
Gauri sudah tampil menjadi wanita sosialita setelah kembali dirombak oleh ketiga anak buah Silvya kemarin. Kini ia harus meneguhkan hatinya untuk bisa menghadapi Puspa sendiri tanpa adanya Silvya.
" Baiklah, kamu bisa Gauri. Jangan takut, kamu pasti bisa. Bukanlah Bhai Sukhdev sudah memberimu izin. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan lagi."
Meskipun begitu, hati Gauri tidak bisa dibohongi. Hatinya merasakan sesuatu yang tidak nyaman saat ini. Ia mempunyai feeling akan terjadi hal yang tidak mengenakkan.
Tapi Gauri dengan keyakinannya menepis semua itu. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Tidak lupa ia memakai pin rambut pemberian Silvya. Sebelumnya Silvya sudah berpesan bahwa setiap akan bertemu dengan puspa makan Gauri harus selalu memakai pin rambut itu.
Gauri mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia siap turun setelah memarkirkan mobilnya di depan Soul Restaurant. Ya, Puspa kembali membuat pertemuan itu di restoran tersebut. Padahal tadinya mereka akan berkumpul di butik milik Puspa.
Dengan langkah anggun Gauri turun dari mobil dan hendak berjalan masuk. Tapi ekor matanya menangkap sesuatu yang lain di mobil yang berjarak beberapa meter dari mobilnya. Tampak di dalam mobil itu ada seorang pria dan wanita yang tengah bercumbu. Sontak Gauri terkejut.
" Bujug dah, ini masih sore lho. Gila, nggak ada tempat lain napa. Ya kali lo pada main di parkiran depan restoran orang. Kagak ngotak bener dah ah. Mesen kamar kek."
Gauri benar-benar tidak habis pikir dengan ulah kedua orang itu. Tapi dia acuh tentu itu bukalah urusannya. Gauri akhirnya melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam restoran. Di dalam dia sudah disambut oleh waiters dan dan di arahkan menuju ruang vvip restoran tersebut.
" Stop Jiwa. Aku harus menemui kolega-kolega itu."
" Tck, kau menyebalkan. Dia sudah berdiri sempurna."
Puspa terkekeh geli melihat kekasihnya dengan ekspresi tersiksa. Ia pun melakukan hal lain untuk menuntaskan apa yang sudah Jiwa rasakan. Jiwa pun akhirnya memekik saat ia sampai di puncaknya dengan bantuan Puspa.
" Ini sungguh tidak menyenangkan."
" Tapi paling tidak sudah tuntas bukan. Baiklah aku akan keluar dulu."
__ADS_1
Puspa mengelap bibirnya dan membenarkan lipstiknya yang sudah belepotan. Ia juga merapikan bajunya yang sedikit berantakan karena ulah Jiwa. Dengan langkah anggun dan seperti tidak terjadi apa-apa, Puspa masuk ke dalam restoran dan langsung menuju ke ruang vvip yang sudah ditentukan. Ia benar-benar menganggap restoran itu seperti miliknya. Bahkan Puspa terkadang seenaknya sendiri memerintah waiters yang ada di sana.
" Maaf semuanya sudah menunggu."
Puspa masuk dan menyapa satu per satu wanita-wanita high class yang ada di dalam. Gauri memicingkan matanya saat ia menyadari sesuatu.
" Bukankah baju itu baju yang dipakai orang yang tadi bercumbu di mobil? Gila, apakah itu Puspa. Bener-bener nih cewek."
Puspa yang melihat Gauri bergumam sendiri akhirnya menghampiri. Terlihat Puspa tersenyum tapi lebih tepatnya menyeringai. Gauri merasa tidak nyaman dengan ekspresi wajah Puspa.
" Hai Gauri. Apa ada yang ingin disampaikan kepadaku."
Gauri tersenyum saat ia menemukan sesuatu yang bisa membuat Puspa keki. Ia sedikit menarik tangan Puspa dan membawa wanita itu duduk di sebelahnya. Puspa tentu terkejut dengan ulah Gauri.
Deg
Puspa terkejut dengan ucapan Gauri. Ia pun langsung menyentuh lehernya sendiri. Puspa juga langsung menarik rambut panjang sebahu nya kedepan dan segera mungkin berjalan ke kamar mandi.
