Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-58. Maaf


__ADS_3

Ciiiiit


Sukhdev memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu IGD. Dika beserta tim medisnya siap di sana. Arrayan langsung dinaikkan ke atas brankar dan dibawa masuk ke ruangan penanganan. 


" Tunggu disini!"


Satu kalimat jelas diucapkan Bisma kepada Sukhdev yang hendak ikut masuk ke ruang penanganan. Sukhdev mengangguk pasrah. Itu bukan ranahnya dia dan biarkan tim dokter yang menangani sang kakek.


Tak berselang lama Gauri bersama Shekhar dan Rada pun sampai. Mereka tampak khawatir juga. Usia Arrayan yang sudah senja membuat resiko mengalami gagal jantung sangat besar.


" Nak,bukankah ayahmu di rawat di sini juga? Bisakah aku menemuinya?"


Gauri mengangguk menyetujui permintaan Shekhar. Ia lalu membawa Shekhar menemui sang ayah. 


" Be, ini Paman Shekhar."


" Tuan Shekhar, maafkan saya."


Samsul seketika menangis, pun dengan Shekhar. Melihat Samsul yang terbaring di rumah sakit dan mengingat semua perjuangan hidup suami dari adiknya itu membuat Shekhar dilanda rasa bersalah. 


" Kau tidak harus meminta maaf Samsul. Bukan kamu yang salah. Semua karena keegoisan ayah. Maafkan kami Samsul, maafkan ayah. Minta doanya agar ayah baik-baik saja."


" Apa yang terjadi dengan Tuan Arrayan?"


Gauri menceritakan semuanya. Termasuk Arrayan yang saat ini ditangani di ruang IGD. Terlihat Samsul begitu terkejut  ia meminta Gauri membawanya menemui Arrayan.  Awalnya Gauri ragu, tapi mungkin memang ayah dan kakeknya itu harus bertemu. Dengan sedikit usaha, Gauri dan Shekhar membantu Samsul untuk duduk di kursi roda. 


Di sisi lain, berita mengenai Rakesh Sindhu yang menyalahgunakan nama Rajesh pun sampai juga ke telinga Rajesh Anand Malhotra. Pemilik asli tambang nikel itu tentu sangat murka. Ia langsung melaporkan Rajesh Sindhu ke polisi sebelum pria tua itu memiliki ide melarikan diri.

__ADS_1


Rajesh Sindhu yang masih kesal dengan pemberitaan dirinya di dunia maya terlihat begitu marah. Ia bahkan melempar semua barang-barang yang ada ada rumahnya. Ponselnya mulai mendapat banyak panggilan masuk.


" Argggh sialan. Ini pasti ulah si bocah ingusan itu. Cucu Arrayan yang baru ditemukan itu sungguh membuat kacau semua rencanaku!"


Tok tok tok


Terdengar sebuah ketukan di pintu rumah miliknya. Rajesh Sindhu berteriak kesal, ia memaki orang yang bertamu. Terlebih entah mengapa tidak ada orang di rumahnya sehingga membuatnya harus berjalan sendiri membuka pintu. Sang menantu biasanya selalu siap sedia di rumah pun tidak tampak batang hidungnya.


" Selamat sore, dengan Tuan Rajesh Sindhu. Kami dari pihak kepolisian membawa surat penangkapan kepada Anda dengan tuduhan pencemaran nama baik dan penipuan. Mohon tuan Rajesh Sindhu ikut kami ke kantor polisi dan menjelaskan semuanya di sana."


" Apa ini, berani-beraninya kalian menangkapku. Aku tidak bersalah."


Kalimat klasik yang selalu diucapkan oleh orang yang tertangkap polisi. Mungkin benar istilah 'jika maling ngaku, penjara penuh' maka dari itu banyak orang yang jelas-jelas melakukan kesalahan tetap bersikukuh mengatakan dirinya tidak bersalah.


Tentu polisi sudah sangat hafal dengan model yang begini. Tanpa banyak drama lagi, para petugas tersebut langsung membawa Rajesh Sindhu ke mobil polisi. 


