
Sani sungguh mersa bersalah kepada gauri karena pagi tadi dia tidk bisa menggantikan gauri menjaga Samsul. Apa mau di kata bos nya meminta dirinya untuk datang ke resto lebih cepat. Tidak hanya dia tapi semua pekerj diminta datang ke restoran lebih cepat dari biasanya.
" Sebenarnya ada acara apa sih?"
Sani berbicara kepada salah satu rekan kerjanya. Sudah hampir pukul 4 sore tidak ada tanda-tanda akan ada acara. Bahkan resto pun tidak di buka sama sekali. Seluruh karyawan resto tersebut diminta untuk berada di rooftoop karen adi lantai bawah resto akan digunakan oleh sang bos.
" Nggak tahu juga gue San."
" Lha kita ngapain ini disini cuma duduk-duduk aja setelah nyiapin teteek bengek nya."
Rekan kerja Sani itu cuma menaikkan kedua bahunya tanda dia juga tidak mengerti. Sani yang tidak sabaran pun berjalan menuruni tangga. Namun langkahnya berhenti saat seseornag mencekal tangannya dan meminta dia untuk kembali ke atas.
" Ada apa sih Ren. Gue bosen banget dari tadi di atas nggak ngapa-ngapain. Kalau resto mau tutup kenapa kita nggak disuruh pulang aja sih. Jujur ya, gue punya urusan lebih penting di rumah dibandingin harus berdiam diri nggak jelas di rooftoop."
Orang yang dipanggil Ren itu langsung menutup mulut Sani dan sedikit menarik Sani menjauh dari tangga. Ia kemudian mengajak Sani ke sisi lain rooftop untuk melihat apa yang terjadi di lantai bawah.
Di lantai bawah restoran itu ada seorang wanita cantik dengan balutan gaun berwana hitam. Kulit putihnya semakin terlihat menonjol karena sangat kontras dengan warna gaunnya. Dan disebelah wanita itu adalah seorang pria yang tentunya sangat Sani kenal. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah sang bos.
" Ren, Reno bukanya itu Bos Jiwa ya. Terus wanita itu yang sering datang kan. Yang katanya partner kerja si bos."
" Sttt, jangan bawel deh. Udah lihat aja."
Sani menutup mulutnya dengab rapat. Ia bersma Reno terus melihat apa yang kedua orang itu lakukan. Mereka melakukan makan bersama, tiup lilin lalu dansa. Namun ada hal yang membuat Sani membalikkan tubuhnya seketika saat keduanya mulia berciuman.
" Ya Allah,"
Bukan hanya Sani, Reno pun ikut membalikkan tubuhnya saat kedua bibir orang yang dibawah itu bertemu.
" Itu mereka pacaran Ren?"
__ADS_1
" Iya San, nggak mungkin mereka nggak pacaran tapi berciuman begitu."
Sani mengangguk, keduanya pun kembali melihat ke arah bawah lagi. Dan betapa terkejutnya mereka saat ciuman tadi sudah berubah menajdi cumbuan. Jantung Reno dan Sani berpacu. Bahkan nafas mereka tersengal.
" Ya Allaah Ren, balik badan Ren dosa."
" I-iya San. Ya Allah San berasa nonton bokeep nggak sih San, tapi ini versi live."
Sani mengangguk dengan tangan yang berkeringat dingin. Baik Sani dan Reno mereka benar-benar pemuda dan pemudi yang belum pernah pacaran. Reno adalah tetangga Sani, teman Gauri juga. Biasanya Reno akan membantu Babe Samsul mengurus perguruan silat betawi ketika dia sedang libur.
Di lantai bawah Jiwa sudaj mulai menurunkan gaun bagian atas milik puspa hingga dua bulatan kenyal itu terlihat sempurna. Oleh Jiwa Puspa didudukkan di atas meja. Lalu Jiwa pun mulai menyesap bergantian keduanya. Puspa pun mencengkeram kepala Jiwa dan menekannya agar Jiwa menyespanya lebih dalam. Desahaan pelan keluar dari bibir wanita itu.
" Wa, hhhhh. Ayo ke ruangan mu."
