
Silvya menepati janjinya untuk mencarikan perawat khusus untuk Samsul. Saat ini Gauri sudah berada di rumah Silvya siap untuk melakukan misinya.
" Bu, kita mau melakukan apa?"
Silvya tidak menjawab pertanyaan Gauri, dia hanya tersenyum hingga beberapa orang datang dengan membawa tas-tas besar. Gauri hanya menatap penuh dengan kebingungan. Sebenarnya apa yang akan dilakukan bos nya itu. Katanya dia kasihan kepada Ian yang sibuk di kantor. Tapi mengapa bu bos nya itu malah sibuk dengan nya.
Silvya langsung mendudukkan Gauri di sebuah kursi. Wanita satu anak itu menepuk kedua tangannya dan beberapa orang langsung mendekat.
" Bu ini ~"
" Sudah jangan protes. Manut aja ya."
Dua orang pria mulai mendekat, satu mulai menyentuh rambut Gauri dan satu nya lagi wajah Gauri. Ternyata dua orang itu adalah make up artist dan hair do yang dipanggil oleh Silvya.
Silvya akan me make over gauri layaknya para wanita sosialita tersebut. Bahkan Silvya sudah menyiapkan identitas baru untuk Gauri.
Gauri membelalakkan matanya saat melihat semua identitasnya berubah. Dari ktp, sim, bahkan ia juga memiliki kartu nama.
" Ini, kapan bu bos menyiapkannya dan ini Gauri Omisha Singh?"
" Aah, aku harus mencomot seorang saudagar kaya asli India. Namanya Arrayan Singh. Aku akan membuatmu seakan-akan bagian dari keluarganya."
Glek
Gauri menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana bisa di yang seorang anak betawi asli jadi anggota keluarga terpandang dari india.
" Tunggu bu, saya kayaknya pernah denger nama Arrayan Singh. Bukannya dia adalah pemilik RS Textile ya. Yang mana saat ini dipimpin oleh cucu lelakinya. Astagfirullah bu bos. Bu bos mau mengirim saya ke kandang macan ya."
Silvya terkekeh geli melihat kepanikan di wajah Gauri. Semuanya tentu sudah diperhitungkan Silvya. Dia tidak mungkin menjerumuskan sekretaris favoritnya itu pada sebuah kesulitan.
" Sudah, kamu tidak usah bingung. Kamu tinggal jalan. Semua tau beres."
1 hari yang lalu.
" Halo tuan. Apakah kita bisa bertemu."
" Oh Silvya. Maaf sekali. Aku sedang diluar kota."
" Aah begitu. Baiklah, bisakah aku meminta bantuanmu. Aku akan menjelaskannya sekarang."
Silvya menghubungi relasinya. Ia meminta bantuan relasi pengguna jasa kapal dan pesawat kargo miliknya itu untuk memperlancar rencananya. Tadinya orang di seberang sana sedikit ragu. Tapi saat mendengar nama Gauri, yakni nama yang sama dengan adik sepupunya itu membuat pria itu langsung setuju.
Ya orang yang dihubungi Silvya adalah Sukhdev. Sukhdev merupakan rekan bisnis Silvya sejak lama. Dan Silvya meminta izin Sukhdev untuk menggunakan nama keluarga pria itu untuk Gauri.
__ADS_1
Silvya juga menjelaskan tujuannya untuk mengungkapkan kejahatan seseorang. Sukhdev pun setuju. Bahkan jika dirinya diminta untuk membantu, ia akan bersedia.
" Terimakasih tuan. Saya berhutang banyak kepada Anda."
" Tck, jangan sungkan Silvya. Kau bahkan lebih sering membantuku. Jika bukan Linford cargo, barangku tidak akan pernah aman diekspor ke luar negeri."
Kembali ke masa sekarang.
Setelah sekitar satu jam Gauri di make over, Silvya tampak puas melihat hasilnya. Ia pun meminta stylish untuk mencarikan baju yang sesuai dengan Gauri. Silvya meminta agar tampilan Gauri sederhana tapi elegan dan berkelas.
Jangan lupakan tas branded limited edition yang akan melengkapi look Gauri hari ini. Sungguh, Gauri hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Silvya terhadapnya.
" Bagaimana bos?" tanya sang stylish.
" Perfect. Baiklah kalian bertiga jika aku panggil harus ready. Aku nggak terima penolakan. Mengerti!"
" Siap bos. Rebes deh, eh beres deh."
Kini Silvya membawa Gauri ke depan cermin untuk melihat hasil dari prakarya 3 pria tadi. Gauri tercengang melihat tampilan dirinya yang sangat jauh berbeda.
" Lho bu, ini saya?"
