
Bisma memutuskan untuk mengantar pulang Gauri. Dia tidak ingin Gauri mengemudi dalam keadaan marah. Setelah memanggil Suma, Bisma melenggang pergi dengan mobil Gauri.
Suma hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pekerjaannya yang seabrek harus dihentikan sang bos untuk urusan mengambil mobil.
" Elaaah gini amat sih nasib asisten. Kan bisa panggil supir pengganti atuh bos. Heeeh heran bener dah ah."
Suma bersungut-sungut. Tapi tentu saja dia hanya berani mengatakan itu di belakang sang bos. Jika dia bicara di depan bosnya, khawatir bonus bulan ini akan melayang.
" Apa tidak apa-apa harus mengantarku?"
" Aku nggak mau lihat kamu nyetir dalam keadaan marah begitu. Bahaya. Secara psikologis kamu sedang tidak tenang dan rawan menyebabkan kecelakaan."
Entah sejak kapan keduanya mengganti bahasa saya-anda menjadi aku-kamu. Bisma sendiri menjadi canggung berada di dalam mobil dengan Gauri. Hal yang jelas belum pernah dia lakukan bersama seorang gadis. Tentu dengan Puspa tidak masuk hitungan.
Tidak ada rasa apapun saat bersama dengan Puspa membuat Bisma biasa saja berduaan. Bahkan melihat paha mulus Puspa pun dia tidak bereaksi apa-apa. Berbeda dengan saat ini, jantung Bisma berdetak dengan cepat. Seperti habis lari maraton sesekali Bisma bahkan menyentuh dadanya sendiri.
Kenapa Jadi deg-degan gini, gue nggak kena serangan jantung koroner kan. Ini mungkin melebihi detak jantung normal. Ini bisa sekitar 200 kali per menit.
Sungguh lucu, Bisma malah salah fokus dengan detak jantungnya sendiri yang ia rasakan memacu lebih cepat. Gauri yang melihat tingkah Bisma tentu heran.
" Dokter sakit, apa mau digantiin nyetirnya."
" Nggak, aman kok. Nggak apa-apa. Ri, bisa nggak kalo lagi berdua gini jangan panggil dokter. Apa kek terserah. Umurmu berapa?"
" 24 mas."
Glek
Bisma menelan saliva nya dengan susah payah. Panggilan mas terhadapnya dari mulut Gauri bisa membuat pria 34 tahun itu merasa keder. Seperti seorang ABG yang sedang didekati oleh crush nya, Bisma menjadi salah tingkah.
Ini sebenarnya yang demen duluan siapa sih. Lha bukannya kemarin nih bocah confess duluan ya ke gue. Tapi sekarang kok gue yang begini. Eh 24, buset gue dikatain pedofil kagak ye. Kalau dipikir-pikir, pas gue kuliah mungkin nih bocah masih SD.
__ADS_1
Tanpa Bisma tahu, sebenarnya Gauri tak kalah deg-deg an dibanding Bisma. Berduaan di dalam mobil dengan pria yang disuka membuat Gauri serba salah. Terlebih status Bisma adalah suami orang. Meski dia tahu pernikahan Bisma bukanlah pernikahan normal pada umumnya tapi status yang melekat pada Bisma membuat Gauri bingung.
Aye salah nggak sih begini. Buset, berasa jadi pelakor nggak sih. Ya Allaah, Uri bingung nih. Maju kagak ye, tapi kalau maju ntar aye dikatain pelakor. Pan gimanapun nih cowok ganteng laki orang. Haish, dosa nggak sih ngarep doi biar buru-buru jadi duda, ku tunggu duda mu Mas Bisma.
Dah lah, kedua anak manusia itu malah riweuh dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai-sampai mereka tidak berjalan di jalan yang semestinya alias berbeda tujuan. Yang semula akan langsung pulang ke rumah Gauri, Bisma malah membawa mobil Gauri masuk ke dalam kawasan apartemen DCC. Gauri tentu terkejut pun dengan Bisma sendiri.
" Mas, kita mau kemana. Ini bukannya kawasan apartemen ya."
Cess
Bisma benar-benar salah fokus. Setiap kata 'mas' meluncur dari bibir Gauri membuat pria itu hatinya seperti disiram es, adem.
