Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-38. Future Husband


__ADS_3

Gauri membuang nafasnya kasar saat melihat siapa yang datang dan berbicara di sana. Nafssu makannya tiba-tiba hilang. Padahal sayur asem yang dia buat sudah menari-nari minta di sruput.


" Ae elaah, nape sih lo. Suka-suka aye mau berhubungan sama siapa. Kita juga nggak ada hubungan apapun  yang membuat aye harus bilang ke lo dulu pan. Halim, inget ye. Kita udah END. Jadi tidak ada lagi urusan diantara kita berdua."


" Kamu serius Ri. Emang kamu nggak ingat saat-saat kita berdua dulu."


Gauri memutar bola matanya jengah mendengar penuturan Halim yang tiba-tiba sok melankolis. Sedangkan Bisma ia mencoba menelaah apa yang terjadi sehingga ia mengambil kesimpulan bahwa pria yang berdiri di depan rumah Gauri itu adalah mantan kekasih Gauri.


Bisma beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di belakang Gauri. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Gauri dan membisikkan sesuatu.


" Dia mantan pacarmu?"


" Ya, mantan pacar yang tidak tahu diri. Seneng banget ganggu padahal kita udah putus lama banget."


" Mau aku membantumu membuatnya pergi?"


Gauri mengerutkan kedua alisnya mendengar penuturan Bisma. Ia tentu tidak tahu apa yang akan dilakukan Bisma untuk mengusir Halim hingga sesaat kemudian Gauri membulatkan matanya, begitu juga Halim.


" Maaf, Anda tidak seharusnya mengganggu wanita yang sudah memiliki kekasih. Bukankah begitu sayang?"


Glek


Gauri menelan salivanya dengan susah payah saat Bisma mengatakan hal tersebut sambil meraih pinggang gadis itu. Gauri sungguh sangat terkejut ia hanya bisa mengangguk sebagai reaksi atas ucapan Bisma. 


Di sisi lain Halim molongo. Ia tentu heran sejak kapan Gauri memiliki kekasih. Selama ini dia tidak pernah melihat satu laki-laki pun datang ke rumah Gauri setelah mereka putus. Pol mentok hanya Beno yang notabene nya adalah sahabat Gauri dari lama. Sekalipun Beno datang juga bersama Sani kalau tidak Beno datang untuk membantu Babe Samsul mengajari anak-anak latihan silat.


Jadi saat melihat Gauri tiba-tiba akrab dengan pria selain Beno dan Babe Samsul tentu membuat Halim terkejut. Dalam hatinya berkata apa benar Gauri sudah move on darinya.


" Kau, apa kau kekasih Gauri?"


" No, aku bukan kekasih Gauri."


Bisma menggantungkan kalimatnya. Sesaat Halim tersenyum lebar. Ia yakin pria itu hanya pura-pura agar dia segera pergi dari tempat itu. Lalu kemudian Bisma menyambung kembali kata-katanya membuat Halim terperangah pun dengan Gauri.


" I'm not her boyfriend, but I'm her future husband."


" Mas?"


Gauri menoleh ke arah Bisma dan Bisma hanya mengedipkan sebelah matanya. Ia akhirnya hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan. Gadis itu membiarkan sang dokter melakukan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


" Jadi, sebaiknya Anda tidak mengganggunya lagi."


" Heh dasar om-om, gue nggak percaya ye kalo elo itu calon suami nya Uri. Awas aje, gue bakal buktiin itu."


Halim membalikkan badannya dan pergi dari sambil menghentakkan kakinya kesal. Terdengar Halim tengah memaki dan merutuki Bisma. Tapi sang dokter sepertinya acuh akan hal itu. Dengan santainya ia kembali duduk lalu melanjutkan makan siang atau lebih tepatnya makan sore yang sempat tertunda.


Et dah nih dokter, udah bikin hati aye kalang kabut karena omongan doi. Eeeh dia nya lanjut makan. Bener-bener dah ah.


🍀🍀🍀


Bisma berada di kamarnya. Setelah pulang dari rumah Gauri dia bolak-balik menggelengkan kepalanya karena ulahnya tadi. Sepertinya Bisma baru sadar dengan apa yang dia katakan.


" Ampun deh, napa bisa ngomong kayak gitu. Bagaimana besok kalau ketemu ma tuh bocah, future husband. Gila kali kau Bis."


