Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-50. PR Lagi


__ADS_3

Suasana rumah sakit menjadi kondusif setelah diadakan seleksi ulang kelayakan dokter. Antek-antek Braja dan Kuswan pun semua dimutasi ke cabang RSMH yang ada di pinggiran-pinggiran kota.


Dika tersenyum lebar begitu pula dengan Bisma tentunya. Rumah sakit menjadi lebih terkontrol, terorganisir, dan tentunya semua dokter bekerja sesuai dengan fungsinya. Tidak ada yang tiba-tiba izin, atau mengalihkan tanggung jawab ke dokter lain jika ada operasi dadakan.


Para dokter residen pun mendapat hak belajarnya. Mereka semua sungguh senang. Benar-benar tidak adanya Kuswan dan Braja merupakan angin segar bagi semua orang. Program pasien tidak mampu pun bisa kembali berjalan tanpa hambatan. 


Pun dengan Gauri, gadis itu kembali ke aktivitasnya menjadi sekretaris andalan dari Linford Transportation. Akan tetapi sepertinya ketenangan Gauri tidak berjalan lancar saat dia mendapatkan sebuah laporan dari kedua sahabatnya Beno dan Sani.


Beno dan Sani mendatangi lantai dimana Gauri bekerja. Lantai paling atas di gedung tersebut merupakan lantai CEO.


" Uri, sini bentar. Gue ada berita penting."


Gauri langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti Beno juga Sani yang memanggilnya. Ia tampak heran dengan kedua sahabatnya itu. Biasanya kalau ada apa-apa mereka terlebih dulu akan mengirim pesan.


" Ada apa sih penting banget kayaknya."


Beno mengangguk pada Sani, yang kemudian Sani mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto-foto rumah Gauri yang penuh dengan coretan serta tempelan-tempelan kertas. 


" Astagfirullaah, apa ini."


" Makanya itu Ri, kite juga bingung. Kira-kira siapa yang ngelakuin ini ke elo."


Beno membuang nafasnya kasar sedangkan Gauri, dia terlihat tengah fokus melihat foto itu dan memperbesar gambarnya dengan kedua jarinya.


Gauri sungguh tidak tahu rumahnya menjadi seperti itu. Dua hari dia berada di rumah sakit dan tidak pulang jadi dia tidak tahu apa yang terjadi di rumahnya.


Dalam coretan tersebut ditulis bahwa Gauri seorang penipu. Bukan hanya itu, disana juga tertulis Gauri adalah perebut suami orang, wanita tidak benar. Menipu untuk mendapatkan status sosial dan masih banyak lagi. Gauri benar-benar tak habis pikir, siapa kiranya yang melakukan hal tersebut kepadanya. 


" Apa ini ulah Halim. Dia kan nggak seneng banget sama lo saat pak dokter itu bilang calon suami lo Ri."

__ADS_1


" Tadinya juga aye mikirnya juga gitu Ben, tapi setelah aye pikir-pikir kayaknya bukan Halim. Dia nggak mungkin sebanyak itu tahu mengenai apa yang gue lakuin diluar sini. Lo pan tahu sendiri kalau Halim anak rumahan. Dikekepin mulu sama babe nya."


Beno dan Sani mengangguk. Kini PR baru menghampiri Gauri. Mencari tahu siapa penyebar fitnah tersebut.


" Haish, baru aja kelar satu masalah eh udah dateng lagi aja. Emang kagak bisa apa ye aye rehat barang sebentar aje. Heran aye mah."


🍀🍀🍀


" Be, ini pasti kerjaannya babe pan. Pasti babe pan yang nyuruh orang bikin rumah Gauri kayak gitu."


" Lim, lo ngomong apa an sih babe kagak ngarti deh. Eh dengerin ye Halim, babe menang kagak suka ame keluarganye Samsul tapi babe bukan orang nyang begitu. Nglawan musuh yang lagi lemah. Itu bukan jiwa seorang jagoan. Lagian babe kagak ngarti ntuh maksud tulisan-tulisan di rumah si Samsul."


Halim terdiam mendengar penjelasan Rojak. Apa yang dikatakan babe nya memang benar. Rozaq memang tidak suka dengan Samsul dan Gauri tapi sejauh ini Rozaq tidak pernah keterlaluan sampai membuat rusuh di rumah orang.


