
Gauri yang duduk di sebelah Sukhdev tak hentinya menggerakkan kakinya. Ia begitu gugup saat ini. Sukhdev mengusap kepala Gauri dengan lembut agar Gadis itu tidak terlalu gugup.
" Bhai bagaimana Rieta sekarang?"
Gauri menanyakan keadaan Rieta. Setelah sidang Bisma di RSMH selesai ia memang belum menanyakan keadaan tentang Rieta. Sukhdev tersenyum, ia tahu Gauri sedang mengalihkan rasa gugupnya.
" Kamu tidak perlu khawatir Gauri. Rieta baik-baik saja sekarang. Dia bekerja dengan normal. Gadis itu sungguh malang."
Gauri dapat menangkap hal lain dari ekspresi wajah yang ditampilkan Sukhdev. Sepertinya Sukhdev bukan hanya sekedar iba dengan Rieta. Menurut penglihatannya, bhai nya itu memiliki ketertarikan kepada Rieta.
" Bhai menyukai Rieta?"
Uhuk …
Sukhdev menyemburkan kopi panas yang baru saja masuk ke mulutnya itu. Gauri terkekeh geli sambil menepuk punggung bhai nya.
" Kenapa Dev?"
" Ini bhai tiba-tiba batuk. Eh, selamat datang nyonya, selamat datang tuan."
Gauri langsung berdiri dari duduknya. Ia tadi sempat terkejut saat mendengar suara wanita yang ia tahu dari internet bahwa itu adalah ibu dari Sukhdev, Rada Kapoor. Dan tentunya bersama sang suami, Shekhar Singh. Gauri benar-benar semakin gugup saat kedua suami istri itu menatapnya lamat-lamat.
Tanpa Gauri duga Shekhar langsung memeluk tubuh nya. Ia merasakan bahwa tubuh pria paruh baya itu bergetar.
" Maafkan aku nak, aku sungguh senang bisa bertemu dengan mu. Kami yang sangat ingin punya anak perempuan merasa mendapatkannya sekarang."
" Tidak apa-apa tuan. Saya bisa mengerti."
" Panggil aku paman nak, dan ini bibi mu."
Kali ini Rada yang memeluk Gauri. Ia juga merasakan apa yang tadi suaminya rasakan. Keduanya sudah di briefing oleh Sukhdev agar tidak bicara mengenai Laksmi dulu. Biarkan mereka bertemu dengan alibi ingin mengenal Gauri dan bersimpati dengan hal yang menimpa Gauri.
" Kami turut prihatin nak dengan apa yang menimpa ayahmu?"
__ADS_1
" Terima kasih paman dan bibi sudah sangat peduli. Maafkan saya yang lancang memakai nama keluarga besar Singh untuk kepentingan pribadi. Saya sungguh merasa tidak enak hati."
" Tidak apa-apa nak, jangan terlalu dipikirkan. Kau memang bagian keluarga ini nak. Meskipun kau perempuan kau berhak menyandang nama Singh di belakang namamu."
Dua kalimat terakhir tentu saja Shekhar ucapkan dalam hati. Rada yang mengerti bahwa sang suami tengah sentimentil malam ini langsung menggenggam erat tangan Shekhar. Ia memberi isyarat agar Shekhar tidak terlalu menunjukkan perasaannya. Gauri adalah gadis yang cerdas, Rada takut jika keponakannya itu curiga.
" Oh iya nak, berarti kau tinggal dengan ~"
" Saya hanya tinggal dengan ayah saya bibi. Ibu saya sudah meninggal lama. Saya bahkan kadang lupa dengan wajah ibu saya. Tapi saya selalu rindu kari buatan ibu."
" Nanti akan bibi buatkan. Biar bhai kamu yang mengantarkannya."
Gauri sungguh tidak enak, dia hanya asal bicara tapi tampaknya Bibi Rada menganggapnya serius. Gauri pun hanya mengangguk canggung. Makan malam berlanjut dengan begitu seru. Shekhar dan Rada menanyakan banyak hal mengenai kehidupan Gauri dan gadis itu menjawab dengan antusias. Sedangkan Sukhdev, dia membiarkan ayah dan ibunya mendekatkan diri kepada Gauri.
Sesekali Shekhar menyeka ujung matanya saat mendengar banyak kesulitan yang dihadapi Samsul dengan hidup mereka. Muncul rasa bersalah dalam diri Shekhar. Namun tentu itu percuma, masa-masa itu toh tidak bisa diputar kembali.
