Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-40. Bisma Bertindak Tegas


__ADS_3

Kuswan berlari mengejar Bisma. Tampak di sebelah Bisma ada Sekar dan juga Dika. Ia benar-benar harus menahan Bisma untuk tidak menceraikan Puspa.


" Tunggu, nak tunggu. Papa mau bicara sebentar kepadamu."


Sekar dan Dika yang paham bahwa keduanya memang butuh bicara akhirnya berpamitan untuk jalan lebih dulu. Dan Bisma, sebenarnya ia sudah enggan melihat Kuswan. Pria tua yang haus kekuasaan serta tidak bisa melihat kesalahannya sendiri. 


Kuswan yang sebelumnya tidak pernah memanggil Bisma dengan sebutan nak itu saat ini seolah-olah berperan menjadi seorang ayah mertua yang baik. Sungguh membuat telinga Bisma  sakit saat mendengarnya. Terlebih ekspresi memelas yang ditampilkan Kuswan membuat Bisma semakin malas berbicara berdua dengan pria yang on the way jadi mantan mertua.


" Apa yang mau Anda bicarakan Dokter Kuswan?"


" Nak, jangan begitu. Bukankah aku ini masih papa mertuamu? Papa mohon jangan bercerai dengan Puspa."


" Apa Anda yakin telah bertindak layaknya orang tua terhadap saya? Bukankah Anda sudah tidak sabar untuk mengambil kursi direktur dari saya saat saya tengah di skors? Sebagai mertua saya, Anda tidak sekalipun membela saya di depan umum. Dan untuk perceraian, maaf saya tidak bisa membatalkannya. Tanyakan saja kepada putri Anda. Dari awal kita menikah dia sama sekali tidak pernah menginginkan saya sebagai suaminya. Dan perlu Anda ketahui, banyak sekali bukti mengenai kelakuan putri Anda bersama kekasihnya. Jika Anda mempersulit saya menceraikan Puspa, saya tidak segan-segan mengeluarkan video itu."


Bisma membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Kuswan yang begitu syok mendengar setiap penuturan dari Bisma. Sepertinya Bisma benar-benar mengungkapkan kekesalannya kepada ayah dari Puspa tersebut. Selama ini dia diam karena masih menaruh hormat kepada Kuswan. Tapi kali ini dia tidak akan lagi melakukannya. Kebaikannya selalu disalah artikan dan dimanfaatkan oleh orang-orang seperti Kuswan.


" Brengsek, bajingan, siaaaal! Berani-beraninya dia berlaku seperti itu. Beraninya dia mengancamku! Puspa! Dasar anak sialan, anak tidak tahu diuntung. Sudah benar dicarikan suami kaya macam Bisma, dia malah kukuh pada pria yang tidak jelas asal usulnya. Cih!"


Kuswan berteriak marah di ruangannya. Entah dia marah kepada siapa.  Kepada Bisma kah atau Puspa? Yang jelas saat ini dia merasa begitu kesal, rasanya dia ingin menghancurkan tempat ia berpijak.


Lain Kuswan lain pula Braja. Ia saat ini gantian menerima skors. Bagaimanapun fitnah adalah sebuah perilaku yang buruk. Jika cerita itu keluar bisa dipastikan Braja tidak akan lagi mendapat tempat di dunia medis. Pria itu terlihat menggerakkan kakinya dengan tempo cepat. Hal yang sering ia lakukan saat tengah mencemaskan sesuatu.


" Sial, kenapa semuanya berbalik. Mengapa ini mudah sekali menjadi boomerang buatku. Ini semua gara-gara wanita itu. Aku harus bisa membuatnya kapok. Berani-beraninya dia melawanku."


Braja berpikir keras bagaimana dia akan mendapatkan Reita. Ia ingin pulang tapi dia cukup malu untuk menampakkan wajahnya di depan rekan kerja nya.  Sepertinya Braja benar-benar kehilangan muka saat ini.


🍀🍀🍀

__ADS_1


" Mas, dimana om mu, kok nggak muncul-muncul. Dia nggak lupa dimana ruangannya kan? Dia nggak akan nyasar kan?"


" Hahaha, bunda bisa aja ngejokes nya. Nggak lah. Mungkin dia masih ada urusan lain. Tapi Dika bersyukur semuanya sudah selesai jadi kita bisa melaksanakan rencana selanjutnya."


Sekar juga bernafas lega bahwa semuanya kini sudah selesai. Dia pun tidak mengira, rupanya rumah tangga sang adik begitu memprihatinkan. Sekar sungguh merasa kasihan kepada nasib pernikahan adik satu-satunya itu. Harapannya Bisma bisa seperti Dika dan Radi yang membina pernikahan dengan baik bersama istri dan anak mereka.


