
Sukhdev bergegas pulang saat menyadari sesuatu. Ia lupa membelikan obat untuk Rieta. Tadi mendapat pesan dari Rieta bahwa gadis itu izin tidak masuk kerja karena sakit, Sukhdev lupa menanyakan apakah Rieta ada persediaan obat atau tidak.
Tina hanya bisa melongo saat sang bos terlihat buru-buru keluar perusahaan. Tapi Tina tidak mau kepo, setiap orang pasti punya masalah pribadi yang tidak perlu diberitahukan kepada orang lain. Meskipun itu asisten pribadi sekalipun.
Sukhdev memarkirkan mobilnya di halaman depan apartemen. Ia kemudian berjalan masuk. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Rieta duduk di sebuah coffee shop. Sukhdev pun masuk ke tempat itu. Pria tersebut terkejut saat melihat dua orang lain yang dikenalnya duduk bersama dengan Rieta.
" Loh kalian?"
Bisma, Gauri, dan Rieta menoleh ke sumber suara yang tidak asing bagi mereka. Ketiganya sama-sama memanggil Sukhdev dengan sapaan masing-masing. Jika Bisma dan Rieta memanggil Sukhdev dengan sebutan tuan maka Gauri memanggilnya dengan sebutan Bhai.
Sukhdev melihat satu satu dari mereka. Ia pun menarik kursi dan duduk bersama di sana. Dalam pikirannya sedang mencoba menelaah, apakah mereka saling mengenal satu sama lain. Kalau Bisma dan Gauri mungkin bisa jadi karena Samsul dirawat di RSMH dan semua orang tahu Bisma adalah dirut disana. Tapi Rieta, bagaimana bisa mereka saling kenal?
" Gauri kamu sudah kembali dari tempat dia?"
" Sudah bhai. Tadi Uri hanya sebentar saja di sana."
Bisma sedikit mengangkat satu alisnya mendengar percakapan Sukhdev dan Gauri yang terdengar sangat akrab itu, bahkan terkesan manis. Dapat Bisma lihat Sukhdev begitu perhatian kepada Gauri.
" Oh iya, bagaimana dokter Bisma bisa kenal dengan Rieta. Apa dokter Bisma tahu kalau Rieta adalah anak ibu yang waktu itu kita tolong."
Deg, Reita membulatkan matanya saat Sukhdev selesai dengan ucapannya. Rupanya benar, Dokter Bisma adalah dokter yang menolong sang ibu waktu itu. Meskipun nyawa ibunya tidak bisa bertahan lama tapi paling tidak Rieta bisa menemani sang ibu di saat-saat terakhirnya.
“ Maafkan saya dokter. Saya sungguh minta maaf. Saya juga sungguh-sungguh berterima kasih atas pertolongan dokter terhadap ibu saya. Saya sangat menyesal, tapi saya sekarang bingung harus bagaimana.”
Sukhdev yang tidak tahu duduk permasalahannya pun hanya menatap bisma dan Ritea bergantian. Tidak tahan memendam rasa penasaran akhirnya Sukhdev pun buka suara
“ Sebenarnya ada apa ini. Bisa aku mendapat penjelasan.”
Bisma kemudian menjelaskan apa yang jadi permasalah sebenarnya. Tentu saja Sukhdev terkejut. Jalan takdir mereka mengapa bisa saling berhubungan. Dunia benar-benar tidak selebar daun kelor. Orang yang Rieta fitnah adalah orang yang menolongnya. Niat hati ingin pergi jauh dari kota ini, ujung-ujungnya Rieta harus kembali.
“ Terus siapa yang menyuruhmu Rie?’
__ADS_1
Rieta masih terdiam. Ini kesekian kalinya pertanyaan tersebut hadir di depannya. Jika tadi Bisma dan Gauri yang bertanya kini giliran Sukhdev. Rieta benar-benar terpojok saat ini.
“ Kamu jangan takut, aku akan melindungimu.”
kata-kata Sukhdev sukses membuat hati Rieta menghangat. Paling tidak setelah sekian lama baru kali ini dia merasa dilindungi. Tadi saat Gauri mengatakan hal tersebut pun juga membuat wanita itu merasa memiliki teman. Rieta yang selama ini hidup banting tulang setelah meninggalnya sang ayah tentu tidak tahu apa itu berteman. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk bekerja dan merawat sang ibu.
“ Kamu jangan takut, aku kan benar-benar melindungimu, bukan hanya aku tapi kami. Kami akan membuatmu aman. Aku bersumpah.”