" Kamu hebat nak."
" Tidak paman, bibi, yang hebat adalah ayah saya. Beliau lah yang menjadikan saya seperti ini sekarang. Jika bukan karena beliau saya tidak akan bisa sampai di tahap ini."
" Betul nak, ayahmu sungguh luar biasa."
Shekhar dan Rada sampai di rumah terlebih dulu karena Sukhdev harus mengantar Gauri kembali pulang. Rasanya tidak cukup waktu 3 jam mereka habiskan bersama keponakannya itu. Jika boleh Rada bahkan ingin mengajak Gauri untuk tinggal di kediaman Singh.
Sepasang suami istri itu pun menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa panjang. Mereka menatap satu sama lain seakan mengerti apa yang tengah mereka pikirkan.
“ Lalu kapan kita akan mengatakan pada ayah suamiku.”
“ Entahlah Rada, aku masih bingung. Aku tentu belum bisa membayangkan reaksi ayah jika tahu ini semua.”
“ Apa yang sedang kalian bicarakan! Apa yang kalian sembunyikan dariku."
Deg.
__ADS_1
Shekhar dan Rada seketika langsung bangkit dari duduknya. Keduanya saling pandang. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa jam segini sang ayah masih belum tidur. Ini menunjukan pukul 22.30. Biasanya Arrayan sudah tidur lebih awal.
“ A-ayah. Mengapa masih terjaga hmm? Apa ayah menginginkan sesuatu? biar Rada yang membawakannya ke kamar.”
“ Tidak usah menantuku, aku tidak membutuhkan apapun. Saat ini aku hanya ingin tahu, apa yang sudah kalian sembunyikan dari ku.”
Shekhar menelan salivanya dengan susah payah. Ini tidak akan jadi hal yang mudah. Shekhar terdiam untuk sesaat hingga ia menemukan sebuah jalan keluar yang menurutnya akan aman.
“ Ini yah, ini soal Dev. Dev sepertinya sudah menemukan tambatan hatinya.”
“ Waaah benarkah, suruh segera dia menikah. Gadis itu dari keluarga mana, apa pekerjaan kedua orang tuanya, lalu~"
“ Ayah, berhenti!”
Shekhar menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Rupanya Sikap sang ayah belumlah berubah. Ia masih seperti yang dulu. Kepergian Laksmi tidak menjadikan orang tua itu sedikitpun pelajaran.
“ Yah, mau sampai kapan seperti itu terus. Dev, biarkan dia mencari pendamping sesuai keinginannya. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya dan mengarahkannya ke sesuatu yang baik. “
“ Kau tahu apa soal itu!”
“ Aku tahu, aku tahu lebih banyak dari ayah tahu. Bahkan bagaimana sakitnya aku harus kehilangan adikku, aku tentu tahu itu.”
Shekhar berbicara dengan sedikit keras dan menggebu. Ia lalu meninggalkan tempat itu dan masuk ke kamarnya. Rada sedikit terkejut dengan ulah sang suami. Selama ini Shekhar tidak pernah berbicara keras kepada sang ayah. Dia termasuk anak yang sangat penurut. Tapi rupanya kali ini berbeda.
“ Yah, jangan di ambil hati. mungkin Shekhar sedang tidak dalam suasana hati yang bagus. Sebaiknya Rada antar ayah kembali ke kamar.”
Arrayan tak lagi banyak bicara. Ia menurut saja saat sang menantu membawanya ke kamar.
“ Mengapa, mengapa tidak juga berubah sih. Sudah tua lho ini. Sudah kepala 8 tapi kenapa pikirannya masih begitu sempit. Ya Tuhan apa dia harus kehilangan semua orang baru sadar.”
Di dalam kamarnya Shekhar mengacak rambutnya dengan sangat kasar. Ia sungguh sangat menyayangkan sikap Arrayan terhadap apa yang jadi pilihan Sukhdev. Meskipun Sukhdev tidak mengatakan secara langsung bahwa dia tertarik kepada gadis yang bernama Rieta itu. Tapi jika dilihat kembali, Sukhdev mengawasi gadis itu setiap waktu.
Bahwa Sukhdev rela untuk tidur di rumah ini yang notabene nya ia sangat tidak suka berada di satu atap bersama kakek yang selalu memiliki banyak tuntutan kepadanya demi agar apartemennya di tinggali gadis itu.
__ADS_1
TBC