Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-29. Mengapa Familiar?


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya kemarin, Gauri berangkat ke perusahaan LT bersama Sani dan Beno. Menggunakan Si Item, ketiganya berangkat lebih pagi agar tidak terjebak kemacetan.


" Akhirnye lo dipake juga ya Tem," seloroh Beno sambil menepuk setir kemudi.


Gauri meminta Beno yang membawa mobil. Dia jika tidak kepepet sungguh malas mengemudikan mobilnya sendiri. Gauri lebih memilih memakai Si Ijo, motor bebek andalannya.


" Ben, ntar lo bawa aja ya Si Item. Habis dari kantor aye langsung ke rumah sakit."


" Elaah Ri, ape kate orang-orang nanti lihat OB bawa fortunerr. Ntar gue pada di gibahin."


Gauri sesaat memikirkan jawaban dari Beno. Ia kemudian melirik ke arah Sani, sahabatnya itu mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Beno. Mereka baru saja bekerja di LT, mereka tidak mau menjadi bahan gunjingan orang-orang di perusahaan.


" Huft, baiklah. Kalau gitu ntar kabarin aye ye. Kalian pada pulang jam berapa."


" Kagak usah Ri. Kalau kagak ada acara penting, kite pan pulangnya jam 4. Kite bisa naik busway."


Jawaban Sani membuat Gauri sedikit menyesal. Tahu begitu dia tidak akan mengajak kedua temannya untuk naik Si Item. Dia pasti akan memilih mengendarai motor agar semuanya tidak ribet begitu. Tapi mereka sudah dapat separo jalan. Tidak mungkin mereka kembali dan berganti kendaraan. Yang ada mereka bisa terlambat masuk ke perusahaan.


Gauri dan kedua temannya akhirnya sampai di perusahaan. Beno dan Sani langsung  menuju pos nya sedangkan Gauri langsung menuju ke lantai paling atas. Dimana lantai CEO berada. Rika dan Dery terlihat sangat sibuk mempersiapkan rapat. Gauri yang merasa iba melihat dua anak ayam itu kerepotan pun menawarkan diri untuk membantu.


Senyuman lebar terbit di bibir keduanya. Bagai mendapat sebuah oase di gersangnya gurun pasir, wajah kelegaan itu jelas terlihat dari keduanya.


" Thanks God, terimakasih Unnie," ucap Rika sambil memeluk Gauri. Pun dengan Dery. Silvya dan Ian yang melihat ketiga sekretarisnya itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Mereka memang seabsurd itu jika berkumpul. Tapi Silvya sedikit heran, mengapa Gauri datang ke perusahaan. Seharusnya hari ini dia kan berkumpul di geng sosialitanya Puspa.


Silvya lalu menarik Gauri dari Rika dan Derry kemudian membawa ke ruangannya. Ian pun mengekor ingin tahu apa yang bos dan sekretaris itu bicarakan.


" Kok kesini, bukannya harus ke tempat Puspa."


" Iya bu. Kan acaranya masih nanti habis ashar. Sekarang saya kemari untuk ketemu tuan Sukhdev. Bagaimanapun saya harus meminta izin langsung kepada beliau."

__ADS_1


Silvya mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Gadis yang di depannya itu benar-benar tidak mudah dihadapi. Jika orang lain akan senang-senang saja diberi status yang tinggi tanpa harus pusing-pusing dari mana asalnya. Tapi Gauri berbeda. Dia tidak mau melakukan itu. Dia benar-benar merasa tidak nyaman dengan nama samaran yang dibuat oleh Silvya.


"Oke kalau begitu. Jika aku tidak salah Tuan Sukhdev sudah datang. Kau bisa menemuinya dulu sebelum rapat dimulai."


" Terimakasih bu."


Gauri reflek memeluk Silvya. Ia sungguh bersyukur memiliki atasan yang begitu baik. Di balik dia yang tidak memiliki saudara, Silvya hadir sebagai atasan dan bisa dibilang saudara yang luar biasa baiknya.


Tok tok tok


" Selamat pagi Tuan Sukhdev, bisa meminta waktu Anda sebentar."


" Oh Silvya. Bisa, ada apa hmm?"


