Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-51. Dia Cucu Keluarga Ini


__ADS_3

Meisya sungguh sangat kesal. Penolakan mentah-mentah Halim terhadap dirinya tentu saja merupakan sebuah penghinaan besar. Meisya, wanita cantik dengan segudang prestasi di pekerjaannya, selalu dikejar-kejar oleh pria itu merasa harga dirinya dilukai.


" Aku tahu kamu masih begitu menginginkan Gauri. Lihat saja apa yang akan aku lakukan terhadap wanita itu. Keberaniannya menggunakan nama Singh, dimana jelas dia bukanlah keluarga Singh. Puspa saja waktu itu yang bodoh begitu percaya dengan akting mereka. Mungkin Sukhdev memang bisa diajak kerja sama tapi bagaimana jika Arrayan."


Rupanya Maisya merupakan salah satu dari circle wanita sosialita milik Puspa. Dia yang dari pertama kali Gauri masuk tentu tidak percaya jika Gauri adalah anggota keluarga Singh. Lha wong jelas-jelas Gauri adalah anak Samsul tetangganya.


Sedangkan Gauri tidak pernah tahu bahwa Meisya ada di sana. Gauri yang fokus mengungkap kejahatan Puspa sedikit abai dengan orang-orang di sekitarnya.


Meisya langsung duduk di meja kerjanya yang berada di kamar dan membuka laptopnya. Jarinya dengan lincah menekan tuts keyboard untuk melancarkan rencananya. Tombol enter di aklik sebagai tanda semua selesai ia buat.


" Beres. Dan kita tunggu booooom yang meledak hahaha."


Meisya tersenyum puas. Ia benar-benar kesal dengan Halim yang menolaknya ditambah ia tahu bahwa semuanya itu karena Gauri.


Apa yang dilakukan Maisya benar-benar menjadi sebuah kegaduhan di dunia maya. Para teman sosialita yang pernah Gauri masuki circle nya itu ramai-ramai mengupload foto Gauri dengan mencantumkan tagar cucu perempuan keluarga Singh. Bukan hanya itu bahkan mereka yang saat itu tidak suka menambahkan tagar penipu di setiap unggahannya.


Gauri yang tengah bekerja dengan fokus tentu tidak tahu apa yang terjadi hingga Rika, rekan kerjanya itu memberitahunya.


" Gila Ri, lo lagi trending nih."


Gauri mengerutkan kedua alisnya. Ia tentu bingung dengan ucapan Rika. Baru setelah dia melihat sendiri apa yang tertulis di sosial media akhirnya membuatnya paham.


" Aku yakin saat seperti ini pasti akan datang. Baiklah siap-siap memanen apa yang kau tanam Gauri."


Bukannya khawatir gadis itu hanya terlihat membuang nafas. Rika sangat gemas dengan sikap temannya itu yang sangat tenang.


Beberapa panggilan masuk ke ponsel Gauri. Salah satunya Bisma. Ia pun langsung jawab panggilan tersebut. Bisma yang tidak tahu apa yang terjadi tentu bingung dengan berita tersebut.


" Apa yang terjadi."


" Nanti aku ceritakan mas. Mas jangan khawatir aku bisa menghadapi ini."

__ADS_1


" Tapi kamu nggak apa-apa kan?"


" Aku baik-baik saja jangan terlalu banyak berpikir."


Bisma tentu khawatir. Bagaimana tidak, banyak sekali hujatan yang muncul untuk Gauri. Benar-benar mereka belum bisa merasa tenang sepenuhnya.


Di sisi lain Sukhdev terlihat membuang nafasnya kasar. Ia sendiri merasa hal ini pasti akan datang cepat atau lambat. Tinggal menunggu ledakan snag kakek saja.


Kriiiing


Ponsel Sukhdev berbunyi. Pria itu melirik sekilas pada ponselnya lalu mendengus kesal.


" Hasih, kakekku ini memang panjang umur sekali. Baru aja diomongin dalam hati dia udah langsung telpon. Hallo kek."


" PULANG!"


Sukhdev sampai harus menjauhkan ponsel yang dia pegang dari telinganya. Sungguh suara Arrayan Singh itu masih sangat keras dan bertenaga untuk pria berusia 80 tahun.


" Iya, Dev pulang." Sukhdev lalu membereskan mejanya. Menyambar jas dan kunci mobil kemudian keluar dari ruangannya. Tak lupa ia berpesan kepada Tina untuk meng hold semua pertemuan sampai 3 hari kedepan. Ia yakin urusannya dengan sang kakek tidak akan selesai 1x24 jam.


