Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKPB-46. Satu Tepuk Dua Lalat Mati


__ADS_3

Pagi harinya beberapa polisi diikuti oleh media mendatangi rumah Puspa. Polisi tersebut terlihat membawa sebuah surat penangkapan untuk Puspa. Entah dari mana awak media itu tahu mengenai kasus Puspa tapi yang jelas polisi tidak akan memberikan keterangan apapun sampai Puspa ada bersama mereka.


Salah satu polisi mengetuk rumah Puspa. Dan polisi yang lain meminta para pencari berita itu agar sedikit lebih mundur kebelakang.


" Apa benar ini rumah saudari Puspa Candra Maya?"


" Be-benar pak. Ada apa ya mencari putri saya."


Puspa yang baru selesai mandi langsung berganti baju dan keluar dari kamarnya. Ia menghampiri sang ayah yang masih berdiri di depan pintu.


" Ada apa pa?"


" Saudari Puspa?"


" Ya betul saya sendiri."


" Kami membawa surat penangkapan untuk saudari dengan tuduhan tabrak lari yang Anda lakukan beberapa waktu yang lalu. Kami juga membawa surat perintah untuk membawa mobil Anda yang Anda gunakan saat kejadian."


Duaaar


Bagai disambar petir, Puspa sungguh terkejut dengan apa yang diucapkan petugas polisi di depannya. Sedangkan Kuswan, pria itu langsung jatuh ke lantai. Cahyati yang tadi masih berada di dapur langsung berlari saat mendengar teriakan Puspa.


"Tidak, saya tidak bersalah. Itu bohong."


" Anda bisa menjelaskannya nanti di kantor Nona. Sekarang sebaiknya Anda kooperatif. Jika memang Anda tidak bersalah maka sudah pasti akan dibebaskan dari segala tuduhan."


Wajah Puspa pucat pasi. Ia merasa hidupnya berakhir sekarang. Awak media yang tadi sudah menjaga jarak aman seketika langsung mendekat dan menghujani Puspa dengan sejuta pertanyaan.


" Tabrak lari, waah apakah benar itu Puspa?"


" Kak Puspa, mengapa kakak tidak menolong korban."


" Kak Puspa, bukannya Anda dan kelompok sosialita Anda aktif di bidang sosial ya. Apa kegiatan itu hanya sebatas pencitraan."


" Kak bagaimana kondisi korban?"


" Kakak tidak menolong korban apa jangan-jangan korban meninggal?"

__ADS_1


Puspa menutup kedua telinganya dengan tangan mendengar semua pertanyaan dari awak media tersebut. Seketika dunia maya gempar dengan ditangkapnya Puspa Candra Maya. Seorang sosialita yang memiliki banyak kegiatan sosial rupanya seorang tersangka tabrak lari. Berita tersebut menjadi hot news hari ini.


Di sebelah sana Dika tertawa puas di depan sang om saat membaca berita tersebut. Awak media itu tentu tahu dari orang-orang Silvya. Dika tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk membalas sakit hati Om nya itu.


" Kalian benar-benar keponakan yang berbakti."


" Jelas dong. Dengan begini keluarga itu tidak akan pernah mendapat dukungan apapun di RSMH."


Sekali tepuk dua lalat mati. Apa yang menimpa Puspa pasti mempengaruhi pamor Kuswan di rumah sakit ini. Dibalik bantuan yang Dika dan Silvya berikan kepada Gauri rupanya ada manfaat lain yang mengikuti.


" Gimana om, beres, kena semua. Seleksi dokter juga sudah dimulai jadi benar-benar sesuai dengan rencana."


" Kau benar Dika. Semua berjalan sesuai yang kita rencanakan. Tinggal om melanjutkan rencana pribadi Om?"


" Apa itu?"


Bisma hanya tersenyum sambil menaik turunkan sebelas alisnya. Dika menggeleng pelang melihat kelakuan om nya yang semakin kesini semakin absurd.


" Terserah kau lah om. Asal om senang."


" Saatnya mendekati calon mertua. Buset deh, gue buru-buru banget nggak sih. Baru ge dapat status duda ya kali langsung mau nikahin anak orang. Tapi kan kalau laki nggak ada masa iddah. Jadi nggak masalah lah ya. Sikat sebelum disikat orang."


Lain Bisma lain pula Gauri. Merasa kasusnya sudah selesai tinggal mengawasi prosesnya kini gadis itu siap kembali ke pekerjaannya. Ia juga sudah meminta izin kepada sang babe agar bisa kembali bekerja.