Jiwa langsung menggendong Puspa dengan posisi Puspa berada di depan. Dengan berjalan sedikit lebih cepat merwka pun akhirnya sampai di ruangan Jiwa. Jiwa langsung mendudukkan Puspa di meja ruangannya. Ia kembali ******* bibir wanita di depannya itu dengan hasrat yang membara.
Satu kata dari Puspa membuat Jiwa teringat bahwa mereka belum menutup pintu. Jiwa menghentikan kegiatannya sejenak dan berlari menuju ke pintu untuk menguncinya.
Sambil kembali menghampiri wanitanya, Jiwa mulai menanggalkan bajunya satu persatu. Pun dengan Puspa, bahkan sekarang wanita itu sudah polos dengan posisi duduk di atas meja.
" Apa akan bermain di sini?" tanya Jiwa dengan mata yang sudah berkabut gairah.
" Tentu saja, sepertinya seru. Kita belum pernah melakukannya bukan."
Puspa mengerling nakal sambil menggerakkan tangannya maju membelai belalai gajah milik Jiwa. Jiwa seketika mengeraang saat miliknya melakukan pelepasan yang pertama kali.
Hal selanjutnya tentu giliran Jiwa memberikan kenikmataan kepada Puspa. Ia menurunkan tubuh Puspa dari atas meja, dan dengan keahlian yang selama ini ia punya, membuat Puspa mengerangg meski dilakukan dari belakang. Kedua tanga puspa mencengkeram meja kerja milik Jiwa saat ia sampai dipuncak.
Nafas mereka saling beradu. Jiwa kemudian membawa Puspa menuju ke sofa. Kini pasangan tidak halal itu terkulai lelah di sofa. Keduanya saling pandang dan tertawa terbahak.
__ADS_1
" Sepertyinya kau harus menaruh bed di sini. Selamat ulang tahun sayang," ucap Puspa sambil kembali mengecup bibir Jiwa singkat.
" Terimakasih ini kado yang paling aku suka. kau benar, besok aku akan memesan bed paling nyaman agar kita bisa leluasa lagi melakukannya," jawab Jiwa.
Keduanya masih sama-sama polos.
Di luar, para pegawai resto turun sesuai waktu yang sudah diberitahukan oleh sang bos. Reno dan Sani menjadi sangat illfeel terhadap bos mereka.
Sebelum acara ulang tahun itu di mulai para karyawan restoran tersebut sudah di warning bahwa merrka akan turun selepas jam 6. Setelah membereskan tempat mereka diperbolehkan untuk pulang. Ya, hari ini rupanya adalah hari ulang tahun Jiwa. Jika biasanaya para bos akan embuat acara ulang tahun bersama karyawannya maka tidak dengan Jiwa. Ia lebih memilih merayakan bersama sang kekasih.
Sani bersungut-sungut sepanjang jalan pulang. Ia benar-benar tak habis pikir bos nya itu berbuat sedemikan. Ia tahu bahwa resto itu mikik sang bos, tapi bukan berarti di bisa berbuat semaunya sendiri. Tapi tiba-tiba Sani teringat akan Gauri. Dia pun mengajak Reno untuk mengunjungi Gauri.
" Mau nggak Ren?"
" Boleh deh. Kita bawain makanan yuk. Kasian doi pasti belum makan juga."
Sani mengangguk. Keduanya berboncengan naik motor menuju RS Mitra Harapan. Sekalian Sani ingin mengatakan permintaan maaf secara langsung kepada Gauri.
" Eh Ren, kataknya wanita yang katanya rekan bisnisnya Bos Jiwa itu aku pernah lihat dia deh."
" Masa? Dimana San? Tapi emang wajahnya familiar sih. "
" Aku lupa Ren."
Jika biasanya sebagai kasir ia tidak pernah memerhatikan wajah wanita bosnya itu, tapi tadi ia bisa melihatnya dnegan seksama. Dan Sani merasa dia sangat familliar dengan wanita itu. Tapi Sani sendiri tidak yakin dengan apa yang dilihat.
" Haish, ngapain sih harus mikirin orang. Bodo amat dia siapa. Bukan urusanku juga."
TBC
__ADS_1