
Hari ini Gauri mengunjungi butik milik Puspa. Bukan hanya Gauri tapi semua geng sosialita ada di sana. Saat Gauri masuk semua terlihat mengakrabkan diri. Semua menyapa Gauri, basa basi. Ya tentu Gauri tahu bahwa semuanya itu karena statusnya yang seorang adik Sukhdev. Tanpa mereka tahu semua hanya kepura-puraan.
Huuuh, entah apa yang terjadi jika mereka tahu aye bohong. Tapi aye kagak boleh mundur sekarang. Aye udah kadung nyemplung, jadi biar basah sekalian. Jangan tanggung-tanggung.
" Oh iya, dimana puspa ya?"
" Dia sedang memperlihatkan koleksi tas keluaran terbaru dari brand Harpes dan Chunel."
" Oh oke, aku mau lihat juga ya."
Gauri meninggalkan kerumunan itu dan berjalan menuju tempat dimana Puspa berada. Tapi sesampainya di tempat yang ditunjukkan oleh seorang teman tadi, wanita itu tidak ada di sana. Gauri kemudian kembali berjalan dan mencoba mencari keberadaan Puspa. Firasatnya mengatakan bahwa ia akan menemukan sesuatu.
Gauri terus berjalan hingga ia menemukan sebuah ruangan yang mungkin menyerupai sebuah kantor. Tanpa ragu ia pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan mencoba mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai bukti kejahatan Puspa.
Gauri membuka laci meja dan membuka beberapa berkas di sana tapi ia tidak menemukan apapun. Hingga matanya menemukan bukti pembelian mobil baru. Gauri membacanya dengan seksama. Mobil itu dibeli bertepatan dengan tanggal dimana babenya kecelakaan. Gauri lalu mengeluarkan ponselnya dan segera memfoto bukti-bukti itu.
Tak tak tak
Suara sepatu beradu dengan lantai terdengar oleh Gauri. Ia tahu ada orang yang mendekat ke ruangan itu. Gauri sedikit panik. Ia pun bersembunyi di bawah meja tak lupa ia mematikan ponselnya. Ia tentu tidak ingin kejadian-kejadian di sinetron terjadi padanya. Saat si pemeran utama bersembunyi, tiba-tiba suara ponsel membuatnya ketahuan. Sungguh adegan yang mainstream.
" Kenapa kau kesini Jiwa. Nanti kalau ada yang tahu gimana."
" Tck, aku merindukanmu sayang. Tenang tidak akan ada yang tahu. Aku kemari kan mau membahas mengenai resto ku yang akan kau gunakan sebagai tempat penggalangan dana."
" Haish kau selalu pandai mencari alasan."
Gauri menajamkan telinganya mencoba mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut orang yang baru saja masuk ke ruangan itu. Jika Gauri tidak salah dengar, pria yang ada di sana bernama Jiwa. Dan apa tadi, resto? Berarti Puspa ini mungkin orang yang dibicarakan Beno dan Sani sebagai kekasih bos resto yang sering bermain di ruang kantornya.
Seketika tubuh Gauri panas saat mendengar suara-suara desahaan dan erangaan kedua orang itu. Ia yang masih perawan ting-ting bukannya bodoh dan tidak tahu apa yang saat ini terjadi di situ.
" Kau selalu membuatku puas sayang."
" Begitu pula denganmu Puspa. Apa kau tidak pernah penasaran dengan pria itu. Bisma, bukankah wajahnya tampan?"
__ADS_1
" Bisma, hahaha. Suami di atas kertasku yang bodoh itu? Haish, melirik pun aku enggan."
Gauri membungkam mulutnya sendiri dengan tangan. Jantungnya berdegup kencang saat mengetahui siapa Puspa.
" Jadi Dokter Bisma adalah suami Puspa. Dan kelakuan istrinya di belakang seperti ini? Ya Allaah, apa salah tuh makhluk ganteng hingga diselingkuh di belakangnya. Haish. Nggak bersyukur banget sih. Lakinya gantengnya level maksimal kok ya diselingkuhi. Sakit nih perempuan."
Gauri merutuki Puspa dan pria yang bernama Jiwa itu. Gauri benar-benar tidak habis pikir. Ia pun berniat ingin menghubungi Bisma secepatnya. Tapi keadaanya yang kepepet di bawah meja membuatnya harus menunda.
" Kampret, lo berdua mau sampai berapa ronde sih mainnya. Sialan bener deh ah. Apes banget nih aye mergokin orang lagi begituan."