" Bisa kalian berdua jelaskan kepadaku Shekar, Rada. Siapa gadis yang bernama Gauri ini. Mengapa dia dengan lancang menggunakan nama besar keluarga Singh?"


Arrayan Singh, pria yang sudah berusia senja itu terlihat murka. Usia benar-benar hanya angka baginya. Tenaga dan kekuatan Arrayan masih terlihat menggebu. Bahkan intonasi suara kerasnya tidak berubah sedikitpun. Masih keras dan kuat membuat hati terkadang merasa sakit.


Shekar dan Rada hanya diam. Keduanya belum bisa mengatakan apapun hingga Sukhdev pulang. Saat berita itu mencuat Sukhdev sudah berpesan kepada Shekar dan Rada untuk tidak bicara apapun dulu kepada Arrayan.


" Apa kalian bisu hah! Mengapa hanya diam! Ya Tuhan, apa yang terjadi di keluargaku ini sebenarnya. Orang lain tiba-tiba mengaku cucuku. Haishh, ini benar-benar membuat waktu hidupku di dunia semakin sedikit."


Arrayan benar-benar kehilangan kesabaran melihat anak dan menantunya diam seribu bahasa. Dia bagai berbicara dengan tembok. Pria tua itu bahkan sampai berdiri dan mengacungkan tongkatnya kepada Shekhar juga Rada. Tapi kedua orang di depannya itu benar-benar hanya diam tidak membuka mulutnya sama sekali.


" Baiklah kalau begitu, apa kalian benar-benar akan diam. Jika begitu apa kalian masih diam jika aku menghapus kalian dari kartu keluargaku? Menghilangkan nama Singh di belakang namamu Shekhar?"

__ADS_1


" Terserah ayah jika ayah ingin melakukan itu. Itu hak ayah, toh aku tidak pernah bisa berbicara apapun kepada ayah kan. Di rumah ini otoritas tertinggi ditangan ayah. Semua orang harus menuruti apa kata ayah bahkan jika itu menyakitkan sekalipun."


Deg


Baik Rada maupun Arrayan langsung menatap tajam kepada Shekhar. Rada menatap heran kepada suaminya yang begitu berani berbicara seperti itu kepada ayahnya. Sedangkan Arrayan, ia lebih tidak menyangka bahwa putranya itu bisa berbicara begitu.


Selama ini yang Arrayan tahu Shekhar memang selalu mengikuti kehendak dirinya. Bahkan tidak pernah sedikitpun Shekhar mengajukan protes kepadanya.


Tapi mungkin Shekhar sudah diambang batas sabar. Kepatuhannya terhadap sang ayah membuat dia kehilangan adik satu-satunya. Keluarganya terpecah belah akibat keangkuhan dan keegoisan sang ayah.


" Apa kau sekarang berani melawanku?"


" Terserah apa kata ayah. Ayah mau menilaiku seperti apa juga terserah ayah. Aku sudah kenyang akan hal itu. Jika ayah menginginkan aku pergi dari sini pun akan aku lakukan."


" Kau!!!"


" Kek cukup!"


Sukhdev datang tepat saat Arrayan hendak mengayunkan tongkatnya ke arah sang ayah. Pria berusia 35 tahun itu benar-benar tak habis pikir dengan sang kakek. Arrayan semakin berumur bukannya semakin bijak malah semakin egois.


" Kakek ini kenapa?"


" Tanya saja kepada ayah dan ibumu. Kedua orang tuamu itu benar-benar menjengkelkan. Dari tadi aku bertanya mereka malah diam dan sama sekali tidak menjawab. Giliran berbicara malah semakin membuatku naik darah."


Sukhdev membuang nafasnya kasar. Ia kehabisan kata untuk menghadapi kakek keras kepalanya itu. Ia kemudian membawa Arrayan untuk kembali duduk. Kini mereka duduk berempat di ruang keluarga tersebut. Rada berinisiatif untuk mengambil minum untuk semua orang. Suasana rumah itu tiba-tiba lebih menjadi mencekam ketimbang tadi.


" Lalu, apa yang membuat kakek memintaku pulang!"


" Dev, apa kau benar-benar tidak tahu mengapa aku memintamu pulang? Jelaskan siapa gadis yang bernama Gauri itu. Mengapa dia bisa memakai nama Singh dan mengaku sebagai cucu keluarga ini."


" Memang dia cucu keluarga ini. Gauri Jayasree putri dari Laksmi Bavana."

__ADS_1


Deg


TBC


__ADS_2