudian menceritakan apa yang ia lihat. Beno pun menambahkan hal tersebut, mengenai sang bos yang suka bermain di restoran. Apalagi saat acara ulang tahun kemarin.


Gauri saking terkejutnya bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangan. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Sani dan Beno bekerja di tempat yang bos nya seperti itu.


" Kalian pada ngrekam kagak?"


Beno langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kepada Gauri. Sani membelalakkan matanya, ia sungguh tidak percaya Beno mengabadikan kegiatan panas itu di galeri ponselnya. Saat Sani ikut melihat, semakin terkejut lah saja dia. Rupanya bukan hanya saat itu di merekam tapi sudah beberapa kali.


" Kampret lo Ben, lo selama ini ternyata udah tahu."


" Gue berkali-kali ngebersihin ruangan dekat kantor bos. Dan gue sering denger suara-suara aneh di sana. Lha terang aja gue ngintip. Gilaa mereka lagi begituan cuy, dan nggak hanya sekali. Ya udah gue ambil aja gambarnya. Tapi sumpah, gue nggak pernah nyebarin tu video. Gue tahu gue salah sih, itu kan privasi mereka. Cuma gue mau jaga-jaga aja kalau gue resign tapi dipersulit."


Gauri dan Sani tak habis pikir Beno bisa berpikiran sejauh itu. Tapi yang bisa Gauri lihat Beno memang sudah tidak nyaman bekerja ditempat tersebut.


Bukannya sedih, Sani dan Beno malah terlihat begitu senang. Sani dan Beno memanglah tidak seberuntung Gauri yang bisa kuliah. Menjadi kasir sebenarnya cukup baik untuk Sani. Tapi gadis berhijab itu mulai tidak nyaman melihat kelakuan sang bos.


" Oke kalau begitu, besok gue bakal ke perusahaan. Tapi gue minta tolong salah satu dari kalian temenin babe dulu ya. Dan kalian jangan keluar dulu. Gue tanya dulu ke bos."


" Biar gue besok yang jagain babe, Sani kan kudu masuk. Gue off. Makasih ya Ri. Lo bener-bener selalu nolong kita."


Gauri tersenyum. Jika di perusahaan dia memiliki Rika dan Dery, maka di rumah dia memiliki Sani dan Beno. Kedua lokasi yang berbeda tapi selalu ada teman untuknya.


Keesokan harinya sesuai janji Gauri ia berangkat ke perusahaan. Sampai di lantai CEO wajah bahagia menghiasi Rika dan Dery. Kedua orang yang Gauri juluki anak ayam itu langsung menyambut Gauri dengan senyuman.


" Uri Sunbae, aku merindukanmu!" ucap Dery mendramatisir


" Aku juga Unnie," imbuh Rika.

__ADS_1


Gauri hanya memutar bola matanya malas sambil mencoba melerai pelukan kedua orang tersebut. Gauri tentu tahu jika keduanya tengah kesulitan dengan pekerjaan mereka.


" Heleh sok-sok an manggil sunbae. Dan lo Rika, umur lo ma gue masih tua an lo kali. Bisa-bisanya lo manggil gue unnie."


Rika langsung memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Gauri. Dari segi usia memang Rika lebih tua dari Gauri. Tapi lama bekerja di LT, tentu lebih lama Gauri.


" Bentar, gue mau ketemu bos dulu. Nanti gue bantu deh sebentar sebelum balik rumah sakit."


Rika dan Dery tersenyum lebar. Keduanya pun segera melepaskan pelukan mereka pada tubuh Gauri sehingga Gauri bisa melenggang masuk menemui Ian.


" Selamat pagi bos Ian."


" Eh Ri, masuk. Oh iya Ri sorry ya aku belum bisa tengokin ayahmu di rumah sakit. Sungguh aku minta maaf."


Ian langsung bereaksi saat Gauri muncul di kantor. Sebagai seorang atasan Ian merasa tidak enak karena belum sempat membesuk ayah Gauri. Tapi Gauri tidak masalah, pekerjaan Ian sangatlah banyak dan Gauri tahu persis itu. Lihatlah di meja Ian menumpuk berkas-berkas yang sepertinya belum selesai Ian baca dan pelajari.


" Tidak masalah bos. Saya tahu, pekerjaan bos begitu banyak. Jangan merasa tidak enak. Cukup dikirim doa saja buat babe saya."


" Baiklah, lalu apa yang membuatmu meninggalkan ayahmu dan datang ke perusahaan."


Gauri akhirnya mengutarakan niatnya. Menanyakan adakah pekerjaan untuk kedua sahabatnya itu.


" Ooh begitu. Ada sebenarnya. Tapi aku tetap ingin mereka menjalani tes. Apakah kamu tidak keberatan?"


" Tentu tidak bos. Saya malah senang. Ikuti saja prosedur yang ada. Saya juga tidak mau nanti ada omongan bahwa mereka masuk karena koneksi. Oh iya bos Ian, bagaimana soal permintaan saya beberapa hari yang lalu "


Seketika Ian meletakkan berkas yang ia baca. Matanya menatap lurus ke arah Gauri. Sebenarnya Ina ingin menyampaikan hasilnya kemarin tapi sungguh pekerjaannya begitu banyak membuatnya belum ada waktu.


" Ini akan sedikit sulit untuk mu Gauri."


TBC

__ADS_1


__ADS_2