Silvya kemudian memanggil Gauri untuk masuk ke ruangan yang ada Sukhdev disana. Saat Gauri masuk Sukhdev langsung terpaku dengan wajah gadis itu. Bahkan Sukhdev tidak berkedip saat melihat Gauri.


Kenapa aku sangat familiar dengan wajah gadis ini?


" Tidak apa-apa. Silvya sudah mengatakan hal tersebut padaku. Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi dengan ayahmu. Semoga kejahatan wanita itu bisa segera terbongkar. Jika kamu membutuhkan bantuan lain kamu bisa menghubungiku langsung."


Tina, sekretaris sekaligus aspri Sukhdev sedikit terkejut melihat apa yang dilakukan sang bos. Selama ini Sukhdev tidak pernah memberikan nomor ponsel pribadinya kepada siapapun orang yang baru dikenalnya. Bahkan dengan Silvya saja Sukhdev baru bertukar nomor ponsel setelah 1 tahun melakukan kerja sama.


Nomor ponsel pribadi Sukhdev yang memiliki hanya keluarga dan ketiga teman segengnya dna tentu saja Tina. Tina pun heran dengan interaksi antara Sukhdev dengan Gauri. Mereka terlihat seperti sudah lama saling mengenal.


" Baiklah Tuan Sukhdev saya sungguh berterima kasih untuk bantuan Anda yang mungkin saya tidak akan bisa membalasnya."


" Tck, jangan sungkan. Oh iya panggil saja aku Bhai. Bhai itu sebutan kakak di india."


" Baik tuan, eh Bhai Sukhdev."

__ADS_1


Gauri akhirnya pamit undur diri. Entah mengapa baik Gauri maupun Sukhdev merasa begitu dekat satu sama lain. Mereka seperti sudah kenal lama. Sukhdev pun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di seberang sana.


" Tuan Drake, saya mau Anda membantu saya untuk menyelidiki seseorang. Namanya Gauri Jayasree, dia adalah sekretaris dari Silvya di LT."


" Baik Tuan."


Drake tentu sedikit heran mendapat permintaan dari kliennya tersebut. Untuk apa Sukhdev meminta dia untuk mencari informasi mengenai sekretaris Silvya.


" Apa aku perlu melaporkan ini kepada Silvya?"


🍀🍀🍀


Di rumah sakit Braja benar-benar kesal saat Dika terlihat mengontrol semua kerjaan para dokter. Di mata Braja, Dika seolah-olah sedang menunjukkan siapa dia sebenarnya di sini.


" Sialan, bocah tengik itu benar-benar menggangguku."


Braja yang kesal akhirnya memilih masuk ke ruangannya. Dia yang tadinya mau visit ke kamar pasiennya memilih menyerahkan tugas itu kepada dokter residen yang berada di bawah bimbingannya. Sang resident hanya bisa menghela nafasnya. Dia merasa iri kepada Arga dan Bayu yang  mendapatkan mentor yang baik.


" Kenapa kau kembali lagi?"


Rupanya Braja tidak jadi kembali ke ruangannya. Ia memilih masuk ke ruangan Kuswan. Rasanya ia butuh untuk mengatur strategi agar bisa membuat Dika juga keluar dari rumah sakit ini. 


" Aku malas melihat Dika om. Dia benar-benar membuatku enggan melakukan apapun. Om, sepertinya kita harus melakukan sesuatu juga kepada anak itu. Dia juga penghalang besar bagi om bukan."


Kuswan terdiam, ia sedikit berpikir mengenai apa yang dikatakan keponakannya itu. Tapi dia harus berpikir dua kali juga jika mau membuat perhitungan dengan Dika. Dika yang memiliki popularitas tinggi di kalangan masyarakat membuat Kuswan tidak boleh gegabah.


Salah-salah bukannya Dika yang berhasil ia kerjai tapi dirinya lah yang akan jadi bulan-bulanan khalayak ramai. Predikat Dika sebagai dokter bedah terbaik tentu tidak bisa sembarangan menyentuhnya.


" Kita akan melakukan apa dengan anak itu. Tapi apapun itu tangan kita harus bersih. Jika tidak maka kita yang akan hancur."

__ADS_1


TBC


__ADS_2