Gauri terkekeh geli melihat ekspresi lucu Puspa. Sedangkan Puspa, wanita itu sangat kesal dengan apa yang baru saja Gauri lakukan kepadanya. Tapi apa yang dikatakan Gauri benar. Ada bekas ciuman Jiwa di leher nya.
" Sial, wanita itu benar-benar menjengkelkan lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya. Berani-beraninya dia menipuku. Mengaku-ngaku sebagai cucu Arrayan Singh."
Puspa bermonolog di depan cermin sambil mengoleskan foundation untuk menutupi jejak ciuman milik Jiwa. Puspa sungguh kesal dengan Gauri.
Tadi pagi, ia yang merasa aneh dan janggal dengan identitas Gauri akhirnya mencoba berselancar di dunia maya. Puspa mencari informasi mengenai keluarga Singh. Ia tentu terkejut saat tidak menemukan nama Gauri Omisa Singh di silsilah keluarga. Yang Puspa dapatkan hanya Sukhdev Ranjit Singh sebagai cucu satu-satunya Arrayan.
__ADS_1
Puspa akhirnya meng-capture semua yang ia dapat itu untuk dijadikan senjata menjatuhkan Gauri. Ia merasa dibohongi oleh gadis itu. Angannya ingin mendompleng popularitas keluarga Singh melalui Gauri harus kandas karena Gauri ia yakini bukanlah anggota keluarga Singh.
" Lihat saja kau Gauri. Aku akan memperlihatkan siapa dirimu yang sebenarnya. Berani-beraninya kau membuat akal-akalan seperti ini hanya untuk bergabung dengan geng sosialita milikku. Aku tidak akan memberi celah bagi penipu sepertimu."
Puspa menggenggam erat tangannya. Ia juga merasa sedikit heran, mengapa Silvya bisa kenal dengan Gauri. Puspa berpikir mungkin Silvya juga kena tipu maka dari itu Silvya bahkan mengenalkan Gauri sebagai temannya.
Puspa berjalan dengan kepala tegak saat keluar dari toilet. Seakan-akan apa yang tadi dikatakan Gauri adalah hal biasa. Puspa semakin tidak suka dengan Gauri saat melihat gadis itu tampak akrab dengan member lain.
" Tck, dasar penipu. Dia begitu pintar bermain kata sehingga membuat orang-orang dengan mudah menyukainya."
Puspa lalu membaur dengan anggota yang lain. Hingga tiba saatnya ia memulai acaranya. Agenda pertemuan kali ini adalah membuat sebuah acara amal. Dimana acara amal itu nanti akan diliput oleh media. Pada kesempatan tersebut, Puspa menawarkan siapa saja yang akan menjadi donatur. Puspa pun akhirnya menemukan sebuah ide untuk mengerjai Gauri. Ia tidak akan buru-buru mengungkapkan bahwa Gauri bukanlah anggota keluarga Singh. Ia akan bermain-main dulu.
" Aah iya, bukankah member baru kita adalah cucu dari Arrayan Singh. Aku yakin beliau ini pasti akan menyumbang dalam nominal besar, bukankah begitu Nona Gauri?"
Gauri sesaat terdiam dengan ucapan Puspa. Ia merasa Puspa tengah menargetkan dirinya. Gauri bermonolog dalam hati," Apa mungkin dia sudah menyadari kalau aye bukan bagian keluarga Singh. Sedari masuk tatapannya ke aye sungguh laen."
" Bagaimana Nona Gauri?"
" Saya tidak masalah. Tapi hal ini perlu dibicarakan kepada keluarga saya dulu bagaimanapun saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri mengenai nominal uang yang tidak sedikit."
Puspa menarik satu sudut bibirnya hingga membuat sebuah bentuk senyuman yang sinis. Ia tahu jawaban Gauri pasti berbelit. Puspa tidak tinggal diam, ia akan memojokkan Gauri sekarang.
" Waah sangat tidak mungkin dong wanita berkelas seperti anda tidak memiliki wewenang dalam menggunakan uang. Apa jangan-jangan Nona Gauri ini tidak memilikinya karena Anda bukanlah anggota keluarga Singh?"
TBC
__ADS_1