" Bukan, hantu."
" Baiklah, mari kita mulai pertunjukannya."
Gauri sungguh lega saat mengetahui bahwa dirinya tidak akan pergi sendiri. Rupanya Silvya akan datang bersamanya. Namun kelegaan Gauri tidak berlangsung lama saat Silvya mengatakan hanya hari ini saja akan menemani Gauri. Setelah itu Gauri akan datang sendiri.
" Kamu bisa menyetir kan? Jadi kamu yang bawa mobil. Ingat jangan panggil aku bu oke. Kamu bisa panggil aku kak atau apalah terserah tapi jangan bu, jangan juga bos."
Gauri mengangguk. Ia menangkap kunci mobil milik Silvya. Rubicon hijau army itu siap membawa kedua wanita itu ke tempat dimana Puspa akan mengadakan pertemuan, tepatnya arisan. Arisan yang diadakan oleh Puspa tentu nominalnya tidak main-main. Setiap orang akan mengeluarkan $100.000.
Gauri yang mendengarkan penjelasan Silvya mengenai arisan klub sosialita milik Puspa itu hanya bisa menganga mulutnya. Uang segitu banyak hanya untuk arisan sekali kocok, sungguh hal yang tidak masuk akal buat dirinya.
" Saya uang dari mana bu?"
Silvya mengeluarkan black card miliknya dan memberikannya kepada Gauri. Gauri tentu tidak berhenti berkedip melihat benda tipis itu. Benda yang ia tahu hanya dari novel online kini benar-benar bisa ia lihat dan ia sentuh.
" Tapi bu~"
" Sudah pakai saja. Kau bilang saja tidak bawa uang cash. Yakinlah mereka membawa mesin gesek itu."
" Apa?"
__ADS_1
Gauri benar-benar tidak habis pikir danga para orang kaya itu lakukan. Tapi ia kemudian tidak memperdulikan itu, saat ini ia akan fokus mencari bukti. Silvya juga memberikan sebuah alat perekam kepada Gauri. Alat itu bentuk pin rambut yang akan merekam secara otomatis.
Ckiiit
Gauri memarkirkan mobilnya tepat di depan Soul restaurant. Rupanya Puspa memilih restoran tersebut untuk dijadikan tempat pertemuan.
" Lah ini bukannya resto tempat Sani sama Beno kerja dulu ya. Yang katanya bos nya suka main di ruangan."
" Kenapa Ri?"
" Eh, nggak bu. Maksud saya kak."
Silvya menggandeng tangan Gauri untuk masuk ke dalam resto tersebut. Seorang waitres langsung mengarahkan ke tempat dimana wanita-wanita sosialita itu berkumpul.
" Lihatlah, wanita yang memakai dress berwarna baby pink itu adalah Puspa."
Deg
Jantung Gauri berdebar begitu cepat saat melihat Puspa. Meskipun rekaman CCTV yang diberikan Ian tidak terlalu jelas, tapi Gauri bisa mengenali Puspa. Terlebih saat wanita itu hanya melihat sang ayah yang tergeletak di jalanan dengan darah yang berlumuran lalu meninggalkannya begitu saja disana. Sungguh Gauri merasa darahnya mendidih, ia ingin menyeret wanita itu ke depan sang ayah untuk meminta maaf.
Tangan Gauri di genggam oleh Silvya. Silvya tentu tahu bahwa saat ini Gauri tengah dalam mode marah. Tapi tentu saja Gauri harus bisa menahan emosinya, jika tidak semua rencana ini akan gagal.
" Apakah bisa? Jika tidak kita akan kembali lain kali."
" Tidak! Saya tidak boleh buang waktu bu. Saya harus masuk ke dalam kelompok mereka secepatnya."
Silvya tersenyum, gadis di sebelahnya lebih tangguh dari yang kita duga.
" Hai Puspa," sapa Silvya. Dia tidak pernah menggunakan embel-embel tante ataupun aunty saat bertemu di luar lingkungan keluarga.
" Oh hai Silvya. Lho sudah pulang yang liburan?"
Silvya tersenyum laku mengangguk. Ia kemudian sedikit berbasa-basi yang sebenarnya sangat basi. Karena Silvya tahu bahwa Puspa terlihat tidak menyukai dirinya.
" Oh iya aku bawa teman. Apakah boleh gabung?"
Puspa melihat Gauri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tampilan Gauri memang sederhana tapi barang-barang yang melekat pada tubuh Gauri bila dijumlah bisa mencapai angka milyaran rupiah.
" Tentu saja, perkenalkan aku Puspa Chandra Maya."
" Gauri Omisha Singh, senang bertemu dengan Anda Nona Puspa."
TBC
__ADS_1