Bisma mengacak rambutnya dengan nada frustasi. Ia benar-benar merasa malu. Entah bagaimana dia akan bersikap nanti saat bertemu lagi dengan Gauri.


Kriiing


Dering ponsel milik nya berbunyi. Bisma yang hendak ke toilet pun urung dan lebih memilih mengangkat ponselnya.


" Silvya, tumben. Hallo Vya."


" Oke, dimana."


" Markas."


Bisma mengerutkan keningnya. Tidak biasanya istri dari keponakan nya meminta untuk bertemu di sana. Tapi Bisma tidak mau banyak berpikir. Dia memilih untuk langsung saja menuju ke sana. 


Di ruang tengah rupanya Bisma bertemu dengan Puspa. Keduanya saling tatap dna akhirnya Puspa lah yang memutus mata mereka dari acara saling pandang. Puspa merasa sorot mata Bisma kali ini sungguh berbeda.


" Mau kemana?"


" Bukan urusanmu."


Bisma menjawab ketus dan Puspa hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar. Ia menemukan sisi lain Bisma saat ini.


" Apa yang dilakukan pria itu. Mengapa dia seolah-olah semuanya baik-baik saja. Bukannya besok adalah hari dimana dia akan di sidang oleh dewan kehormatan rumah sakit? Aah whatever. Apa peduli ku terhadap dia. Sebaiknya Bang Braja benar-benar melakukan pekerjaannya agar semakin mudah. Sungguh tidak sabar melihat dia tidak berdaya terhadap apapun."


Puspa melenggang menuju kamarnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya sejenak. Rasa lelah yang ia rasakan membuat wanita itu terlelap.

__ADS_1


Bisma memarkirkan mobilnya di depan pusat kebugaran yang merupakan kamuflase dari markas Silvya. Dia langsung masuk ke dalam dan memanggil Silvya


" Vya!"


" Oh Tuan Bisma, silahkan masuk, dia sudah menunggu."


Drake menjemput Bisma dan membawa pria itu ke tempat dimana Silvya meminta nya. Bisma tentu masih bertanya-tanya mengapa Silvya meminta bertemu di sini.


" Om sudah datang. Silahkan duduk."


" Sebenarnya ada apa Vy."


Silvya tidak banyak bicara hingga dia memutar sebuah rekaman. Awal mula rekaman di putra sungguh Bisma merasa jijik bahkan rasanya ingin muntah. Suara desahhan dan erangaan itu membuat perutnya bergejolak. Bisma tahu itu suara siapa, Puspa. Itu adalah suara Puspa dan kekasih wanita itu. Bisma bisa tahu karena di sela-sela kegiatan itu mereka semoga saling bicara. 


Akan tetapi hal yang selanjutnya terjadi adalah sesuatu yang tidak disangka oleh Bisma. Dimana hal tersebut mungkin akan memperkuat bukti bahwa dia tidak bersalah.


" Apa kau tahu, sekarang kakak sepupuku sedang memebuat pria itu tidak bisa melakukan apapun di rumah sakit yang notabene nya miliknya. Dia di skors."


" Apa sepupu mu yang datang ke resto ku itu."


" Ya kau benar sayang, dia yang suka makan bersamaku di resto milik mu. Aku sungguh menantikan kehancuran Bisma. Dan Bang Braja sungguh melakukan dengan baik."


Bisma tersenyum, bukti yang dia miliki begitu kuat. Dia akan menghadapi ini dengan mudah. Silvya sedikit heran saat Bisma menanggapi hal tersebut dengan sangat biasa. Bukan soal kasusnya di rumah sakit, tapi soal istrinya berselingkuh.


" Apa Om Bisma sudah tahu apa yang Puspa lakukan selama ini?"


" He-em, tentu aku sudah tahu Vya. Aku bahkan punya lebih banyak video nya. Apa kau mau?"


" Tck, jangan gila deh om. Lagian ngapain nonton begituan. Aku bisa melakukannya sendiri dengan suamiku."


" Astaga bocah ini frontal sekali."


Tawa meledak dari Bisma dan Silvya. Suasana yang tadi sempat tegang kini perlahan mencair. 


" Lalu apa yang akan om lakukan."


" Membuat gugatan, sepertinya masih sempat untuk ke pengadilan Agama. Semuanya sudah ku persiapkan tinggal mengantarkannya saja."


TBC

__ADS_1


__ADS_2