
Gauri sungguh senang melihat sang ayah yang sudah sadar. Meskipun belum boleh banyak bicara namun Samsul menunjukkan kemajuan yang sangat baik.
" Be, ini untuk terakhir kali ye babe ngojek. Nggak lagi-lagi pokoknye."
Samsul mengangguk pelan. Ia tahu bahwa dirinya tidak mungkin akan bisa lagi melakukan aktivitas tersebut. Jangankan ngojek, mungkin untuk melatih anak-anak belajar silat khas betawi pun dia sudah tidak bisa. Air mata Samsul merembes. Ia sungguh merasa sangat merepotkan anak gadisnya itu. Ia merasa menjadi ayah yang gagal untuk putrinya.
" Maafin babe."
Dengan gerakan bibir, Samsul mengucapkan hal tersebut. Gauri yang paham langsung menggenggam tangan Samsul. Gauri menggeleng pelan, ia tidak ingin Samsul merasa menjadi orang yang buruk.
Bisma yang baru saja masuk ke ruangan rawat milik Samsul tersenyum dangan haru. Bisma yang sudah lama ditinggal oleh kedua orang tuanya tentu sedikit iri menyaksikan kedekatan Gauri dan Samsul. Sedangkan papa dan mama mertuanya tidak ia rasakan dekat di hati. Mungkin karena Bisma tahu bahwa Kuswan tidak tulus menjadikannya menantu.
" Lho mau kemana?"
" Mau ke mushola, sudah waktunya zuhur dok."
Bisma melihat arlojinya, dan benar kata gadis itu bahkan sekarang sudah jam 1 siang. Bisma pun mengekor membuat Gauri sedikit salah tingkah. Kapan lagi di belakangnya ada makhluk ganteng yang level kegantengannya berada di atas rata-rata.
Buseet, kok aye deg-deg an ya. Aye barasa lagi dikejer-kejer sama aktor ganteng macam cerita di ftv-ftv itu.
Gauri bergumam sendiri sambil tersenyum geli membayangkan adegan dalam film televisi tersebut.
Bisma yang berjalan di belakang Gauri hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingakah gadis di depannya. Dari belakang Bisma melihat Gauri berkali kali memukul kepalanya sendiri, lalu menepuk pipinya dan sesekali menggelengkan kepala. Entah apa yang gadis itu pikirkan.
Baik Bisma maupun Gauri sama-sama mengambil air wudhu. Kebetulan di mushola tesebut tidak aad orng, mungkin tepatnya merka sudah melaksanakan kewjiban 4 rakaat itu dari tadi.
" Dok, boleh berjamaah nggak?"
" Eh, sendiri aja."
" Dok, pahalanya lebih banyak kalau berjamaah lho."
Bisma sesaat terdiam. Selama ini dia tidak pernah jadi imam untuk makmum perempuan selain sang kakak, Sekar. Ia sejenak berpikir hingga suara Gauri membuatnya mengangkat wajahnya untuk menatap wajah gauri yang berbalut mukena.
__ADS_1
" Cantik."
" Dok, elah malah ngalamun. Ayo buru, keburu wakunya semakin abis."
Bisma mengangguk, ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali menghadap ke kiblat. Takbiratul ikram pun ia ucapkan sebagai tanda sholat empat rakaat itu dimulai.
Setelah salam diucapkan sebagai berakhirnya sholat, keduanya larut dalam doa masing-masing. Gauri dengan doanya untuk sang ayah dan Bisma dengan doanya untuk kehidupan rumah tangganya.
Bisma melihat kebelakang, ia kembali menatap wajah ayu milik gauri. Ada sesuatu yang mengusik hatinya.
" Andai pernikahanku adalah pernikahan yang normal. Mungkin aku setiap saat bisa mengajak istriku untuk melaksanakan kewajiban ini dengan suka cinta. Bersama-sama menggapai ridho Yang Maha kuasa. Sayangnya pernikahanku hanyalah status belaka, Rabb berikan hamba mu ini jalan yang tepat."
Bisma mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia kembali mengenakan jas dokternya dan berjalan keluar.
" Apa kamu hanya sendiri. Maksudku kamu hanya hidup berdua dengan ayah mu?"
" Iya, saya cuma punya babe."
" Hei bocah, apakah kau sudah makan?"
