Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-47. Ingat Ibu


__ADS_3

" Woaaah astoge, bener-bener lu ye. Baru gue tinggalin sebentar udah berani nyosor begitu. Ampun deh lo Rika."


Rika dan Gauri yang sedang makan siang minus Dery itu benar-benar sedikit heboh. Gauri sih sebenarnya yang heboh mendengar semua cerita mengenai Rika dan Ian. Tentu Gauri tahu jika Rika menyukai sang asisten big bos itu tapi ia tidak pernah tahu jika Rika berani mengutarakan cintanya.


Bentar-bentar, kok jadi dejavu sih. Jadi keinget saat aye confess ke mas dokter.


Gauri bergumam dalam hati, wajahnya tiba-tiba merasa malu saat mengingat itu. Namun ia kembali ke mode serius menatap Rika. Hanya dia yang tahu siapa Ian dan Silvya, dimana petinggi LT itu adalah mantan mafia. Mengingat mafia adalah organisasi hitam dan wanita menjadi hal yang biasa menjadikan Gauri sedikit khawatir dengan Rika.


Akan tetapi melihat binar bahagia dan cinta di mata Rika membuat Gauri menyerah untuk melarang gadis itu berhubungan dengan Ian. Toh selama ini yang Gauri lihat Ian tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun dan Ian adalah orang yang baik.


" Jika memang serius, maka lanjutkanlah. Gue lihat bos Ian baik kok orangnya. Yang penting ingat batas."


" Iya Ri, gue tahu kok. Asli Ian tuh beda banget nggak kayak yang dilihat sehari-hari."


Gauri hanya manggut-manggut saat Rika bercerita mengenai Ian. Pastilah berbeda, orang yang sedang jatuh cinta pasti akan menunjukkan sisi lain dirinya.


" Gauri!"


Seseorang memanggil nama Gauri, suara itu tentu sudah tak asing lagi ditelinga Gauri. Rika yang paham pun langsung diam dan pamit terlebih dahulu kembali ke ruangannya.


" Loh bhai, ada apa kemari? Astagfirullah, kan bhai kliennya Bu Silvya. Lupa."


Gauri merasa sedikit tidak enak. Belakangan ini berurusan dengan Sukhdev karena hal pribadi menjadikan dia sedikit lupa mengenai status Sukhdev yang merupakan klien dari Linford Transportation.


" Aku kemari memang untuk menemuimu. Apakah bisa ikut?"


" Tapi, aku masih kerja bhai."


" Aku sudah meminta izin Silvya, tas mu juga sudah dibawa oleh Tina."

__ADS_1


Gauri hanya melongo mendengar ucapan Sukhdev. Dia merasa jadi anak SD yang dijemput pulang karena ada urusan tertentu. Gauri pun tidak bisa menolak, terlebih Sukhdev sudah sangat berjasa dalam hidupnya. 


" Kita mau kemana?"


Tidak menjawab, Sukhdev hanya tersenyum. Tampan, ya siapa yang tidak mengakui ketampanan khas pria india itu. Tinggi, kulit sawo matang, bulu-bulu di sekitar wajahnya menambah kesan maskulin pria di samping Gauri tersebut. Sesaat Gauri menatap Sukhdev dengan intens, terbesit tanya dalam hatinya mengapa Sulhdev begitu baik padanya.


" Bhai."


" Hmmm?"


" Apa bhai tahu saat aku bergabung di klub sosialita kemarin banyak yang minta dikenalkan pada bhai?"


Bukannya terkejut, Sukhdev tertawa keras mendengar ucapan Gauri. Itu sungguh hal yang biasa. Banyak wanita yang mengejarnya tapi entah Sukhdev tidak tertarik dengan mereka semua. Boleh dibilang yang mengejarnya adalah wanita yang cantik, high class dan tentunya pendidikannya tinggi. Tapi tidak sedikitpun dia tertarik kepada mereka semua.


" Haish, biasa itu Gauri. Bukannya narsis ya tapi bhai mu ini memang banyak yang mau."


" Tapi bhai nya nggak mau. Bhai nya maunya sama Rieta begitu?"


Sukhdev tersedak salivanya sendiri saat Gauri mengatakan hal tersebut. Gauri benar-benar menjadi adik yang pintar menebak. Padahal Sukhdev tidak pernah bersikap lain kepada Rieta, tapi adiknya itu seolah memahami semuanya.


" Jangan berlagak begitu, aku tahu bhai menyukai Rieta. Gass lah resmikan."


" Tidak semudah itu Gauri. Rumahku terlalu sulit untuk membawa orang yang kami cintai masuk ke dalamnya."


