
Bisma sampai di rumah sakit langsung dihadang oleh asistennya. Suma asisten Bisma tapi untuk bagian perkantoran nya. Dia bukanlah dokter. Suma bertugas sebagai pengendali apapun yang berbau manajemen.
" Bos?"
" Nape?"
" Gaswat bos."
Bisma memicingkan matanya mendengar setiap apa yang keluar dari mulut aspri nya itu. Bisma pun langsung berlari menuju bangsal Punokawan. Suma yang belum selesai berbicara hanya pasrah mengikuti bosnya yang sudah menjauh dari dirinya.
" Buseeng deh, dah main kabur aja."
Suma mau tidak mau menaikkan kecepatannya berlari. Beberapa orang menatap heran pada kedua orang itu. Hingga akhirnya Suma bisa berada di belakang sang bos.
Hah ... Hah ... Hah ...
Nafas keduanya beradu saat sudah berhenti di depan ruang punokawan. Bisma harus menetralkan dirinya agar terlihat lebih tenang. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
" Ada apa ini sebenarnya? Mengapa kalian menganggu ketenangan pasien."
Sebisa mungkin Bisma mengontrol emosinya. Sungguh kali ini kesabarannya hanya setipis tisu setelah benar-benar berhadapan dengan si biang kerok.
" Saya tidak mengganggu ketenangan pasien dokter Bisma. Tapi pasien ini tidak bisa dirawat di sini?"
Lagi dan lagi, masalah yang sama yang sudah jadi bahan untuk Bisma selalu menggunakan ototnya dalam bicara. Entah sampai kapan kubu orang ini akan menentang regulasi yang sudah ia putuskan.
" Apa anda sudah lupa dengan apa yang sudah saya putuskan, Dokter Braja. Bahwa pasien kurang mampu yang berada di bangsal khusus Punokawan ini adalah pasien yang akan mendapatkan pengobatan geratis dari RSMH."
" Tapi ini adalah kasus yang tidka mudha. Kasus tranplantasi merupakan sebuah kasus yang besar dan tidak sedikit dana nya."
" Lalu?"
Braja, merupakan salah satu orang yang kontra dengan adanya regulasi pengobatan geratis untuk pasien kurang mampu. Setiap ada pasien yang memiliki riwayat penyakit serius dia pasti akan berusaha mengacau. Seperti saat ini. Namun lagi-lagi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Pria itu akhirnya melenggang pergi dari bangsal punokawan tanpa bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
" Sial, brengsek. Awas kau Bisma. Akan ada waktunya kau lengser dari jabatan mu. Dan jika itu terjadi maka rumah sakit ini tidak akan ada lagi orang-orang miskin seperti mereka."
__ADS_1
Braja mengumpat kesal menuju ruangannya. Dengan diikuti oleh sekutunya ia membuka pintu ruangannya dengan kasar.
Di meja ruangannya tersebut tertulis bahwa dia adalah wakil direktur bagian pelayanan. Tentu dia masih berada di bawah Bisma. Dr. Braja Wirasena Sp. PD-KHom, yang berarti bahwa Braja merupakan dokter spesialis hematologi dan onkologi. Braja menangani masalah kesehatan yang berhubungan dengan kelainan darah, kesehatan organ limpa, dan beberapa macam kanker.
Dia juga menangani anemia, limfoma (kanker kelenjar getah bening), hemofilia (kelainan pembekuan darah), kelainan sumsum dan Leukimia. Sebenarnya Braja merupakan dokter cerdas yang berbakat namun dia kurang memiliki empati. Lahir dengan sendok emas membuat pria itu sombong.
dr. Braja Wirasena
Bisma menghela nafasnya penuh kelegaan. Ia sebenarnya cukup jengah dengan hal yang selalu sama terus menerus. Bisma menenangkan pasien dan keluarga pasien terlebih dulu sebelum ia kembali bekerja.
Kriiing
Ponsel Bisma berdering. Tertera nama Arga di sana. Bisma pun segera mengangkat panggilan dari dokter residen tahun ke empat itu.
" Ada apa Ga?"
" Ini soal pasien dengan bedah otak kemarin dok."
" Hadeeeh punya bos kok hobi banget lari-lari. Pusing ane mah."