" Dok, elah saya ini bukan wanita umur belasan saya sudah 24 tahun."
" Yassalam, kau sungguh bocah. Kau 10 tahun berada di bawahku. Saat aku kuliah kau bahkan masih SD."
Gauri hanya mendengus kesal. Baru kali ini ada yang menyebutnya bocah. Jika diluaran sana para pria berusaha menarik perhatiannya, ini dihadapan dokter tampan dia malah hanya dianggap seorang bocah saja.
" Terserah kata dokter lah."
" Ayoo makan dulu, ntar kamu sakit saya yang repot."
" laaah apa hubungannya sama dokter, please deh dokter aneh."
Gauri tidak habis pikir dengan ulah konyol dokter tampan tersebut. Pandangan pertama Gauri terhadapa dokter Bisma adalah seorang pria yang dingin, keren, berwibawa. Tapi setelah berbicara banyak pria itu sangat jauh dari perkiraan Gauri. Dokter Bisma ini menurut Gauri adalah dokter yang rendah hati dan suka bercanda. Disela-sela makan mereka, Bisma menjelaskan mengenai kondisi Samsul. Dan cara penyampaian Bisma sungguh membuat gauri senang. Ia tidak merasa takut sedikitpun, malah dia sangat optimis Samsul akan sembuh lebih cepat.
__ADS_1
" Jadi menurutku carilah seorang perawat untuk merawat ayah mu saat kau tinggal bekerja. Kamu tidak mungkin kah akan cuti sampai ayahmu sembuh."
" Ya dokter saya akan mencoba mencari perawat untuk Babe. Tapi mungkin nanti setelah saya memutuskanuntuk kembali bekerja. Beruntung perusahaan memberikan saya jatah cuti sekitar sebulanan."
Bisma mengangguk, ia merasa senang bahwa Silvya peduli terhadap karyawannya yang tengah mengalami kemalangan.
" Apa kau benar-benar tidak punya saudara lain?"
" Entah dok, saya tidak pernah tahu dimana keluarga ibu saya berada. yang saya tahu saya adalah putri dari seorang Samsul Anwar dan Laksmi Bavana."
Bisma melihat Gauri dengan tatapan menyelidik. Jika dilihat-lihat gauri ini memang tidak sepenuhnya asli pribumi. Terlebih namanya juga ada unsur-unsur nama negara tetangga.
" Jangan ngelihatin saya begitu dok, nanti jatuh cinta lho malah repot."
Bisma seketika mengalihkan pandangannya kearah yang berbeda Membuat Gauri terkekeh geli. Sungguh ia hanya bercanda tapi tampaknya ucap-an guyonannya itu membuat Bisma salah tingkah.
" Ekhem, dilihat dari namamu, apakah kamu~"
" Ya, 100 buat dokter. Saya masih ada keturunan negri prindapan. Ibu saya berasal dari India."
Bisma kembali mengangguk, wajah cantik khas orang india itu memang dimiliki oleh Gauri. Bahkan Bisma merasa Gauri bukan seperti keturunan orang biasa. Ah entahlah, mengapa juga ia harus repot memikirkan hal itu. Bisma bergumam sendiri. Ia merasa aneh dengan keingintahuan dirinya terhadap asal-usul gadis itu.
" Kamu sungguh unik Gauri."
" heee, unik? dokter pikir saya ini kerajinan tangan. Ada-ada bae dokter Bisma."
Bisma beranjak berdiri dan mengacak rambut Gauri. Deg, seketika jantung Gauri berdegup kencang. Tangan besar Bisma yang menyentuh kepalanya membuat ia merasa medapatlkan aliran tegangan listrik.
" Dok, jangan sok bersikap manis deh, ntar aku bisa diabetes. lagian ngapain sih pake ngacak-acak rambut aku. Kan jadi baper. Awas aja kalau aku kesemem bisa repot ini urusannya."
Gauri membatin, ia yang kemudian berjalan menuju ruangan sang babe hanya mengulum senyumnya. Entah mengapa ia merasa nyaman berbicara dengan Bisma. Sebelumnya ia sama sekali tidak pernah bercerita mengenai keluarganya kepada siapapun kecuali orang terdekatnya, dan kali ini ia bisa bercerita degan Bisma padahal baru kenal beberapa hari. Itupun mereka bertemu di sebuah keadan genting.
TBC
__ADS_1