Kembali ke rumah sakit, Arrayan nampak mulai normal kembali. Meskipun begitu banyak alat yang menempel pada tubuhnya. Bisma keluar dari ruang IGD bersama dengan Dika dan menjelaskan mengenai keadaan Arrayan saat ini.


" Apakah kami bisa menemuinya dokter?"


" Silahkan."


Semua orang masuk untuk bertemu Arrayan. Pun dengan Samsul. Ada rasa tercubit di hati Samsul melihat ayah dari istrinya itu terbaring lemah dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya.


Samsul merasa bersalah. Jika dia sedikit berani untuk datang dan memberitahukan apa yang terjadi kepada Laksmi, mungkin Arrayan akan bisa bertemu putrinya sebelum Laksmi meninggal.


" Maafkan saya tuan."

__ADS_1


Satu kalimat lolos dari mulut Samsul. Arrayan seketika menoleh untuk melihat pria yang begitu dicintai oleh putrinya itu. Ingatan Arrayan melambung ke puluhan tahun silam. Laksmi yang tiba-tiba mengatakan bahwa dia menyukai seorang pria sederhana tapi memiliki hati yang begitu baik seketika ditolak mentah-mentah olehnya tanpa pernah mau melihat wajah Samsul. Saat itu padahal Samsul juga ikut dan hendak bertemu. Tapi mendengar penolakan Arrayan membuat Samsul ciut dan memilih pergi.


Arrayan bersikukuh menolak Samsul. Dia bahkan malah menyiapkan pernikahan Laksmi dengan anak dari temannya. Tapi Laksmi menolak, di hari pernikahannya atas bantuan Shekhar Laksmi kabur dari rumah dan menemui Samsul. Laksmi meminta Samsul untuk menikahi dirinya, awalnya Samsul menolak karena restu orang tua adalah hal penting. Namun Laksmi menangis saat itu, dia benar-benar tidak bisa melupakan Samsul, sebenarnya Samsul pun begitu. Dan pada akhirnya Samsul menikahi Laksmi.


Laksmi kembali ke rumahnya saat hamil besar, mengatakan bahwa Arrayan akan memiliki cucu. Namun jawaban Arrayan membuat Laksmi memutuskan untuk tidak lagi kembali ke rumah apapun keadaanya.


" Saat kau keluar dari rumah ini dan memilih pria itu dari pada keluargamu, maka saat itu pula kau bukanlah siapa-siapa di rumah ini termasuk keturunanmu."


Air mata Arrayan luruh mengingat semua perkataan kepada sang putri. Jika waktu itu dia sedikit menurunkan egonya, pasti dia masih bisa melihat putri yang sebenarnya sangat ia sayangi itu.


Mata Arrayan beralih melihat Gauri. Wajah cucunya yang begitu mirip dengan putrinya membuat Arrayan semakin merasa bersalah. Ia baru menyadari sebuah hal, bahwa banyak sekali kesalahan yang dia perbuat di masa hidupnya.


" Maafkan aku Samsul."


" Tidak tuan, aku yang salah. Seharusnya aku bisa membujuk Laksmi untuk pulang kepada Anda."


" Aku yang egois, aku tidak pernah memikirkan kebahagiaan putra-putri ku. Maafkan ayah Shekhar, Rada. Maafkan Kakek Dev, Gauri. Apa yang kau katakan benar Gauri, bahwa apa yang kita miliki tidak akan pernah dibawa mati. Setidaknya aku menyadari hal itu sebelum ajalku tiba."


Tes


Air mata semua orang disana luruh tanpa terkecuali. Arrayan pria tua yang sombong dan angkuh itu kini terbaring tidak berdaya. Tapi sebuah hal baik rupanya terjadi, pria itu menyadari akan semua kesalahannya. 


Kebohongan yang dilakukan  sang teman membuka mata hatinya. Bahwa keluarga lah yang tulus lebih dari apapun dan kebahagiaan seseorang tidak bisa diukur dari segi materi.


Arrayna melihat Samsul dan Gauri. Menantu dan cucunya itu mungkin hidup dalam sebuah kekurangan. Namun Samsul berhasil mendidik Gauri dengan baik. Cucu nya itu tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan mandiri. 


TBC

__ADS_1


__ADS_2