Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-32. Pelan-Pelan Saja


__ADS_3

Ucapan Gauri mengenai nama ibunya membuat Sukhdev seperti kehilangan akal. Laksmi Bhavana adalah nama bibi nya. Hanya kurang nama keluarga Singh saja sudah bisa dipastikan ibu Gauri dan bibi nya adalah orang yang sama. Tidak mungkin ada orang yang memiliki nama begitu persis, terlebih ini Indonesia dan bukannya India. Sangat jarang orang menggunakan nama India jika dia bukan berasal dari India.


Praduganya semakin kuat saat Gauri menujukan foto sang ibu. Rasanya Sukhdev ingin menangis saat itu juga, namun ia sebisa mungkin menahannya. Pantas saja ia merasa begitu dekat dengan Gauri meskipun baru pertama kali bertemu. Ia juga baru menyadari Gauri begitu mirip dengan sang bibi saat bibi nya masih muda dulu.


Tapi Sukhdev tidak mau gegabah. Ia harus mendekati Gauri pelan-pelan. Gadis itu akan terkejut jika Sukhdev dengan frontal memberitahukan siapa ibu nya sebenarnya dan apa hubungan mereka.


Perasaan sedih dan sakit Sukhdev rasakan saat mengetahui bahwa Laksmi, sang bibi telah tiada. Ia juga merasa begitu prihatin kepada adik sepupunya itu karena hanya hidup berdua dengan sang ayah dengan banyak keterbatasan. Jika dibanding dengan kehidupannya maka sangatlah jauh tentunya. 


Sukhdev tidak jadi pulang ke rumah. Ia meminta supir yang menjemputnya mengantar ke rumah sakit. Ia ingin melihat kondisi Samsul, ayah Gauri. 


Pria tinggi dengan ketampanan khas negri bollywood itu berjalan perlahan saat memasuki ruang rawat Samsul. Setelah menanyakan kepada bagian resepsionis dan mengaku sebagai saudara, Sukhdev pun diizinkan masuk ke ruangan pasien.


Air mata Sukhdev kembali luruh saat melihat kondisi Samsul yang menurutnya buruk. Meskipun keadaan Samsul berangsur baik tapi Sukhdev merasa ini sangat menyakitkan. Pria itu kembali mengingat apa yang dikatakan Gauri dan Silvya mengenai kasus tabrak lari tersebut. Ia sungguh geram, rasanya ingin sekali ia segera menjebloskan wanita itu ke dalam penjara.


" Selamat malam, lho Tuan Sukhdev. Mengapa Anda di sini."


" Waah kita memang berjodoh ya. Dokter Bisma senang berjumpa dengan Anda. Aaah ini, saya mengunjungi ayah Dari kolega saya."


" Anda mengenal Gauri?"


Kedua pria tampan dengan ke khas an nya masing-masing keluar dari ruang rawat Samsul dan melanjutkan pembicaraan mereka di kantin. Sukhdev menceritakan mengenai Gauri yang merupakan rekan kerjanya karena sekretaris Silvya. Sukhdev tentu tidak bercerita mengenai Gauri yang sedang mencari bukti tabrak lari sang ayah.


" Oh iya Tuan Sukhdev, bagaimana kabar keluarga si ibu itu. Saya sungguh sangat menyesal karena tidak tahu bahwa ibu itu meninggal."


" Oh ya waktu di kota P, saya membawa anak ibu itu ke kota ini dok. Kasihan dia sebatang kara. Apa lagi keluarganya sama sekali tidak ada yang baik padanya."


Kedua orang itu saling bercerita satu sama lain sehingga Sukhdev pamit pulang. Tapi sebelum pamit Sukhdev berpesan kepada Bisma untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk Samsul. Bisma pun meng iya kan permintaan tersebut walaupun dia sedikit heran.

__ADS_1


Bisma pun kembali melenggang menuju ruangan Samsul. Tampak seorang perawat yang tengah memeriksa Samsul. Bisma membuang nafasnya dengan perlahan. Kepulangannya dari kota P langsung ke rumah sakit berharap bisa bertemu dengan Gauri tapi rupanya gadis itu tidak ada di sana.