" Bunda beneran nggak nyangka Puspa kayak gitu. Om kamu benar-benar pintar menyembunyikan sesuatu."


" Makanya bun, jangan suka jodoh-jodohin. Kan kayak gitu hasilnya."


" Eitts, bunda nggak nge jodohin ya. Waktu itu bunda nawarin aja. Nah om mu setuju yaudah to yo lanjut. Siapa sangka Puspa bikin perjanjian kayak gitu, dah kayak novel online aja pernikahan kontrak."


Dika memutar bola matanya malas. Rupanya sang bunda di usianya yang hampir kepala 6 itu masih suka baca novel online. Gimana nggak selalu baca, lha wong menantunya, istri dari kakaknya juga penulis novel online (baca: Hasna, istri Radi).


Bisma yang ditunggu-tunggu ternyata sedang berada di ruangan Samsul. Ia tengah memeriksa Samsul. Saat ini Samsul sudah bisa duduk dan berdiri.  Tapi untuk buang air besar dan kecil dia harus dibantu karena kaki yang retak waktu itu hasil dari tabrak lari.


Bisma benar-benar merasa iba dan merasa bersalah. Meski bagaimanapun saat itu Puspa masih berstatus sebagai istrinya walaupun sebentar lagi sudah akan jadi mantan.


" Terimakasih dokter. Berkat pertolongan Anda dan tim medis."


Samsul menjawab terbata, namun hal itu sungguh bagus. Kemampuan berbicaranya berarti tidak terganggu oleh operasi otak kemarin. Bisma tersenyum senang. Ia kemudian duduk di sebelah Samsul.


" Babe yang semangat, biar cepet sembuh."


" Iya dok. Terimakasih."


" Kalau perkembangan babe semakin bagus. Minggu depan mungkin babe sudah bisa melakukan fisioterapi untuk melatih gerakan otot tangan dan kaki."

__ADS_1


Samsul mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia teringat akan sang putri yang menurutnya selalu pontang-panting melakukan semuanya sendiri.


" Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu ya. Babe istirahat lagi."


Bisma membantu Samsul berbaring kembali. Ia kemudian berjalan menuju pintu keluar ruang rawat Samsul.


" Mas eh dok, bagaimana sidangnya?"


" Alhamdulillah lancar, berkat kamu juga. Terimakasih."


Gauri tersenyum, sungguh sepanjang pagi dia memikirkan hasil sidang Bisma. Padahal dia tengah berada di tengah kumpulan geng sosialita milik Puspa. Namun pikiran Gauri selalu mengarah ke Bisma.


" Lalu kapan kau akan melaporkan Puspa?"


" Tunggu, aku harus benar-benar bisa mendengar langsung dari bibirnya. Itu adalah bukti yang paling kuat. Kalau hanya dash cam dan cctv aku yakin dia pasti bisa mengelak mas."


Bisma terdiam sesaat. Ia memikirkan apa yang dikatakan oleh Gauri yang menurutnya benar juga. Puspa adalah wanita yang sangat licik. Menyembunyikan hubungannya dengan Jiwa saja dia bisa begitu rapi apalagi ini yang benar-benar tidak dilihat oleh siapapun.


" Lalu apa rencanamu?"


" Aku tetap harus berada di sekitarnya."


" Berhati-hatilah."


Semalaman Gauri memikirkan semuanya dengan begitu matang. Sambil melihat setiap bukti yang didapat ia kembali menelaah. Semuanya masih terlalu mentah, masih mengambang.


Wanita itu pasti akan dengan mudah mengelak rekaman dash cam dan foto-foto mobil miliknya. Maka dari itu dia Gauri harus bisa membuat Puspa buka mulut mengakui perbuatannya. Cara itu lah saat ini sedang dipikirkan oleh Gauri.

__ADS_1


" Sebenarnya sangat tidak nyaman menyamar menjadi orang lain. Tapi aku tidak punya cara lain. Terus aku harus bagaimana sekarang. Lama-lama di lingkungan para kaum kelas atas itu bisa membuka identitas asliku. Walaupun Bhai Sukhdev membantuku sepenuhnya, tapi aku tidak tahu bagaimana tanggapan keluarganya jika ada orang lain yang mengaku-ngaku sebagai bagian dari keluarga Singh. Haishh, niat hati memancing ikan tapi malah aku bisa jatuh ke danau yang dalam itu."


TBC


__ADS_2