" Assalamualaikum Babe Rozaq, Bang Halim."


" Ini be, papa minta buat Meisya ngirim oleh-oleh ke babe. Kemarin papa baru saja ke keluar kota."


Mata Rozaq berbinar cerah saat Meisya datang dengan tangan penuh tote bag yang berisi oleh-oleh seperti yang dikatakan gadis itu. Meisya adalah putri lurah setempat yang diinginkan Rozaq menjadi menantunya tapi Halim masih saja menolak.


Jika dilihat Maisya juga bukanlah gadis biasa. Selain putri seorang lurah Meisya juga seorang manager di sebuah bank swasta. Bahkan gadis itu juga memiliki lingkup pertemanan kelas atas.


" Ya udah neng, duduk dimari dulu. Ngobrol tuh sama si Halim. Babe ke belakang dulu ye. Kasian tuh ayam belum dikasih makan."


Meisya mengangguk, ia pun duduk di sebuah bangku di teras rumah Halim. Gadis itu menatap Halim dengan pandangan yang susah diartikan.


" Abang ada masalah. Kok mukanya ditekuk gitu."


" Lo nggak kerja, katanya lo manager? Kok hari aktif di rumah gini."

__ADS_1


Halim menjawab pertanyaan Meisya dengan balik bertanya juga. Halim benar-benar tidak menyukai gadis yang tengah duduk di depannya itu. Meisya sebenarnya cantik, tapi tidak membuat Halim tertarik.


" Aku lagi off bang hari ini. Lagi dapat jatah libur. Mau jalan sama aku?"


Halim mengalihkan pandangannya ke arah Maisya. Ia menatap gadis itu dengan lekat. Mencoba mencari tahu apa yang diinginkan Maisya melalui sorot matanya.


" Mei, gue mau tanya. Apa sih yang lo suka dari gue. Gue itu bukannya nggak level ya sama lo. Lo seorang wanita karir sedangkan gue hanya petani. Gue bukan pria yang bisa lo banggain kan?"


Deg


Ucapan Halim menusuk dada Maisya. Halim memanglah bukan pria metropolis, bukan pria kota yang berdasi dan bukan bekerja di perkantoran elit. Tapi siapa yang tahu bahwa Halim memiliki perkebunan di pinggiran kota. Bahkan bukan hanya seratus atau dua ratus meter, lebih dari itu. Berapa hektarnya tidak ada yang tahu. Tapi Meisya jelas tahu akan hal itu.


" Aku nggak peduli mau abang petani atau bukan. Tapi aku beneran cinta sama Bang Halim."


" Yakin lo cinta sama gue. Beneran? Gue sangsi. Sebaiknya lo balik. Gue beneran nggak suka sama lo. Mending lo cari cowok yang sesuai dengan kriteria lo. Bukannya biasanya cowok yang lo bawa ke rumah adalah cowok parlente?"


Meisya seketika menundukkan kepalanya dalam. Ia tidak berani lagi menatap Halim lebih lama. Halim seperti mencari sesuatu dibalik raut wajahnya.


" Sial, pria ini tidak sederhana yang kupikirkan. Beruntung banget Gauri bisa disukai pria seperti Halim. Aku akan buat Halim semakin ilfil dengan Gauri dan akhirnya bisa berpaling kepadaku."


Maisya bermonolog dalam hati. Kedatangannya pagi itu rupanya tidak menghasilkan sesuatu yang besar. Malah sebuah penolakan dari pria yang ditargetkan bahkan diusir. Selama ini Meisya selalu mendapatkan apapun yang diinginkan bahkan pria sekalipun. Dia tidak ingin track recordnya dipatahkan hanya oleh seorang Halim. Dimana pria itu masih berkutat pada cinta masa lalu nya.


" Baiklah bang kalau begitu. Kalau abang hari ini nggak mau nemenin aku jalan mungkin next time."


" Tidak ada juga untuk lain kali. Gue beneran ogah sama lo. Dan gue peringatin, jangan pernah lo macem-macem sama Gauri."


Maisya mengeraskan kepalan tangannya. Ia sungguh sangat marah dengan ucapan peringatan yang dilontarkan oleh Halim. Baru kali ini dia ditolak oleh seorang pria.


TBC

__ADS_1


__ADS_2