" Apa keluarga pasien yang memintamu merawat Babe Samsul?"


" Nyonya Silvya yang meminta saya dokter."


Bisma baru ingat, Silvya adalah atasannya Gauri. Mungkin Silvya meringankan sedikit beban Gauri dengan cara membantu Gauri mencari orang untuk merawat ayahnya.


Bisma lalu memutuskan pulang. Tapi dia sungguh enggan kembali ke rumah. Bertemu Puspa membuat suasana hatinya akan semakin buruk. Akhirnya Bisma memilih pulang ke rumah sang kakak. Namun di depan rumah sakit langkahnya dihadang oleh orang yang sungguh tidak ingin ditemui.


" Wohoo Pak DiRut, mau apa Anda kemari. Bukankah Anda masih di skors. Tampaknya Anda sudah tidak betah ya jika tidak datang ke rumah sakit ini."


Bisma mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan . Ia mengatur emosinya agar tidak berbuat kasar kepada orang yang berada di depannya saat ini.


" Tuan Braja yang terhormat, suka-suka saya mau kesini kapan saja. Apa Anda melupakan fakta bahwa saya adalah pemilik rumah sakit ini. Saya punya hak penuh terhadap Rumah Sakit Mitra Harapan ini, dan tentunya fakta itu tidak dapat diubah oleh siapapun termasuk Anda."


Tanpa kata permisi Bisma melewati Braja yang terlihat sangat marah. Ia menyunggingkan senyuman sinis terhadap orang yang jelas menjadikannya rival itu. Sedangkan Braja, tangan pria itu mengepal sempurna hingga buku-buku jarinya memutih. 


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam. Kamu kemana aja sih Bisma, dari kemarin nggak bisa dihubungi."


" Healing."


Bisma berjalan melewati Sekar menuju ke dapur. Pria itu membuka tudung saji lalu mengambil piring dan mulai menyendok nasi dari penanak nasi. Ia juga mengambil beberapa lauk dan sayur lalu memakannya dengan begitu hikmat. 


Sekar yang akan mulai mengomel mendapat kode gelengan kepala dari Aryo. Wanita paruh baya itu akhirnya memilih pergi dari dapur dan duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


" Biarkan dia makan dulu bund."


" Huh, aku beneran pusing dengan Bisma. Dia itu lho, kok ya kelihatane santai aja gitu sama permasalahan yang dihadapi."


" Kata kamu dia bukan bocah lagi, so biarkan dia melakukan yang dia mau. Trust him."


Sekar kembali melirik ke arah sang adik yang sibuk makan. Sebenarnya sekar tahu jika Bisma pasti juga sedang tidak baik-baik saja. Sekar juga yakin Bisma pasti tengah memikirkan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.


" Baiklah mas, mari kita tinggalkan dia. Dia sepertinya sedang butuh waktu sendiri."


" Ayo."


Aryo dan Sekar membiarkan adik mereka itu menikmati kesendiriannya. Mereka memilih masuk ke kamar. 


Bisma yang sudah selesai makan masih enggan masuk ke kamar. Dia memilih menuju ruang keluarga. Pria itu mengambil remote televisi lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Klik


Bisma menyalakan layar kaca itu. Ternyata saat itu stasiun televisi yang ia lihat sedang memutar film layar lebar. Film yang dimainkan oleh Bruce Willis dan sudah memiliki 4 season itu membuat Bisma melihat dengan antusias. Saat ini yang diputar adalah season ke 3. Meskipun sudah beberapa kali ditonton tapi tetap tidak bosan.


Tapi fokus Bisma berubah ke ponsel saat ia melihat sebuah pesan yang masuk. Bisma kemudian tersenyum saat membaca pesan tersebut. Senyumnya mengembang sempurna. Ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aneh, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya sendiri.


" Haish, kenapa jadi senyum-senyum sendiri sih. Baiklah, besok aku akan menemuinya."


Bisma kembali melihat layar kaca itu, tapi rupanya dia sudah tidak bisa berkonsentrasi dengan film yang ia tonton. Pikirannya melayang entah kemana. Tapi yang jelas, ia tidak sabar untuk hari esok.


TBC

__ADS_1


__ADS_2