🍀🍀🍀
Akhirnya Gauri bisa keluar dari panasnya semburan neraka dunia itu. Saat kedua orang yang sedang di mabuk cinta masuk ke kamar mandi bersama, Gauri secepat kilat langsung keluar dari ruangan itu. Keringat membasahi wajahnya. Ia pun pamit undur diri dengan alasan tidak enak badan.
Sungguh Gauri tidak bisa di tempat itu lebih lama lagi. Dalam mobil, Gauri meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Mari bertemu, ada yang ingin saya sampaikan."
" Baiklah, saya juga ingin menyampaikan sesuatu kepadamu."
Gauri pun melajukan mobilnya menuju ke taman tempat mereka membuat janji. Taman tersebut tidak jauh dari tempat Gauri berada saat ini sehingga ia bisa sampai lebih cepat.
Gauri yang hendak turun dari mobil ketika sudah sampai, terlebih dahulu menghapus semua make up yang menempel di wajahnya. Entah, ia tidak ingin Bisma melihatnya dalam kondisi wajah yang penuh make up.
Tampak di taman, Bisma sudah menunggu Gauri duduk disebuah bangku. Pria itu melambaikan tangannya kepada Gauri agar Gauri bisa melihatnya. Padahal tanpa melakukan hal tersebut Gauri sudah bisa melihatnya. Bagaimana tidak, wajah tampan itu terlalu menonjol diantara yang lainnya.
" Buseet dah, napa jadi kelihatan tambah ganteng bener sih," gumam Gauri pelan sambil berjalan mendekat ke arah Bisma.
Sesampainya disana Gauri langsung duduk di samping Bisma. Keduanya saling pandang untuk sesaat. Pandangan mata mereka menyiratkan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.
" Ada yang saya ingin katakan pada dokter."
" Ada yang saya ingin katakan padamu bocah."
__ADS_1
Keduanya mengatakan kalimat itu bebarengan hingga baik Gauri dan Bisma tertawa. Sepertinya mereka sama-sama tidak sabar ingin menyampaikan hal yang mereka ketahui.
" Ladies first."
" Dok, saya tidak tahu ini akan menyakiti dokter atau tidak. Tapi entah mengapa saya harus menyampaikannya. Saya tadi melihat istri dokter berselingkuh dengan pria lain. Pria itu adalah pemilik sebuah restoran. Maafkan kalau saya lancang, sungguh saya tidak ada niat untuk campuri urusan pribadi dokter."
Krik
Krik
Krik
Bisma hanya diam, tidak menampilkan ekspresi apapun terhadap apa yang dikatakan Gauri. Tentu gadis itu bingung, mengapa Bisma sepertinya tidak terkejut sama sekali.
" Aku sudah tahu."
" Apa??"
Kini malah Gauri yang terkejut dengan jawaban Bisma. Bisma yang mengatakan hal tersebut tanpa ekspresi apapun membuat Gauri bingung.
" Aku tentu tahu apa yang diperbuat olehnya. Pernikahanku dengan dia tidak seperti pernikahan kebanyakan orang. Kami menikah hanya diatas kertas. Tidak ada cinta diantara kami. Bahkan kami berencana berpisah saat usia pernikahan kami sudah mencapai angka 1 tahun."
Gauri menutup mulutnya sendiri mendengar semua penjelasan Bisma. Sedangkan Bisma sendiri merasa lega saat menyampaikan itu kepada Gauri. Padahal sebelumnya ia memilih menyimpan rapat-rapat agar tidak ada seorangpun yang tahu.
" Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak tentang hal itu. Oh iya ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Mungkin ini bisa membantumu."
Bisma menyerahkan flashdisk dan dashcam milik Puspa. Ia juga mengirimkan foto-foto mobil Puspa yang sudah diambilnya tadi kepada Gauri.
Gauri melihat foto itu secara seksama, gadis itu mengepalkan tangannya dengan sangat erat hingga buku-bukunya memutih. Tidak perlu Bisma katakan, Gauri sudah tahu bahwa dashcam dan flashdisk itu pasti rekaman saat kejadian tabrak lari itu berlangsung.
Entah mendapat keberanian dari mana, Bisma menggenggam tangan Gauri. Ia lalu menepuknya pelan, mencoba mengurai kemarahan dalam hati gadis itu.
" Gunakan itu untuk menyeretnya ke dalam penjara."
__ADS_1
TBC