Di depan ruangan ICU, Bisma memakai masker dan jubah khusus. Tak lupa ia menekan botol hand sanitizer agar tidka ada kuman atau bakteri yang bertransfer dari luar ke ruangan steril tersebut.
" Ada apa Ga. Bagaimana tanda vitalnya?"
" Semua bagus dok, tekanan darah mulai normal, urine yang keluar juga bagus."
" Lalu kenapa kau memanggilku?"
" Beliau sudah sadar dok."
Bisma kemudian mendekat ke arah Samsul. Dia memeriksa sejenak dan mencoba mengajak Samsul berbicara.
" Alhamdulillaah. Anda luar biasa pak. Putri Anda pasti akan senang jika mendengarnya."
__ADS_1
Bisma tersenyum dan mengusap tangan Samsul dengan lembut. Terlihat air mata Samsul menetes. Bisma pun menghapusnya.
" Semua sudah baik-baik saja pak. Anda sungguh hebat."
Samsul mengangguk pelan. Ia belum bisa berbicara saat ini. Bisma dan Arga pun keluar daru ruang ICU membiarkan Samsul kembali istirahat.
" Ga, pulanglah. Kamu sudah berjaga semalaman. Biar nanti Bayu yang gantian menjaganya."
dr. Arga
Arga mengangguk patuh. Dia memang sangat lelah saat ini. Arga pun pamit undur diri. Sedangkan Bisma tiba-tiba teringat dengan gadis putri dari pasien tersebut. Ia berjalan menuju meja informasi dan menanyakan informasi mengenai gadis tersebut.
" Oh itu dok, namanya mbak Gauri. Apa dokter ingin nomer ponselnya?"
" Ya berikan padaku. Aku akan memberitahu kondisi terkini ayahnya."
Perawat tersebut oun langsung memberikan kartu nama milik Gauri. Bisma sedikit terkejut saat membacanya.
" Laah ini bukannya perusahaannya Silvya ya. Bentar, emang LT ada berapa. Kalau benar perusahaan Silvya pastilah Silvya dan Dika kenal sama bocah ini."
Bisma mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Dika, tapi dia urung. Ia malah menyimpan nomor ponsel milik Gauri lalu melenggang ke kantornya.
Bisma membuang nafasnya kasar lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang ada di ruangannya. Pikirannya menerawang ke beberapa waktu yang lalu. Ia sendiri merasa terjebak dengan pernikahan ini. Bagaimana bisa dia dengan mudahnya menerima tawaran Kuswan utuk menikahi putrinya.
" Haish, aku sedikit lupa jika pria itu adalah seorang ambisius. Apa papa mertuaku itu sungguh tidak tahu mengenai kelakuan putrinya?"
Bisma merasa bahwa semua yang terjadi dalam pernikahannya hanya bagian dari permainan belaka. Bahkan Bisma juga tahu kalau Puspa memadu kasih di luar sana. Bisma bukanlah ornag yang bodoh. Meskipun dia punya niat bercerai dengan baik-baik, Bisma tetap harus memiliki bukti untuk menguatkannya nanti jika ada yang mencoba menjatuhkannya.
Sebagai direktur RSMH, semua mata tertuju padanya. Terlebih sang keponakan merupakan seorang dokter bedah nomor 1 di negeri ini. Ia juga masih memiliki Radi, keponakannya yang menjadi dosen terbaik. Lalu jangan lupakan Andra yang seorang traveler dan selebgram. Secara tidak langsung dia yang mash keluarga nama nya juga ikut terekspos.
Ia merasa perceraiannya nanti akan jadi sebuah senjata bagi orang-orang yang ingin menjatuhkan dirinya. Bukan hanya itu orang-orang yang menginginkan jabatannya juga akan menggunakan trik dan rumor murahan tentunya.
Maka dari itu Bisma harus melakukan persiapan sejak dini. Bahkan bukti surat perjanjian pada malam pengantin itu masih ia simpan rapi. Satu-satu nya orang yang tahu mengenai segala yang terjadi di kehidupan pernikahannya adalah Suma. Karena Suma juga yang mengatur orang untuk memata-matai Puspa.
__ADS_1
TBC