Samsul tentu tidak mempermasalahkan hal itu. Terlebih sekarang dia juga sudah semakin baik kondisi kesehatannya. Dan hari ini adalah hari pertama ia kembali ke kantor.


Dengan langkah tegap dan senyum mengembang, Gauri keluar dari lift dimana lantai CEO berada.


" I'm comeback!"


Sontak teriakan gauri membuat Rika dan Dery terkejut. Keduanya langsung berdiri dan menyambut Gauri dengan pelukan. Bukan karena pekerjaan akan jadi ringan tapi Rika dan Dery benar-benar merindukan sosok Gauri.


" Kampret kamu Gauri, gilaa kangen banget tahu. Mana nggak bisa jengukin babe lagi karena kerjaan yang ampun-ampunan."


" Nggak apa-apa, babe sudah mulai oke kok. Gue tahu kalian pada sibuk bener."


Gauri langsung menepati kursinya dan membuka pekerjaan yang ada di meja nya. Hanya beberapa saat kemudian Gauri sudah larut dalam pekerjaannya. Silvya yang baru datang menatap salut dengan Gauri. Silvya tentu sudah diberitahu oleh Drake jika Gauri benar-benar adalah bagian dari keluarga Singh.  Salah satu keluarga yang namanya diperhitungkan dalam dunia bisnis. 

__ADS_1


" Aku beneran nggak nyangka jika niat awalku hanya minjem nama malah sebenarnya nama asli. Haish, dunia ini benar-benar sempit."


" Bu, terimakasih."


Silvya mengangguk, ia tahu maksud Gauri mengucapkan terima kasih.  CEO Linford Transportation itu melenggang masuk ke dalam ruangan CEO diikuti oleh Ian. Namun ada yang aneh dengan Ian, ia sejenak memandang lebih lama ke meja sekretaris. Tepatnya di meja Rika. Gauri yang sensitif pun menyadari hal itu. Tapi saat ini dia enggan berbicara, nanti saja jika waktunya sudah pas.


" Hmmm, kayaknya asisten anyep mulai anget nih."


Mendengar ucapan Gauri membuat Rika salah tingkah. Sepertinya banyak hal yang ia lewatkan selama sebulan lebih ini di perusahaan. Bukan hanya tentang pekerjaan tapi juga tentang hal lainnya. 


" Kau berhutang cerita kepadaku!"


" Apa sih Ri, nggak ada cerita yang aneh-aneh."


Wajah Rika tiba-tiba bersemu merah. Ingatannya berputar ke beberapa minggu lalu saat dia masuk ke ruang CEO. Rika yang memang menaruh hati kepada Ian tentu sangat senang saat ada kesempatan bisa menemui Ian. 


Sebenarnya tidak adanya Gauri semakin menambah banyak kesempatan Rika untuk mendekati Ian. Puncaknya saat mereka lembur dan Dery sakit perut sehingga pria paling muda di lantai itu pamit pulang duluan. Rika bersama Ian berada di ruang CEO berdua. Entah mendapat keberanian dari mana Rika mengutarakan isi hatinya kepada Ian.


" Asisten Ian, bolehkan aku mengatakan sesuatu."


" Hmmm."


Ian hanya menjawab seperti itu dengan mengangguk. Pria itu masih berkutat dengan pekerjaan yang ada di depannya. Rika membuang nafasnya kasar, tapi dia bertekad untuk confess malam itu juga. Rika tidak mau menyiakan kesempatan.


" Asisten Ian, bila aku bilang suka padamu apakah kau percaya?"


Ian seketika menghentikan semua kegiatannya. Ia menaruh pena yang dari tadi ia genggam lalu menatap Rika dengan tajam. Bukannya takut, Rika malah semakin mendekatkan diri kepada Ian.


" Asisten Ian, aku sungguh menyukaimu. Apa kamu tidak ada rasa barang sedikit saja kepadamu."


Ian tidak menjawab tapi tubuhnya lah yang bereaksi. Ian langsung mencium bibir Rika dengan lembut. Sambil menahan tengkuk Rika, ia memperdalam belitan lidahnya. Dan terjadilah sesi mencium itu di ruang CEO malam itu.


Rika menggelengkan kepalanya saat mengingat adegan itu. Gauri tentu semakin curiga dengan ulah Rika.


" Kau benar-benar berhutang cerita kepadaku Rika," ucap Gauri penuh penekanan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2