" Astagfirullah, maaf Ri. Tadi tuh rencananya habis ngasih flashdisk ke kamu, aku mau kesini. Kata Dika wanita yang memfitnahku itu berkeliaran di sekitar sini. Aku mau memeriksanya sendiri."
" Bagus, ayo kita cari tahu biar dia bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia perbuat."
Bisma merasa lega, gadis disampingnya itu sudah kembali ke mode normal. Marahnya sudah tidak tampak lagi. Bisma pun mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan Gauri.
Setelah mengganti sepatu high heel miliknya dengan sandal biasa Gauri pun turun dari mobil mengikuti Bisma. Bisma mengenakan topi yang sudah disiapkan agar wajahnya tidak cepat dikenali oleh wanita itu jika memang benar dia berada di sana.
Beberapa pasang mata pun melihat heran ke arah Bisma dan Gauri. Tapi wajah tampan dan cantik mereka tentu membuat yang melihat salah fokus.
Mata Gauri mencoba memindai ke seluruh tempat. Melihat satu persatu orang yang berlalu lalang masuk keluar apartemen. Pun dengan Bisma, hingga Bisma melihat sosok yang ia yakini adalah Rieta, wanita yang waktu itu datang marah-marah terhadapnya.
" Ri, itu wanita yang waktu itu."
" Mas yakin, mas nggak salah lihat?"
" Yakin Ri."
Bisma berjalan cepat diikuti Gauri di belakangnya. Tanpa sadar Bisma meraih tangan Gauri, menggandeng gadis itu agar tidak ketinggalan.
__ADS_1
Aduh jantung. Aman ye. Please. Ini bukan waktu yang tepat buat kamu deg-deg ser.
Tak dapat dipungkiri, dada Gauri membuncah saat tangan lembut Bisma menggenggam tangannya. Meski ini hanya karena situasi terdesak tetap saja membuat Gauri salah tingkah benar-benar Gauri merasakan tengah jatuh cinta dengan dokter tampan yang kini berada di depannya dan tengah menggenggam tangannya.
Greb
Bisma meraih tangan Rieta. Gadis itu sontak terkejut saat melihat Bisma berada di sana bahkan mencekal pergelangan tangannya.
" Dok-dokter Bisma!"
Rieta berbicara tergagap. Wajahnya pucat pasi. Ia seperti melihat hantu yang menakutkan padahal yang berdiri di depannya merupakan makhluk tampan tanpa cela.
" Bisa kita bicara."
Rieta tentu tidak punya pilihan selain mengiyakan permintaan Bisma. Gadis itu terlihat sangat ketakutan. Bisma yakin, Rieta tidak melakukannya atas kemauan sendiri.
Kini ketiganya sudah duduk di sebuah bangku dalam coffee shop yang ada di apartemen tersebut. Rieta meremass jari-jarinya di bawah meja. Ia merasa hidupnya habis kali ini. Rieta benar-benar hanya bisa pasrah. Pun seandainya Bisma membawanya ke jeruji besi, ia akan terima karena memang dia bersalah.
" Siapa yang menyuruhmu?"
Rieta langsung menegakkan kepalanya yang sedari tertunduk. Ia menatap lurus ke arah Bisma. Sepertinya dokter di depannya itu sudah tahu jika ia hanyalah orang yang disuruh melakukan itu semua.
Kini Rieta bingung, ia harus berkata apa. Tidak menjawab, tetap dia akan dicecar. Tapi jika menjawab ia pasti juga akan kena masalah karena dia sudah menerima uang sebagai bayaran atas apa yang dia lakukan. Rieta benar-benar dilema.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Bisma dan Gauri menangkap rasa ketakutan dari Rieya. Keduanya saling pandang seakan sedang berbicara satu sama lain. Gauri pun mengangguk, gadis itu beranjak dari duduknya dan duduk disebelah Rieta. Gauri meraih tangan Rieta dan menggenggamnya.
" Jangan takut, kami akan melindungi mu."
Ucapan Gauri yang lembut membuat Rieta menjadi lebih tenang. Namun ia masih bungkam, ingin berkata tapi lidahnya sangat kelu. Gauri dan Bisma masih menunggu untuk Rieta membuka mulutnya. Hingga sebuah suara membuat semuanya menoleh bersamaan.
__ADS_1
" Lho kalian?"
TBC