“ Orang yang menyuruh saya melakukan hal tersebut adalah Tuan Braja.”
Bisma tentu tidak terkejut dengan jawaban Rieta. Sebenarnya ia sudah memprediksikan hal tersebut.
“ Apa kamu masih memiliki riwayat telepon atau pesan dengan dia?’
Rieta menggeleng, sesuai instruksi Braja bahwa dia harus menghapus semua interaksi antara dia dengan Braja. Ini menjadikan sulit, terlebih Rieta juga dibayar dengan cara cash. Bisma terlihat membuang nafasnya kasar. Semua orang disitu ikut berpikir. Bahkan Sukhdev pun juga.
“ Kita bisa melihat pertemuan Braja dengan Rieta di tempat mereka ketemu. Pasti di sana ada cctv nya bukan. Kita bisa minta kepada pengelola.”
“ Kamu bener Ri, kita bisa tanya ke pemilik. Rieta kamu masih ingat kan dimana lokasi kalian bertemu.”
“ Masih dokter.”
“ Baiklah Uri, kamu mau menemaniku ke kasana.”
“ Oke mas.”
Sukhdev semakin menganga saat Gauri memanggil Bisma dengan panggilan ‘mas’, dimana saat ia mendengarnya begitu manis dan mesra. Sukhdev memicingkan matanya, ia menangkap sesuatu yang aneh pada Bisma dan Gauri.
Mereka, punya hubungan apa? Kenapa terlihat sangat dekat? Apa hubungan dokter dan keluarga pasien bisa sedekat itu?
Bisma dan Gauri pun pamit undur diri meninggalkan Sukhdev dengan sejuta pertanyaannya. Mereka harus bergegas untuk mendapatkan rekaman cctv tersebut.
__ADS_1
“ Tuan, maafkan saya. saya adalah orang yang buruk. Anda pasti menyesal menolong orang seperti saya.”
“ Jangan menyalahkan diri sendiri, aku tahu kamu pasti terpaksa melakukan hal tersebut. Sebaiknya untuk sementara waktu kamu tinggal saja di apartemen sampai urusan Dokter Bisma selesai.”
Kali ini Rieta tidak membantah. Dia tahu bahwa dirinya harus bersembunyi untuk sementara waktu dan apartemen Sukhdev tentu adalah tempat paling aman.
“ Baiklah, mari aku antar kamu kembali ke apartemen. Sebaiknya beli obat dulu. Bukankah kamu sedang sakit.”
“ Ini sebenarnya ini adalah sakit tamu bulanan tuan. Saya sudah biasa.”
“ Tamu bulanan?”
“ Menstruasi.”
Sukhdev mengeplak keningnya dengan telapak tangan. Dia sungguh tidak mengerti tadi saat Rieta bicara begitu. Tapi Sukhdev kukuh ingin mengantar Rieta kembali ke apartemen. Gadis itu pun akhirnya pasrah dan tidak menolak.
Sepanjang jalan menuju ke apartemen nya Sukhdev masih terus berpikir mengenai kedekatan Bisma dan Gauri. Sebagai sesama pria, Sukhdev tentu tahu tatapan mata Bisma ke Gauri tidak biasa. Pun dengan Gauri, Sukhdev yang sudah sangat yakin bahwa Gauri adiknya itu tahu kalau gadis itu terlihat menaruh kekaguman kepada Bisma.
“ Yaelah, baru ge gue ketemu adik gue, masa iya sih udah harus dicomot orang lain.”
Sukhdev menggerutu pelan hingga sebuah panggilan membuatnya tersadar dari pikiran-pikirannya terhadap Gauri dan Bisma.
“ Tuan, apakah tuan bisa ke tempat saya? saya sudah menemukan semua informasi yang tuan minta.”
“ Baik saya akan segera ke sana.”
Sukhdev hanya mengantar Rieta sampai depan pintu. Pria itu kemudian pamit untuk segera pergi karena ada urusan yang mendesak. Rita mengangguk paham. Gadis itu kemudian masuk ke apartemen lalu mengunci pintunya dengan rapat.
Sukhdev bergegas menuju markas Wild eagle, ya tadi adalah Drake yang menelpon. Meskipun Sukhdev sudah yakin bahwa Gauri adalah adik sepupunya tapi Informasi dari Drake tentu akan menguatkannya.
“ Gauri, sebentar lagi. Ya, sebentar lagi aku akan membawamu kembali ke keluarga kita. Bagaimanapun kau adalah cucu kakek. Kau berhak atas apa yang aku miliki sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu hidup menderita seperti bibi Laksmi.”
__ADS_1
TBC