Raut wajah Sukhdev menjadi sendu. Masih menempel dalam ingatannya bagaimana sang bibi waktu itu tidak lagi diinginkan oleh kakeknya. Wajah Sukhdev semakin terlihat sedih saat ia melirik ke arah Gauri. Wajah Gauri yang memiliki banyak kemiripan dengan Laksmi membuat Sukhdev benar-benar seperti melihat bibi nya waktu itu.


Entah bagaimana reaksi kakek jika melihatmu Gauri.


Sukhdev menghela nafasnya penuh dengan rasa sesak di dada. Ia kemudian menepikan mobilnya ke pekarangan sebuah rumah. Rumah dengan ukuran yang tidak kecil tapi juga tidak terlalu besar. Gauri tentu bingung rumah siapa itu. Apa mungkin Sukhdev membawanya ke rumah nya, tapi untuk apa?

__ADS_1


Tidak mau menerka-nerka, Gauri memilih untuk mengikuti Sukhdev masuk ke dalam rumah. Saat pintu dibuka, Gauri bisa merasakan sesuatu yang lain disana. Ia merasa mengenal rumah itu, padahal ini baru kali pertama dia datang. Interior rumah tersebut memiliki ciri khas milik orang india. Bahkan di satu sisi ada tempat yang sepertinya dikhususkan untuk berdoa. Gauri begitu takjub saat memindai isi rumah tersebut. 


" Nak, kau sudah datang."


" Salam bibi."


Rada langsung memeluk Gauri. Ia lah yang meminta Sukhdev membawa Gauri ke rumah. Saat ini Arrayan sedang tidak ada di rumah sehingga Rada dan Shekhar meminta Sukhdev membawa gadis itu 'pulang'.


" Salam paman."


Shekhar pun langsung memeluk Gauri. Meskipun canggung, Gauri berusaha untuk tidak menampilkan itu. Rada langsung membawa Gauri menuju ke ruang makan. Gadis itu sungguh takjub melihat makanan khas india yang di sana. 


" Ayo duduk dan mari makan. Kata kamu kangen kari buatan ibu kan. Coba cicipi buatan bibi."


" Tenang Gauri, semua makanan disini halal. Kami bahkan tidak menyukai makanan-makanan itu."


Sepertinya Shekhar mengetahui apa yang dipikirkan Gauri. Sebelumnya Sukhdev tentu sudah memberi tahu bahwa Gauri adalah seorang muslim. Jadi ada beberapa makanan yang memang tidak diperbolehkan dikonsumsi oleh Gauri dan mereka paham betul itu. Kebetulan keluarga Sukhdev juga tidak mengonsumsi makanan yang tidak dimakan Gauri.


Rada mengambilkan makanan untuk Gauri. Rada benar-benar memperlakukan Gauri seperti anak gadisnya. Gauri mengucapkan terima kasih, ia pun berdoa sebelum makan lalu mulai menyantap makanan yang ada di piringnya.


Satu suap, dua suap, tiga suap, Gauri menikmati setiap suapan kari buatan Rada. Air matanya seketika luruh. Gauri tak lagi bisa menahannya. Meskipun ia tidak banyak ingatan mengenai sang ibu, tapi memakan kari khas india ini benar-benar mengingatkan Gauri dengan masakan ibunya.


Rupanya bukan hanya Gauri yang sedih, semua yang ada di meja makan tanpa sadar meneteskan air mata mereka saat melihat Gauri menangis. Namun buru-buru mereka menghapusnya agar Gauri tidak semakin sedih. 


Rada menarik tubuh Gauri ke pelukannya. Ia mencium pucuk kepala gadis itu dan mengusap punggung Gauri dengan lembut. Gauri menemukan kenyamanan di sana. Selama ini ia tidak pernah merasakan pelukan ibu semenajak ibunya meninggal.


" Maafkan bibi membuatmu menangis."


" Tidak bibi, bukan salah bibi. Aku hanya ingat ibu. Masakan ibu hampir sama dengan bibi, babe juga paling suka masakan ibu. Uri yang minta maaf karena mengacaukan makan siang. Uri hanya ingat ibu."

__ADS_1


Rada terus memeluk Gauri. Membiarkan gadis itu melepaskan kerinduannya terhadap Laksmi. Jika saja Arrayan tidak keras kepala, mungkin Gauri saat ini masih bisa merasakan pelukan sang ibu. Tapi pengandaian sungguh tidak berlaku, semua  sudah ditakdirkan oleh Tuhan. 


TBC


__ADS_2